
-5 hari kemudian-
Siska telah keluar dari Rumah sakit. Keluarga Rama memberinya sejumlah uang. Mereka tak mau lagi terlibat dengan Siska. Untung saja, Rey yang menyerahkan uang dan menemui Siska. Rey mengajak Siska bertemu disebuah restoran. Seharusnya, Rey berkata bahwa Siska boleh bekerja ditempatnya Rama, tetapi ia tak mengatakannya. Rey dan Rama telah sepakat untuk hal ini, dan Rama memberikan tambahan uang yang fantastis, agar Siska pergi sejauh mungkin dari kehidupannya. Mungkin, ini yang terbaik. Agar Siska tak menghancurkan hubungan Rama dan Gita lagi.
"Ini uang kompensasi untuk anda! Anda harus menjauh dari keluarga Tuan Rama. Semoga anda mengerti." Tegas Rey
"Aku tidak butuh uang ini sekarang. Tanpa diberi pun aku akan segera pergi menghilang." Jawab Siska tak bersemangat
"Baguslah kalau anda mengerti." Rey santai
"Pak Rey, apa boleh saya bertemu Gita?" Tanya Siska sambil menggendong bayi laki-lakinya.
"Tidak Nona! Jika ada yang ingin anda bicarakan pada Nona Gita, silahkan katakan pada saya. Saya akan mengatakannya kembali pada Nona Gita!" Jawab Rey tegas
"Tidak, tidak. Aku tak akan menyakitinya. Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting padanya, kumohon!" Siska memohon, wajahnya sangat pucat. Suaranya parau, tak ada gairah.
"Maaf, Nona Siska. Saya tidak bisa membiarkan anda!" Tegas Rey
"Kumohon, Pak Rey. Beri aku kesempatan. Aku tidak akan macam-macam. Aku janji." Siska terus memohon
"Baiklah, saya akan menghubungi Tuan Rama. Saya harus berbicara dulu padanya. Saya tak bisa gegabah, harus ada izin darinya." Rey mengeluarkan handphonenya.
Ray mengetik perkataan Siska pada Rama. Rey tak mungkin menelepon Rama didepan Siska, lebih baik ia chatting saja. Tetapi, sepertinya Siska tak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Badannya pun lemah dan lesu. Ia tak mungkin bisa menyakiti Gita.
"Maaf Nona Siska! Tuan muda Rama tidak mengizinkan anda bertemu Nona Gita!" Rey jujur
Rama tidak mengizinkan Gita bertemu dengan Siska. Rama sudah tak mau berurusan lagi dengan Siska. Rama sengaja menambah jumlah uang yang diberikan kakeknya. Kakeknya memberi uang sejumlah dua ratus juta. Tetapi, Rama menambahnya berkali-kali lipat, menjadi satu miliyar rupiah. Rama sengaja melakukan hal ini, karena yang diinginkan Siska hanyalah uang dan uang.
"Pak Rey, kumohon tolong saya, sebelum semuanya terlambat. Saya janji, saya tidak akan menyakiti Gita, saya janji, saya tidak akan membuat Gita terluka. Saya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting padanya." Siska bersimpuh dihadapan Rey dengan bayinya.
"Nona Siska, anda tak perlu berbuat seperti ini." Rey merasa tak enak
"Kumohon, pertemukan aku dengan Gita. Aku tak akan menyakitinya. Hanya sekali ini saja, anda bisa berada diantara kami, kalau anda tak percaya pada saya!" Siska terus memohon
Rey merasa tak enak. Sepertinya Siska memang ingin membicarakan sesuatu yang penting pada Gita. Tetapi, Rama tak mengizinkannya. Sepertinya Rey harus membicarakannya pada Gita, agar Gita yang menentukan.
"Baiklah, silahkan Nona Siska pesan makanan dulu. Ini memerlukan waktu yang cukup lama. Saya akan menghubungi nona Gita terlebih dahulu." Rey pergi menjauh dari tempat duduk Siska.
Rey memencet no kontak "Nona Gita"
"Halo, Rey! Ada apa?" Sapa Gita diseberang sana
"Nona, sedang apa?" Tanya Rey perlahan
__ADS_1
"Sedang bermain bersama Nayya. Ada apa sih?" Gita penasaran
"Begini, saat ini saya sedang bersama Nona Siska! Saya memberikan kompensasi padanya. Tetapi, dia memiliki permintaan yang aneh. Dia ingin bertemu Noma Gita. Saya sudah melarangnya, tetapi dia memaksa sekali." Jelas Rey
"Kenapa dia harus bertemu denganku? Apa urusanku dengannya?" Ucap Gita
"Saya juga tidak mengerti. Tetapi, saya boleh di samping Nona, antisipasi kalau Siska berbuat yang tidak-tidak!" Jawabnya
"Apa kak Rama sudah tahu?" Tanya Gita
"Tuan sudah tahu! Dia tidak mengizinkannya. Tetapi, Siska tetap memaksa. Saya harus bagaimana, Nona?" Rey bingung
"Baiklah, berikan alamatnya padaku. Aku akan segera ke sana diantar supirnya Mami." Jawab Gita
"Tapi, kalau Tuan Rama tahu bagaimana?" Tanya Rey
"Itu akan menjadi urusanku, Kamu tenang saja!" Ucap Gita.
Gita berlalu. Ia segera menuju alamat restoran yang diberikan oleh Rey. Gita heran dan tak mengerti, untuk apa Siska ingin bertemu dengannya? Gita tak mengerti. Gita sengaja berangkat sendiri. Ia tak mau membawa anaknya. Ia takut terjadi hak yang tak diinginkan.
20 menit kemudian, Gita telah sampai di Restoran tempat Rey dan Siska berada. Gita segera masuk dan melihat keberadaan Rey. Gita berjalan menuju kursi mereka. Gita terlihat sangat canggung. Gita memperhatikan Siska, ia melihat di sekelilingnya, Gita takut kalau Siska membawa pisau atau benda tajam lainnya. Ia tak tahu apa yang ada di pikiran Siska. Ia takut Siska menyakitinya.
Gita duduk di samping Rey. Siska tersenyum padanya. Gita terlihat tak nyaman, tetapi mencoba untuk bersikap biasa aja. Rey menatap Gita dengan tatapan tak biasa. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa terlihat menegangkan sekali?
"Iya, tidak apa-apa. Apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" Tanya Gita
"Maafkan aku!" Siska tunduk dengan suara lemahnya
"Maaf untuk apa?" Tanya Gita
Siska menitikkan air mata, ia tak kuasa menahan tangisnya.
"Maafkan aku, aku telah banyak berbuat kesalahan padamu!"
"Aku tak mengerti maksudmu, Siska!" Gita menegaskan
"Aku memang tunangan Rama, tetapi aku yang mengecewakannya. Aku bermain-main dengan banyak pria. Dulu, Rama mencoba mencintaiku, tapi aku sudah terlanjur menikmati permainanku dengan pria-pria ku. Rama mengetahuinya, akhirnya Rama marah besar padaku. Aku malu. Aku juga tahu, Rama sudah mencintaimu sejak dulu. Aku melihat fotomu ketika SMA. Fotomu tersimpan di dompet Rama. Aku kesal melihat itu, sejak dulu Rama tak pernah serius padaku, aku mencoba mencintainya, tapi dia tak mencintaiku lagi." Siska menangis
"Lanjutkan, Siska." Gita mengusap pundak Siska.
"Setelah kutahu, ternyata kau bekerja di perusahaan Rama, hatiku hancur. Aku pasti tak bisa mendapatkan Rama. Aku melakukan perbuatan busuk. Aku menjebaknya dengan obat tidur. Dan aku dihamili oleh orang lain, agar aku bisa mendapatkannya. Awalnya rencana ku berhasil, tapi kini aku merasa semuanya sia-sia. Anakku yang menjadi korbannya. Maafkan aku, Gita. Semua ini terjadi karena kelakuanku. Aku sungguh benar-benar minta maaf padamu, Git!" Siska bersujud didepan Gita
"Eh, Sis! Bangun, Siska! Sudahlah! Duduklah! Kasihan anakmu!" Gita tak enak
__ADS_1
"Maafkan aku, maafkan kebusukan ku. Aku sungguh menyesal" Siska terus berlinang air mata
"Aku sudah mengetahui semuanya. Aku sudah memaafkan mu. Biarlah semuanya berlalu, aku tak menaruh dendam padamu! Percayalah." Gita tersenyum
"Rasanya aku malu bertemu denganmu, tetapi aku harus mengatakan semua ini sebelum terlambat. Aku benar-benar menyesal, tolong sampaikan permintaan maaf ku kepada Rama. Dia pasti tak mau memaafkan ku, kumohon bujuk dia, agar menerima permintaan maaf ku, Git!" Siska terus memohon
"Baiklah, Siska. Akan ku pastikan Rama memaafkan kesalahanmu." Gita tersenyum
"Terimakasih atas kebaikan hatimu, Gita. Rama memilih wanita yang tepat." Siska mulai tersenyum
"Sama-sama. Kamu tak perlu memikirkan hal-hal itu. Kita semua sudah melupakannya." Kata Gita
"Gita, bolehkah aku meminta satu permintaan terakhir padamu?" Siska lebih serius
"Maksudmu?" Gita bingung
"Maukah kau mengurus anakku?" Tanya Siska serius
"Apa? Kenapa aku harus melakukan itu?" Tanya Gita tak mengerti
"Aku bukan Ibu yang baik untuknya. Kumohon, kamu mau mengurusnya, menyayanginya seperti anakmu sendiri. Aku tak bisa mengurusnya, aku takut dia tak bahagia hidup bersamaku. Kumohon, kau mau menerima anakku, Git!" Siska memperlihatkan bayi yang digendongnya.
"Siska, jangan seperti itu. Kau bisa mengurusnya. Dia akan lebih bahagia kalau hidup bersama Ibu kandungnya. Kamu adalah darah dagingnya, kamu tak boleh patah semangat seperti ini. Aku yakin, kamu bisa mengurusnya, Siska!" Gita meyakinkan Siska
"Aku tak bisa mengurusnya, kumohon Gita. Tolong aku, ini permintaan terakhirku. Rawatlah bayiku, kumohon!"
"Siska, kamu pikirkan lagi keputusanmu itu. Jangan sampai kau seperti ini. Kasihan anakmu Siska!"
Siska tak menjawab perkataan Gita, dia menangis berurai air mata. Ia merasakan sakit ditubuhnya dan ia sudah tak kuasa menahannya. Badannya benar-benar lemas, ia tak berdaya hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
Bruggghhhhh
Bayi yang berada di pangkuannya ikut terjatuh. Gita kaget, Gita segera mengambil bayi Siska. Gita tak mengerti dengan ucapan Siska. Gita khawatir dengan keadaan Siska. Gita segera menyuruh Rey untuk membawa Siska ke mobil, Siska harus segera mendapatkan perawatan.
Bayi Siska terus menangis, Gita tak tega melihatnya. Gita melihat botol susu di tas kecil Siska, Gita segera memberikan bayi Siska susu. Gita tak mengerti kenapa Siska harus mengalami hal seperti ini. Ia kasihan pada Siska, hidupnya sangat hancur, tak ada satupun keluarganya yang peduli pada dirinya.
Rey dan Gita telah sampai di Rumah sakit. Siska segera dibawa ke ruang ICU untuk diperiksa, karena penyakit Siska terkihat serius, dari perutnya keluar nanah dan darah. Gita segera menelepon Rama dan Ibunya Rama. Gita khawatir dengan kondisi Siska. Gita takut terjadi sesuatu kepada Siska. Bagaimana nasib bayinya nanti?
Dokter yang memeriksa Siska keluar menemui Gita dan Rey.
"Pasien mengalami sepsis yang sangat parah. Sepsis muncul dari infeksi bakteri yang menggerogoti lapisan disekitar perut yang terkena sayatan ketika operasi sesar. Pasien tidak bisa diselamatkan. Kami segenap team dokter memohon maaf atas kekurangan kami, tapi sepertinya pasien sangat tertekan. Ketika menuju kemari, denyut nadi pasien sudah tak ada."
Siska, kenapa kau meninggalkan kita semua? Kenapa kau baru menyesal ketika kau harus mengakhiri hidupmu? Bukankah lebih indah kalau kau menyesali semuanya ketika kau masih sehat? Lalu, kenapa kau percaya padaku? Kenapa kau memberikan anakmu padaku? Kenapa secepat ini kau meninggalkan anakmu? Dia bahkan belum bisa mengetahui kalau kau Ibunya. Siska, maafkan aku. Aku akan berusaha menjaga anak ini dengan baik layaknya anakku sendiri. Pergilah dengan tenang, aku mendoakan mu dari sini. Hanya doa yang bisa ku panjatkan. Semoga kau bahagia disana. -Gita-
__ADS_1
*Bersambung**