
Gilvan telah selesai bertemu dengan orang tuanya. Gilvan memutuskan untuk pulang, karena Gilvan akan segera membeli mobil sesuai janjinya pada Vina tadi pagi.
Tak lama, Vina dan Gilvan telah sampai di Dealer mobil yang tak jauh dari rumahnya. Gilvan menyerahkan mobil kakaknya, dan memutuskan untuk segera pulang, karena Gilvan harus membeli mobil dahulu.
"Mas, kamu gak usah repot-repot gini. Kita kan bisa naik travel aja untuk sampai ke Bandung." ucap Vina
"Gak apa-apa sayang, aku sengaja belikan kamu mobil, uangku sudah cukup untuk membeli mobil. Pilihlah sesuka hatimu, mobil apa yang kamu mau."
"Ayah, Givi mau mobil yang besar, biar Givi enak tiduran." jawab Givia.
"Iya, sayang. Boleh, pokoknya Givi sama Bunda pilih aja apa yang kalian mau. Ayah pasti membayarnya."
"Oke, Ayah."
Vina dan Givia mencari-cari mobil. Vin berharap, bisa menemukan mobil yang murah tapi bagus, karena Vina tak mau menghamburkan uang Gilvan untuk hal-hal konsumtif seperti ini.
Vina memutuskan untuk membeli mobil yang besar tapi harganya tak terlalu mahal. Vina memutuskan membeli mobil Fotruner keluaran terbaru.
Gilvan menyetujuinya. Gilvan menuliskan Nama Vina, atas KTP Vina, karena Gilvan memberi hadiah ini, akan dijadikan mahar dalam pernikahannya. Gilvan bersyukur, bisa memiliki Vina dan Givia. Pelabuhan cintanya benar-benar jatuh pada Vina.
"Mas, kok atas nama aku?"
"Itu memang untukmu, hadiah pernikahan kita nanti." ucap Gilvan sambil mengusap rambut Vina
"Kalau aku tahu, mobil itu untukku, aku tak ingin repot-repot Mas membelikannya."
"Gak apa-apa, kapan lagi aku memberimu hadiah. Udah, jangan dipikirin. Setelah menikah nanti, aku akan mengembangkan usahaku lebih besar lagi, dan aku ingin kamu yang mengelolanya." ucap Gilvan
"Aku, Mas?" Vina terkejut.
"Iya, kamu. Memangnya, setelah menikah nanti, kamu akan tetap bekerja di perusahaan Rama?" tanya Gilvan
"Nggak, aku udah capek. Aku berniat untuk berhenti. Tapi, Mas Gilvan malah nyuruh aku mengelola restoran. Huft." keluh Vina
"Bukan berarti kamu yang bekerja di restorannya, sayang. Akan ku dirikan restoran atas nama kamu dan Givia. Aku ingin, anak kita punya masa depan yang cerah. Kita harus sukses menjadi enterpreneur, meskipun aku membangunnya benar-benar dari nol. Aku benar-benar akan menebus dosaku, kalian harus bahagia dalam pandanganku." Gilvan tersenyum
"Terima kasih, Van. Aku sangat bahagia mendengarnya."
"Van? Apa itu?" Gilvan menggoda Vina.
__ADS_1
"Gilvan-ku, maksudku."
"Gitu, dong. Rasanya, aku ingin cepat-cepat menikahi mu." ucap Gilvan.
"Sabar, dong. Kan gak lama lagi. Aku malah berharap waktunya akan sedikit lebih lama." jawab Vina.
"Aku udah rindu, malam kita."
Vina seketika melotot. Berani-beraninya Gilvan berbicara seperti itu, padahal didepannya ada Givia yang sedang asyik memainkan bonekanya. Bagaimana kalau Givia mendengar? Vina mencubit lengan Gilvan.
"Aw, sakit yang. Kamu kenapa sih, sensitif banget!" keluh Gilvan.
"Kamu ngomong apa barusan? Jelas-jelas ada anak kita, masih aja bahas kayak gitu." Vina kesal
"Hehe, maaf, ternyata aku pernah jadi lelaki jahat ya buat kamu. Aku pernah berbuat seperti itu, walaupun hanya sekali, aku rasanya masih bisa mengingatnya." ucap Gilvan.
"What? Sekali? Kamu gak salah?" Vina protes.
"Iya, memang kenapa? Kok kamu protes?" tanya Gilvan.
Vina melirik kearah Givia yang sedang asyik memainkan bonekanya, lalu Vina berbisik ditelinga Gilvan.
"Kapan? Dua kali? Ngarang kamu!" Gilvan ikut berbisik.
"Ah, percuma aku jelasin. Kamu gak akan ingat sama sekali. Udah, kita pulang sekarang. Tinggal tandatangan doang kan sekarang?" tanya Vina.
"Aku masih akan bahas hal ini ya, Vin. Aku masih penasaran. Sejak kapan aku pernah melakukan hal itu dua kali."
"Ah, sudahlah! Lupakan. Sudah kubilang, percuma saja."
...________________...
Restoran sangat ramai sekali, Fadli dan Ara, serta lima pelayan dapur lainnya sangat sibuk. Chef berkata, bahwa restoran kehabisan beberapa bahan dapur, seperti minyak sayur, margarin, wijen, tepung dan sebagainya.
Karena Gilvan tak ada waktu mengurus restoran, Gilvan lupa membeli stok untuk di restoran. Bahan hanya cukup sampai 3 jam ke depan, sedangkan malam pasti kehabisan. Akhirnya, Fadli memutuskan untuk membeli bahan-bahan pokok ke super market.
Fadli naik mobil pick up khusus untuk mengangkut ayam. Fadli akan belanja banyak, jadi ia memutuskan untuk membawa mobil pick up.
Supermarket yang Fadli tuju, lumayan jauh dari restoran, karena Fadli ingin supermarket yang lengkap, jadi ia tak harus mencari barang ke tempat lain lagi.
__ADS_1
Sesampainya di super market, Fadli segera fokus membaca tulisan-tulisan barang yang harus ia beli. Fadli memilih-milih beberapa barang yang akan beli. Mulai dari minyak goreng, terigu lali ke bumbu-bumbu.
Fadli membawa troli yang besar, karena belanjaannya juga cukup banyak. Karena supermarket penuh sesak dengan pelanggan, tanpa sadar, Fadli menubruk seorang wanita dengan trolinya, hingga buku sang wanita terjatuh ke lantai. Ia terlalu fokus melihat-lihat barang yang ada didepannya.
"Eh, Maaf. Maaf sekali, aku terlalu fokus melihat barang, sehingga tak melihat kalau ada wanita yang aku tabrak." Fadli mengambil buku yang tergeletak di lantai.
Wanita itu menoleh kearah Fadli. Mata mereka saling berpandangan, Fadli kaget, melihat sosok Raina, adik Rama. Ternyata, Fadli menabrak Raina. Fadli menabraknya dari belakang, sehingga Fadli tak mengenali Raina.
"Raina," Fadli kaget
Raina menatap tajam pada Fadli. Raina lupa, bahwa Fadli adalah orang yang pernah bertemu dengannya di rumah sakit.
"Kamu kenal aku?" tanya Raina
Fadli kaget. Ia refleks menyebut nama Raina, padahal Raina sama sekali tak mengenal Fadli.
"Eh, i-iya, saya tahu. Karena, kita pernah bertemu di restoran Pak Gilvan. Apa kamu lupa? By the way, maaf ya, aku gak sengaja nabrak kamu." ucap Fadli
"Oooh, kamu si manager songong itu ya? Yang belain pelayan itu? Oh, kebetulan kita ketemu disini. Kalau aku tahu kamu yang menabrak ku, pasti sudah habis kamu aku maki-maki." pekik Raina.
"Maaf, saya kan sudah bilang, kalau saya tak sengaja." jelas Fadli.
"Aku kok jadi curiga sih, kamu tahu namaku, kamu juga menabrak ku, apa ini cara kamu agar bisa balas dendam sama aku, iya?" selidik Raina.
"Enggak, kok. Aku bener-bener gak sengaja. Maaf, aku terlalu sibuk melihat barang-barang ku."
"Apa kamu sengaja deketin aku, iya?" Raina menatap Fadli kesal.
"Ngapain aku harus deketin kamu! Kenapa kamu kepedean banget sih jadi cewek? Jelas-jelas aku gak sengaja, aku juga udah minta maaf! Kenapa kamu malah memperpanjang urusan kita?" Fadli ikut kesal.
"Awas ya, kalau sampai kamu nemuin aku lagi. Fix, itu berarti kamu ngejar-ngejar aku!"
"Jangan geer deh! Kenapa kamu bisa se percaya diri ini sih? Baru kali ini, nemuin wanita kayak kamu!" dengus Fadli.
"Gitu tuh, kalo orang ketahuan, jadi salting dan gak mau di salahkan. Udah ah, buang-buang waktu ngomong sama orang kayak kamu! Bye!"
Raina pergi meninggalkan Fadli. Fadli terdiam, merenung.Raina benar, mereka pasti akan bertemu lagi. Fadli akan segera bertemu Raina, sebagi calon suaminya. Fadli sangat menyesali keputusannya menerima permintaan Rama. Akan bagaimana nanti reaksi Raina, kalau ia tahu ternyata Fadli adalah laki-laki yang dijodohkan oleh Kakaknya?
Dengan perasaan kesal dan bingung, Fadli menjalankan trolinya lagi. Sambil terus merenung, berharap bahwa cintanya akan benar-benar bertemu dengan orang yang mencintainya jiga, bukan orang seperti Raina.
__ADS_1
*Bersambung*