
-Tiga hari kemudian-
Semua persiapan telah selesai dilakukan. Rama, Gita, serta Gilvan dan Vina, akan segera terbang kmenuju New York. Gita telah mempersiapkan segalanya. Terutama, untuk kebutuhan ia selama berada di USA.
Mereka telah berada di Jakarta diantar oleh Rey. Pesawat akan take off sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Rama mengajak semuanya istirahat di hotel dekat bandara.
Rey ikut menginap. Rey akan pulang setelah Rama memasuki kawasan bandara. Mereka tak tidur, karena sekitar satu jam lagi mereka harus berada di bandara.
"Rey, gue titip keluarga gue di rumah! Anak-anak gue, lo harus beri laporan ke gue setiap hari mengenai keadaan anak-anak. Oke?" pinta Rama
"Siap, Bos!" ucap Rey sigap
"Nanti, kapan-kapan ajak gue liburan dong Bos!"
"Lu mau kemana?" tanya Rama
"Gue mau ke Dubai, Bos! Gue mau ke Burj Khalifa." ucap Rey
"Oke, tunggu nanti setelah semua kondisi telah nyaman dan damai. Lu lamar Mia di sana. Oke Rey?"
"Wah, beneran Bos?"
"Kapan gue musti bohong sih?"
"Thanks, Bos. Lu emang terbaik deh!“ Rey mengacungkan jempolnya
Vina terlihat canggung berada didekat Rey. Vina masih malu untuk sekedar berbicara dengan Rey. Ada Gilvan disampingnya, Vina terasa mati kutu. Tetapi, Rey tak terlihat marah atau kesal sedikitpun.
Waktu hampir menunjukan pukul satu dini hari. Rama dan yang lainnya segera berangkat menuju airport. Meskipun dekat, Rey tetap mengantar mereka menggunakan mobil, karena barang bawaannya sangat banyak.
Mereka semua telah sampai di bandara. Mereka menunggu antrian untuk masuk kedalam.
"Bos, perjalanan berapa jam sih?" tanya Rey
"Dari jakarta ke New York, kira-kira, hampir 30 jam. Karena pasti 1 kali transit. Transitnya di Dubai lho Rey!" ucap Rama
"Waaah, serius Bos? Lu bisa ke Burj Khalifa dulu dong?" Rey sok tahu
"Gila lu, mana bisa! Waktu transit cuma 3 jam. Kalo gue ke sana, ntar gue ketinggalan pesawat. Parah emang lu, sok tahu!“ hardik Rama
"Gue kan gak tahu Bos, makanya bawa gue ke Dubai dong!“
"Nanti, Rey. Kita triple date kalau waktu sudah memungkinkan. Aku akan menantikan hari itu juga." ucap Gita menambahkan
"Bos dan Nona emang baik banget deh!“ Rey sumringah
" Git, triple date sama siapa satu lagi?" tanya Gilvan tiba-tiba
Gita terperanjat mendengar ucapan Gilvan. Gita lupa, bahwa ada Gilvan yang masih lupa ingatan.
"Eh, itu anu, sama siapa ya Rey?" Gita memberi kode pada Rey, agar Rey mau membantu Gita
"Eh, itu Nona siapa ya loh kok jadi saya yang suruh jawab?"
Rama kemudian angkat bicara,
"Satu lagi ya Vina lah, Van! Gue mau triple date sama Rey, satu lagi sama Vina dan pasangannya." jelas Rama
Semua mata melirik kearah Rama. Seperti ingin protes tetapi tidak bisa.
"Memangnya pasangan Vina siapa Ram?" tanya Gilvan
"Menurut lu siapa Van? Apa lu mau jadi pasangan Vina?" tanya Rama
"Nggak, gue gak mau." jawab Gilvan enteng
"Kenapa?" tanya Rama
Wajah Vina kesal, tetapi mencoba biasa saja. Vina harus sadar, Gilvan masih hilang ingatan.
"Masa gue pasangan sama pembantu sih?"
"Ya pecat aja Vina, terus lu jadiin pacar deh! Gampang kan?" usul Rama
"Hahahahha! Kok lu malah ngomong gitu sih?" tanya Gilvan
"Abisnya lu cocok sih sama Vina!" ucap Rama
"Masa iya Ram?" Gilvan menerka-nerka
"Iya, Van. Lu tanya aja Vina, mau gak dia sama lu?" tanya Rama
"Ngapain gue tanya Vina, gue gak mau sama dia." ucap Gilvan
"Awas lu ya Van ntar nyesel kalau Vina sampai direbut orang." Rama terus mengerjai Gilvan
"Yah, Vina kan pembantu gue. Gak ada yang bisa ngambil dia dari gue." ucap Gilvan
__ADS_1
"Tuh kan, elu mulai ada rasa lu ya sama Vina? Ngaku lu, Van!" Rama tertawa
"Gilvan, turunkan sedikit gengsi kamu sama Vina, jangan terlalu jual mahal. Nanti, kalau Vina sudah menemukan lelaki yang dicintainya, kamu bisa ditinggalkan." tambah Gita
"Gak akan ada yang bisa ngambil Vina dari gue. Vina tetap jadi pembantu gue."
"Hahahah, lu cemburu Van. Gue tahu, lu cemburu itu." Rama terus saja merayu Gilvan
"Berisik lu semua. Bikin gue kesel aja deh." Gilvan emosi
"Udah, udah. Kasihan Gilvan." Gita menengahi
Ternyata, kamu memang memiliki rasa untukku, Van. Meskipun kamu dalam kondisi lupa ingatan, tetapi hatimu tetap mengingatku. Terima kasih, aku bahagia walau hanya begini. Gumam Vina dalam hati.
Rama dan Gita telah berada didalam pesawat, begitu juga Gilvan dan Vina. Sekitar sepuluh menit lagi, pesawat akan tinggal landas.
Baru pertama kali, Gita akan berada dalam pesawat sehari penuh bersama Rama. Hati Gita tenang dan nyaman, banyak hal baru yang bisa Gita alami setelah hidup berdua bersama Rama.
Dulu, tak pernah terpikirkan oleh Gita, cintanya akan terbalaskan oleh Rama. Cinta pertama bagi Gita, hanyalah angan-angan yang tak akan pernah bisa ia gapai.
Cinta pertama yang indah, namun rasanya sulit untuk Gita dapati. Bagaikan langit dan Bumi, kehidupannya dengan Rama. Gita tak pernah berharap akan bisa mendapat cinta Rama, apalagi bisa hidup berdua bersama Rama. Bagi Gita, semua itu hanyalah mimpi.
Takdir tak ada yang bisa membacanya. Takdir pula yang membawa Gita bertemu Rama kembali. Kisah baru cinta pertama Gita dimulai. Gita tak pernah menyangka hidupnya akan penuh lika-liku seperti ini bersama Rama.
Hatinya tak pernah terisi lelaki lain, selain Rama. Awal Gita mengenal cinta, ketika ia melihat Rama. Semua hatinya telah terisi oleh Rama. Gita bersyukur, penantian cinta pertamanya tak sia-sia. Meskipun sempat menyerah, tetapi kekuatan cintanya tak pernah pada untuk Rama, hingga akhirnya mereka bisa bersatu sampai saat ini.
Rama melihat Gita yang sedang melamun sambil menyenderkan kepalanya ke jendela pesawat. Rama melihat, Gita seperti sedang memikirkan sesuatu.
Gita tengah termenung, lamunannya teringat saat-saat mereka belum saling mengenal, dan cinta monyet masih hinggap di masa putih abu-abu. Masa yang mendebarkan jiwa, hati dan perasaan. Kala itu, Rama begitu spesial di mata Gita. Rama sangat luar biasa, dan penuh kharisma.
Berawal dari sebuah pertemuan,
Yang sungguh tak pernah terfikir lagi,
Oleh akal sehat manusia,
Tuk berujung sebuah cinta,
Yang mungkin masih malu,
Tuk diungkapkan,…
Saat pandangan pertama,
Tuk hal itu terjadi,
Karena,
Tatapan mata ini,
Takkan pernah teringinkan,
Akan tuk menatapmu,
Tapi,
Saat mata tak sadar,
Tuk menatapmu,
Kaupun menjawabnya,
Akan tatapan ini,
Yang membuat malu,
Tuk menggerakkan tubuh ini lagi,
Setiap dimanapun ku berada,
Tiba-tiba mata ini terus menatapmu,
Dan,
Kaupun menjawabnya,
Sampai berubah menjadi sebuah cinta,
Yang tak pernah diungkapkan,
Dengan mulut ini,
__ADS_1
Tapi,
Hanya terungkapkan,
Dengan perasaan yang malu ini
Akankah perasaan ini tumbuh menjadi nyata?
Ataukah hanya akan menjadi angan-anganku saja?
Tuhan, jika dia memang Jodohku,
Maka dekatkan lah kami,
Aku tahu, mimpiku terlalu tinggi
Tapi,
Apakah aku layak bermimpi?
Walau aku tahu semua itu,
hanya khayalanku saja ....
Gita melamun, teringat akan kesedihannya saat jatuh cinta pada Rama. Tak pernah terbayangkan olehnya, ia bisa memiliki Rama seutuhnya seperti ini Hati yang sakit, perjuangan cinta yang luar biasa, ternyata menumbuhkan kekuatan mendalam pada diri Gita.
Semua ini bukan mimpi, Rama memanglah untuknya. Setelah perjuangan panjang yang mereka lewati, akhirnya Rama menjadi milik Gita. Mimpi yang pernah Gita angan-angankan, nyatanya menjadi kenyataan.
Walau kisah mereka begitu rumit dan tak mudah, namun kekuatan cinta mampu mengalahkan semuanya. Gita dan Rama akhirnya bisa bersatu, mereka membuktikan, bahwa mimpi cinta oertama itu, bisa diwujudkan dan berakhir bahagia.
Rasanya, jika kita memang yakin akan suatu hal, maka tak ada yang tak mungkin. Semuanya akan berjalan dengan baik dan tentu saja cinta akan menemukan jalannya sendiri.
Luka dan duka, telah mereka lewati. Kini, tinggal merasakan kebahagiaan yang tertunda sejak dulu. Kebahagiaan atas luka dan duka yang telah mereka lewati bersama-sama.
Gita hanya berharap, jika Rama akan menjadi cinta pertama dan terakhir baginya. Gita hanyalah sosok wanita biasa, yang beruntung mendapatkan pria luar biasa seperti Rama.
Padahal, Rama pun beranggapan hal yang sama. Ia begitu beruntung mendapatkan wanita seperti Gita. Rama sangat bahagia, memiliki Gita dan bisa mencintainya. Cintanya untuk Gita, tak akan pernah habis, karena pada dasarnya, cinta itu tak terukur besarnya, cinta akan selalu melekat pada insan yang sama-sama jatuh cinta.
....
"Kamu mikirin apa sayang?" tanya Rama
"Aku sedang memikirkan, cinta kita." jawab Gita
Rama membenarkan posisi duduknya,
"Memangnya kenapa dengan cinta kita?" tanya Rama lagi
"Aku sempat tak menyangka saja, cinta kita bisa dipertemukan lagi" Gita tersenyum
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"
"Tak pernah terpikirkan olehku, cintaku akan terbalaskan. Karena aku, sejak awal jatuh cinta pun, tak pernah memberi tahu dirimu mengenai perasaan ini."
"Kenapa tak dari dulu saja kau ucapkan, bahwa kau mencintaiku?" tanya Rama
"Memangnya aku ini bodoh apa? Kamu, lelaki yang banyak di sukai oleh wanita. Kamu, yang berpacaran dengan wanita populer disekolah. Aku? Siapa aku? Hanya murid biasa, yang tak punya prestasi apa-apa. Bagaimana aku bisa mendekatimu?" keluh Gita
"Aku, aku lelaki populer disekolah. Siapapun bisa ku dapatkan, mereka semua menyukaiku. Hanya satu wanita yang selalu aku lihat, dan tak pernah melihatku. Kamu! Itulah kamu! Kita dekat, tetapi tak pernah saling mengutarakan. Itulah kesalahan kita. Padahal, dari dulu cinta itu sudah ada. Hanya waktu yang belum mempersatukan kita berdua." jelas Rama
"Aku tak pernah tahu akan hal itu. Untuk itu, aku merasa bahagia sekali, aku bersyukur sekali, cintaku bisa aku gapai dengan sempurna." ucap Gita
"Aku tidak! Cintaku sedang terbang saat ini." ucap Rama
Gita menoleh kearah Rama. Gita melotot.
"Terbang? Maksudmu? Jadi, kamu punya cinta yang lain? Iya? Jujurlah. Kamu keceplosan kan!!! Jujur, atau aku akan benar-benar kembali ke Indonesia." ancam Gita
"Aku sudah jujur! Cintaku saat ini memang sedang terbang kan? Cintaku itu kamu. Kamu lihat dirimu! Kamu sedang berada dimana? Di pesawat kan? Berarti, kamu sedang apa? Sedang terbang kan? Hehehe." Rama menjahili Gita
"Keterlaluan kamu! Aku lagi serius juga." Gita cemberut
"Sayang, bapak kamu itu ahli komputer ya?"
"Apaan sih kamu! Ngaco!" Gita kesal
"Jawabnya kok tahu? Gitu dong!" ucap Rama
"Males ah!“
"Eh, ayo dong sayang!" Rama memaksa
"Iya, iya! Kok tahu sih?" jawab Gita malas
"Karena kamu telah menginstal benih-benih cinta dihatiku. Hiya hiya hiyaaaaaaa." Rama tertawa
"KAMU YA!"
__ADS_1
*Bersambung*