Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Kasihan kamu, Fadli.


__ADS_3

Keesokan harinya.


Raina dan Fadli telah kembali ke rumah. Hari ini, Fadli dan Raina memutuskan untuk beristirahat, karena cuti Fadli masih sisa satu hari. Hari ini juga, adalah hari pertama Gita berada di rumah. Karena Gita memutuskan untuk resign kerja, karena Gita akan fokus mengurus Nayya dan Nakka.


Gita sedang santai, karena Nayya dan Nakka telah pergi sekolah bersama Rama. Raina mendekat, dan Gita tersenyum padanya.


"Hai, cantik. Pasti lelah sekali ya," ucap Gita.


"Iya, Kak. Remuk rasanya semua badanku. Oh iya, ini untuk Kak Gita." Raina memberikan oleh-oleh khas pantai pangandaran.


"Wah, terima kasih banyak Rai. Kamu baik banget," Gita tersenyum.


"Sama-sama Kak, itu ada buat dua keponakanku juga ya, nanti kasih ke mereka." tambah Raina.


"Buat Kak Rama, mana?" tanya Gita.


"Gak ada! Males, gak mau kasih dia! Orang rese, gak dapet oleh-oleh, Kak." timpal Raina.


"Eh kamu, masih aja kesel sama Kakak sendiri. Eh, Fadli mana? Kok gak keliatan?"


"Masih tidur. Capek kali dia, tumben banget," ucap Raina.


"Ya wajar aja, perjalanan jauh. Biarkan saja dia istirahat." ucap Gita.


"Iya, Kak. Eh iya, aku mau ngomong masalah pribadi dong sama Kak Gita!" bisik Raina.


"Pribadi apa? Kenapa harus bisik-bisik sih, gak ada siapa-siapa juga!" ucap Gita.


Raina mendekat dari duduknya, "Kak, ingat gak, dulu Kak Rama pernah memaksa Kakak untuk melakukan itu?" tanya Raina polos.


Gita tersenyum, "Apaan sih, kok kamu tiba-tiba jadi ngomongin kayak gitu! Apa jangan-jangan..." Gita tersenyum sambil menutup mulutnya.


"Sshhhtt! Kakak jangan berisik, aku malu. Pokoknya, aku mau tanya-tanya sesuatu sama Kakak!" ucap Raina pelan.


"Iya-iya, apa? Kakak dengerin."


Raina menghela nafas, ia sebenarnya malu untuk bertanya pada Gita. Tapi, ia memang harus mengetahuinya.


"Kak, waktu pertama Kakak ngelakuin itu sama Kak Rama, gimana?" tanya Raina penasaran.


"Gimana apanya? Yang spesifik dong!" Gita tak mengerti.


"Kakak kapan pertama ditidurin Kak Rama? Trus, sakit gak?" Raina penasaran.


Gita tertawa kecil, "Kamu sekarang sudah dewasa, rasanya aku juga tak perlu menutupinya. Aku dan Kakakmu pernah melakukan hubungan terlarang, Rai. Aku amat menyesalinya. Kamu tahu kan alasanmu tak bisa kuliah lagi diluar negeri? Karena Kakakmu yang telah meniduri Kakak. Mami dan Papi-mu jadi melarang kamu pergi lagi kan? Kakakmu terjebak oleh mendiang Kak Siska. Dan itu benar-benar diluar dugaan. Kakak sakit hati, mahkota yang selalu Kakak jaga, direnggut dengan mudahnya oleh Kakakmu, benar-benar pengalaman pahit, Rai. Jika aku mengingatnya, entahlah, rasa kecewa itu masih tetap ada." jawab Gita.


"Apa sakit kak?"


"Tentu saja, Kak Rama memaksa. Aku benar-benar dipaksa kala itu. Sangat menyakitkan, hingga jalan pun aku merintih kesakitan. Aarrggh, jika mengingat itu, ingin ku cabik-cabik saja rasanya Kakakmu itu!" Gita terbawa suasana.


"Eh, Kakak jangan emosi dong. Aku pun begitu, Kak." Raina berbisik pelan.


"Hah? Kamu? Dengan Fadli? Waaaaah, Kamu ternyata sudah melakukannya, adikku! Xixixi, aku jadi ingin tertawa."


"Kak, berisik dong! Aku malu," Raina menunduk.


"Iya, iya maaf. Aku refleks sayang. Gimana, gimana? Apa yang mau kamu tanyakan?" ucap Gita.


"Kenapa aku masih sakit ya kak?" ucap Raina.


"Wajar aja, milikmu pasti sangat sempit sekali, jadi pasti kamu masih merasakan sakit. Gak apa-apa kok, sering-sering aja berhubungan, entar juga gak akan sakit lagi, Rai." ucap Gita.


"Hah? Sering-sering Kak? Kak Gita gak salah? Ih, malah aku gak mau lagi tahu! Aku kapok!" jelas Raina.

__ADS_1


"Ya ampun, jangan gitu Rai. Kamu baru sekali kan? Namanya pertama itu pasti sakit, coba deh kalau kamu udah terbiasa. Kamu pasti yang nagih duluan!" Gita tertawa.


"Yeyyy Kak Gita! Mana bisa begitu, murahan banget dong aku! Hih, Kakak.." Raina keberatan.


"Raina, gak ada yang namanya murahan sama suami. Justru, jika kita melakukannya, itu ibadah kepada suami. Kamu gak boleh gitu, kewajiban kita itu ya melayani suami secara lahir dan batin. Suami berhak mendapatkannya, karena itu merupakan hak mereka. Makanya, kalau suami minta, jangan pernah sekalipun kamu menolak, ada baiknya kamu yang menawarinya lebih dulu." ucap Gita.


"Ih, masa sih Kak? Kok aku malu kalau harus gitu?" Raina menolak.


"Biasakan berdekatan dengan suamimu, Raina. Lambat laun juga kamu akan merasa nyaman, dan tak akan malu atau risih lagi jika berhubungan dengannya." jelas Gita.


"Aku takut, rasanya sakit banget Kak." Raina jujur


"Ya bilang Fadli, pelan-pelan gitu!" tambah Gita.


"Dia kenceng banget Kak, aku sampe gak bisa nafas! Kan nyebelin banget dia!" Raina menggigit bibirnya.


"Kamu sama dia masih sama-sama polos dalam masalah hubungan suami istri. Coba lebih nikmati dan resapi saat-saat bersama, Kakak yakin, suasananya akan romantis dan hangat, pelan-pelan saja, pasti tak akan sakit. Kamu coba deh, bilang sama dia!" saran Gita.


"Ih, Kakak nyuruh aku berhubungan lagi sama dia, gitu?" Raina terlihat tak suka.


"Ya iyalah, masa kamu gak mau lagi berhubungan dengan suamimu?" tanya Gita.


"Aku takut, rasanya aku trauma Kak!"


"Enggak, gak bakalan. Mainnya pelan-pelan aja, percaya deh sama Kakak, kamu pasti menikmatinya nanti." Gita tersenyum penuh arti.


"Ih, aku geli dengernya!" Raina bergidik.


"Geli, geli, sekarang aja kamu bilang geli, kalau udah keenakan pasti nagih kamu!" Gita terkekeh.


"Haish, Kak Gita! Eh, kok si Fadli belum bangun juga ya?" tanya Raina.


"Hey, kamu. Jangan panggil nama sama suamimu, itu gak baik Raina. Panggilannya yang romantis kenapa," ucap Gita.


"Ih, apa dong? Aku sama dia kan seumuran! Harus manggil apa coba?" Raina cemberut.


"Ih, aku malu ah! Kak, aku ke kamar dulu ya, masa udah siang gini dia belum bangun juga sih!" ucap Raina.


"Iya, gih. Bangunin dia, terus ajak dia sarapan." ucap Gita.


"Oke, Kak."


Raina pergi ke kamarnya. Sudah jam sembilan pagi, tapi Fadli belum bangun juga, tak seperti biasanya ia begitu. Raina melihat kamarnya, dan benar saja Fadli masih tertidur.


Aneh sekali, tak biasanya Fadli pemalas seperti ini. Huh, dasar. Batin Raina.


Raina mendekati Fadli. Fadli masih memejamkan mata, tapi tubuhnya terlihat tak nyaman, dan Fadli sepertinya menggigil.


Eh, kenapa dia? Apa dia sakit?


Raina memegang kening Fadli,


"Maaf ya, aku pegang. Aku hanya ingin memastikan suhu tubuhmu!" ucap Raina.


Benar saja, Fadli demam. Suhu tubuhnya panas, Fadli menggigil. Pantas saja, dari tadi Fadli tak terbangun. Ternyata, Fadli sakit. Raina khawatir dengan kondisi Fadli,


"Ya ampun, Fadli. Kamu sakit, tubuhmu panas sekali. Hey, bangun! Kenapa kamu gak bilang sama aku kalau kamu sakit, Fad? Kamu harusnya bilang ke aku, ya ampun, badanmu lemes pasti karena suhu tubuh kamu yang tinggi. Fad, kamu tunggu bentar ya, aku panggil Kakak dulu, biar dia hubungi Dokter keluarga, agar segera memeriksa mu."


Raina turun lagi ke bawah, dan berkata pada Gita, bahwa Fadli sakit. Gita pun kaget, Gita segera menelepon Dokter yang biasa memeriksa keluarga mereka. Sang dokter pun dengan sigap akan segera datang menuju kediaman Raina.


Setengah jam kemudian, sang dokter tiba. Ia segera memeriksa Fadli yang terbaring lemah. Dokter mengeluarkan stetoskop dan memeriksa Fadli.


"Dok, apa yang terjadi pada Adik saya?" tanya Gita.

__ADS_1


"Tuan Fadli ini kelelahan sepertinya, apa dia sudah melakukan perjalanan jauh?" tanya Dokter.


"Iya, kemarin dia pulang kampung, Dok. Mungkin saja ia lelah, dan tubuhnya tak fit." jawab Gita.


"Iya, ini karena stres dan kecapean. Darahnya pun rendah, tubuhnya benar-benar drop. Akan saya resep kan Vitamin, dan obat penambah darah, untuk demamnya, akan saya beri paracetamol terbaik, serta antibiotik agar ia segera cepat pulih." jawab sang Dokter.


"Tapi, Fadli gak ada penyakit serius atau apa kan, Dok?" Raina terlihat khawatir.


"Tidak, dia memang punya Maag, tapi ini bukan dari Maag, ini hanya kelelahan saja, kok. Kompres saja, dan beri makanan yang lembut serta penuh gizi, agar dia cepat membaik. Baiklah, kalau begitu, saya permisi dulu ya,"


"Baik, Dok. Terima kasih atas kunjungannya." ucap Gita.


Gita mengantarkan Dokter ke luar, sedangkan Raina menunggu Fadli didalam kamar. Raina tak menyangka, Fadli bisa sakit juga. Fadli terlihat lemah sekali, dan ia juga menatap Raina dengan mata yang berair.


"Kenapa kamu gak bilang sih kalau kamu sakit!" protes Raina.


"A-aku, aku tak mau merepotkan mu, Raina. Maafkan aku," jawab Fadli.


"Ya jangan diem juga dong, tubuh kamu kan sedang tidak sehat, kalau diem aja gimana mau sembuh. Kalau aku gak lihat kamu, mungkin aku gak akan tahu kalau kamu sedang sakit."


Selang beberapa menit, tiba-tiba, asisten rumah tangga datang, membawa bubur dan air kompresan untuk Fadli.


"Non, ini bubur dan air minumnya, kebetulan tadi Bibi buat Bubur untuk Den Nakka. Kata Nona Gita, Tuan Fadli harus sarapan, dan minum obat. Dan ini juga untuk kompres nya ya," ucap Bibi pada Raina.


"Hah? Ah, iya, Bi. Simpan di meja saja," Raina bingung.


Asisten itu kembali keluar dari kamar Raina. Raina benar-benar bingung, apa iya, dirinya harus merawat Fadli? Bagaimana caranya? Raina tak punya pengalaman menjaga orang sakit.


Aku harus menyuapi Fadli, gitu? Aku juga harus mengompres tubuhnya, gitu? Haish, Fadli, Fadli. Kamu benar-benar merepotkan! Kenapa kamu harus sakit sih? Kak Gita juga kemana lagi, kenapa gak balik lagi kesini sih?" Gerutu Raina dalam hati.


"Maaf, kalau aku merepotkan mu. Sini, biar aku makan sendiri. Aku harus minum obat, aku bisa sendiri kok." ucap Fadli mencoba terbangun,


"Eh, kamu mau ngapain? Jangan maksain, Fad. Kamu lagi sakit Udah, kamu bersandar saja pada divan ranjang, biar aku yang menyuapi kamu." Raina membantu Fadli bersandar di ranjang.


"Tapi, aku gak mau ngerepotin kamu, Raina, aku bisa sendiri kok, tolong ambilkan saja buburnya," ucap Fadli dengan suara yang lemah.


Raina mengambil bubur yang telah disediakan oleh asistennya.


"Udah, kamu diam aja. Kamu lagi sakit, biar aku yang nyuapin kamu. Makan yang banyak ya, biar kamu cepet sembuh." ucap Raina.


"Rai, maaf, aku merepotkan kamu." Fadli tertunduk lesu.


"Fad, gak usah dipikirin, sudah selayaknya aku merawat kamu. Aaaa, ayo makan," Raina menyuapi Fadli.


Fadli mengunyah dengan lemas, tapi ia sadar, ia harus sembuh, ia tak boleh sulit.


"Makasih, kamu udah mau nyuapin aku, Rai." ucap Fadli.


"Aku sekarang sadar akan kewajiban ku, Fadli. Aku istri kamu, kalau kamu sakit, tentu saja aku yang harus merawat mu. Aku gak mau kamu sakit terus, kamu harus sembuh. Kalau kamu sakit, hatiku ikut sakit, Fad." ucap Raina.


"Raina, sungguh?“ Fadli tak menyangka dengan apa yabg diucapkan Raina.


"Sudah, jangan banyak pikiran. Ayo makan lagi, kamu harus sembuh,"


"Sekali lagi, terima kasih, kamu telah bersedia merawat ku." Fadli tersenyum.


"Sama-sama, Fadli."


Aku kira, kamu adalah lelaki yang kuat, ternyata kamu lemah! Baru perjalanan segitu aja, kamu udah sakit, Fad. Tapi, aku juga gak tega lihat kamu sakit, biasanya kamu ceria dan semangat, kini kamu malah terbaring lemah seperti ini. Semoga kamu cepat sembuh. Aku gak mau lihat kamu sakit, suamiku. Batin Raina dalam hati.


*Bersambung*


Pagi...

__ADS_1


Yang sayang sama cerita ini, boleh dong bagi vote-nya ya ..


Like dan komentar juga, aku tunggu 🥰


__ADS_2