Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Kepala batu!


__ADS_3

"Aku ingin bertemu dengan anakku!" ucap Gilvan


"Untuk apa? Aku sudah berkata pada anakku, bahwa Ayahnya telah meninggal. Bukankah kau memang sudah seperti orang yang meninggal Van? Kau pergi tanpa kabar, kau meninggalkan luka dan duka untukku. Untuk kujalani sendiri. Tidak semudah itu kamu bisa menemui Givia."


"Kau dan aku memang sudah terikat. Restoran ku, kubuat dengan nama Givi. Dan anakmu? Juga bernama Givia. Jadi, anak kecil yang lucu dan periang itu adalah Anakku? Tega sekali kamu, Vina. Tak menganggap aku sebagai Ayahnya." ucap Gilvan


"Kamu ingin sekali dipanggil Ayah oleh anakku? Iya? Kamu tak pantas menjadi Ayahnya, dan aku tak akan pernah menganggap Ayah Givia ada! Aku menganggapnya sudah mati."


"Kenapa kamu harus begini? Apa tak bisa memaafkan kesalahanku yang sudah lalu?" tanya Gilvan


"Aku memaafkan kesalahanmu, tapi karena waktumu sudah habis, aku tak bisa memberimu kesempatan kedua."


Gilvan benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Vina. Gilvan bisa merasakan dari setiap nada suara yang Vina ucapkan. Kata-katanya penuh keraguan. Lidahnya tak pandai berbohong.


Gilvan tahu, Vina menyembunyikan rasa cintanya. Vina berbohong karena keegoisannya.


"Aku tak berharap pada cinta kita lagi. Namun, kumohon berikan aku kesempatan untuk bertemu dengan anakku. Aku hanya pernah bertemunya satu kali, saat dia ingin merchandise di restoran ku. Ternyata, aku tak salah memberikan nama restoran itu, nama itu adalah nama buah hatiku, Givia."


"Hentikan kesedihan memuakkan mu itu!" Vina membentak Gilvan


"Jangan terlalu membenciku, Vina. Aku adalah Ayah biologis anakmu. Kamu tak bisa semudah itu untuk menjauhkan aku dengannya." ucap Gilvan


"Memangnya, apa yang bisa kamu lakukan untuk memperjuangkan anakku? Kau akan menggugatnya? Iya? Anakku tak punya Ayah, dalam surat kelahirannya pun dia hanya anakku. Kamu tak akan kuat menggugat Givia, sekalipun kamu bersikeras untuk membuatnya bersamamu. Dan lagi, anakku pasti sangat membencimu karena kamu meninggalkannya." Vina benar-benar mengeluarkan kekesalannya


"Aku tak akan menggugat anakku, juga tak akan mengganggu kebahagiaanmu dengannya. Aku hanya ingin, kau memberitahu Givia, bahwa aku adalah Ayahnya. Bahwa Ayahnya masih hidup dan sangat bahagia akan kehadirannya di dunia ini. Hanya itu yang ku minta darimu. Apa aku salah? Apa aku tak boleh, berharap anakku memanggil Ayah padaku? Kenapa kau egois sekali Vina?"

__ADS_1


Vina terdiam. Ucapan Gilvan benar-benar membuat hatinya bergetar. Bulir bening mengalir di pelupuk mata Vina. Perkataan Gilvan memang benar, tapi Vina pun tak mungkin dengan mudahnya membeberkan identitas Ayahnya pada Givia.


Alasannya adalah Andra. Givia sudah terlanjur menyayangi Andra. Bahkan, setiap harinya, Givia selalu menanyakan kabar Andra. Tapi, ucapan Gilvan pun benar tak ada yang salah. Vina hanya belum bisa berdamai dengan keadaan.


"Suatu saat nanti aku akan memberi tahu Givia. Kamu tak perlu khawatir." ucap Vina


"Kenapa harus nanti? Kenapa tak sekarang? Kalau saja aku tahu dari awal, bahwa Givia adalah anakku, mungkin sejak pertama aku menginjakkan kakiku di Indonesia, yang akan pertama kutemui adalah Givia. Kenapa kamu tega membiarkan anakku jauh dengan Ayahnya? Apa semua ini karena Andra? Beberapa kali, aku mendengarnya mengucapkan Ayah pada Andra. Apa itu semua kamu yang menyuruhnya? Kamu menyuruh Givia menyebut Ayah pada Andra, agar membalas dendam mu padaku, IYA?" Gilvan mulai berapi-api


"Jangan membentak ku seperti itu! Demi Tuhan, aku tak pernah mengajari anakku untuk melakukan hal sepicik itu. Dan untukmu, aku tak akan pernah membiarkanmu menyentuh anakku, aku tak mau dia bingung. Kini, aku telah menjalin hubungan dengan Andra. Aku akan serius menjalani hubungan ini dengannya. Pastinya, Andra yang akan menjadi Ayah dari anakku! Hentikan semua omong kosong mu. Karena, aku tak akan mendengarkannya sedikitpun." ucap Vina menggelegar


"Kenapa harus Andra? Aku tahu, dia bukan lelaki yang baik untukmu. Aku sudah pernah melihatnya bersama wanita lain. Carilah lelaki lain, asalkan jangan Andra. Ini bukan demi kamu, tapi demi anakku. Aku tak mau anakku mempunyai Ayah seperti Andra. Dia tak pantas menjadi Ayah dari Anakku!" ucap Gilvan


"Tahu apa kamu tentang Andra? Jangan pernah menjelek-jelekkan lelakiku, mentang-mentang kamu pernah membuatku jatuh padamu, bukan berarti kamu bisa seenaknya mengatur kehidupanku. Kamu adalah lelaki paling baj*ngan yang pernah aku kenal selama hidupku. Cukup semua bualan ini. Jangan ganggu aku dan anakku. Kamu tak berhak sedikitpun atas dirinya."


"Vina, berilah kebaikan hatimu sedikit untukku. Izinkan aku bertemu dengan Givia, anakku. Terserah kalau kamu bersikeras hidup dengan Andra. Tapi, izinkan aku bertemu anakku, sekali ini saja." Gilvan memegang tangan Vina, memohon dengan setulus hatinya


"Jangan ganggu aku lagi, kumohon. Anggap kita tak pernah saling mengenal, aku akan mengubur semua kenangan tentang dirimu. Dan aku telah menganggap kamu tiada. Jangan pernah bertanya tentang anakmu. Karena aku, tak akan seujung kuku pun membiarkan kamu menyentuhnya!"


Vina berlari meninggalkan Gilvan. Ia membanting pintu ruang kerja Gita dengan perasaan sedih dan kecewa.


Ini adalah jalan yang aku pilih. Aku ingin kamu merasakan apa yang dulu pernah aku rasakan. Aku bukan tak ingin mempertemukan mu dengan Givia. Namun aku takut, anakku bingung. Karena saat ini, Givia sedang dekat dengan Andra. Biarlah Andra yang akan menggantikan mu menjadi Ayah Givia. Kamu tak perlu bersusah payah untuk menganggap Givia sebagai anakmu. Maafkan keegoisanku ini, aku hanya tak ingin mengingat kisah kelam itu lagi. Jika melihatmu, aku selalu teringat akan rasa sakit yang selama ini pernah kau berikan padaku. Gumam Vina dalam hati.


***


Malam ini, malam yang suram bagi Gilvan. Ia pergi dari restorannya. Ia ingin menikmati malamnya sendiri. Ia selalu teringat dan terbayang dengan ucapan Vina. Ia tahu, Vina selalu saja bersikeras, ia tahu, Vina tak mudah di taklukan.

__ADS_1


Gilvan tak mungkin membiarkan Vina hidup bersama Andra. Gilvan tahu, Andra lelaki yang seperti apa. Gilvan ingin Vina sadar, meskipun Vina menolaknya habis-habisan.


Kali ini, hati Gilvan benar-benar mati. Ia tak mungkin tanpa izin Vina, untuk menemui anaknya. Rama menyuruh dirinya untuk tetap sabar, Rama akan mengatur strategi lagi untuk melunakkan hati Vina yang keras.


Gilvan pergi di diskotik terkenal di Jakarta. Mungkin dengan minum alhokol, hatinya bisa sedikit tenang. Ia tak ingin ditemani siapapun, ia hanya ingin sendiri. Menikmati rasanya whiskey, dan melupakan semuanya.


Gilvan duduk di depan meja bartender. Ia memesan minuman yang memabukkan. Gilvan tak pernah seperti ini sebelumnya. Kalau hatinya tak mengalami luka mendalam, Gilvan tak mungkin sesakit ini.


Rasa sakitnya ditolak Vina, tidak seberapa dengan rasa sakitnya tak diizinkan bertemu dengan anaknya. Gilvan sangay sakit hati dan kecewa, ketika Vina tak mengizinkannya bertemu dengan Givia.


Karena itulah, Gilvan berada di tempat ini, dan meneguk minuman memabukkan tersebut. Gilvan sudah kalap, dirinya sudah tak memikirkan apapun selain rasa kecewa yang mendalam.


Pandangan Gilvan terlihat samar-samar dan mulai kabur. Matanya berbinar-binar, kepalanya pusing sekali, namun ia masih bisa melihat sekumpulan orang-orang yang sedang duduk di sofa dekat music DJ yang sedang berlangsung.


Gilvan memicingkan matanya berkali-kali, mencoba menerka-nerka apa yang ia lihat. Ia mengamati dengan seksama. Ia melihat seorang laki-laki sedang menciumi seorang wanita dengan brutal, dengan tangan lelaki itu yang menjelajah meraba-rasa sang buah dada milik wanita tersebut. Terlihat, sang wanita dalam keadaan mabuk berat.


"VINA?"


*Bersambung*


Halo gais..


Emosi gak nih? 🤣


Jangan lupa like dan komen ya..

__ADS_1


Banyak yang nunggu, aku up lagi malem. Jadi, jangan pelit komentar. Okay! 😘❤


__ADS_2