
Bagaimana aku bisa membuat cinta itu kembali? Bagaimana agar cinta mengingat lagi padaku? Aku takkan runtuh, aku akan memperjuangkan cintaku sedemikian rupa. Aku akan bertahan, meskipun ini akan menyulitkan.
Vina sedang menyapu lantai apartemen Rama. Gilvan sedang istirahat. Aktivitas Gilvan tak banyak yang dilakukan, ia hanya sarapan, menonton tivi kemudian istirahat lagi.
Vina harus terbiasa dengan sikap dingin Gilvan. Vina tahu, Gilvan sedang sakit. Vina tak boleh memaksakan Gilvan untuk segera mengingatnya. Vina harus sabar menanti dan menanti. Entah sampai kapan, hanya Vina tak boleh menyerah begitu saja.
🎵🎵aku tidak mengerti soal cinta
bodoh menghadapi hubungan yang akhirnya sampai begini
kapan bayangan kamu bisa pergi
suara kamu bisa hilang, biarkan aku hidup tenang
aku berdoa biar aku bisa lupa ingatan
lupa kalau mengenal kamu, lupa pernah cintai kamu
aku berharap biar tak melihat kamu sekarang
biar lupa mengenal kamu, biar lupa cintai kamu🎵🎵
Andai saja aku yang lupa ingatan, mungkin saja aku tak akan mengalami sakit seperti ini. Andai saja cintaku hilang padanya, mungkin aku akan tenang. Aku tak akan selalu mengingat rasa sakitnya hidup mencinta, tapi tak dicintai. Vina dalam hati.
Gilvan sudah mulai berjalan seperti biasa. Kakinya sudah bergerak normal, namun masih berjalan dengan perlahan. Gilvan berjalan menuju sofa, lalu menyalakan tivi nya kembali. Vina mendekati Gilvan.
"Tuan Gilvan, apa anda ingin makan buah atau snack?" tanya Vina
"Aku ingin makan buah-buahan." jawab Gilvan seadanya
"Baik, Tuan."
Vina segera menuju dapur dan memotong-motong buah untuk Gilvan. Hati Vina seperti campur aduk. Vina tak sanggup menahan perasaannya. Ingin rasanya Vina berkata pada Gilvan, bahwa dirinya sedang amnesia, dan ingatlah Vina.
Melawan rasa sakit dan kepura-puraan itu sangatlah bertentangan. Hati Vina amat sakit, tetapi didepan Gilvan, ia tak boleh memperlihatkan kesedihannya. Vina harus mampu, Vina harus kuat. Ia harus yakin, bahwa suatu saat nanti Gilvan akan sembuh kembali.
Sebentar lagi Gilvan akan pergi ke New York untuk menjalani pengobatan. Vina sangat berharap agar Gilvan segera mungkin sembuh. Vina ingin cintanya kembali seperti sedia kala.
"Tuan, silahkan! Ini buah-buahannya." ucap Vina
Vina akan kembali ke dapur, Vina tak mau mengganggu Gilvan. Tetapi, Gilvan mencegahnya.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Gilvan
"Mau ke dapur, Tuan." jawab Vina
"Duduklah! Aku ingin kamu menyuapiku." ucap Gilvan
Vina heran, kenapa permintaan Gilvan sangat aneh sekali. Kenapa Gilvan selalu saja membuatnya tak nyaman. Kalau dekat seperti ini, dia tetap menganggap Vina sebagai pembantunya, bukan wanita yang dicintainya.
"Baiklah, Tuan. Saya akan menyuapi anda." jawab Vina
Perlahan, Vina menyuapi Gilvan. Hatinya berdebar-debar, kala ia menyuapinya. Vina tak mampu menahan perasaan sedihnya, hati yang ia kuat-kuatkan tetap saja rapuh mengingat kembali hal ini.
"Kamu gak mau nyuapin aku?" tanya Gilvan
"Mau kok, Tuan." jawab Vina
"Wajahmu terlihat tak ikhlas!" semprot Gilvan
"Saya ikhlas, Tuan. Percayalah pada saya."
Gilvan tak menjawab perkataan Vina. Gilvan terus memperhatikan Vina. Perasaan Gilvan tak karuan ketika berada didekat Vina. Gilvan tak mengerti kenapa dirinya menjadi seperti ini.
Mata Gilvan terus menatap Vina. Vina memang wanita yang cantik. Gilvan terpesona akan kecantikan Vina. Gilvan tak paham dengan hatinya saat ini. Ketika dekat dengan Vina, hati Gilvan nyaman. Gilvan seperti menemukan semangat baru.
"Memang kenyataannya begitu, Tuan." ucap Vina
"Kita kenal, tetapi tidak dekat. Bukan begitu? Kamu sahabat mantan istriku." jawab Gilvan
"Bagaimana kalau kita sebenarnya memang pernah dekat?" tanya Vina
"Kenapa kamu menanyakan hal seperti ini padaku?" tanya Gilvan lagi
"Karena, dulu kita memang pernah dekat. Mungkin, Tuan lupa." jelas Vina
"Sepertinya memang begitu, tetapi aku tak ingat. Entah apa memang kamu mengada-ngada saja?" Gilvan merasa tak percaya
"Apa Tuan ingin bukti, kalau aku tak mengada-ngada?" ucap Vina
"Apa buktinya? Aku ingin tahu.
Vina terdiam. Ia berpikir keras. Vina tak mungkin melakukan hal itu. Tetapi, Vina pun merindukan kecupan hangatnya untuk Gilvan.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Vina mendekat kearah Gilvan. Posisi duduknya bergeser mendekati Gilvan. Vina mulai mencium bibir Gilvan dengan hangat. Ia mengecupnya, bibirnya berpagutan dengan Gilvan.
Tak dipungkiri, Vina memang menikmati ciumannya pada Gilvan. Sudah kama sekali, ia menahan hasrat seperti ini. Vina melepaskan ciumannya. Ia baru sadar, kalau yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan.
Ia siap menerima omelan dan cercaan oleh Gilvan, karena berani-beraninya mencium majikannya sendiri. Gilvan menatap Vina tajam.
"Maafkan saya, saya khilaf." ucap Vina
Gilvan masih terdiam, Gilvan tak menjawab perkataan Vina. Hati dan perasaannya tak karuan. Gilvan tak tahu, perasaan aneh macam apa ini. Dirinya tak menolak ciuman Vina. Gilvan malah menikmatinya. Hatinya ikut-ikutan berdebar.
"Kenapa kamu mencium ku?" tanya Gilvan
"Maafkan saya, Tuan boleh menghukum saya, saya khilaf." ucap Vina
"Kamu menginginkannya? Tubuhku telah meresponnya. Kamu tak bisa lepas begitu saja dengan ciuman tadi. Kamu harus mempertanggung jawabkan ulah mu barusan!" ucap Gilvan
Gilvan menindih tubuh Vina. Tangan Vina ia pegang erat. Vina tak bisa menolak. Entah kenapa tubuh dan pikirannya sangat tergoda. Ia menikmati setiap hal yang Gilvan lakukan.
Perbuatan Gilvan kini sama halnya ketika mereka melakukan hal tersebut pertama kali. Tetapi, ada yang berbeda. Kali ini, Vina yang memulai terlebih dahulu pada Gilvan.
Vina tak mengerti kenapa hasratnya mendorong agar Vina mencium Gilvan. Vina tak menyangka Gilvan akan membalasnya. Vina mengira, Gilvan akan marah dan emosi, tetapi malah sebaliknya.
Pergulatan panas itupun terjadi untuk yang kedua kalinya. Vina tak menolak, Vina sangat menikmatinya. Cinta telah menutup akal sehatnya. Kerinduan yang sudah lama terpendam tak bisa dibiarkan lagi.
Diri Vina menjadi korban lagi. Ia pasrah akan perlakuan Gilvan. Vina pun menikmatinya. Vina sudah tak peduli bagaimana kedepannya hubungan mereka. Yang jelas, hati Vina sudah tak tahan menahan segala kerinduannya pada Gilvan.
Vina dan Gilvan telah selesai. Mereka melepaskannya bersamaan. Vina tak menyesalinya, entah kenapa Vina merasa hatinya bahagia, bisa bercinta lagi dengan lelaki yang sangat ia rindukan, meskipun pikiran lelaki itu tak sama seperti dulu.
"Ini bukan salahku! Kamu jangan meminta pertanggung jawabanku. Kamu yang memulai duluan." Gilvan ketakutan
"Tak apa, aku tak akan membuatmu terbebani akan hal ini. Aku sudah pernah merasakan hal ini sebelumnya. Dan, ucapan mu tak jauh berbeda dengan yang dulu."
"Apa maksudmu? Memangnya aku pernah melakukan apa pada dirimu?" tanya Gilvan
"Kamu pernah melakukan hal seperti ini. Hal yang sama seperti yang kita lakukan barusan. Apa kamu tak ingat?" Vina mencoba mengingatkan Gilvan
"Aku bukan tak ingat, tetapi aku memang tidak pernah melakukannya denganmu! Apa kamu menjebak diriku, iya?" Gilvan sedikit emosi
"Tanyakan pada hatimu, bagaimana rasanya berhubungan denganku. Apakah hatimu merasa asing? Apakah hatimu juga menikmatinya? Apakah hatimu merasa hangat? Otakmu bisa saja lupa akan kejadian itu, tetapi hatimu takkan lupa. Hatimu pasti bisa merasakannya. Aku yakin, hatimu pasti mengetahuinya!" ucapan Vina membuat Gilvan kaget.
"Tidak mungkin!"
__ADS_1
*Bersambung*