Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Terakhir


__ADS_3

Jenazah Kakek Rama telah dibawa ke rumah duka. Semua orang datang melayat ke kediaman Rama. Almarhum kakek Rama akan dimakamkan besok, karena waktu sudah terlalu sore.


Keluarga besar sudah datang, mereka semua bersedih hati atas meninggalnya sosok yang tegas dan berwibawa seperti Kakek Prima Hanggara.


Rama sangat terpukul atas kepergian sang Kakek. Memang, semuanya sedih ditinggalkan orang yang begitu berarti didalam keluarga, namun berbeda dengan kesedihan yang Rama alami. Kakek Prima selalu membela Rama, selalu mendukung Rama. Kakek Prima menyayangi Rama melebihi sayangnya pada anaknya sendiri.


Rama dan Gita beberapa kali mengaji dan berdoa didepan almarhum Kakek Prima. Kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa rasanya hati sangat hancur melihat orang yang berada didepan kita terdiam tak bergerak sama sekali?


Ingin rasanya membangunkannya lagi. Menggebrak-gebrak dan memaksa ia bangun. Apakah mungkin itu bisa terjadi? Hati Rama benar-benar kehilangan sosok yang melindungi dirinya, sosok yang mempertaruhkan perusahaan untuknya.


"Kamu tak perlu bersedih. Kakek akan selalu ada didalam hati kita. Semoga kakek bahagia di surga sana." ucap Gita


"Aku masih belum rela, kalau harus kehilangannya. Rasanya hati benar-benar terluka. Aku lebih sedih kehilangan kakekku daripada kehilangan Ayahku."


"Kamu gak boleh gitu sayang, semuanya pasti berjalan sebagaimana mestinya. Kita harus menerimanya dengan lapang dada."


"Terima kasih telah menguatkan ku."


"Aku selalu di sampingmu, aku akan selalu ada untukmu." Gita tersenyum


"Terima kasih, sayang." jawab Rama


***


Keesokan harinya, jenazah Kakek Prima akan segera dikebumikan. Semua keluarga bersedih, Mami Rama, Raina, dan Ayahnya pun tak luput dari air mata. Semuanya bersedih, kehilangan sosok yang sangat berjasa bagi keluarga mereka.


Rama membantu membawakan jenazah Kakeknya. Dengan berat hati, ia membawanya pulang ke tempat terakhirnya.


Gita menenangkan Ibu dan Adik Rama. Ayah dan Ibu Gita pun turut hadir di pemakaman. Rey, Vina serta beberapa Asisten pun ikut hadir di pemakaman Kakek Prima.


Semuanya bersedih. Kakek Prima adalah sosok yang sangat hebat, Rama bisa sesukses ini karena Kakek Prima. Rama masih belum bisa membalas jasa kakeknya, semuanya berlalu begitu cepat, belum sampai kebahagiaan Rama buat untuk kakeknya, kakeknya malah pergi meninggalkan mereka semua.


Tiba saatnya, jasad sang kakek dikebumikan. Dengan perasaan sedih yang tak terbendung, Rama dan Ayahnya ikut masuk ke liang lahat mengantarkan Kakek Rama untuk yang terakhir kalinya.


Rama melakukan semua ini sebagai penghormatan terakhir untuk kakeknya. Tak akan ada lagi nasihat-nasihat bermakna yang kakeknya berikan padanya, tak akan ada lagi orang yang paling ditakuti semua orang.


Rama memegang jasad Kakeknya yang terbungkus dengan kain kafan. Memegangnya perlahan, memasukannya kedalam liang lahat, tempat tinggal kakeknya untuk selama-lamanya.


Air mata Gita pun tak henti-hentinya reda. Mengenang Kakek Prima membuatnya amat sedih. Inilah takdir yang harus mereka jalani. Rasa sakit kehilangan seseorang yang paling berpengaruh didalam kehidupan mereka.


"Git, yang sabar ya. Lu harus kuat, ada Rama yang harus lu jaga. Kasihan dia, pasti kehilangan kakek tercintanya." ucap Vina yang setia menemaninya


"Ya, Vin. Aku merasa benar-benar kehilangan. Jasad kakek kini telah dikebumikan, tanah demi tanah menguburnya seorang diri. Aku kehilangan, hatiku sakit. Orang yang dulu membelaku, orang yang dulu ingin mempertahankan ku agar bisa hidup dengan cucunya. Aku merindukan Kakek Prima, Vin."


Gita menangis di pelukan Vina. Hatinya sakit, melihat kakeknya tertimbun tanah, tak berdaya. Semuanya sudah terjadi, tak akan bisa mengembalikan orang yang telah tiada.

__ADS_1


Perlahan, semua orang mulai pergi meninggalkan makam Kakek Rama. Saudara dan kerabat meninggalnya sendirian. Kakek Rama sendirian berada didalam sana. Rama masih enggan pergi meninggalkan makam kakeknya.


"Ram, ayo! Kita pulang. Kakek sudah tenang di sana." ucap Mami Rama


"Ram, kita tak boleh larut dalam kesedihan, kita harus kuat. Kakek akan bahagia di akhirat sana." tambah Papi Rama


"Mami dan yang lain duluan saja, aku ingin sendiri." ucap Rama


"Mi, Pi, Rai, dan Vina, kalian duluan saja. Aku akan menemani suamiku disini. Nanti, kita menyusul." jelas Gita


"Baiklah, kalau begitu." jawab Mami Rama


Mereka meninggalkan Gita dan Rama berdua di makam kakek Prima. Rama benar-benar berat meninggalkan makam kakeknya. Rama ingin terus menemani kakeknya, tapi rasanya semuanya sudah tak mungkin lagi.


Gita memegang pundak suaminya, Gita mengerti kondisi yang sedang Rama alami saat ini. Gita harus bisa menggantikan sosok Kakeknya di hati Rama. Gita tahu, rasanya kehilangan seseorang yang paling disayangi itu benar-benar menyakitkan.


Beliau yang biasanya duduk di kursi kebanggaannya, kini harus berada ditempat sempit dan dikerubungi tanah. Tak ada lagi kesedihan yang paling menyedihkan selain kehilangan seseorang yang tak akan pernah kembali.


"Sayang, ayo kita pulang." ajak Gita


"Tunggulah sebentar, aku masih ingin menemani Kakek." jawab Rama


"Sayang, Kakek akan sedih kalau kamu tak ikhlas akan kepergiannya. Ini sudah jalannya, kita harus mengikhlaskannya." ucap Gita


"Tentu saja aku tahu. Kakek adalah sosok yang hebat dan bijaksana. Ia bisa menyelesaikan masalah tanpa amarah. Ia sangat berjasa untukmu, ia juga sangat menyayangimu."


"Untuk itulah, aku merasa benar-benar kehilangan. Rasanya, aku tak bersemangat lagi menjalankan perusahaan karena kakek tak ada." ucap Rama


"Kamu tak boleh berkata seperti itu. Sayang, lihat aku!"


Gita meminta Rama untuk berbalik kearahnya.


"Ada apa?" tanya Rama


"Apa kamu tahu kenapa aku ada disini denganmu?"


"Karena kamu istriku, kan? Memangnya kenapa?" tanya Rama lagi


"Bukan seperti itu, aku memang istrimu. Tetapi, apa kamu tahu, kenapa Allah membuatku ada disini? Allah membawa aku untukmu, agar aku bisa menggantikan sosok kakek mu. Kamu akan kehilangan beliau, untuk itu aku ada disini, aku yang menggantikan kepergian kakek mu. Kehadiranku untuk membuatmu tetap semangat menjalani hidup." jelas Gita


Rama menoleh kearah Gita, ucapan yang dilontarkan istrinya itu memang benar adanya.


"Hidup itu pilihan. Ada yang datang, dan ada yang pergi. Aku datang untukmu, dan Allah membawa Kakek mu pergi. Kita tak bisa memilih. Ini sudah ketentuanNya. Kita hanya harus ikhlas menjalani semuanya. Kamu harus bisa menggantikan posisi Ayahmu di keluarga Kita. Dan Ayahmu akan menggantikan posisi kakek. Itulah hidup, sebuah pertukaran dan pertukaran. Kapanpun dan di manapun, kita harus siap atas segala takdirNya."


"Kamu benar, aku terlalu egois. Maafkan aku, sayang."

__ADS_1


"Kita lanjutkan hidup kita. Kita tak boleh putus asa. Hidupmu dan aku masih panjang. Kita baru beberapa bulan menjalani bahtera rumah tangga kita. Jangan larut dalam kesedihan ini. Ingat, ada aku yang selalu menyemangati mu. Kuatlah, aku akan merangkul mu dari kesulitan ini. Ada aku yang berharap senyum darimu. Jangan terlalu berpaku pada kesedihan ini. Jika kamu berlarut-larut seperti ini, aku pun akan sangat sedih." ucap Gita


"Terima kasih atas semangatmu, istriku! Aku melupakan anak dan istriku karena kepergian Kakek. Aku lupa, ada kalian yang bisa membahagiakan hidupku sebagai pengganti kakek." jawab Rama


"Iya, bangunlah. Jangan bersedih, anak-anak kita menunggu kita. Ayo, kita pulang. Kakek pasti bahagia di sana, kita doakan dari jauh. Lanjutkan hidupmu tanpa kakek. Namun, jangan lupakan ucapan dan nasehat kakek Prima, kita harus selalu mengenang kebaikannya."


"Iya, aku akan mengingat selalu nasehat yang ia berikan padaku. Terima kasih istriku, aku bahagia memilikimu didalam hidupku." ucap Rama


"Ayo, berikan ucapan terakhir kita untuk Kakek." pinta Gita


Rama menghela nafas. Ia memegang nisan makam kakeknya. Air matanya perlahan surut, dan ia mulai bisa tersenyum.


"Kakek, terima kasih atas semua perjuangan dan pengorbanan mu. Ilmu yang kakek berikan benar-benar bermanfaat untukku. Aku tinggal melanjutkan lagi hidupku yang sekarang tanpa kehadiranmu, aku yakin aku bisa, aku yakin aku sanggup menjadi sepertimu kelak nanti. Aku bangga menjadi cucumu, Kek. Semoga tenang di sana. Doaku menyertaimu." ucap Rama


Gita mendekat, Gita pun ingin mengucapkan perpisahan terakhir untuk Kakeknya.


"Kakek, aku ucapkan terima kasih telah menjadikan suamiku sehebat dan sesukses ini. Semuanya berkat kegigihan kakek dalam membangun perusahaan. Tanpa kakek, mungkin kak Rama tak akan sehebat ini. Kakek, tenanglah di sana, aku bahagia pernah menjadi cucu kakek walaupun tak lama. Aku akan menggantikan kakek dan membuat kak Rama bahagia. Aku ingat selalu nasehat kakek. Aku takkan pernah meninggalkan Kak Rama, Suamiku."


Rama dan Gita berdiri. Perlahan, mereka berjalan meninggalkan jasad kakeknya sendirian. Semuanya terasa berat, namun hidup harus tetap berlanjut. Life must go on, kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Semuanya akan kembali seperti semula, meskipun ada seseorang yang akan dilupakan. Yaitu, Kakek Prima. Rest In Peace, Kakek.


Hidup harus terus berjalan sebagaimana mestinya. Rama dan Gita pulang kerumahnya tanpa Kakek Prima. Banyak hal yang harus Rama jalankan sepeninggalan kakeknya.


Rama akan mulai memimpin semua cabang perusahaan menggantikan Ayahnya. Lalu, Ayahnya yang akan menggantikan Kakeknya. Rama mulai menerima semuanya. Kepergian kakeknya harus membuatnya lebih bersemangat menjalani hidup.


Hidup dengan damai, meskipun perih ditinggalkan orang tersayang, percayalah, Allah menggantinya lebih dari itu. Rama kehilangan kakeknya, tapi Allah menggantinya tiga orang sekaligus. Yaitu, Gita dan kedua anaknya, Nayya dan Nakka. Giya dan Rama harus menjadi orang tua yang hebat seperti Kakek dan Neneknya dahulu.


Semoga hidup Rama dan Gita akan bahagia selama-lamanya , sampai akhir hayat memisahkan mereka.


TAMAT.


ALHAMDULILLAH, CERITA RAMA DAN GITA UDAH TAMAT YA GAIS.


Aku tak mau berbelit-belit. Semuanya tentang Rama dan Gita telah selesai. Untuk Vina dan Gilvan, apakah ada yang penasaran? Apakah kalian ingin tahu kelanjutannya? Kalau kalian ingin tahu cerita Vina dan Gilvan, tulis komentar kalian ya. Kalau nggak, aku putuskan tamat saja ceritanya. Makasih atas dukungannya juga ❤❤❤


Jangan lupa like dan komentar, gratis kok. 🤗


Untuk yang berkenan Vote, Vote juga ya.


Makasih. Perjalanan cinta Gita dan Rama cukup membuat hati kalian gregetan gak sih?


Komentarnya ya gais😘


Oh iya, coba berikan komentar kalian. Apakah aku lanjutkan atau jangan kisah selanjutnya di season 2? Aku harap, ada 70 komentar aja dari kalian pembaca setiaku, yang ingin cerita nya dilanjutkan.


Sementara nunggu, baca juga cerita TERJERAT CINTA SANG PEMBANTU YA. Ini juga bikin baper loh say🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2