Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Menuju kebahagiaan


__ADS_3

Andai cinta bisa dilihat


Mungkin aku kan tahu


Siapa yang benar-benar mencintaiku


Sayangnya, cinta itu hanya kata


Yang tak bisa dilihat, hanya bisa dirasakan.


Merasakan cinta yang merasuk hasrat


Kehadirannya sangat memabukkan


Menjelma di depan mata,


Cinta yang suci, dariku untukmu...


Beberapa minggu kemudian.


Setelah kepulangan Raina dari kampung halaman Mia, ternyata menyisakan rindu yang nyata antara ia dan Fadli. Akhir-akhir ini, mereka mulai dekat satu sama lain. Raina mulai merasa tak nyaman jika jauh dari Fadli, begitu pun juga Fadli yang merasa kesepian jika Raina tak ada disisinya. Kini, pembuktian cinta itu benar-benar ada untuk Raina dan Fadli.


Hari ini dan beberapa hari ke depan, Raina akan sibuk mempersiapkan wisudanya. Hari yang ditunggu-tunggu Raina, masa pelepasannya sebagai mahasiswa dan akan mendapat gelar sarjana.


"Maafkan aku, jika beberapa hari ini aku sibuk, hubby.." ucap Raina.


"Gak apa-apa kok, aku ngerti. Kamu jaga kesehatan, jangan lupa makan kalau di kampus. Aku kan gak selalu bisa merhatiin kamu kalau kita jauh," ucap Fadli.


"Iya, tentu saja. Kita sarapan yuk, mungkin Kakak sudah menunggu dibawah." ajak Raina.


"Tunggu dulu," Fadli menahan tangan Raina.


"Eh, apa sayang?" Raina sedikit kaget.


"Kalau dibawah malu, ada Kakak. Disini aja," Fadli mengecup kening Raina dengan hangat, lalu ia memeluknya.


"Eh, kenapa kamu tiba-tiba jadi begini, Fad..." Raina kaget.


"Ini sudah hampir sebulan, apa kamu tak ada tanda-tanda?" tanya Fadli.


"Tanda-tanda apa, maksudmu?"


"Apa kamu sudah terlambat datang bulan?" Fadli melepaskan pelukannya dengan lembut.


"Tiga hari lagi, jadwalku datang bulang. Apa kamu benar-benar menginginkannya?" tanya Raina.


"Tentu saja, aku sangat menantikan kehadirannya." jawab Fadli.


"Semoga disegerakan, jangan berhenti berdoa, sayang."


"Tentu saja, cantikku. Ayo, kita sarapan."


"Iya, sayang.."


Gita dan Rama telah menunggu kedua adiknya turun. Kemudian, mereka pun tiba dan akhirnya mereka makan bersama. Kedua anak Gita pun makan bersama sebelum berangkat sekolah bersama Gita.


Sarapan pagi pun selesai. Fadli dan Raina pamit, mereka menyalami kedua Kakaknya. Rama terlihat masih belum selesai, karena kedua anaknya pun masih makan.


"Sayang, apa kamu tahu, kini hidupku telah sempurna dan bahagia karena kehadiran kalian." ucap Rama.

__ADS_1


"Tentu saja, aku pun sangat bahagia. Aku tak pernah menyangka, kisah ku denganmu dengan benar-benar terwujud. Padahal, aku tak pernah berharap kau membalasnya. Bisa mencintaimu saja, sudah merupakan kebahagiaan terbesarku." ucap Gita.


"Tentu saja aku akan membalasnya. Kamu tak tahu saja, padahal dulu ketika sekolah pun, aku sudah mencintaimu, tapi kamu dan Dimas akrab sekali, hingga aku memutuskan untuk mundur." jelas Rama.


"Kamu memang nggak gentle, deh!"


"Bukan nggak gentle, aku menghargai temanku, betapa tingginya jiwa solidaritas ku pada Dimas." balas Rama.


"Papi sama Mami kenapa bertengkar sih?" tanya Nayya.


"Enggak kok sayang, Papi cuma lagi bercandain Mami kalian, ayo berangkat sekolah. Pak supir sudah menunggu kalian," ucap Rama.


"Baik, ayo Nakka, kita ke mobil sekarang." ajak Nayya.


"Oke! Salam dulu sama Papi, bye papi.." ucap Nakka.


"Hati-hati ya anak-anak Papi, jangan nakal, belajar yang bener. Nurut sama Bu guru ya," saran Rama.


"Oke Papi," jawab Nayya dan Nakka.


Gita pun beranjak dari duduknya, "Sayang, aku berangkat dulu ya," Gita memeluk Rama.


"Hati-hati istriku, jaga anak-anak kita. Aku bahagia, kini kamu bisa mengurus anak-anak seutuhnya." ucap Rama.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, saat mereka sekolah, aku akan menjadi Ibu rumah tangga seutuhnya, sayang. Kini, waktunya sudah tepat. Ya sudah, aku berangkat dulu ya, assalamualaikum." ucap Gita sambil melambaikan tangannya pada Rama.


"Iya, sayangku, waalaikumsalam."


Rama membalas lambaian tangan Gita. Hidupnya, kini benar-benar sempurna. Memiliki istri dan anak-anak yang membuat hidupnya lebih berarti. Adiknya pun, telah menemukan kebahagiaan yang semestinya, Rama tak perlu mengkhawatirkan Raina lagi. Lelaki yang ia jodohkan dengan adiknya, ternyata lelaki baik-baik, yang mampu menjaga dan melindungi Raina seutuhnya. Lengkap sudah kebahagiaannya kini.


***


Siang ini, Fadli makan siang di restoran. Lidahnya entah mengapa, ingin sekali memakan ayam geprek dari restoran Gilvan ini, ia segera meminta Ara memesankan ayam geprek untuk dirinya.


"Ini buat kamu, Fad?" tanya Ara.


"Iya, entah kenapa, tiba-tiba, aku pengen makan ayam geprek. Kayaknya enak aja seger gitu, Ra." jawab Fadli.


"Kayaknya kamu ngidam deh, Fad!" jawab Ara.


"Hah? Ngidam apaan? Aneh kamu, Ra! Aku cuma laper, dan pengen makan ayam geprek. Lagian, masa laki-laki ngidam sih!" protes Fadli.


"Kamu gak tahu aja, Om-ku pernah muntah-muntah terus, dikira istrinya dia kena maag atau masuk angin, sampe seminggu gak berhenti itu mual dan muntah, tahunya istrinya hamil. Kan aneh tapi nyata, Fad!" jawab Ara.


"Tapi, kalo memang Raina hamil, aku bersyukur banget. Cuma, aku gak mau ngidamnya! Ngeri kayaknya, Ra." jawab Fadli.


"Ciye, yang udah ngebet dipanggil Ayah. Jangan egois kamu! Wanita hamil itu perjuangannya benar-benar berat. Rasanya, aku seneng kalau ada laki-laki yang merasakan penderitaan istri ketika ngidam, kayak Om-ku itu, dia jadi bener-bener menghargai istrinya, karena hamil dan melahirkan itu gak mudah." jelas Ara.


"Ra, pesenin lagi ayam geprek dong buat dibungkus. Ucapan kamu bikin aku kangen sama Raina. Ayam geprek dari restoran kita itu favoritnya dia, rasanya egois kalau aku makan tapi dia enggak. Aku mau buat kejutan, aku mau ke kampusnya dan ngasih makan siang buat dia." ucap Fadli.


"Ya ampun, Fadli. Sekarang kamu bucin banget deh! Baguslah, kamu itu harus perhatian sama istri. Oke bentar, biar aku pesenin sama orang dapur." Ara beranjak pergi.


"Thanks, Ra."


Ara tak menyimpan dendam pada Raina ataupun Fadli. Ara wanita yang tulus, Fadli bahagia, ternyata Ara tak membencinya. Justru, Ara malah mendukung hubungannya dengan Raina agar semakin lebih baik lagi.


Ara telah membungkus kan satu box nasi dan ayam geprek, lengkap dengan lalap dan minumannya juga. Fadli segera membawanya menuju kampus Raina. Fadli ingin menjadi lelaki yang romantis, yang mengerti sendiri. Fadli melajukan mobilnya menuju kampus Raina.


***

__ADS_1


Raina dan Diska sedang duduk di taman dekat gerbang kampus. Mereka sedang berbincang dan tertawa bersama. Audrey entah kemana, ia tak ada kabar dan sepertinya Audrey menunda skripsinya, ia tak melanjutkannya. Tiba-tiba, Bayu si buaya buntung datang mendekati Raina dan Diska yang sedang asyik berbincang.


"Halo, Raina." sapa Bayu.


Raina menoleh, ia kaget, "Ngapain kamu kesini?"


"Aku mau bicara sama kamu, sebentar aja." ucap Bayu.


"Bicara apalagi? Gak ada yang perlu kita bicarain lagi, Bay."


"Please, sebentar saja, Rai. Ikut aku, sebentar. Tak lama, kumohon." ucap Bayu.


Raina menatap Diska, "Dis, tunggu sebentar ya,"


"Iya, Rai. Hati-hati." bisik Diska.


Raina mengikuti Bayu ke dekat gerbang kampus, sedikit menjauh dari Diska. Entah apa yang ingin dia bicarakan. Namun, Bayu terlihat menatap Raina dengan tatapan menyedihkan.


"Ada apalagi?" tanya Raina.


"Aku telah memutuskan Audrey dan anak baru itu." jawab Bayu.


"So? Apa hubungannya denganku?" tanya Raina.


"Please, beri aku kesempatan kedua. Kembalilah padaku, aku masih sangat mencintaimu." rayu Bayu.


"Apa menurutmu, aku mau kembali padamu, hah?" bentak Raina.


"Aku yakin, kamu masih mencintaiku kan? Kita rajut lagi kisah kita dari awal, Raina. Aku tak akan menyakitimu lagi, aku serius padamu. Sungguh!" ucap Bayu.


"Aku tak bisa menerimamu lagi. Maaf, kamu hanya membuang waktu saja. Jangan berharap aku mau menerima laki-laki seperti kamu lagi. Aku telah menemukan kebahagiaanku sekarang." jawab Raina.


"Raina, kebahagiaanmu adalah bersamaku. Kumohon, kembalilah padaku, kita masih bisa meneruskan hubungan ini, Raina." Bayu mencoba memegang tangan Raina, namun seketika itu, Raina menepis tangan Bayu.


"Hentikan! Jangan sentuh tangan istriku!" tiba-tiba suara yang tak asing terdengar mendekati Bayu dan Raina.


Ya, Fadli telah tiba di kampus Raina. Ketika sampai, mata Fadli seketika fokus melihat Raina yang sedang berbincang dengan mantannya. Fadli segera berlari, dan ingin menghentikan mereka.


"Heh, kamu bukannya supir Raina! Lancang sekali kamu berbicara bahwa dia istrimu!" bentak Bayu.


"Fa-Fadli???" Raina kaget.


"Sepertinya, kamu belum tahu ya," ucap Fadli.


"Maaf, Bayu, kamu jangan merendahkan dia. Dia adalah suamiku, aku sudah bilang kan, aku sudah bahagia sekarang. Dan kamu jangan pernah lagi menggangguku. Dia bukan supirku, tapi suamiku." ucap Raina.


"Kamu bohong Raina. Aku jelas-jelas tahu, ini adalah supir mu!" Bayu kesal.


"Kumohon, berhenti. Tutup mulutmu, atau aku tak segan-segan akan menghajar mu disini. Sudah kubilang, dia adalah istriku, dan aku telah menikah dengannya. Aku tak ingin benalu sepertimu mengganggu anggrek berharga seperti Raina, istriku. Kalau sampai aku lihat kamu mengganggu istriku lagi, jangan salahkan aku, jika tubuhmu akan remuk!" ancam Fadli.


"Brengs*k, berani sekali kamu!" Bayu ketakutan, karena Fadli benar-benar menyeramkan ketika marah.


"Sayang, ayo pergi. Jangan membuang waktumu bersama orang tak penting seperti dia." Fadli merangkul Raina.


"I-iya, sayang. Ayo pergi." Raina gugup tak percaya, Fadli bisa berada di sampingnya.


Fadli dan Raina berjalan keluar dari kampus. Diska yang melihat kejadian itu benar-benar takjub tak menyangka melihat suami Raina tiba-tiba hadir dan menjadi penyelamat dikala Bayu terus-menerus mengganggu sahabatnya itu.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2