Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Malam panjang


__ADS_3

Kediaman Rama dan Gita.


Gita mulai gelisah. Entah apa yang akan ia lakukan agar bisa menghindar dari Rama. Rama pasti meminta jatahnya yang ketiga. Mengurus anaknya sudah selesai, anak-anaknya kini sedang terlelap. Gita tak mungkin berdiam diri di kamar anaknya.


Terpaksa Gita kembali lagi ke kamarnya. Gita melihat Rama sedang bersiap mandi. Padahal, ini sudah petang. Ia malah memaksakan diri mandi lagi, padahal tadi sore ia sudah mandi. Gita tahu kenapa Rama mandi lagi. Rama pasti menginginkan hal itu.


Gita membereskan pakaian dan perlengkapan Rama, dibantu oleh beberapa asisten. Gita menyibukkan diri, tapi ternyata kalau di rumah banyak pembantu semuanya akan cepat selesai. Gita bingung lagi.


Gita mencoba menelepon Vina. Sebenarnya, Gita tahu tentang Gilvan dan Vina. Tetapi, Gita tak mau mendesak Vina agar jujur padanya. Gita hanya ingin menanyakan kabar Vina saja.


Gita mengerti kondisi Vina saat ini. Gita tak tahu, sebenarnya masalah apa yang sedang di hadapi Vina dan Gilvan. Gita tak mau mengetahui lebih jauh. Gita hanya memberikan nasihatnya pada Vina. Besok, Gita akan menemui Vina, Gita sudah rindu dengan sahabatnya itu.


Tak lama, Rama keluar dari kamar mandi. Wajahnya sumringah penuh kemenangan. Dia melirik ke arah Gita. Rama tahu, Gita takut akan dihantam lagi olehnya semalaman. Apalagi, besok Rama akan pergi ke Surabaya.


"Kenapa liat-liat?" Gita sewot


"Sensitif banget. Aku kan punya mata! Wajar dong kalau aku lihatin kamu, kamu kan istri aku. Emang kamu gak akan marah kalau aku liatin cewek lain?" goda Rama


"Terserah! Sudah, pakai baju! Kita makan malam, semuanya sudah menunggu di bawah."


"Baik, baik. Peri cantik yang galak, ku ganti sekarang!" Rama cuek


"Apa katamu? Jadi, menurutmu aku ini galak! Iya? Baiklah, aku akan tidur di kamar anak-anak malam ini." ancam Gita


"Eh, jangan dong sayang! Tuh kan, kamu beraninya maen ancam-ancaman sih." Rama memohon


Gita pergi. Gita tak menghiraukan perkataan Rama. Rama selalu saja membuat Gita jengkel. Suaminya itu, kini bukan orang yang romantis seperti dulu.


Kamu memang istriku yang menggemaskan. Aku benar-benar mencintaimu. Aku senang menjahili mu. Lihat saja, ekspresi lucu mu tadi itu. Sungguh, membuat aku ingin melahap mu segera. Kamu candu ku. Aku sudah kecanduan bersamamu. Rama dalam hati.


Dibawah, keluarga Rama telah duduk di tempat mereka masing-masing. Mereka menunggu kehadiran Gita dan Rama. Gita turun sendiri menuju ruang makan.


"Kak Rama mana?" tanya Raina


"Masih ganti baju. Sebentar lagi dia turun!" ucap Gita lalu duduk di kursinya


Tak lama, Rama turun. Kakeknya tersenyum hangat padanya.


"Rama, duduklah. Aku ingin berbicara denganmu." ucap Kakek Prima


"Ada apa, Kek?" tanya Rama


"Seminggu ini kamu pergi ke Surabaya kan? Menurut Kakek, kenapa tidak kau serahkan saja perusahaan pada istrimu ketika kamu pergi. Istrimu kan S1 Akuntansi. Dia pintar, ilmunya juga tinggi. Harusnya, kalian membangun perusahaan bersama. Gita harus menjadi wanita yang tangguh. Kenapa tak kau biarkan istrimu membantumu di perusahaan?" tanya Kakek Prima


"Rama tak mau Gita pusing karena pekerjaan, Rama takut Gita merasa terbebani, Kek!" jawab Rama


"Istrimu ini wanita yang cerdas. Menurutku, sayang kalau ilmunya tak ia terapkan pada perusahaan kita." ucap Kakek


"Apa memang saya boleh bekerja lagi? Sejujurnya, saya ingin bekerja, tetapi saya takut kalian tak menyetujuinya." ucap Gita


"Kalau kamu mau, kenapa tidak, Gita? Kamu bisa menggantikan Rama, kamu bisa membantu Rama di perusahaan. Mami mendukungmu. Wanita memang harus serba bisa. Sayangnya, Mami tak kuliah sepertimu!" ucap Mami

__ADS_1


"Kok kalian malah mendukung Gita bekerja sih? Bagaimana kalau Gita bertemu clien nanti? Laki-laki yang masih muda dan tampan. Bagaimana kalau nanti mereka menyukai istriku? Ah, tidak! Aku tak akan menyetujuinya untuk bekerja!" tegas Rama


"Ram! Pikiranmu itu terlalu jauh. Mana mungkin Gita akan menyukai laki-laki lain? Kamu jangan terlalu mengada-ngada." ucap Papi Rama


"Iya, sayang. Aku hanya akan membantu urusan pekerjaanmu. Aku memang ingin bekerja. Aku jenuh di rumah." jawab Gita


"Aku memang percaya padamu. Tapi, aku tak bisa percaya pada laki-laki genit bermata keranjang. Aku tak mau mereka menggoda mu! Kamu tahu kan? Hampir setiap hari aku meeting bertemu klien! Aku tak mau kalau kau berjabat tangan dengan mereka, apalagi kau berikan senyum mu untuk mereka! Aku tak sudi." jelas Rama


"Semua itu tak akan terjadi. Istrimu wanita baik-baik. Lagipula, mereka kan sudah tahu siapa istrimu. Mereka juga pasti akan menghormati Gita. Kamu harus percaya, istrimu ini wanita yang cerdas. Kalau kamu dan Gita bekerja sama membangun perusahaan, Kakek yakin, Perusahaan kita akan semakin lebih maju." ucap Kakek Prima


"Biarkan Gita mengelola perusahaan, Ram! Gita juga ingin membantumu kan? Mami yakin, semua akan baik-baik saja. Kekhawatiran mu itu terlalu berlebihan!" timpal Mami Rama


"Udah dong, kita makan dulu. Aku laper nih! Jangan ngomongin perusahaan melulu. Kepalaku mumet dengernya." Raina bete


"Mari, kita makan." perintah Papi Rama


Mereka makan tanpa bersuara. Makan merupakan suatu yang khidmat bagi Kakek Prima. Ia tak suka ada orang yang berbicara ketika makan.


Rama melirik sinis kearah Gita. Rama tak suka, Gita menyetujui perkataan kakeknya. Rama tak ingin Gita dilirik oleh lelaki lain. Rama takut, Gita akan berpaling darinya.


Makan malam telah selesai. Mereka semua kembali ke kamarnya masing-masing. Rama berjalan lebih dulu. Meninggalkan Gita di meja makan. Hanya tersisa Gita dan Maminya Rama.


"Mi, Kak Rama marah. Bagaimana ini?" Gita bingung


"Tenang saja. Dia hanya khawatir padamu." ucap Mami Rama


"Terima kasih ya, Mi. Mami sudah mau mengatakan keinginanku pada Kakek." ucap Gita


"Terima kasih Mi. Aku harus bagaimana ya agar Kak Rama tak marah lagi padaku? Aku tak mau di mengabaikan ku seperti ini." kata Gita


"Ah, itumah gampang Git!" Mami terkekeh


"Gampang gimana maksud Mami?" Gita bingung


"Kasih aja jatahnya malam ini." jawab Mami Rama


"Jatah? Maksud Mami?" Gita terlalu menanggapi ucapan Mami Rama dengan serius


"Kamu itu polosnya kebangetan deh! Kamu ajak dia ena-ena sekarang. Kamu lho ya yang harus mengajaknya terlebih dahulu. Itu trik jitu agar Rama tak marah lagi padamu!" ucap Mami Rama


"Ih, kok gitu sih? Tapi, Mi.. Aku nggak mungkin. Malu dong aku!" Gita menunduk


"Mami juga dulu seperti itu sama Papi mu! Trik itu selalu berhasil. Ayolah, kamu jangan malu. Kamu ajak dia, kamu harus lebih agresif! Sampai dia terlena, sampai dia mengalah!" jawab Mami Rama


"Mami, aku nggak bisa!" Gita malu


"Ish, udah cepetan sana! Kamu mau nggak kerja di perusahaan? Cepetan rayu hatinya, buat dia meleleh sama kamu!" Mami mendorong pelan Gita


"Ba..Baiklah, Mi." Gita berjalan menuju kamar Rama


Gita tak mungkin memintanya terlebih dahulu. Gita malu, Gita gengsi kalau mengajak Rama bercinta lebih dulu. Mau ditaruh dimana mukanya, kalau ia harus memohon pada Rama agar bercinta dengannya. Tapi, kalau ia tak merayu Rama, Rama pasti tetap marah, Rama tak mengizinkannya bekerja di perusahaannya.

__ADS_1


Gita membuka pintu kamar perlahan, melihat Rama yang sedang berbaring di ranjang sambil memainkan handphonenya. Gita mulai mendekati Rama, duduk di samping ranjangnya. Rama tak bergeming. Rama hanya fokus pada handphone yang sedang ia genggam.


"Sayang, kamu marah sama aku?" Gita mendekat


"......"


"Jangan diamkan aku seperti ini." ucap Gita lagi.


"......" Rama tetap diam.


Gita bingung harus bagaimana. Apakah benar cara jitu dari Maminya Rama akan berhasil? Apakah Gita harus agresif malam ini? Tapi, Gita malu. Dia harus menurunkan sedikit rasa gengsinya, agar Rama tak marah lagi padanya dan mengizinkannya bekerja lagi.


Gita mendekati Rama. Gita naik keatas ranjang. Perlahan, ia mencium bibir Rama. Memegang lembut wajah Rama. Rama kaget. Rama tak menyangka istrinya bisa seperti itu. Gita duduk dipangkuan Rama. Tak terasa, junior Rama terganggu karena ulah Gita.


Gita mendekat kan tubuhnya pada Rama. Gita mencium leher Rama, membuat Rama tersentak. Rama tak menyangka istri polosnya bisa se-agresif ini.


"Kamu kenapa?" tanya Rama


"Aku ingin bermain denganmu." jawab Gita


"Kamu tidak kesurupan kan?" tanya Rama heran


"Tidak. Aku hanya ingin bercinta denganmu." ucap Gita mencium Rama


"Kamu tak mungkin berani berbuat seperti ini kalau tak ada maksud. Iyakan?" tanya Rama


"Aku tak ingin kamu marah. Aku ingin bekerja, aku tak akan macam-macam." ucap Gita


"Aku sudah tahu. Ternyata kau memancingku untuk itu ya. Kau sungguh ingin bekerja?" tanya Rama


"Iya, sayang. Aku janji, hanya akan fokus pada pekerjaan kita." Gita jujur


"Kau harus rasakan akibatnya, ini yang akan terjadi jika kau membantah ucapan ku, sayang!"


Rama membalikkan posisinya. Kini, Gita berada dibawah dan Rama berada di atas tubuh Gita. Gita kaget.


"Kamu benar-benar menginginkan malam ketiga kita? Iya?"


"Eh, iya sayang." Gita gugup


"Baiklah, ayo kita mulai. Seminggu ini aku tak akan menjamahmu! Kau harus melayaniku malam ini. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi kita."


Rama dan Gita menutupi badannya dengan selimut tebal milik mereka.


**** bersambung ****


Happy reading..


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya dear! Kasih like, komen dan vote juga😘😘


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2