
Restoran Givi's chicken.
Fadli sedang berkutat dengan pekerjaannya. Banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan. Uang kas restoran, dan pengeluaran restoran, semuanya harus ia kerjakan dengan benar. Gilvan tidak ke restoran, karena hari ini hari libur. Gilvan akan jalan-jalan bersama Givia dan Vina. Tanggung jawab restoran penuh ada ditangan Fadli.
Setelah dirasa selesai, Fadli turun ke lantai bawah, untuk melihat kondisi restoran. Fadli melihat, Ara dan Wildan yang sibuk, karena pelanggan mulai berdatangan. Untungnya, restoran telah dibantu beberapa karyawan magang, sehingga mereka tak terlalu repot.
"Selamat siang, Bos Fadli." sapa Ara tersenyum riang.
"Ah kamu, biasa aja dong. Aku kan juga sama karyawan seperti kamu." jawab Fadli.
"Sebentar lagi aku istirahat, cari bakso yuk? Aku gantian sama Wildan istirahatnya." jawab Ara.
"Boleh, enak ya makan bakso tengah hari gini." tambah Fadli.
"Iya, tunggu sepuluh menit lagi ya Fad, aku beresin dulu meja tamu yang di sana." tunjuk Ara.
"Oke, Ra. Siap." Fadli mengacungkan jempolnya.
Fadli menatap Ara yang terlihat gigih bekerja, wanita tangguh yang dulu pernah ada dihatinya. Fadli mengira, dirinya akan bisa bersama Ara, namun takdir berkata lain, bahwa dirinya hanyalah untuk Raina.
Ara, semoga kamu mendapat kebahagiaanmu yang seutuhnya. Maafkan aku, ternyata aku bukan untukmu. Kedekatan kita selama ini, hanyalah bumbu manis untuk persahabatan kita, tak lebih dari itu. Aku tahu, kamu menguatkan dirimu agar tetap terlihat ceria ketika bersamaku. Bagaimana dengan hatimu, Ra? Kenapa sampai saat ini kamu tak pernah menunjukkan kekasihmu padaku? Ara, bahagia lah.. Carilah pasangan hidupmu, jangan terus menatap aku, aku telah mencintai istriku saat ini, aku bahagia bersamanya. Semoga Ara pun sudah membuang rasa ini. Batin Fadli.
Fadli dan Ara mencari pedagang bakso di pinggir jalan. Ya, sejak dulu sebelum bekerja bersama Gilvan, mereka memang dekat, bahkan sering jalan bersama meskipun tanpa sebuah status.
"Fad, bakso di sana aja." ajak Ara.
"Baik, Ra."
Mereka berjalan menuju tukang bakso dipinggir jalan. Waktu istirahat hanya satu jam, Ara harus bisa membagi waktu semaksimal mungkin. Mereka memesan dua porsi bakso dan beberapa kerupuk. Fadli dan Ara makan siang sambil sesekali berbincang.
"Fad, kamu bahagia menikah sama Raina?" tiba-tiba ucapan itu keluar dari mulut Ara.
Fadli terdiam. Ucapannya mengena ke hatinya. Fadli melihat Ara, wajahnya benar-benar terlihat santai ketika mengatakan itu.
"Memangnya kenapa?" tanya Fadli.
"Sepertinya kamu bahagia," Ara tersenyum.
"Apa aku mengecewakanmu, Ra?" Fadli mencoba memahami isi hati Ara.
"Tentu tidak, Fad. Kurasa, kamu memang mencintai dia. Benar kan apa yang kubilang saat itu? Waktu akan merubah semuanya. Untungnya, aku tak mendengarkan ocehan mu pada saat itu. Kalau saja aku mendengarkannya, pasti aku akan sakit hati." ucap Ara.
"Apa maksudmu? Aku tak mengerti, Ara." jawab Fadli.
"Ah, tidak. Aku sedang dekat dengan seseorang, Fad." ucap Ara tiba-tiba.
"Hah? Siapa? Wah, kenalin dong!" Fadli senang.
"Ada lah, kamu gak akan kenal. Nanti aku kenalin sama kamu. Apa Raina sudah berubah sekarang?" tanya Ara.
"Tentu saja, Ra. Dia hanya berontak pada Kak Rama, dia tak suka akan perjodohan kita. Tapi, ketika aku dan dia mulai dekat, dia ternyata sangat lucu dan baik hati. Dia tak menyeramkan seperti yang aku kira." jawab Fadli sumringah.
"Kamu hebat, Fad. Kamu bisa merubah dia, siapa sih yang gak nyaman deket sama kamu. Semuanya juga pasti nyaman, termasuk aku." Ara tersenyum.
"Ah, kamu bisa aja Ra." Fadli tersenyum.
Selamat berbahagia Fadli, sahabatku. Aku turut senang, jika kamu bahagia dengan istrimu. Ku tutup lembaran ini, aku akan benar-benar menganggap mu sebagai sahabatku. Syukurlah, aku tak terlalu jatuh padamu, hingga hatiku tak terlalu sakit akan kenyataan ini. Batin Ara.
"Balik ke restoran yuk, Pak Gilvan ada di sana. Barusan dia chat aku." Fadli membuka handphonenya.
__ADS_1
"Baik, Fad. Ayo,"
Mereka pun kembali ke restoran, Gilvan telah datang ke restoran, dan waktu makan siang pun akan segera habis. Fadli dan Ara bergegas.
***
Malam hari di Rumah Rama.
Gita sedang mempersiapkan beberapa bungkusan oleh-oleh untuk kepergiannya besok. Raina membantu Gita, walaupun Raina tak tahu, sebenarnya untuk apa Gita membawa banyak makanan, dan sembako, juga beberapa pakaian baru.
"Kakak mau hiking ke gunung apa?" tanya Raina.
"Ah kamu, ya enggak lah. Kakak mau ke tempat Mbak Mia. Dia pulang kampung niat untuk berhenti sepertinya. Boleh aja sih berhenti, Kakak gak keberatan, tapi dia itu kayak menghindar gitu. Apalagi, Kakak belum ngasih uang pesangon buat dia. Makanya, Kakakmu nyuruh Bik Narti belanja sembako dan semua ini, untuk Mbak Mia. Itung-itung tambahan uang pesangon." jelas Gita.
"Oh, jadi Mbak Mia itu beneran berhenti? Hmm, waktu itu baby sitter Nakka berhenti karena sakit-sakitan, yang kuat hanya Mbak Mia, gak nyangka aja Mbak Mia pergi tanpa pamit." jawab Raina.
"Pamit sih, tapi hanya lewat ketikan SMS aja. Makanya, Kakakmu nyuruh kita pergi ke rumah Mbak Mia, untuk memberikan semua ini padanya. Uang pesangon juga untuknya," tambah Gita.
"Aku sama Fadli boleh ikut gak?" tanya Raina.
"Ikut aja. Biar seru, kita ke kampung halamannya Mbak Mia. Nayya dan Nakka juga sumringah banget."
"Mereka pasti seneng. Kalau Kak Rey, gimana?" tanya Raina.
"Dia gak bisa gimana-gimana. Perintah Kakakmu kan gak bisa dibantah. Mau tidak mau, dia harus ikut. Karena dia juga yang akan menyetir mobil kan." jawab Gita.
"Dalam hatinya, aku yakin Kak Rey itu keberatan untuk ikut. Dia sebenarnya gak sanggup untuk bertemu Mbak Mia. Yakin deh, cuma ya itu, emang Kakakku si raja tega! Gak pernah mikirin perasaan orang kalau udah punya keinginan. Menyebalkan!" keluh Raina pada sang Kakak.
"Eh, justru karena Kakakmu itu memikirkan perasaan Kak Rey, jadi dia ingin mempertemukan mereka dengan alasan memberikan pesangon dan oleh-oleh ini. Walaupun memang ini hak nya Mia yang harusnya dia dapat ketika berhenti dari sini." jelas Gita.
"Oh, gituuu. Ternyata, dia gak tega-tega amat kalau gitu. Kak Rama sama Kak Rey, mana?"
"Pantes aja. Yaudah sini, biar aku bantuin."
Ketika Gita dan Raina sedang membereskan semuanya, tiba-tiba Fadli pulang.
"Assalamualaikum." ucapnya,
"Waalaikumsalam, Fad. Sudah pulang rupanya," ucap Gita.
Fadli menyalami Gita, dan Raina pun salam pada Fadli dengan malu-malu. Raina tersenyum senang, ketika melihat suaminya pulang.
"Sedang apa kalian?" tanya Fadli.
"Mm, besok kita mau ke rumah baby sitter Nayya. Mau bawakan ini semua untuknya. Kita ikut yuk?" ajak Raina.
"Besok? Besok aku kerja. Gak bisa ditinggalin, karena dua orang anak magang libur. Aku gak ikut aja, sayang. Kamu aja ya sama Kakak." ucap Fadli.
"Yaaah, kamu! Gak asik deh," Raina cemberut.
"Yeee, Raina. Kecewa ya kamu, udah gak apa-apa, sama Kakak aja, biarin suami kamu kerja, kan Fadli juga udah sering cuti. Gak enak sama Gilvan." ucap Gita.
"Yah elah, ngapain aku ikut kalo sendirian!" keluh Raina.
"Dih, Raina. Udah mulai berani kamu ya, ciye, kesepian ya kalau gak ada suami." gita menggoda Raina.
"Ah kakak, sama aja kayak si raja tega! Fad, ayo makan dulu. Aku udah siapin di kamar makan malamnya." ucap Raina.
"Iya, ayo." jawab Fadli.
__ADS_1
***
Selesai makan malam, mereka siap-siap beristirahat dan berbaring berdua di ranjang.
"Kamu beneran gak bisa ikut?" tanya Raina.
"Enggak, sayang. Maaf ya," jawab Fadli.
"Padahal aku berharap kamu ikut, aku udah terlanjur bilang ikut sama Kak Gita. Kalau gak sama kamu, aku malas."
"Kenapa? Kan ada Nayya sama Nakka juga, kamu bisa bermain sama mereka selama perjalanan." ucap Fadli.
"Aku maunya sama kamu, aku maunya di samping kamu." ucap Raina manja.
"Ada apa denganmu, sayang? Kenapa kamu manja seperti ini?"
"Ya, kalau gak sama kamu, aku pasti kangen nanti."
"Sayang, cukup. Aku gak bisa denger kamu ngerayu aku terus." ucap Fadli.
"Memangnya kenapa?"
"Aku gak tahan, ingin mencium mu, jika kamu terus menggodaku seperti ini. Jangan salahkan aku, kalau malam ini kamu mendesah lagi, semua ini karena ulahmu." Fadli pun mulai berani.
"Eh kamu, aku gak ngapa-ngapain juga, cuma ngomong gitu aja." Raina membantah.
"Tapi ucapan kamu membuat jantung ku berdebar, apalagu kamu sangat cantik malam ini." Fadli memegang dagu Raina.
"Ada maunya, muji-muji kayak gitu!" jawab Raina.
"Ini mau aku, sayang..."
Cup..
Satu buah kecupan mendarat di bibir manis Raina. Fadli menciumnya, ciuman yang masih saja selalu berdebar-debar ketika mereka melakukannya lagi dan lagi. Perasaan membuncah ketika ciuman itu berlangsung.
"Sayang?" tanya Fadli.
"Apa?" jawab Raina.
"Teruskan jangan?" rayu Fadli.
"Terus kemana?" Raina pura-pura.
"Terus ke gawang mu, boleh ya?" rayu Fadli lagi.
"Gak usah minta izin, semua yang ada pada tubuhku adalah milik kamu, terserah apapun yang akan kamu lakukan pada tubuhku." jawab Raina berani.
"Wow, istriku menantang ku. Terima kasih sayang, pikiranku semakin liar ketika kamu berkata tubuhmu adalah milikku. Baiklah, akan ku perlakukan tubuhmu sebagaimana mestinya. Bersiaplah, akan kenikmatan dan kehangatan ini." Fadli kembali mencium dan mengecup leher Raina.
"Aaahhhhh, aku geli, sayang.."
*Bersambung*
Seterusnya sama kalian aja bayangin sendiri wkwk
Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya ..
Sebentar lagi ceritanya berakhir, aku akan adakan give away kecil-kecilan. Yang mau ikutan, gabung grup chat aku ya, karena ada kuis nanti yang akan aku adakan di grup chat.
__ADS_1
dan untuk vote terbanyak, juga akan mendapatkan hadiah ya. 🥰