
Vina melajukan mobilnya menuju rumah Gita dan Rama. Ia harus menjemput Givia, karena hari sudah mulai sore. Didalam perjalanan, Vina terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan menimpa dirinya.
Lamunan Vina buyar ketika handphonenya berdering. DEG, hati Vina berdebar ketika ia melihat kontak d handphonenya. Nomor baru, kontak tak dikenal. Hatinya mengatakan, itu adalah Gilvan.
Vina mengambil headset dari dalam tas nya, ia segera menyambungkan headset tersebut, lalu mengangkat teleponnya. Meskipun hati Vina tahu, itu adalah Gilvan.
"Halo?" sapa Vina
"Vin? Ini aku!" terdengar suara Gilvan
Aku tahu, ini kamu. Hatiku juga mengatakan begitu, Van. Batin Vina.
"Gilvan? Oh iya, kenapa?" tanya Vina
"Kamu dimana? Sudah selesai bertemunya?"
"Sudah, aku sedang dijalan menuju rumah Gita, aku akan menjemput Givia." jawab Vina
"Kamu baik-baik saja kan? Hati-hati dijalan."
"Iya, Van. Aku gak kenapa-napa kok." ada perasaan aneh yang muncul dalam diri Vina
"Besok aku sudah bisa pulang." ucap Gilvan tiba-tiba
"Syukurlah. Jaga kondisimu, jangan terlalu capek. Kamu baru sembuh." ucap Vina
"Terima kasih, atas perhatianmu lagi."
"Sama-sama, maaf aku sedang dijalan. Aku harus fokus mengemudi." Vina gugup
"Baiklah, hati-hati, jangan banyak pikiran. Fokus saja mengemudi ya."
"Iya, Van. Thanks."
Vina mematikan teleponnya. Memaafkan Gilvan adalah satu hal yang luar biasa untuk dirinya. Vina sendiri tak menyangka, dirinya bisa luluh dengan memaafkan kesalahan terbesar Gilvan.
Vina telah sampai di rumah Gita. Seperti biasa, ia melihat pemandangan Givia dan Nayya yang sedang asyik bermain-main.
"Bundaaaaaaaaaaaa!" seru Givia ketika melihat Vina masuk ke rumah Gita
"Sayang, kamu berantakin rumah Nayya ya!" ucap Vina
"Nggak kok, bunda. Nayya yang berantakin, Givu cuma bantuin aja."
__ADS_1
"Givi juga sama aja, ikut berantakin loh." Nayya membela diri
"Sudah, sudah. Kalian main lagi saja. Sebentar lagi kita pulang ya, Giv." ucap Vina
"Oke, Bunda."
Vina dan Gita keluar menuju taman belakang. Gita mengajak Gita duduk di taman dekat kolam renang. Sepertinya, ada yang ingin Gita ketahui tentang Vina dan Gilvan.
"Gimana? Udah baikan?" tanya Gita
"Udah, lega hati gue sekarang."
"Syukurlah. Itu yang gue harapkan sama hubungan kalian berdua."
"Tapi, gue bingung sama perasaan gue sendiri." ucap Vina
"Kenapa?" tanya Gita
"Hati gue masih takut sekaligus trauma, jika berdekatan sama Gilvan. Gue emang udah maafin dia, tapi sulit bagi gue untuk membuka hati ini lagi padanya." ucap Vina
"Gak perlu buru-buru! Wajar, lu emang masih teringat akan kejadian beberapa tahun lalu. Berdamai dengan keadaan juga udah merupakan pencapaian bagus buat diri lo!" jelas Gita
"Gue gak yakin, diri gue bisa nerima Gilvan lagi."
"Slowly but sure! Lu inget pepatah itu. Semuanya gak ada yang instan. Bahkan, Mie instan yang biasa kita makan juga butuh proses perebusan kan untuk bisa dihidangkan? Begitu juga cinta. Luka cinta itu memang pasti akan membekas dan mendalam, gak semudah itu kita menerimanya lagi, semua butuh waktu, butuh proses lagi. Nikmati saja keadaan ini, toh sekarang sudah tak ada yang disembunyikan lagi kan?" saran Gita
"Gimana kelanjutan hubungan lo sama Andra?" tanya Gita
"Tadi gue udah ketemu sama dia." jawab Vina
"HAH? Serius lo?" tanya Gita
"Bener. Dia gak terima, dia gak mau gue memutuskan hubungan dengannya. Entahlah, rasanya Andra gak akan diem aja. Itu yang sedikit gue takutkan." ucap Vina
"Terus, gimana? Makanya, lu jangan main api. Akhirnya, lu juga kan yang kena. Lu harus bisa cegah Andra, jangan sampai dia macam-macam. Apalagi, sampe nyentuh elu dan Givia." jelas Gita
"Semoga aja enggak. Gue udah capek, gue udah gak mau lanjutin semua ini sama Andra. Gue kecewa."
"Lo harus tetep hati-hati. Jangan sampe lo kecolongan. Gue harus ngomong sama Rama, perihal Andra. Kayaknya, dia gak bisa dibiarin, Git." pikir Gita
"Git, gue mohon. Lu jangan macem-macem dulu, jangan sampe pecat Andra. Gue takut dia semakin menjadi. Gue akan tetap jalanin sama Andra, sampai gue putuskan dia dengan baik. Ini gak mudah, gue takut dia malah dendam sama gue dan nyakitin anak gue. Ada baiknya, gue lebih baik mengalah untuknya. Biarlah, gue akan coba buat Andra sadar dan mengerti."
"Apa dengan begitu akan berhasil?" Gita tak percaya
__ADS_1
"Semoga saja berhasil, karena gue juga gak mau Andra malah benci sama gue, gue gak mau dia dendam dan pada akhirnya nyakitin gue. Gue ingin dia juga ikhlas ngelepasin gue."
"Tapi, itu gak mudah, Vina. Gimana caranya coba? Gimana kalau si Andra malah makin cinta sama lo?" Gita mengernyitkan dahinya
"Dari awal, gue udah bilang sama Andra, gue udah putusin dia. Setiap dia datang atau deketin gue, gue gak akan nolak. Gue akan yakinin dia, kalau gue benar-benar ingin putus dengannya. Gue ingin putus tanpa dia membenci gue, Git." jelas Vina
"Semoga saja, Andra mengerti. Semoga saja, Andra bisa menerima kalau lo emang ingin mengakhirinya." jelas Gita
"Iya, Git. Gue gak mau Andra marah dan benci sama gue, apalagi kalau dia sampai tahu, Ayahnya Givia lah yang memukulnya pada saat itu."
"Jadi, si Andra belum tahu soal Gilvan?"
"Belum, dan gue gak ngasih tahu, Git. Gue bingung, gue takut dia marah. kalau Andra tahu Gilvan itu siapa, sepertinya Andra gak akan lepasin gue. Gue berharap, Andra gak macem-macem sama gue, meskipun gue bener-bener marah sama perlakuan dia ke gue." jelas Vina
"Lo harus minta bantuan Gilvan. Lo gak bisa hadepin si Andra sendirian. Gue rasa, Andra juga gak mungkin tinggal diam."
"Semoga saja, Andra tak berbuat macam-macam. Gue gak mau, sampe ada masalah besar lagi, Git. Gue udah cukup lelah menghadapi semua ini. Hanya karena Gilvan, hidup gue jadi rumit seperti ini." keluh Vina
"Udah, gak perlu lu sesalin yang udah terjadi. Lu harus hadapi semua ini. Kalau lu butuh bantuan gue dan suami gue, jangan sungkan-sungkan. Gue pasti akan bantuin lo."
"Makasih Git, gue bener-bener beruntung pubya sahabat kayak lo. Semoga, sampai kapanpun persahabatan kita akan tetap seperti ini."
"Tentu saja, gue akan selalu ada buat lo. Gue sayang sama lo, Vin."
"Gue juga."
Vina dan Gita berpelukan. Mereka saling melengkapi satu sama lain.
Tak lama, pembantu Gita memanggil Gita. Ada tamu yang datang mencari Vina. Vina kaget, siapa yang mencarinya sore-sore seperti ini. Vina dan Gita segera masuk ke rumah menuju ruang utama. Tak menyangka, ternyata dia adalah....
"Vin, Ayo kita pulang. Ini sudah sore, kasihan Givia. Biar aku yang membawa mobilmu dan mengantar kalian pulang dengan selamat."
"GILVAN? Bukannya baru besok kamu bisa keluar dari Rumah sakit?" Vina benar-benar kaget
"Aku sudah sembuh. Aku akan menjaga kalian, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Walaupun aku tak bisa memiliki kalian seutuhnya, namun aku akan tetap melindungi kalian. Kalian adalah harta paling berharga yang pernah aku miliki."
"Van?"
Hati Vina tak karuan, benar-benar tak menyangka Gilvan akan seperti ini.
*Bersambung*
Selamat pagi menjelang siang..
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya ya setelah membaca. ❤
Sepertinya, cerita Gilvan dan Vina akan tamat sebentar lagi. Kalian yang betah ya bacanya, hehe