
Perasaan Fadli tak tenang. Dengan hati yang gugup, ia melangkahkan kakinya menuju kamar Raina. Fadli tahu, istrinya itu pasti marah besar padanya karena tadi tak mengangkat teleponnya. Fadli tahu, konsekuensinya akan seperti apa.
Fadli sempat mengunjungi toko boneka. Ia membelikan Raina boneka beruang yang lucu. Fadli sengaja membelikannya, agar Raina tak terlalu marah padanya.
Pintu kamar diketuk oleh Fadli, namun tak ada suara. Raina tak membukanya. Fadli takut, dengan perasaan tak menentu, ia akan mencoba membuka pintu kamar saja, daripada ia malu berada di luar terus menerus.
Fadli membuka pintu kamar, ternyata memang pintunya tak dikunci. Raina sedang berada dikamar mandi, terdengar dari suara gemericik airnya. Fadli duduk di sofa, lalu membuka sepatunya perlahan.
Ketika Fadli sedang membuka sepatu, ternyata Raina keluar dari kamar mandi. Raina tak menyadari keberadaan Fadli. Ia hanya menggunakan handuk dari dadanya hingga pahanya.
Terlihat kemolekan tubuh Raina, bahunya yang semampai, dan lekukan lehernya sangat seksi. Pahanya yang putih dan mulus, menambah aura kecantikan dalam tubuh Raina.
Fadli dan Raina sama-sama tak menyadari keberadaan pasangannya masing-masing. Ketika Raina berjalan menuju ranjang yang dekat dengan sofa, barulah Raina sadar, bahwa Fadli ada di sofa.
"Aarrrggghhhhh!!!! Fadli. Kamu sejak kapan disituu!!!!" Raina benar-benar kaget.
Raina menutupi tubuhnya dengan tangannya, saking kaget dan gugupnya Raina, tangannya ternyata melakukan kesalahan, dikira akan menutupi bagian dadanya, namun ternyata ikatan handuk yang menempel pada tubuh Raina terlepas, karena tangan Raina yang menarik handuknya, sehingga tubuh polos Raina terlihat oleh Fadli. Betapa terkejutnya Fadli melihat pemandangan itu.
"Astagfirullah hal adzim, ya Allah, maafkan aku. Maafkan mataku, aku tak sengaja melihatnya." Fadli segera menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Aaarrrgggghhhh, sialaaaaaan!!!!!!"
Raina dengan sigap mengambil handuknya yang terjatuh, lalu segera menghambur ke kasurnya, menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut.
"Rain, maafkan aku. Aku sudah beberapa kali mengetuk pintu, tapi kamu tak membukanya. Aku kira kamu sedang tidur. Makanya, aku masuk saja, aku tak tahu kamu berada di kamar mandi. Sungguh."
"Fadli kurang ajar ya kamu! Kamu mes*m! Aaarrhhh, aku sudah ternodai!!!" Raina menjerit kesal didalam kasurnya.
"Aku tak berniat melihatnya. Maafkan aku, mataku benar-benar refleks. Sungguh, Raina." Fadli benar-benar kaget melihat tubuh polos Raina walaupun dalam hitungan detik.
"Kamu benar-benar membuat aku marah! FADLI!!! Berani-beraninya kamu masuk ke kamarku ketika aku sedang membersihkan diriku! Pergi kamu keluar!!!! Aku mau ganti baju!" ucap Raina, membentak Fadli.
"Baik, Rai. Maafkan aku. Aku akan keluar sekarang juga."
"Heh, tunggu dulu!" ucap Raina.
"Apalagi, Rain? Aku sudah tak mau lama-alam di kamarmu, hatiku panas," ucap Fadli.
"Aku tak mau beranjak dari kasurku! Tolong ambilkan piyama di lemari ku!" perintah Raina.
"Aku tak bisa, Rain. Aku malu melihatnya." jawab Fadli.
"Heh, apa maksudmu? Kenapa kamu harus malu? Kamu pikir, kamu yang akan memakaikan baju itu padaku? Begitu? Dasar kamu ya! Pikiranmu kotor sekali, Fadli!!!" Raina marah lagi.
__ADS_1
"Bukannya begitu, Raina. Aduh, gimana ya aku ngomongnya, aku jadi malu sendiri. Aish, kenapa sih pikiranku ini,"
"Apa sih, cepat katakan! Tolong ambilkan piyama tidurku!!!"
"Aduh, Raina! Kamu membuat aku gugup! Kalau aku mengambilkan piyama mu, berarti aku juga harus mengambil dalaman mu, kan? Itu yang membuatku malu, Raina. Kumohon, kamu mengerti." Fadli salah tingkah.
"HEH dasar kamu mes*m! Dalaman ku itu dipakaikan tas kecil oleh asistenku. Dia tak terlihat, sudah satu perangkat dua-duanya dimasukkan dalam tas kecil. Kamu tak perlu malu. Cepat ambilkan! Aku ingin segera memakai baju tidurku."
"Oh, syukurlah. Ba-baik, Raina. Akan ku ambilkan."
Dengan tangan gemetar, Fadli mengambil piyama Raina. Ia hanya asal mengambil, karena ia takut melihat barang Raina yang itu. Fadli memberikan piyama dan tas kecil yang merupakan satu set dalamannya.
Fadli bergegas keluar kamar. Ia benar-benar kaget dan gugup. Dengan mata telanjang, ia melihat tubuh mulus Raina. Naluri Fadli sebagai laki-laki, tak bisa dibohongi. Ia beberapa kali, menelan saliva nya setelah melihat tubuh molek Raina. Benar-benar menggoda iman, batin Fadli.
Beberapa menit kemudian, Raina mengirimi Fadli pesan, bahwa dirinya sudah selesai. Fadli segera naik kembali untuk masuk ke kamarnya. Didalam kamar, Raina terlihat sudah berbaring di ranjangnya, sambil membaca majalah.
Raina terlihat kesal. Fadli pun jadi tak nyaman berada sekamar dengan Raina. Rasanya, sangatlah aneh. Mereka berdua memang suami istri, tapi tak semudah itu untuk melakukan hubungan suami istri. Bahkan, hanya melihat tubuh tanpa busana pun, Fadli sudah kaget setengah mati.
"Heh, Fadli. Awas ya kamu, kalau ngulangin hal itu lagi." ancam Raina.
"Maaf, Rai. Aku benar-benar tak sengaja. Aku kira, kamu sedang buang air atau cuci muka. Aku tak tahu, kalau kamu sedang mandi malam-malam begini." ucap Fadli.
"Alasan aja kamu! Bilang aja kesempatan kan bisa lihat tubuhku! Ngaku aja kamu!" Raina terus daja ngoceh.
"Jangan bohong! Lelaki mana sih, yang tak senang melihat kemolekan tubuhku! Kini, tubuhku telah ternoda olehmu, Fadli!!!" ucap Raina.
"Ternoda seperti apa maksudmu? Aku tak tahu ya, Rain. Aku tak sengaja melihatmu. Kenapa kamu malah nuduh aku? Kenapa kamu menyalahkan aku terus?" Fadli
"Karena kamu yang melihat tubuh polos ku! Wajar kalau aku marah sama kamu!" Raina geram.
"Memangnya aku mau melihatnya? Harusnya, aku yang kesal padamu. Karena kamu, tubuhku bereaksi!" ucap Fadli berani.
Fadli berjalan menuju ranjang, mendekati Raina. Ia berdiri di pinggir ranjang, dan membuat Raina ketakutan.
"Heh! Diam kamu! Apa maksudmu tubuhmu bereaksi? Awas kamu ya, jangan kurang ajar. Kalau sampai kamu berani macam-macam, akan aku laporkan pada Kakakku!" ancam Raina.
"Oh ya? Memangnya, jika kamu melaporkannya pada kakakmu, Kakakmu akan melakukan apa padaku? Bukankah aku ini adalah suamimu, aku berhak atas dirimu." ucap Fadli.
"Fadli, awas kamu ya berani macam-macam, aku pasti laporkan pada polisi." Raina takut, karena Fadli jadi berani.
"Memangnya polisi akan menjeratku dengan pasal apa? Memangnya mereka berani menangkap seorang suami yang akan meniduri istrinya, begitu? Pasal mana yang akan menjeratku? Aku penasaran!" Fadli mendekat.
"FADLI! Kamu keterlaluan! Pergi sana, pergi!"
__ADS_1
Fadli tak mendengarkan Raina, ia naik keatas ranjang. Raina kalang kabut, ia menutupi dirinya dengan selimut sambil menjerit-jerit agar Fadli turun dari ranjangnya.
"Fadli, turun kamu! Dasar kurang ajar! Dasar laki-laki mesum! PERGIIIII." Raina menutupi dirinya dengan selimut, sambil memaki-maki Fadli.
Fadli mendekati Raina. kemudian ia mendekatkan wajahnya pada tubuh Raina yang ditutupi selimut. Fadli tersenyum ia benar-benar suka melihat Raina menggemaskan seperti itu.
"Kamu yang menggodaku, tapi kamu yang menyalahkan aku. Aku tak bermaksud apapun padamu, tapi kamu yang membangunkan aku. Kenapa kamu harus marah-marah terus? Diam lah, jika kamu tak ingin aku memaksa, jangan menyalahkan aku terus."
"Pergi! Turun dari ranjang ku! Tempat tidurmu bukan disini, Fadli!" Raina memukul-mukul Fadli dibalik selimutnya.
"Izinkan aku tidur di sampingmu, karena aku sudah tertarik denganmu. Jangan salahkan aku, karena kamu yang telah menggodaku, Raina."
Fadli tiduran di samping Raina. Ia mencoba membukakan selimut yang menutupi tubuh Raina.
"Turun Fadli! Kenapa kamu lancang sekali HAH?"
"aku hanya akan tidur di sampingmu. Aku tak akan berbuat lebih. Jika kamu siap, mari kita lakukan." ucap Fadli.
"TIDAK! Sampai kapanpun aku tak akan pernah siap!" Raina menolak dan membalikkan tubuhnya.
"Terserah kamu saja. Jangan ditutupi terus, kamu pengap nanti. Buka selimutnya, aku tak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin sekali-kali merasakan tidur di ranjang yang empuk milikmu."
"Aaarrrgghhh! Masa bodoh! Aku tak peduli. Aku akan tidur saja. Dasar laki-laki omes! Awas saja kalau kamu berani menyentuhku, aku akan melayangkan surat cerai segera!!!"
"Silahkan saja, mungkin pengadilan akan tertawa, jika kamu menggugat cerai padaku, dengan tuduhan akan meniduri istri sendiri. Lucu kamu ya, Rain." Fadli tertawa sambil memejamkan matanya.
"FADLI! Ada apa denganmu!!! Apa kamu kehabisan obat HAH!!!!"
"Sudah, jangan berisik. Katamu, kamu mau tidur. Ayo kita tidur, aku pun lelah!"
Sial, kenapa kamu berani sekali tidur disini? Kenapa sekarang kamu berani membantah perintahku? Ada apa denganmu makhluk rese? Kenapa kamu menyuruhku tidur! Bagaimana aku bisa tidur, kalau kamu ada di sampingku! Aarrgghhh, Fadli!
Raina menggerutu didalam hatinya, padahal ia benar-benar gugup dan jantungnya berdegup sangat kencang.
*Bersambung*
Pagi..
budayakan LIKE setelah membaca.
Hargai cerita ini dengan komentar dan vote kalian..
Terima kasih😍
__ADS_1
"Fadli,