
"Gilvan dirawat?" Vina kaget
"Iya, kamu bener-bener gak ingat kejadian semalam?" tanya Gita
"Nggak, aku gak ingat. Sebenarnya, apa sih yang terjadi, Git?" Vina penasaran
"Aku nggak mau belain Gilvan, tapi nanti kamu lihat aja CVTV-nya. Saat ini, suamiku sedang mengambil soft copy CCTV tersebut."
"Mungkin, semalam aku memang terlalu mabuk. Tapi, kenapa aku bisa mabuk?" Vina aneh pada dirinya sendiri
"CCTV yang akan menjawabnya. Apa kamu mau ikut aku ke Rumah sakit?" tanya Gita pelan-pelan
"Ngapain?" Vina seperti tak suka
"Apa kamu tega, membiarkan Gilvan terbaring di Rumah sakit? Padahal, dia sudah mempertaruhkan nyawanya demi kamu!!!" Gita mulai tersulut emosi
"Aku gak tahu kejadian yang sebenarnya! Aku gak tahu, apa penyebab Gilvan dirawat."
"Untuk itu, ikutlah denganku ke Rumah sakit melati. Gilvan sedang dirawat di sana, dan kamu akan tahu, bukti dari CCTV yang akan dibawa oleh suamiku!"
"Aku tak mau, itu bukan urusanku!" Vina asal
"Vina, sejak kapan kamu jadi keras kepala kayak gini? Kamu memang egois. Untung saja, Gilvan sabar menghadapi mu! Kalau aku yang bermasalah denganmu, mungkin kamu tak akan bisa lagi berteman denganku, karena sifat mu keras kepala seperti ini."
Gita berdiri, ia mengambil tas nya, lalu beranjak pergi meninggalkan Vina seorang diri.
"Aku pergi."
Gita pergi tanpa menoleh sedikit pun kearah Vina. Mungkin Gita sangat kesal dan emosi, menghadapi sifat Vina yang sangat keras kepala dan menjengkelkan. Tak lama, Ibunya Vina masuk ke kamar Vina.
"Kenapa? Sepertinya, Gita marah padamu. Iya?" tanya Mama Vina
Vina memeluk Ibunya, ia benar-benar sedih. Vina tak menyangka, Gita akan se-marah itu padanya.
"Gita sepertinya kecewa sama Aku, Ma. Aku harus apa sekarang?" Vina menangis
__ADS_1
"Emang kenapa? Kenapa Gita bisa marah?"
"Sepertinya, yang bertengkar dengan Andra itu Gilvan. Sekarang, Gilvan sedang dirawat di rumah sakit." ucap Vina
"GILVAN?" mata Mama Vina melotot tak percaya
"Gita bilang, Gilvan ingin melindungi aku dari Andra, aku terlalu dibuat mabuk oleh Andra. Andra mencium dan menyentuh payud*raku. Tapi, aku tak percaya. Tak mungkin Andra seperti itu." Vina menutup wajahnya, terus menangis di samping Ibunya
Mama Vina terdiam. Merenungi kejadian yang mungkin terjadi. Haruskah Mama Vina percaya pada Gita?
"Apa Gita mempunyai bukti?" tanya Mama Vina
"Gita bilang, kalau Rama sedang mengambil rekaman CCTV di diskotik tersebut. Aku diminta untuk ikut dengannya, tapi aku takut. Aku tak mau." Vina masih berurai air mata
Apa mungkin, Andra memang melakukan itu pada Anakku? Apa mungkin, Gilvan benar-benar melindungi anakku? Aku memang tak suka melihat Andra, aku hanya menghargai pilihan anakku saja. Tapi, jika benar Gilvan yang melindungi anakku, kenapa tak Vina biarkan saja dia menjadi Ayah Givia yang sesungguhnya? Gumam Mama Vina dalam hati
"Mama rasa, wajar Gita marah padamu. Sudah, temui saja mereka. Lihat bukti yang sebenarnya. Kamu perlu tahu apa yang sesungguhnya terjadi." ucap Mama Vina
"Mama mengizinkan aku menemui Gilvan?" Vina tak percaya
"Tapi, bagaimana jika dia benar melindungi ku?" tanya Vina
"Jangan tanya Mama, tanyakan hatimu. Masih maukah hatimu menerima Gilvan kembali?"
Kenapa terdengar seperti Mama menyetujui jika aku dan Gilvan kembali? Apa Mama memang percaya? Tapi, bagaimana dengan Andra? Ini hampir siang, dan Andra tak mengabari ku sama sekali.Batin Vina.
"Aku bingung dengan perasaan ku sendiri, Ma. Aku tak tahu, isi hatiku yang sebenarnya." ujar Vina
"Tak usah tergesa-gesa. Hanya datang dan lihat bukti yang sebenarnya. Kamu bisa menilainya nanti." saran Mama Vina
"Baiklah, aku akan bersiap-siap sekarang."
Vina beranjak dari tempat tidurnya. Efek alkohol semalam, sudah tak lagi terasa di tubuhnya. Ia mulai merasa enakan, karena Mama Vina telah memberi Vina obat pengar.
Vina akan segera berangkat, ia sedang memakai sandal heels-nya. Lalu, ia memasukan tas kecilnya kedalam mobil. Tak lama, Mama Vina memanggilnya.
__ADS_1
"Vin!"
"Ya, Ma?" tanya Vina
Mama Vina mengajak Givia pergi ke depan garasi rumahnya. Givia berpakaian rapi, dengan rambut di kuncir dua, serta memakai tas dan membawa boneka kecil. Vina heran, kenapa Givia berpakaian seperti ini?
"Givi, mau kemana dia? Kenapa rapi sekali?" Vina heran
"Aku disuruh Oma ikut Bunda!" Givia semangat
Vina refleks menoleh kearah Mamanya. Tapi, kenapa? Givia diperbolehkan ikut dengannya untuk ke Rumah sakit, bertemu Gilvan. GILVAN? Gilvan lah Ayah biologis Givia. Itu berarti, Mama Vina mengizinkan Givia pergi menemui Ayahnya. Vina masih tak percaya.
"Tapi, kenapa Ma?" Vina meminta penjelasan
"Givia sayang, masuklah lebih dulu kedalam mobil. Ada yang akan Oma bicarakan pada Bunda. Bukakan pintu mobilnya, biarkan Givi masuk!" perintah Mama Vina
Vina menuruti perintah Mamanya. Vina benar-benar tak mengerti dengan sikap Mamanya yang mendadak jadi berubah. Vina tak bisa berbuat apa-apa lagi, selain mengiyakan permintaan Mamanya. Kini, Givia telah berada didalam mobil.
"Biarkan Gilvan melihat anaknya. Biarkan Gilvan bertemu dengannya. Meskipun kamu membencinya, biarkan Gilvan tetap tahu anaknya. Meskipun kamu tak mau Givia tahu, bahwa Gilvan adalah Ayahnya, setidaknya berikan kesempatan pada Gilvan untuk menyentuh Givia. Aku tahu rasanya, aku tak tega dia terus menderita seperti itu." ucap Mama Vina
"Ma, kenapa hatiku sedih sekali mendengar ucapan mu?"
*Bersambung*
Hai.. hai..
Selamat sore, aku udah Crazy up nih ya.
Yang semangat juga dong, beri LIKE, KOMENTAR DAN VOTENYA.
VOTE ITU gratis ya say, bukan uang. Jadi, aku minta dukungannya lewat vote kalian. Karena, dukungan kalian yang membuat aku semangat.
Makasih, makasih, udah mau jadi pembaca setia aku, aku tanpa kalian, gak ada apa-apanya guys.. Mohon maaf, bila ceritanya kurang berkenan buat kalian. Karena, aku masih dalam tahap belajar. Aku hanya menuangkan ide-ku lewat tulisan ini.
Terima kasih. ❤
__ADS_1