
Dua jam setelah kepergian Gilvan.
Rama masih setia menunggu Gita, ia tak akan meninggalkannya. Ia tak mau berganti dengan siapapun. Ia hanya ingin disisi Gita. Sampai matanya terbuka dan tersenyum padanya. Rama selalu berbicara sendiri. Seakan Gita mendengarnya, tetapi tak pernah ada jawaban dari Gita.
"Kamu harus segera siuman, kamu harus lihat bayi cantik kita. Dia mirip sepertimu. Aku sangat menantikan dirimu membuka mata. Aku sungguh-sungguh merindukanmu. Gita, bangunlah. Lihatlah aku. Aku sangat merindukan canda tawa dan senyummu. Kini, aku sudah ada di sampingmu. Mari, kita lakukan pernikahan, kita menikah dengan bahagia, kita berbulan madu dengan bayi kita. Aku ingin kita bisa bahagia selamanya." Rama menangis memegang tangan Gita.
Suatu keajaiban terjadi, jari-jari Gita refleks bergerak mendengar perkataan Rama. Rama kaget, ia melihat Gita. Perlahan, Gita membuka matanya. Ia melihat cahaya remang-remang disekelilingnya. Matanya mulai terbuka lebar. Ia bermimpi melihat Rama berada disampingnya. Gita tersenyum manis kepada Rama.
"Git, Gita!!! Kamu udah sadar Git? Kamu lihat aku kan?" Rama berdiri memegang pundak Gita
Gita merasa kepalanya pusing sekali. Ia mengernyitkan matanya. Rama memang ada, apakah ini nyata?
"Kak Rama? Auwhh.. Sakit sekali. Apakah aku sedang bermimpi melihatmu di sampingku? Mimpiku indah sekali." Gita tersenyum
"Kamu tidak mimpi, ini nyata. Kesadaran mu belum benar-benar pulih. Kau telah siuman. Aku sangat bahagia. Terimakasih, YaAllah. Kau telah kembalikan cintaku." Rama senang
"A..apa? Aku tidak bermimpi? Kenapa kau bisa berada disini?" Kenapa aku dirawat? Bayiku mana kak? Kemarin aku telah melahirkannya!" Tanya Gita dengan suara melemah sambil menahan tangis
"Tenang saja, bayimu baik-baik saja. Ibumu yang mengurusnya. Akan ku telepon Ibu, agar membawa bayi kita kemari. Kau pasti ingin bertemu dengannya!" Jawab Rama
"Kenapa aku bisa seperti ini? Kenapa bayiku tak ada bersamaku? Apa yang terjadi padaku kak?" Tanya Gita
"Kau mengalami pendarahan ketika melahirkan, lalu kau tak sadarkan diri." Jawab Rama
"Kenapa aku bisa mengalami pendarahan seperti itu?" Tanya Gita
"Kau terlalu banyak pikiran, makanya kau seperti itu. Sekarang, tenangkan dirimu. Aku ada disini untukmu. Aku akan selalu menemanimu!" Jelas Rama
"Gil.. Gilvan ma..mana, Kak?" Tanya Gita gugup
"Nanti kita bicarakan. Kau tak boleh banyak pikiran dulu, kau baru siuman!" Jawab Rama
"Baiklah." Jawab Gita
Rama tak mungkin menjelaskan kalau Gita mengalami gagal jantung, ia tak boleh mengetahui hal tersebut. Karena, takut jiwanya tak siap menerima hal seperti itu. Dokter menyarankan, agar keluarga menutupi semua hal yang terjadi pada Gita.
Gita tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya, kenapa ia bisa pendarahan dan menyebabkan dirinya tak sadar. Ia pun tak mengerti, kenapa malah Rama yang ada disini, ia heran kenapa Gilvan tak terlihat batang hidungnya, padahal Gilvan adalah suami SAH nya.
Tak lama, Ibu dan Ayah Gita serta bayi mungilnya datang. Gita yang masih terbaring lemah sangat antusias melihat bayi kecilnya.
"Bu, apakah ini anak yang Gita kandung selama ini? Dia cantik sekali, Bu!" Gita menangis
"Tentu, sayang! Ini bayi kecilmu. Lihatlah, dia pasti bahagia karena kau telah siuman. Selama ini, dia pasti ingin berada di sampingmu. Ini, tidurlah dipangkuan Ibumu, Nak!" Ucap Ibu Gita
"Bayiku, sangat lucu. Aku bahagia bisa bersamanya, Bu!" Ucap Gita membelai lembut bayinya
"Tentu saja, Nak."
Selang kebahagiaan itu, keluarga Rama pun datang. Gita sangat kaget melihat kakeknya Rama, karena ia sudah berbohong mengenai kehamilannya.
"Ka-kakek!" Gita gugup.
"Tenang saja, aku sudah tahu semuanya. Selamat atas kelahiran anakmu yang juga merupakan buyut ku!" Ucap kakek Prima senang
"Eh? Terimakasih kek." Gita malu
"Gita, kamu sudah baikan sayang? Allah mengabulkan doa kami semua. Semoga kau selalu sehat ya!" Ucap Mami Rama memeluk Gita
__ADS_1
"Tentu, Tante. Terimakasih." Gita tersenyum
"Jadi, kapan kak Gita di perbolehkan pulang?" Tanya Raina
"Mungkin, dua sampai tiga hari lagi dia bisa pulang." Jawab Rama
"Baiklah Ridwan, kita akan berbicara setelah Anakmu pulang dari Rumah Sakit." Ucap Kakek Prima pada Ayah Gita
"Baiklah, Pak Prima." Jawab Ayah Gita
"Gita, Tante dan semuanya permisi dulu ya. Semoga kamu selalu sehat. Nanti kita bertemu lagi." Ujar Ibu Rama
"Iya tante, terimakasih banyak telah menjengukku hari ini."
"Sama-sama!"
Keluarga Rama telah kembali pulang. Rama tak mau pulang, ia ingin tetap bersama Gita. Gita masih lemas, ia tak mau memaksa Rama pulang, ia membiarkan Rama sesuka hatinya. Ibu dan Ayah Gita masih berada disana.
"Git, anakmu Ibu bawa pulang saja, ya?" Tanya Ibu
"Tapi, Bu! Gita masih kangen sama Bayi Gita. Gita gak mau jauh dari dia." Gita terlihat tak setuju
"Kasihan dia kalau harus tidur di Rumah Sakit. Sebentar lagi kan kamu juga pulang sayang!" Ucap Ibu lembut
"Iya, Git! Dia tidak jauh kok. Dia dekat dengan kita. Kamu tak perlu khawatir." Timpal Rama
"Keluarga Rama membelikan rumah untuk bayimu. Kau tenang saja. Jaraknya dekat dengan Rumah Sakit." Ayah Gita ikut menjawab
"Mereka membelikan bayiku rumah? Tapi, kenapa?" Gita terkejut.
"Dia ingin bayimu tinggal ditempat yang nyaman. Makanya, kau tak perlu khawatir. Dia nyaman bersama Ibu di rumah itu." Ibu tersenyum
"Baiklah." Jawab Gita sedikit tak rela.
Akhirnya, Ibu dan Ayah Gita pergi meninggalkan Gita dan Rama. Ibunya tak mau berlama-lama di Rumah sakit, karena kasihan kepada bayi mereka.
"Git, ada yang ingin kau makan?" Tanya Rama
"Aku belum mau makan apa-apa." Jawab Gita
"Kalau kau ingin makan, bilang saja padaku. Aku akan membelikannya untukmu!"
"Terimakasih, kak!"
"Kau sudah merasa baikan?" Tanya Rama lagi
"Iya, badanku sudah terasa ringan. Tak seperti tadi." Jawab Gita
"Syukurlah. Aku lega mendengarnya." Ujar Rama
"Kak, aku ingin duduk!" Pinta Gita
"Tentu saja, mari aku bantu!" Rama membenarkan posisi duduk di ranjang Gita
"Kak......" Gita bertanya
"Kenapa?" Tanya Rama
__ADS_1
"Aku ingin tahu!" Ucap Gita
"Tahu apa?" Tanya Rama
"Kemana Gilvan pergi?" Tanya Gita
"Kau ingin tahu?" Tanya Rama balik
"Tentu. Mau bagaimanapun dia adalah suamiku." Jawab Gita
"Dia menyerahkan mu padaku." Ucap Rama
"Apa? Maksudmu?" Gita tak mengerti
"Dia telah menceraikanmu. Dia akan pergi ke Malaysia! Aku sudah mencegahnya, tetapi dia tetap bersikeras." Jelas Rama
"Kenapa dia harus pergi begitu saja? Bahkan, aku belum sempat membalas jasa-jasanya yang telah ia lakukan selama ini padaku!" Gita menangis tersedu-sedu.
Rama mengerti perasaan Gita, meskipun ada sedikit rasa cemburu dihatinya, tetapi ia mencoba kuat dan harus menguatkan Gita.
"Aku sudah mencegahnya. Aku menyuruh dia menunggu sampai kau sadar. Tetapi, dia tak mau. Dia tak mau memberatkan mu." Jelas Rama
Gita tak menjawab. Ia terus menangis mengingat Gilvan yang pergi meninggalkannya begitu saja. Meskipun Gita tak mencintai Gilvan, tetapi kebaikan dan ketulusan hatinya membuat Gita sangat merasa kehilangan Gilvan.
Gita jadi teringat dahulu, ketika dirinya meninggalkan Rama tanpa sepengetahuannya. Mungkinkah rasanya sesakit ini? Padahal perasaan Gita kepada Gilvan tak sedalam perasaan Rama padanya, tapi Gita tetap merasa sakit hati ditinggalkan Gilvan. Bagaimana perasaan Rama dahulu ketika ia meninggalkannya? Lebih sakit dari inikah?
"Maafkan aku!" Gita masih menangis
"Maaf untuk apa?" Kata Rama
"Beginikah rasanya ditinggalkan tanpa pamit? Aku dulu pernah melakukan hal ini padamu, Kak!" Gita menangis dikasurnya
"Tentu. Rasanya sangat menyakitkan. Hatiku seperti ditusuk ribuan belati. Aku sesak, tak bisa bernafas. Tapi, semua sudah berlalu. Kini, aku bersamamu." Ucap Rama
"Aku menyesal telah memaksakan kehendak. Maafkan aku, sungguh!!! Aku baru tahu rasanya kehilangan, ketika Gilvan sudah tak ada disisiku lagi. Aku mendapatkan karma darimu, Kak!" Jelas Gita
"Biarkan Gilvan bahagia, biarkan dia menemukan wanita yang bisa mencintainya. Karena, kamu bukanlah untuknya. Kamu adalah bagian hidupku, bahagiamu adalah bahagiaku. Kamu adalah milikku. Tak ada lagi yang bisa memisahkan kita. Aku akan membuka lembaran baru denganmu" Ucap Rama
"Kau tidak marah padaku? Aku telah mengecewakanmu berkali-kali." Gita melemah
"Aku tidak kecewa padamu! Aku menyayangimu setulus hatiku. Kumohon, kau jangan pergi lagi!" Ucap Rama memohon
"Aku tak akan pergi lagi. Ada buah hati kita yang butuh kasih sayang dari Ibu dan Ayahnya." Gita mulai tersenyum
"Kini, kau telah mengerti. Ayo, kita lakukan semuanya untuk buah hati kita. Buat dia bahagia." Ucap Rama
"Terimakasih, kau telah menungguku sampai saat ini. Terimakasih kau telah sabar menghadapi sifat kekanakan ku. Aku sungguh malu." Gita memerah karena Rama terus menatapnya
"Kenapa wajahmu seperti kepiting rebus lagi? Karena aku menatapmu? Aku akan menatapmu dengan waktu yang lama. Waktu kau pergi meninggalkanku, aku tak bisa melihat wajahmu! Kali ini, aku akan menatapmu selama yang kumau." Rama terus menatap Gita
"Kak, jangan seperti itu. Aku malu, aku jelek. Wajahku benar-benar jelek saat ini." Gita menutup wajahnya.
.
"Kau tetap cantik, aku tak bisa berhenti menatapmu." Rama mengelus-elus pipi Gita.
"Kakk......." Wajah Gita semakin merah padam.
__ADS_1
*Bersambung*