
Tak mungkin.. Itu tak mungkin terjadi. Ada apa dengan Gilvan? Kenapa dia harus menyebut nama Gita? Kenapa harus Gita? Ini akan menyakitkan bagi semua. Bukan hanya Vina, tetapi Rama juga.
Kenapa Gita harus terseret kedalam masalah ini? Apa yang harus Gita lakukan saat ini? Gita mematung. Tak bisa berkata apa-apa. Dia melirik kearah Rama, suaminya. Ekspresi Rama tak bisa dijabarkan.
"Sayang, akhirnya kamu sadar juga. Ibu sangat bahagia, Nak." Ibu Gilvan memeluk Gilvan
"Syukurlah, kamu cepat siuman." ucap kakak Gilvan
Gilvan melihat kearah Ibu dan kakaknya. Didepannya hanya ada Vina dengan kursi rodanya.
"Kamu kenapa, Vin? Mengapa memakai kursi roda? Gita mana? Kenapa istriku tak ada disini?" tanya Gilvan
Kepala Gilvan masih pusing. Ia merasakan sakit yang amat hebat. Gilvan merasa ada yang salah dengan kepalanya.
"Van, apa kamu tak ingat apa yang kita janjikan waktu itu? Kita akan bertemu di Mall Buana. Apa kau lupa?" Vina menitikkan air matanya.
"Apa aku pernah berjanji seperti itu padamu?" tanya Gilvan
"Kamu benar-benar lupa, Van.." Vina menangis, tak mampu melanjutkan ucapannya
"Gita mana? Gita istriku dimana?" tanya Gilvan
Gita tak ingin menemui Gilvan. Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini? Kenapa jadi Gita yang harus kena imbasnya? Apakah ini balasan dari rasa sakit hati Gilvan selama ini.
Gita pergi berlari keluar ruangan. Gilvan tak menyadari keberadaan Gita. Rama segera mengejar Gita. Tetapi, Rey tetap tinggal.
"Van, kamu harus lupakan Gita. Dia sudah bahagia dengan kehidupan barunya." ucap Kakak Gilvan
"Kenapa kakak bicara seperti itu?" ucap Gilvan
"Kapan kamu terakhir bertemu Gita?" tanya sang Kakak
"Kemarin, aku masih mengantarnya pergi ke Rumah sakit, tapi aku lupa untuk apa aku dan dia pergi ke Rumah sakit? Apa mungkin aku sakit, jadi sekarang aku berbaring disini. Lantas, istriku mana?" Gilvan tetap ingin bertemu Gita
"Van, Gita bukan istrimu lagi. Kamu harus mengingatnya! Dengan siapa kamu menghabiskan waktumu, dengan siapa kamu terakhir bertemu. Siapa yang selama ini kamu tunggu-tunggu. ITU AKU, VAN!!!!!!!!" Vina menangis berurai air mata.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Gilvan
"Aku yang benar-benar merindukanmu! Aku yang benar-benar menunggu kamu! Aku yang ingin kamu segera pulih, Van. Aku VINA! Wanita yang telah kamu tiduri, wanita yang telah kamu sakiti." Vina menangis
Wajah Ibu Gilvan dan Kakaknya Gilvan berubah serius mendengar perkataan Vina. Mereka tak menyangka dengan apa yang dikatakan Vina.
"Kenapa aku harus meniduri mu? Apa kita sepasang kekasih? Lalu, istriku kemana?" Gilvan kebingungan
__ADS_1
"Istrimu sudah mencari kebahagiaan lain. Kini, wanita yang di depanmu lah yang selalu bersamamu." ucap Kakak Gilvan
"Nama kamu Vina? Bukankah kamu teman baik istriku?" Gilvan semakin pusing
"Istrimu sudah meninggalkanmu! Hanya aku yang setia menantimu." ucap Vina
"Kenapa Gita harus pergi? Apa dia kembali ke pelukan lelaki itu?"
"Van, ingatlah aku. Ingatlah saat itu kita akan bertemu. Lihat aku, tatap aku, Van! Aku merindukanmu yang dulu." Vina menangis
"Auwhhhh, pusing sekali." Gilvan memegang kepalanya yang berat
"Cukup!!! Anakku sedang terluka. Jangan memberinya beban yang berat. Kumohon..." Ibu Gilvan berderai air mata
Gilvan tak mengerti dengan ucapan Vina. Yang ia tahu, Vina hanyalah sahabat karib istrinya. Gilvan tak merasa ingin bertemu Vina ataupun menunggu Vina.
Vina tak mengerti kenapa Gilvan berubah seperti itu? Vina sangat heran. Jelas-jelas Gilvan memang akan bertemu Vina. Kenapa semuanya jadi tambah rumit seperti ini?
"Maafkan aku! Aku akan menenangkan diriku."
"Kamu mau kemana?" ucap Kakak Gilvan
Vina membalikkan kursi rodanya, dilihatnya Rey sedang menatap sendu kearah Vina. Vina tak mempedulikan kehadiran Rey. Vina terus menjalankan kursi rodanya. Rey mengikuti Vina dari belakang.
Rey tahu, tak mudah bagi Vina menerima kenyataan pahit ini. Vina yang telah berdamai dengan hatinya, kini serasa dikoyak-koyak lagi.
****
Gita berlari menuju parkiran mobil. Ia ingin segera pulang ke rumahnya. Gita tak mau jadi beban untuk Vina dan Gilvan. Lebih baik Gita menghindar sejauh mungkin dari pandangan Gilvan. Gita segera masuk kedalam mobil.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Rama
"Apa benar Gilvan hilang ingatan?"
"Sepertinya iya." jawab Rama dingin
"Apa kamu dengar tadi dia bilang apa?"
"Aku dengar.."
"Aku tak mau ikut campur urusan mereka! Kenapa Gilvan malah menyangka aku masih sebagai istrinya?" Gita menutup wajahnya
"Aku pun sempat kaget mendengarnya. Namun, apa boleh buat? Mungkin percintaan kita meninggalkan luka dalam untuknya. Dia benar-benar frustasi. Aku rasa dia membutuhkan kita untuk sembuh." Rama mencoba menerima kenyataan
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Bantu Gilvan, rangkul dia. Kita harus menyemangatinya agar dia mengingat semuanya, termasuk Vina." Rama tersenyum
"Maksudmu aku harus berpura-pura jadi istrinya lagi? Iya? Kenapa kamu tak marah Gilvan masih menyangka aku sebagai istrinya?"
"Gilvan adalah lelaki yang berani menyerahkan cintanya padaku. Aku tahu, Gilvan mencintaimu. Tetapi, dia tak egois. Dia memberikan kamu untukku karena dia sadar, akulah yang kamu cintai." Rama menjelaskan
"Aku kesal. Aku tak bisa menerima semua itu. Aku tak suka kalau Gilvan hanya mengingatku. Aku ingin berkata jujur padanya kalau kita sudah bercerai. Pokoknya, aku tak mau kalau aku harus membantunya, apalagi berpura-pura menjadi istrinya lagi. Aku tak mau!!!" Gita kecewa
"Kita bisa berbuat apa? Kamu mau menyakiti hatinya? Bagaimana dia bisa sembuh?" ucap Rama
"Kalau aku dilibatkan untuk membantu Gilvan, aku tak mau! Masalahnya akan tambah runyam, semuanya akan berantakan, baik hati kita maupun hati Vina. Cari jalan lain saja!"
"Apa itu?" tanya Rama
"Nikahkan dia segera dengan Vina!"
Ucapan itu sontak membuat Rama terperanjat kaget. Rama tak mengerti kenapa istrinya bisa berkata demikian.
"Itu bukan solusi, tetapi itu masalah baru!"
"Dengarkan aku, aku tak mau dibawa-bawa dalam masalah itu! Aku tak mau Gilvan terus menganggap aku istrinya. Lalu, aku harus bagaimana HAH?" Gita menitikkan air matanya
"Tenangkan hatimu, jangan bertindak gegabah. Kalau menikahkan Vina dan Gilvan, apa Gilvan akan menyayangi Vina? Yang dia ingat betul, kamu masih istrinya!" Rama mencoba tenang
"Tapi aku tak mau dibawa-bawa lagi kedalam masalahnya! Kumohon, jangan biarkan aku harus pura-pura padanya...." Gita merasa keberatan
"Kamu ingat? Ketika dulu kamu melahirkan? Kamu kekurangan darah karena pendarahan. Darahku tak cocok denganmu, siapa yang mendonorkan darah untukmu? Jawabannya adalah Gilvan. Lagi, ketika kamu mengalami gagal jantung kardiomiopati, Gilvan lah yang siap mendonorkan jantungnya untukmu! Apa kamu tahu itu? Tetapi, beruntungnya Gilvan memiliki Vina, Vina yang berjuang mendapat transplantasi jantung untukmu. Sehingga Gilvan bisa tetap hidup sampai saat ini. Kami semua menutupinya darimu, karena aku tak mau kamu merasa bersalah pada Gilvan. Aku tak mau hatimu goyah lagi pada saat itu." Rama menjelaskan dengan hati-hati
"Apa aku memang mengalami semua itu ketika melahirkan Nayya?"
"Betul, sayang." ucap Rama
"Apa benar, Gilvan melakukan itu untukku?"
"Benar, aku tidak mengada-ngada. Gilvan memang baik, dia tulus untuk kita. Apa kita akan membiarkannya begitu saja? Ketika saat ini dia membutuhkan kita?" Rama berpikir
"Aku harus bagaimana?" Gita pusing memikirkan semuanya
*Bersambung*
Guys.. Bantu Gita.. Gita harus gimana sekarang? Hiks hiks .. ðŸ˜
__ADS_1
Happy reading ya.. Jangan lupa like, vote dan komentar juga 🤗🥰
Jangan terlalu diresapi ya, ini hanya bagian dari konflik terakhir. Aku akan buat semuanya happy ending.