
Keadaan Gita berangsur membaik. Besok, ia sudah diperbolehkan pulang. Gita sangat senang, ia bisa mengurus bayinya dan selalu bersamanya setiap saat. Rama membereskan beberapa perlengkapan Gita. Ia dengan tulus membereskannya, hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Git?" Tanya Rama
"Iya, Kak?"
"Ibumu sudah memberitahumu belum?"
"Tentang apa?" Ucap Gita
"Bayimu akan tinggal di rumahku!" Ujar Rama dingin
"Maksudmu apa HAH? Tidak bisa seperti itu, kak! Itu anakku, aku tak akan membiarkannya jatuh di pelukan keluargamu. Aku adalah Ibunya, kau tak seharusnya memisahkan aku dengan anakku. Kau jahat!" Gita mulai menitikan air mata lagi.
"Kau ini, sensitif sekali." Rama tertawa
"Aku tak bercanda!"
"Dengarkan aku dulu, Keluargaku sudah meminta izin pada orangtuamu, untuk membawamu dan bayi kita tinggal di rumah kakek. Kakek ingin dekat dengan buyutnya disisa akhir hidupnya. Kumohon, Git!" Pinta Rama
"Aku tak bisa!" Tolak Gita
"Ayah dan Ibumu sudah mengizinkan. Kenapa kau tak setuju?" Tanya Rama
"Aku dan kau tidak ada hubungan apa-apa! Untuk apa aku tinggal di rumahmu!" Gita marah
"Kau dan Gilvan telah bercerai. Kalau kau tinggal di rumahmu, orang akan berkata apa? Lebih baik kau tinggal di rumahku, itu akan aman bagimu." Terang Rama
"Tapi aku dan kamu belum menikah. Kita tak boleh tinggal satu atap." Jelas Gita
"Aku akan menikahimu setelah masa iddah mu selesai. Kau baru bercerai, aku tak bisa langsung menikahimu. Cukup kau tinggal dirumahku, aku pastikan kau dan aku akan berpisah kamar." Jelas Rama
"Aku tak siap. Aku ingin tinggal di rumahku." Jawab Gita
"Apa kau ingin tinggal di Apartemenku? Atau kita tinggal berdua di rumah yang dibelikan orang tuaku untuk bayi kecil kita?" Tanya Rama
"Tidak mau! Aku lebih baik tinggal di rumah kakekmu saja!" Ucap Gita
"Sudah kuduga, kau pasti setuju." Rama terkekeh
"Daripada aku harus tinggal berdua denganmu, itu takkan aman bagiku!" Jelas Gita
"Memangnya tak aman bagaimana jika tinggal berdua bersamaku?" Tanya Rama mengerjai Gita
"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau lupa? Ketika kita berdua, kau melakukan apa pada diriku? Tak mungkin aku ada disini kalau kau dulu tak melakukan hal gila itu." Gita kesal
"Kamu sekarang galak banget sih, marah-marah terus bawaannya."
"Bodo amat!"
"Jangan gitu dong, calon istriku!"
"Siapa yang mau jadi calon istrimu?"
"Memangnya kau tak mau?" Goda Rama
__ADS_1
"Aku tak mau. Kau menyebalkan!"
"Lalu, aku harus bagaimana agar tak menyebalkan seperti yang kau bilang?"
Rama mendekat, Gita mulai ketakutan lagi. Ia harus menjaga ucapannya dari sekarang.
"Kak, kau mau apa? Aku akan berteriak kalau kau melakukan sesuatu padaku!" Ancam Gita
"Hahahahhaha, kamu lucu banget sih. Aku gak akan apa-apain kamu. Aku hanya akan memandangimu setiap hari." Jawab Rama
"Apaan sih, gak jelas!" Gita kesal
Entah kenapa, melihat perlakuan Rama yang sering menggodanya membuat Gita amat kesal. Mungkin, hormon kehamilannya belum berubah sampai sekarang.
"Bayiku sedang minum susu. Lihatlah ini." Rama memperlihatkan handphone nya pada Gita
"Lucu sekali, bayiku. Kamu kok bisa menerima foto ini? Apa dia sudah dibawa pergi oleh Ibumu, Iya?" Gita marah
"Kamu ini, aku sedang chatting bersama Ibumu! Setiap saat aku menanyakan bayi kita pada Ibumu! Lihatlah ini, Ibu masih dirumah dekat Rumah sakit, besok kita pergi kesana dulu." Jelas Rama
Gita melihat pesan singkat yang panjang antara Rama dan Ibunya. Dari dulu, Ibunya Gita memang sudah menyukai Rama. Pantas saja, sekarang mereka pun sering bertukar pesan.
"Kamu ganggu Ibu banget tau gak!" Keluh Gita
"Tidak, Ibu nyaman saja kok ketika aku mengirim pesan, ia langsung membalasnya!" Timpal Rama
"Kamu seenaknya saja!"
Pertengkaran kecil antara mereka selalu saja terjadi, mungkin karena hati yang sudah lama tak berpadu membuat mereka menjadi seperti ini.
Rama kaget, semua tagihan telah dibayar oleh Gilvan. Dan nominalnya tidak main-main. Proses persalinan menghabiskan sekitar tiga puluh juta, operasi dan donor jantung serta perawatan pasca operasi menghabiskan biaya sekitar lima ratus juta. Rama kaget, Gilvan yang membayarnya, Gilvan telah memasukan Gita kedalam asuransi jiwa dan kesehatan.
Rama tak mau Gilvan menanggung semua ini. Rama bernegosiasi dengan bagian administrasi.
"Saya mau asuransi atas nama Anggita Nindya yang di bayarkan oleh Saudara Gilvan kembalikan saja pada rekeningnya. Saya akan bayar ulang." Jawab Rama
"Mohon maaf, Tuan. Tidak bisa. Karena ini sistem yang telah digunakan asuransi. Tidak bisa diklaim oleh siapapun."
"Berikan saya rekening atas Nama Gilvan, saya akan membayar sejumlah uang yang telah dia bayarkan." Jawab Rama
"Maaf, Tuan. Tidak ada no rekening atau apapun atas nama Tn. Gilvan."
"Baiklah."
Setulus itukah kau mencintai Gita? Aku mampu membayar semua. Aku mampu membiayai anakku, kenapa kau harus susah payah membayarnya? Suatu saat nanti aku akan membayar kebaikan hatimu, Van. -Rama dalam hati-
Gita dan Rama segera pulang menuju kediaman bayi kecilnya. Gita tak sabar ingin segera bertemu lagi dengannya. Perjalanan tak cukup jauh, jaraknya lumayan dekat dari Rumah sakit.
Gita melihat rumahnya benar-benar luas dan besar. Gita takjub melihatnya, benar-benar indah. Mungkinkah ini rumah yang diberikan oleh keluarga Rama untuknya?
"Kak, berapa harga rumah sebesar ini? Rumahnya bagus banget!" Ucap Gita takjub
"Ini masih tak sebanding dengan rumah besarku! Harga rumah ini hanya 3,5 M." Ucap Rama enteng
"3,5 M itu HANYA? Menurutmu harga se-fantastis itu hanya kak? Iya?" Gita geleng-geleng kepala
__ADS_1
"Sepertinya aku harus memperlihatkan kekayaanku padamu! Selama ini, aku tak pernah terlihat seperti orang kaya yang sesungguhnya kan? Nanti, akan ku tunjukkan padamu siapa sebenarnya aku!" Rama sombong
"Cihh, sombong sekali kau!" Umpat Gita
Mereka berjalan santai dihalaman runah yang begitu luas. Rama segera mengajak Gita masuk kedalam rumah itu.
"Hai... Bayi kecilku! Aku sangat merindukanmu!" Gita memeluk Ibu dan bayinya
"Kamu pasti lelah. Istirahatlah dulu!" Ucap Ayah Rama
"Tidak, Ayah. Aku semangat sekali. Aku ingin segera bertemu putri kecilku!" Ucap Gita
"Tentu, sekarang kau bisa mengurus dia sepenuhnya. Kau harus belajar menjadi Ibu." Ucap Ibu
"Iya, Bu. Aku memang belum bisa menjadi Ibu yang sebenarnya, tapi aku akan belajar. Demi bayiku!" Gita semangat
"Kau sudah tahu kan? Bahwa kau harus tinggal dirumah Rama?" Ucap Ibu
"Iya, Bu. Gita sudah tahu. Sebenarnya Gita keberatan!" Keluh Gita
"Sudah, tidak apa-apa. Mereka sangat menyayangi bayi kecil kita. Mereka tak ingin kau berbuat seperti dulu lagi. Kau harus tinggal disana. Ibu tak ada pilihan lain, nak!" Jelas Ibu.
"Rama, kau ikut aku ke taman sekarang! Aku ingin berbicara padamu!" Ucap Ayah Gita tegas
"Baik, Om!" Rama mengikuti Ayah Gita dari belakang
Gita tak terlalu mempedulikan Ayahnya dan Rama. Biarlah mereka berbicara, yang Gita pedulikan hanyalah bayi kecilnya yang saat ini ada dipangkuannya. Sungguh, ini merupakan kebahagiaan Gita yang sesungguhnya.
Ayah Gita mengajak Rana duduk di taman halaman depan rumah. Entah apa yang ingin dia bicarakan pada Rama. Tetapi, sepertinya ini merupakan pembicaraan yang serius.
"Kau benar akan menikahi putriku?" Tanya Ayah Gita
"Tentu, saya pasti menikahinya, Om!"
"Kau yakin akan membuatnya bahagia?" Selidik Ayah Gita
"Aku pasti membahagiakannya. Dia dan anakku, adalah dua wanita yang membuatku tetap hidup." Jawab Rama tegas
"Kau tahu kan Gita putriku satu-satunya? Kalau sampai kau menyakiti hatinya lagi, aku akan segera mengambilnya kembali dan bisa ku pastikan kau tak akan pernah bisa bertemu lagi dengannya." Ancam Ayah Gita
"Aku tidak akan menyakitinya. Aku janji, Om! Aku akan membuat hidupnya bahagia. Dia adalah wanitaku, tak ada wanita lain yang bisa menggantikan posisinya dihatiku."
"Kalau begitu, segera persiapkan pernikahan setelah semuanya selesai."
"Tentu, Om! Saya pasti segera menikahinya."
"Aku ingin ketika nanti kau dan anakku sudah menikah, kalian pindah rumah saja. Aku tak ingin Gita bersatu dengan keluargamu. Aku takut mereka tak menyukai anakku."
"Mereka sangat menyayangi Gita, Om! Percayalah padaku, aku bisa menjaminnya!" Ujar Rama
"Keluarga konglomerat sepertimu tak mungkin bisa menerima anakku yang hanya sebagai anak pelayar. Anakku dan kau beda kasta! Mereka hanya menyayangi keturunanmu. Lihat saja nanti, mereka akan menuntut putriku dengan sedemikian rupa. Aku tak ingin anakku lama-lama berada di rumah orangtuamu! Segera bawa anakku keluar ketika kau telah menikahinya. Kau mengerti?" Ayah Gita menaikkan suaranya
"Baik, Om! Aku akan memberikan rumah untuk keluarga kecilku!" Jawab Rama
"Akan ku pegang semua ucapanmu!"
__ADS_1
*Bersambung*