Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Hari pertama SAH


__ADS_3

"Bagaimana, SAH?"


"SAH!"


"Alhamdulillah."


Ucap sang penghulu sambil berdoa kepada kedua mempelai. Akhirnya, Raina dan Fadli telah SAH menjadi sepasang suami istri. Raina diminta untuk menyalami Fadli. Terlihat, raut wajah tak ikhlas Raina pada Fadli.


Semuanya berbahagia. Mami dan Papi Raina pun senang bahwa anak bungsunya telah menikah, itu berarti mereka tak perlu terlalu mengkhawatirkan Raina, karena kini ada yang akan menjaganya. Sebentar lagi, kedua orang tua Rama dan Raina akan segera terbang ke Moskow, untuk menetap di sana.


Ara tidak hadir ke pernikahan Fadli dan Raina, karena Ara tak mau lagi berurusan dengan Raina. Pagi tadi, Ara akan mengantar Fadli, namun Fadli memberi tahu Ara, bahwa calon istrinya adalah Raina, maka seketika itu pula Ara mengurungkan niatnya untuk mengantar Fadli.


Semua keluarga dan rekan sedang menyantap jamuan yang telah disediakan koki handal keluarga Rama. Semua tampak berbahagia, namun Raina dan Fadli sama-sama canggung. Tak ada yang mau bicara sama sekali.


"Fad, kamu hebat! Bisa mengucapkan akad tanpa gugup sama sekali." ucap Vina.


"Gimana mau gugup coba dia? Dia gak ada perasaan sama sekali sama istrinya, ya pasti lancar-lancar ajalah ngucapin akadnya. Itung-itung lagi ujian praktek ya Fad?" Gilvan cengengesan.


"Ah, Bapak. Nggak gitu kok." Fadli malu.


Hari yang sangat kacau bagi Raina. Ia tak menyangka, statusnya kini adalah sebagai istri, di usianya yang masih belia, 24 tahun, ia sudah menikah, bahkan kelulusan kuliahnya pun belum, tapi ia sudah menjadi istri orang lain.


Kak Rama, lihat saja nanti. Aku bisa membuat si Fadli itu pergi dari kehidupanku dengan tanganku sendiri. Aku tak akan tinggal diam. Kak Rama berani-beraninya memerintah aku. Aku juga bisa berontak, lihat saja nanti. Batin Raina.


Acara telah selesai. Semua teman dan rekan telah kembali pulang. Kini, tinggal tersisa Fadli seorang diri di rumah besar itu. Rama terlihat sangat hangat pada Fadli, karena Rama sangat menyukai sosok Fadli yang ramah.


"Fad, kamu pasti lelah. Kamu istirahat saja. Kamar Raina sekarang adalah kamarmu juga. Istirahatlah di kamar istrimu." perintah Rama.


"Hah? Apa-apaan sih Kakak? Maksudnya apa coba?" Raina tak setuju.


"Lalu, kamu mau Fadli tidur dimana?" tanya Rama.


"Di kamar tamu aja! Ngapain satu kamar sama aku, aku enggak mau!" tolak Raina.


"Sayang, Fadli kan sekarang suamimu. Kamu gak boleh nolak gitu dong. Biarkan dia istirahat bersamamu. Mami tahu, kamu belum siap, namun kamu juga harus belajar perlahan-lahan untuk menjadi seorang istri. Ya, sayang? Ajaklah suamimu ke kamarmu. Istirahatlah, kalian pasti lelah." ucap Mami Maya.


"Ih, ogah! Aku pergi. Kalau dia mau ikut, TERSERAH!!!"


Raina meninggalkan mereka yang ada di ruang akad. Fadli bingung, entah harus bagaimana dirinya. Berada di rumah ini saja sudah membuatnya tak nyaman, apalagi jika berada satu kamar dengan Raina, rasanya sungguh tak bisa Fadli bayangkan.


"Fadli, ikuti saja Raina dari belakang. Kamu harus membiasakannya. Semangat, Fadli." Gita menyemangati Fadli.


"Baik, Mbak." ucap Fadli.


"Sabar ya, Fadli. Raina sebenarnya baik, kok." ucap Mami Maya.


"Iya, Tante, Eh, iya Ma. Kalau begitu, Fadli permisi dulu ya semuanya." Fadli menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.


***


"Kamu gak boleh tidur satu ranjang sama aku!" bentak Raina.


"Baiklah. Aku akan tidur di sofa itu." ucap Fadli tanpa melihat Raina.

__ADS_1


"Baguslah kalau kamu sadar!"


Fadli tak menjawab perkataan Raina. Ia segera membuka jasnya lalu menyimpannya di rak baju Raina. Raina melihatnya dengan tatapan jijik dan tak suka, namun Fadli menghiraukannya. Fadli tak mau banyak bicara dengan Raina.


Raina pergi ke kamar mandi, untuk mengganti bajunya, karena ia tak mungkin istirahat mengenakan gaun. Sementara Fadli terlihat sedang tiduran di sofa, sambil sesekali memainkan handphonenya. Selang beberapa menit kemudian, Raina keluar dengan kaos oblong dan celana hotpants kesukaannya.


"Heh, kamu!" ucap Raina pada Fadli yang sedang tiduran di sofa.


"Iya, apa?" jawab Fadli ramah.


"Jangan pernah berharap pada pernikahan ini." ancam Raina.


"Baik, tentu saja. Aku tidak akan berharap." jawab Fadli.


"Aku akan menemukan cara, bagaimana agar kamu bisa terlepas dari perjodohan ini. Yang tentunya, tak akan bisa lagi Kakakku mengembalikan semuanya. Kuharap, kamu mau bekerja sama denganku!" ucap Raina.


"Aku akan mengikuti semua keinginanmu. Apapun yang kamu inginkan, akan aku lakukan. Apapun yang kamu katakan, aku akan menurutinya. Sudah cukup jelaskan?" ucap Fadli.


"Kenapa kamu ketus? Kenapa seperti aku ini sedang mengganggumu," Raina bertanya.


"Kamu memang mengganggu, aku mau istirahat. Sudah, tak perlu bicara lagi. Aku mau tidur siang." ucap Fadli.


"Berani-beraninya kamu!" Raina kesal.


"Maaf, aku hanya lelah. Semalaman aku tak tidur, maafkan aku. Izinkan aku istirahat sebentar saja." ucap Fadli memohon.


"Terserah! Aku gak peduli." Raina masih kesal.


Raina sangat kesal, Raina tak suka jika Fadli ada di kamarnya. Rasanya, ia ingin segera lari dari perjodohan ini. Raina pun merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya. Ia lelah, tak lama mereka berdua pun terlelap, dan sama-sama terpejam walaupun tidur berbeda tempat.


***


Rama dan Gita, serta kedua orang tuanya telah duduk di meja makan. Mereka akan segera memulai makan malam bersama. Fadli dan Raina, tak terlihat hadir. Gita pergi ke kamar Raina untuk mengajak Raina makan malam.


Akhirnya, Raina dan Fadli makan malam bersama. Raina terlihat kesal dan tak suka, namun ia harus tetap pura-pura menikmati pernikahannya.


Makan malam berlalu, Raina dan Fadli kembali ke kamar mereka. Masih terlihat kekesalan pada wajah Raina ketika menatap Fadli. Namun, Fadli tetap mencoba sabar menghadapi Raina.


Fadli akan keluar dari kamar Raina, namun Raina menahannya.


"Mau kemana, kamu?" tanya Raina.


"Aku mau ambil beberapa baju di mobilku, aku lupa membawanya kemari." ucap Fadli.


"OH!"


Fadli beranjak pergi keluar dari kamar Raina. Raina menatap Fadli dengan tatapan tajam.


Oh, tidak! Kamarku jadi penuh sesak begini karena kehadirannya. Aku benar-benar membenci perjodohan ini. Umpat Raina.


Raina berjalan-jalan kecil disekitar kamarnya, lalu pandangannya tertuju pada bingkisan-bingkisan yang Fadli bawa saat mereka melaksanakan akad pernikahan tadi.


Raina membuka kotak kecil berwarna merah. Ia melihat, kalung emas dengan liontin hati yang sangat cantik dan menawan. Liontin nya bersinar, membuat kalung itu terlihat semakin mewah. Raina tersenyum melihat kalung itu, ia menyukainya. Raina menyukai kalung yang Fadli jadikan mas kawin untuknya.

__ADS_1


Cantik sekali, indah sekali. Kalau aku pakai, apa mungkin akan terlihat sangat cantik?


Raina mencoba-coba kalung itu di lehernya yang jenjang. Ia terlihat sangat menyukai kalung tersebut, hingga Raina tak sadar, Fadli sudah berada dibelakangnya.


"Bagus gak kalungnya?" pertanyaan Fadli membuat jantung Raina hampir copot.


"Apa? Apa maksudmu?" Raina benar-benar kaget.


"Kalung itu, mas kawinku untukmu. Apa kamu menyukainya?" tanya Fadli lagi.


"Hah? Kalung? Kalung apa? Eh, ini, kalung ini? Ih, apaan sih, ngeliatnya aja udah bikin aku gak suka, bagaimana mau memakainya!" Raina melemparkan kalung itu ke box nya, saking Raina kagetnya.


"Kukira kamu suka, karena memegang kalung itu, lalu mencoba menempelkannya di lehermu." ucap Fadli sedikit kecewa.


"Ehm, i-itu aku hanya ingin tahu, apakah wanita sepertiku pantas menggunakannya, eh tapi ternyata sangat jelek! Sangat tidak cocok dipakai untuk wanita sekelas ku! Pilihanmu tak selevel denganku!" umpat Raina.


"Maaf, aku hanya bisa memberimu mas kawin dan mahar seperti itu. Jika kamu tak suka, aku bisa menyimpannya kembali."


Fadli berjalan mendekati mahar dan mas kawin yang Raina lemparkan tadi, Fadli memasukkan kembali kalung yang barusan Raina lemparkan.


"Mau dibawa kemana?" tanya Raina.


"Besok mau aku bawa ke ruko. Aku akan menyimpannya di sana. Sebagai kenang-kenangan untukku, karena ini aku yang membuat hiasannya semalaman, hingga aku tak tidur. Ini sangat berarti untukku." ucap Fadli.


"Eh, eh! Jangan dibawa pergi." tahan Raina.


"Kenapa? Bukannya kamu tak suka? Disimpan disini pun akan memenuhi isi kamarmu, biar aku simpan saja di kamarku nanti." ucap Fadli.


"Biar aku yang menyimpannya!" ucap Raina.


"Bukankah kamu tak suka?" tanya Fadli.


Raina terdiam. Ia bingung harus menjawab apa, ia tak tahu, apa alasan yang tepat untuk dikatakan pada Fadli. Sebenarnya ia menyukai kalung itu, namun ia terlalu gengsi untuk mengatakannya.


"Ehm, eh, i-itu jangan dibawa ke tempatmu, nanti kalau Kak Rama bertanya perihal mas kawinnya bagaimana? Nanti, kalau dia tahu mas kawinnya ada di tempatmu, bagaimana? Nanti, aku lagi yang disalahkan oleh dia! Sini, biar aku yang simpan saja!"


Raina mengambil beberapa hantaran dan kotak kalung itu, lalu ia memasukannya kedalam lemari baju miliknya yang sangat besar.


"Baiklah, terima kasih, sudah mau menyimpannya." ucap Fadli.


"Kalau bukan karena Kakakku, aku malas menyimpannya!" jawab Raina.


"Tak apa, pemberianku memang jelek, dan tak pantas untuk kamu. Kalau kamu sudah tak mau menyimpannya lagi, aku pasti akan membawanya kembali." ucap Fadli.


"Baguslah kalau kamu sadar!"




*Bersambung*


Yuk ah, beri like, komentar, dan VOTE dong..

__ADS_1


Susah banget ngasih vote nya, hanya itu-itu saja yang rajin memberi vote. 😁


__ADS_2