
-Dua minggu kemudian-
Rama semakin frustasi tidak bisa menemukan Gita. Rama sungguh depresi, ia tak bisa makan, tak bisa bekerja, ia hanya mengurung diri di kamarnya. Usahanya mencari Gita hanyalah sia-sia, pergi ke rumah sanak saudaranya tak ada yang mengetahui, Rama mengunjungi tempat yang pernah Gita singgahi. Rama pergi ke Bogor, kakeknya pun tak mengetahui kalau Gita pergi kemana. Rama pergi ke Bali, tempat mereka menginap dulu, tak ada batang hidung Gita sama sekali.
Ia sungguh lelah mencari Gita kemana-mana. Semua informasi ia kumpulkan, tapi hasilnya nihil. Jejak Gita benar-benar hilang. Identitasnya seperti di blacklist. Tak ada dimana-mana. Rama menyendiri. Tak bisa diajak apapun, Ibunya semakin khawatir takut kalau anaknya melakukan hal yang tidak di inginkan.
Hari itu dikejutkan dengan kejadian gila Siska lagi. Ia begitu senang dan sumringah. Ternyata ia hamil. Setelah di testpack berkali-kali. Baru kali ini ia melihat testpacknya menjadi garis dua.
Girangnya hati Siska, sungguh semua rencananya dan alur yang dia jalani sangat cantik sekali. Akhirnya ia hamil juga. Sesegera mungkin ia mengatakan hal ini kepada Maya, Ibunya Rama.
"Ma.. Mama. Aku punya kabar gembira. Aku sekarang hamil, Ma. Aku benar-benar hamil cucumu. Lihatlah ini!!!" Siska kegirangan
Maya melihat testpack itu dengan tatapan biasa saja, tak ada ekspresi serius diwajahnya. Begitupun Raina, dia hanya mendelik kesal kearah Siska, wanita yang telah menghancurkan hidup Rama.
"Seberapa yakin kau kalau ini cucuku?" Ledek Maya
"Mengapa Mama berbicara seperti itu? Memang benar ini adalah anak Rama. Sampai kapan Mama akan bersikap seperti ini padaku, hah?" Siska berapi-api
"Sudah, kau tak perlu banyak bicara. Aku mau sarapan." Maya tak mempedulikan Siska
"Jalankan saja sesuka hatimu sampai kau bosan rubah jahat." Raina menambahkan.
"Apa kalian mau antar aku ke dokter?" Siska mengalihkan pembicaraan
"Aku tak punya waktu. Kau urus saja sendiri." Maya mengambil sepotong sandwich.
Siska terdiam. Hatinya sangat marah. Tapi, kali ini ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia harus sabar saja, sebentar lagi kakeknya Rama pasti menyuruh ia menikah dengannya. Tak lama, kakek Prima dan Ayah Rama turun menuju meja makan untuk sarapan bersama.
"Kek, katanya si rubah jahat ini hamil. Bagaimana pendapat kakek?" Raina membuka pembicaraan
"Oh, benar begitu?" Kakek Prima terlihat biasa saja
"Be..benar kek. Saya sedang hamil 5 minggu. Saya bahagia sekali bisa mengandung buah hati bagian dari keluarga ini." Siska girang
"Oh, begitu ya" Kakek tak memperhatikannya
Sial. Kakek tua ini kenapa malah diam saja? Harusnya dia mulai membicarakan pernikahan ku dengan Rama. Masa aku harus blak-blakkan ingin segera menikah dengan Rama? Mau ditaruh dimana mukaku ini. Aku harus sabar, mungkin mereka akan membicarakannya nanti. Tetaplah bersikap baik dan jangan lupa tersenyum. Kau memang wanita yang hebat, Siska. -Gumam Siska-
Mereka makan tanpa mengeluarkan suara. Mereka tak mengajak Rama makan, karena Rama selalu menolaknya. Entah harus bagaimana lagi cara membujuk Rama agar mau makan lagi.
Raina sedih, ia tak bisa pergi kuliah karena hal ini. Untuk sementara, ia akan cuti kuliah sampai keadaan kembali membaik. Raina segera menuju kamar kakaknya, selalu setiap saat Raina membawa makanan untuk kakaknya.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
"Kak, aku masuk ya?" Raina sambil membuka pintu
Terlihat Rama sangat berantakan sekali, bajunya entah berapa hari tak ia ganti, mukanya kusam dan rambutnya berantakan. Selalu saja Rama membuat adiknya semakin khawatir.
"Kak, ayo makan! Jangan begini terus. Aku gak suka liat kakak kayak gini. Tolonglah kak, ini sudah seminggu kakak seperti ini. Hatiku hancur melihatmu seperti ini. Kumohon, kau harus bangkit" Raina menitikkan air matanya.
Rama hanya menoleh adiknya, ia tak menjawab sedikitpun perkataan adiknya. Dalam hati, Rama pun bingung. Ia tak mau hidup seperti ini, tapi untuk hidup seperti biasa pun ia tak bersemangat. Tak ada keinginan untuk kembali pada pekerjaan dan kegiatan sehari-harinya. Hatinya terlalu sakit mengingat kepergiaan Gita. Kalau saja Gita tak pergi meninggalkan dan berusaha terus menghadapi kenyataan ini, mungkin mereka akan saling menguatkan.
"Kak, Lihat aku! Tatap aku! Kau membuatku cemas. Kalau aku ada di posisi sepertimu, kau pasti marah besar. Kau tak boleh egois, Kak! Ada hati lain yang harus kau jaga, yaitu aku, Mami Papi, dan juga Kakek! Kita pun akan seperti kakak kalau sifat kakak seperti ini terus. Kumohon, Kak!" Raina menangis tak tertahan memeluk kakaknya.
Rama tak kuasa menahan tangis melihat adiknya seperti itu. Raina memang benar, kalau ia seperti ini terus keluarganya pun akan jadi seperti ini juga. Ia harus kuat bahkan harus semangat mencari Gita kemanapun, karena dengan seperti ini pun tak akan ada manfaatnya.
Rama memeluk erat adiknya, mengelus rambut halusnya. Berbisik ditelinga Raina.
"Maafkan keegoisanku. Aku sungguh tak bisa menentukan sikap." Rama membuka suara
"Kau tak perlu seperti ini, kau hanya perlu mencarinya lagi, bersabar dan terus melanjutkan hidupmu. Aku yakin dia baik-baik saja di manapun ia berada. Kau tak perlu khawatir. Kau percayakan semuanya pada Tuhan kita." Raina menenangkan.
Hati Rama tenang mendengar perkataan adiknya. Ia sangat beruntung memiliki adik yang memahami kesulitannya. Ia harus bangkit, ia harus bisa menemukan Gita, bagaimanapun caranya. Raina dan keluarganya ada disisinya, ia tak boleh khawatir.
***
Gita kini sudah berada di Kuala lumpur. Ia memberi tahu Ibu dan Ayahnya bahwa akan pergi ke Malay karena ada pekerjaan tambahan disini, ia berbohong kepada Ibunya. Ia sempat menemui Ibu dan Ayahnya tetapi tak lama. Ibunya menyuruh Gita tinggal bersama mereka, tetapi Gita menolak, dengan alasan sudah diberikan mess oleh perusahaannya.
Gita terpaksa berbohong, karena ia tak mau Ayah dan Ibunya khawatir apalagi sampai mereka tahu kalau anak semata wayangnya hamil. Gita tak tahu kedepannya akan bagaimana, Akan ia pikirkan nanti ketika waktunya akan tiba.
Gita mencari sewaan kecil di sana. Ia menemukan biaya sewa yang tidak terlalu mahal. 550 RM sebulan, atau setara dengan 2 juta rupiah Indonesia. Gita tak menyangka dirinya bisa berada si Malaysia, tak pernah terpikirkan sebelumnya ia bisa senekat ini.
Beruntung, ketika ia bertanya mengenai pekerjaan kepada teman sesama sewaannya, temannya mengajak ia bekerja disebuah pabrik konveksi di daerah bukit jalil. Tempatnya dekat, tak terlalu jauh dari rumah sewaannya.
Gita terkadang memikirkan nasib buah hatinya, dimana semua wanita hamil selalu didampingi oleh suami dan keluarganya, tak boleh melakukan aktivitas berat, apalagi bekerja siang malam seperti ini. Ia berharap semoga ada jalan keluar terbaik untuknya dan juga buah hati yang sedang dikandungnya.
Ditempat kerjanya, Gita tak banyak bicara karena ia malu semua rekan-rekannya berbicara dengan logat melayu, ia malu belum fasih berbahasa melayu karena memang ia terbiasa berbahasa Indonesia.
"Anda datang dari Indonesia bukan?" Tanya wanita berkulit sawo matang.
"Betul, perkenalkan nama saya Gita." Sapa Gita
"Nama saya Filzah, sebut saja Iza. Senang berkenalan dengan anda." Sapa Filzah
__ADS_1
"Mohon bantuannya ya, aku belum terbiasa dengan pekerjaan ini." Gita tersenyum
"Sudah tentu. Saya dengan senang hati akan menolong anda" Filzah sangat baik.
Waktu istirahat telah tiba. Gita belum terbiasa dengan makanan-makanan di Malaysia. Ia bingung harus memakan apa, kalau nasi seperti di Indonesia, harganya lumayan sangat mahal. Berbeda dengan di sana, uang dua puluh ribu saja bisa membeli aneka nasi lengkap dengan lauknya, kalau disini mungkin hanya nasinya saja.
Ketika Gita sedang melihat-lihat menu makanan di kantin pabriknya bekerja, tiba-tiba seorang lelaki datang mendekatinya.
"Hai.. Kamu orang Indonesia ya?" Sapa lelaki itu
"Eh, iya. Kok kamu tahu?" Tanya Gita
"Aku juga orang Indonesia, kok. Kelihatan dari style yang kamu gunakan, ciri khas orang Indonesia, hehe" Lelaki itu ramah.
"Senang bisa bertemu sesama warga Indonesia disini. Aku kira aku hanya sendiri." Gita tersenyum
"Kenalkan, namaku Gilvan. Namamu siapa?" Gilvan mengangkat tangannya untuk berkenalan dengan Gita.
"Nama saya Gita, Anggita Nindya." Gita ramah.
"Nama yang cantik, secantik orangnya." Gilvan memuji
"Terimakasih" Gita tersipu malu.
"Kamu karyawan baru ya? Baru berapa lama kerja disini?" Tanya Gilvan
"Baru dua hari, aku juga baru seminggu disini. Masih beradaptasi dengan tempat ini" Ucap Gita
"Pantas saja, aku baru bertemu denganmu. Kalau begitu, apa kita bisa bertukar no handphone? Aku akan mengajakmu mengenal tempat ini lebih jauh." Ajak Gilvan
"Eh, maaf. Aku belum membeli sim card Malaysia. Bisa kau antar aku, membelinya dimana?" Pinta Gita
"Tentu saja, dengan senang hati. Nanti sepulang kerja, kutunggu kau disini. Bagaimana?" Ajak Gilvan lagi.
"Baiklah. Tapi apa itu tidak merepotkan mu?" Gita canggung
"Tentu saja tidak. Kau tak perlu sungkan. Kita harus berteman karena berasal dari negara yang sama." Ucap Gilvan
"Terimakasih" Gita tersenyum
Gita dan Gilvan berlalu. Gita senang bisa memiliki teman sesama Indonesia disini. Ia berharap Gilvan bisa menjadi teman baiknya.
__ADS_1
Pandangan pertama. Begitulah hatiku melihatnya. Cantik natural, senyum menawan menambah keindahannya. Mungkinkah aku bisa mengenalnya lebih jauh? Kukira hatiku takkan lagi merasakan hal itu, tetapi melihatnya membuat hatiku bahagia. Mungkinkah dia orangnya? -Gilvan dalam hati-
*Bersambung**