Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Gimana rasanya?


__ADS_3

KEESOKAN HARINYA.


Subuh-subuh sekali, Raina sudah terbangun dari tidurnya. Ia sudah berada di ranjangnya. Ia kaget, karena semalam ia ingat bahwa dirinya terlelap di tenda saking ngantuk nya. Seketika, ia kaget, melihat Fadli berada di sampingnya. Fadli tidur satu ranjang dengannya. FADLI?


Raina segera beranjak ke kamar mandi. Ia benar-benar khawatir kalau Fadli melakukan sesuatu terhadap tubuhnya. Ia melihat lehernya, takut kalau ada warna merah, tetapi ia tak melihatnya, ia sedikit lega, dan ia berjalan maju mundur, beberapa kali, tak merasakan apapun. Ia yakin, kalau ia masih tersegel dengan aman.


Katanya, berhubungan itu menyakitkan, bukan? Tapi, aku tak merasa kesakitan, aku baik-baik saja. Berarti, Fadli tak melakukan apapun padaku, syukurlah, aku benar-benar lega. TAPI? Aku harus ikut dengannya, bagaimana ini? Gawat kalau sampai nanti dia benar-benar akan menagih janjinya padaku. Ah, tapikan Fadli akan bertemu saudaranya, di rumah Bibinya. Masa dia mau melakukan hal itu? Kan tidak mungkin. Iya kan? Kurasa, Fadli hanya menakut-nakuti ku saja. Baiklah, aku harus bersiap sekarang. Aku akan ikut dengannya. Batin Raina.


Raina telah selesai mandi, dan segera mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa. Ia meyakinkan dirinya, bahwa Fadli tak mungkin melakukan hal itu di rumah Bibinya. Dasar Fadli, bisa-bisanya ia menakuti aku, dia kira, aku akan takut? Cih, mana mungkin juga dia berani melakukan hal itu di rumah Bibinya? Pintar sekali kamu membuatku takut! Maaf ya, aku tak takut. Akan ku pastikan, aku ikut denganmu. Gumam Raina dalam hati.


"Bangun, Fadli. Katanya mau pergi. Malah tiduran aja! Bangun, ayo bangun!" Raina membangunkan Fadli.


"Eemmmhhh, ini kan masih pagi, Raina. Semalam kita kurang tidur kan." Fadli berbicara dengan mata yang masih terpejam.


"Ya udah, aku gak jadi ikut!" ancam Raina.


Mendengar ucapan Raina, Fadli segera bangun dan refleks segera duduk.


"Kamu benar mau ikut?" Fadli mengucek matanya.


"Iya! Tapi, kalau kamu malas-malasan gitu, aku nggak jadi ikut!" jawab Raina.


"Woah, kamu sudah siap-siap sepertinya. Apa kamu memang menginginkan honeymoon dan malam pertama kita?" goda Fadli.


"Kamu ya!!! Ya sudah, aku gak jadi ikut!!" Raina marah.


Fadli mendekati Raina yang sedang duduk di pinggir ranjang. Lucu dan menggemaskan sekali tingkah Raina, membuat Fadli jadi berani memeluknya. Ya, Fadli memeluk Raina dari belakang. Raina tercengang, semakin hari, Fadli jadi semakin berani.


"Lepas! Kamu ngapain lagi sih, seenaknya aja!" Raina kaget.


"Ternyata, jika dilakukan dengan cinta, semua ini mudah. Aku mulai nyaman memelukmu, aku tak gugup lagi, Raina." ucap Fadli.


Wajah Raina memerah, "Fad, lepas! Aku pengap."


"Aku nyaman meluk kamu, kamu hangat, Rai." Fadli mendekatkan wajahnya ke bahu Raina.


"Mmmhh, Fad, lepas. Ga enak kayak gini." Raina benar-benar tak nyaman.


"Kamu gugup. Baiklah, aku tak ingin kamu meledak karena pelukanku, Aku mandi dulu ya Rai. Kita berangkat setelah aku selesai." jawab Fadli kemudian melepaskan pelukannya.


Haaah, kenapa Fadli jadi agresif begini? Kenapa semenjak aku berkata kemarin malam, dia jadi benar-benar berani? Oh, tidak, aku benar-benar takut padanya sekaran. Batin Raina.


***


Fadli dan Raina telah siap berangkat. Mereka berpamitan pada Gita dan Rama yang sedang bersantai di ruang keluarga. Karena ini weekend, Gita dan Rama ada di rumah.


"Hati-hati ya, jangan ngebut. Perjalanan jauh, banyak istirahat aja, jangan terlalu buru-buru!" ucap Gita.


"Baik, Kak." jawab Fadli dan Raina.


"Fad, kalau lelah, istirahat dulu, jangan memaksakannya. Ku suruh pakai supir, kamu gak mau." ucap Rama.


"Tak apa, Kak. Saya tak ingin merepotkan. Saya pasti akan hati-hati kok." ucap Fadli.


"Baiklah, aku percaya padamu. Raina, jangan manja! Jangan malu-maluin didepan keluarga Fadli. Ngerti?" ucap Rama.


"Haish, siapa yang manja coba! Kak Rama selalu aja ngomel." Raina tak terima.


"Eh, sudah-sudah. Ayo, berangkat, ini udah siang, kalau nyampenya malem bahaya." ucap Gita.


"Iya, Kak. Ayo, Rai."


"Hati-hati Om dan Aunty. Dadaaaaaaaah!" ucap Nayya dan Nakka.


Fadli dan Raina segera masuk ke mobil. Mereka melambaikan tangannya pada kedua Kakaknya dan kedua keponakannya. Fadli mulai melajukan mobilnya. Kini, ia menggunakan mobil Rama yang mewah, karena takutnya mobil pemberian Gilvan mogok ditengah jalan. Ini sudah siang, karena Fadli sangat lama, mereka baru berangkat pukul 11 siang.

__ADS_1


Perjalanan mungkin akan memakan waktu yang sangat lama, sekitar 7-9 jam. Diperkirakan macet karena ini memang hari libur. Fadli terus melajukan mobilnya, hingga setelah beberapa jam ia mengemudi, ia baru sadar, kalau Raina tertidur.


Sesekali Fadli melirik Raina yang sedang memejamkan matanya. Tak disangka, wanita itu kini adalah istrinya. Fadli terkadang merasa, bahwa Raina itu adalah orang asing baginya. Tapi, sekarang, melihat wanita itu mau pergi bersamanya, menemui keluarganya, sudah merupakan suatu pertanda, bahwa Raina mulai luluh padanya, dan mulai serius menjalani pernikahan ini.


.


.


.


Fadli dan Raina sudah dua kali istirahat, untuk makan siang dan sekedar membeli snack. Kini, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan Fadli masih belum sampai di rumah Bibinya, karena sedari tadi, jalanan benar-benar macet parah. Fadli berhenti lagi, karena Raina ingin membeli jagung bakar yang ada di pinggir jalan.


"Mau kemana atuh, Den?" tanya sang penjual.


"Mau ke ciamis, Pak. Tapi kemalaman ini, tadi benar-benar macet parah." jawab Fadli.


"Aduh, kalau udah malem mah hawatos Den pergi ke ciamis sekarang, karena jalanan banyak pohon tumbang, malem-malem lagi, pan tidak kelihatan Den, lebih baik besok pagi saja diteruskan perjalanannya. Sekarang, cuaca sedang tidak bagus, hawatos bapak mah. Kemarin malam saja ada mobil yang tertimpa pohon besar, Den. Untung wae tidak ada korban, hanya mobil saja yang mengalami kerusakan." ucap sang penjual lagi.


Hawatos \= Khawatir.


"Wah, serius Pak? Duh, serem juga ya. Baiklah, kalau begitu saya cari penginapan dulu aja di daerah sini. Apa disini ada hotel, Pak?" tanya Fadli.


Raina yang mendengar kata 'hotel' seketika sangat kaget dan refleks matanya melotot tajam pada Fadli. Pikirannya sudah melayang kemana-mana ketika Fadli mengatakan hotel. Namun, Raina juga takut jika harus memaksakan untuk sampai ke rumah Bibi Fadli malam-malam begini.


"Iya, Den. Itu, dari sini lurus aja den sekitar 500 m, nanti belok kiri, ada hotel disitu, bisa untuk menginap dulu semalam." ucap sang penjual.


"Baiklah, Pak. Hatur nuhun atas informasinya. Oh iya, jagungnya 5. Jadi berapa?" tanya fadli.


Hatur nuhun \= Terima kasih.


"Jadi 35 ribu, Den. Muhun, sami-sami."


"Ini, Pak. kembaliannya buat Bapak aja. Makasih ya, saya pamit dulu." ucap Fadli sopan.


"Eh, ada lebih 15 ribu, Den. Hatur nuhun pisan yah, hatur nuhun." sang penjual melambaikan tangannya pada Fadli dan Raina.


"Rai, seperti yang Bapak tadi bilang, kita harus menginap dulu. Bahaya kalau memaksakan lewat jalur itu. Banyak pohon tumbang, sedangkan kesini hanya ada satu jalan, tak ada jalur alternatif." jawab Fadli.


"Me-menginap? Di-dimana?" Raina jadi kikuk.


"Di hotel dekat sini saja. Kamu gak keberatan kan? Bahaya, kalau kita memaksakan untuk ke rumah Bibi sekarang. Aku juga telah mengirim pesan, mengabari Bibi barusan, bahwa kita menginap dulu, karena hari sudah sangat larut." ucap Fadli.


"Oh, be-begitu ya, Baiklah, Fad. Aku setuju." Raina gugup.


Oh, tidak! Di hotel? Kenapa harus ada acara menginap di hotel? Kenapa hal ini ada diluar dugaan ku? Ya ampun, aku benar-benar tak sanggup berada di hotel bersamanya. Kenapa harus begini jadinya sih? Raina menggerutu dalam hati.


***


Fadli dan Raina telah check inn di hotel. Mereka masuk kedalam kamar hotel tersebut. Raina benar-benar gugup, ia sudah tak sanggup memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang telah terjadi. Raina segera bergegas ke kamar mandi, untuk mengganti pakaian tidurnya.


Hotel ini tak semewah hotel yang berada di kota, ini hanya hotel sederhana yang berada disekitar jalan menuju pangandaran. Di kamar hotel ini, tak terdapat sofa yang panjang, hanya ada kursi biasa untuk sekedar minum kopi dan menonton televisi.


Raina telah kembali dari kamar mandi, kini giliran Fadli yang membersihkan tubuhnya menuju kamar mandi. Raina melihat kondisi kamar hotel, ia kaget ketika tak melihat sofa yang panjang seperti di kamarnya. Hanya ada kursi kayu, tak ada tempat untuk selonjoran selain ranjang tidur.


Apalagi, ranjang nya juga tak sebesar di kamarnya Raina. Oh, tidak! Apakah aku pasti akan tidur satu ranjang dengannya? Kalau iya, habislah aku malam ini. Gumam Raina.


Fadli keluar dari kamar mandi, ia menggunakan kaos oblong yang longgar. Tubuh Fadli benar-benar fresh ketika ia telah mandi. Makan malam hotel telah disiapkan oleh petugas hotel, kini Raina dan Fadli sedang makan malam bersama.


"Aku sudah selesai, aku lelah. Aku mau istirahat." ucap Raina.


"Aku juga. Aku ingin istirahat, tapi kelihatannya, tak ada sofa disini. Aku tidur dimana?" tanya Fadli.


"Ya sudah, terpaksa kamu tidur di ranjang saja."


"Baiklah, dengan senang hati." jawab Fadli.

__ADS_1


Dengan senang hati, dengkul mu tuh dengan senang hati! Batin Raina.


Raina dan Fadli sudah berada di ranjang yang sama. Mereka berdua sama-sama gugup, namun Fadli kali ini benar-benar akan memberanikan diri untuk melakukan apa yang semestinya mereka lakukan.


"Apakah aku boleh memintanya sekarang?" tanya Fadli.


"Apa?" Raina gugup, tangannya bergetar.


"Mahkotamu, bolehkah aku mengambilnya?" tanya Fadli lagi .


Raina menatap Fadli. Ia benar-benar takut dan tak siap. Namun, dalam suasana dan kondisi seperti ini, pasti sangat tak mungkin jika menolaknya lagi dan lagi.


"Aku takut, Fad." ucap Raina.


"Apa yang kamu takutkan, Raina?"


"Pasti sangat sakit, aku takut." Raina menggigit bibirnya.


"Tenang saja, aku tak akan menyakitimu, aku akan mencobanya perlahan." Fadli mulai mendekati Raina, dan menidurkan Raina perlahan.


"Fad, kumohon, aku takut," Raina benar-benar takut.


"Calm, I'll do it slowly, baby!" Fadli menguatkan dirinya.


Astaga, begini kah rasanya? Gugup dan canggung sekali. Aku harus berani, aku laki-laki. Aku harus bisa meniduri istriku sendiri. Ya, aku yakin aku bisa, semangat Fad. Ini adalah kenikmatan mu, Raina adalah milikmu, aku harus melakukannya dengan cinta, agar aku tak gugup lagi. Bravo, Fadli. Kamu harus bisa menerobos pertahanan istrimu sekarang! Batin Fadli.


Fadli mulai mencium Raina dengan lembut. Ia selalu teringat akan video yang Gilvan kirimkan. Ia akan melakukannya sama persis dengan apa yang ia lihat. Mulai dari menciumi bibir dan wajah Raina, kemudian Fadli dengan gugup menciumi leher Raina, membuat tubuh Raina bergetar hebat, hal yang tak pernah Raina rasakan sebelumnya.


Raina pasrah, ia tak bisa menolak lagi, sebenarnya ia ingin berontak, namun ia tak sanggup, rasa geli dan kenikmatan bercampur menjadi satu. Rasa gugup dan rasa takutnya seketika hilang, karena ia menikmatinya. Desahan dan lenguhan terdengar dari mulut Raina.


"Rai, apa boleh aku memegang ini? Ada yang bulat, tapi bukan tekad, aku ingin membukanya. Sepertinya ini akan merangsang kita." ucap Fadli sambil memegang gundukan kenyal pada tubuh Raina.


"Fad, aku benar-benar takut. Aku tak pernah begini, kumohon, jangan teruskan. Aku takut." Raina terus-terusan menggigit bibirnya.


"Aku tak bisa menghentikannya. Aku sudah mulai menikmatinya, Raina. Maafkan aku, izinkan aku, malam ini untuk mendapatkan tubuhmu."


Fadli tak mendengarkan ocehan Raina, ia membuka piyama Raina, dan melihat buah Raina yang ranum, benar-benar segar dan kenyal. Fadli merabanya, memegangnya perlahan-lahan, hingga membuat adiknya berdiri dan tegang. Fadli mulai mendekatkan mulutnya pada buah Raina, membuat Raina kaget, dan memohon pada Fadli, namun Fadli terus memainkan gundukan itu, hingga Raina bergetar hebat.


"Aaaahhh, mmmhhh, Fad, cukup, hentikan, aku geli, aku tak sanggup." Raina terus meracau.


Pemanasan yang lumayan. Fadli segera membuka bagian inti dari tubuh Raina. Raina tersentak kaget. Benar-benar memalukan, dan menakutkan. Ini belum pernah terjadi dalam kehidupannya. Fadli mencoba mendekatkan adiknya pada tubuh Raina, Raina mengejang hebat, ia takut, benar-benar takut.


Racauan dan ocehan Raina, tak diindahkan oleh Fadli, saking takut gagal lagi, Fadi segera mengarahkan adiknya pada inti Raina. Sempit, sangat sempit. Berkali-kali Fadli mencobanya, sulit sekali. Ternyata, melakukannya dengan perlahan, tak akan bisa membobol gawang Raina.


"Susah, Rai. Sempit sekali." ucap Fadli.


"Fad, udah. Jangan diterusin, aku takut, sumpah. Aku benar-benar takut!!!" Raina menolak dan memohon-mohon pad Fadli.


"Maafkan aku, mungkin kali ini tak bisa slowly, aku akan mencoba quickly, Raina. Milikmu terlalu sempit.''


Fadli menghentakkan adiknya sekaligus, dengan sedikit paksaan, karena amat sulit menerobos pertahanan Raina. Hingga akhirnya Raina menjerit kesakitan, Fadli berhasil menerobos pertahanan istrinya yang selama ini sulit dia taklukkan.


"AAAARRRRRGGGGHHHH, Fadli. Sakit. Hentikan!" Raina menangis, Fadli sudah tak bisa menghentakkan dengan pelan lagi. Beginilah rasanya, kenikmatan surga dunia yang selalu di impi-impikan setiap insan yang telah menikah.


*Bersambung*


Udah ah, segitu aja.


Takut di marahin ya hehehe


Siang semuanya..


Yang sayang sama aku, jgn pelit like nya ya.


makasih juga yg udah setia berkomentar, walaupun aku gak balas, aku selalu lihat kok 😘

__ADS_1


bagi yang suka vote, aku juga makasih banyak, walaupun vote nya gak seberapa, gak bisa nangkring di rangking vote, hehe, aku tetap bersyukur 😍🥰


__ADS_2