Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
New York 4


__ADS_3

Gita kesal, dengan tingkah suaminya yang menyebalkan itu. Gita dengan bebas memilih-milih harga tas yang ingin ia beli. Bukan main, Gita sengaja memilih tas yang harganya selangit.


Tas untuk Mami dan Raina telah ia beri kepada pelayan. Gita sudah memilih 3 tas limited edition, Gita tertarik dengan 1 tas yang berada di etalase paling depan. Gita mencoba bertanya pada pelayan store tersebut.


"Miss, how much is this bag? Why is there no price tag?" tanya Gita (Pelayan, berapa harga tas ini? kenapa tidak ada label harganya?)


"Oh, this is the best bag for now. There's only one in the world. The price is fantastic." jawab pelayan toko (Oh, ini tas terbaik untuk saat ini. Hanya ada satu di dunia. Harganya pun fantastis.)


"May I know, how much is it?" tanya Gita (Bolehkah saya tahu, berapa harganya?)


"The price is US $ 92,000. Will you buy it?" tanya pelayan itu lagi (Akankah anda membelinya?)


"Ok, wait for a moment." jawab Gita (Baik, tunggu sebentar)


Gita kaget mendengar harga yang diucapkan pelayan tersebut. Gita tersenyum sinis pada Rama. Rama mendekatinya.


"Ada apa sayang?" tanya Rama


"Aku mau beli tas ini. Hanya ada satu di dunia." pinta Gita


"Beli saja." jawab Rama santai


"Memang kamu tak penasaran berapa harganya?" tanya Gita


"Memang berapa?" tanya Rama


"92 ribu US dollar. Apa aku boleh membelinya?" tanya Gita


"Beli saja!" jawab Rama santai


"Apa kami tidak tahu, setara dengan berapa rupiah 92 ribu dollar itu?" tanya Gita


"Kamu merendahkan ku?" tanya Rama


"Tidak, hanya aku ingin tahu. Kenapa ekspresi muka mu biasa saja?" tanya Gita


"92 ribu US dollar itu setara dengan 1,3 M kan?" tanya Rama


"Iya, terus kenapa kamu nggak kaget?" tanya Rama


"Mami biasa membeli tas seharga puluhan miliar sayang! Aku tak kaget mendengarnya. Untuk pemula seperti kamu, aku izinkan membeli tas itu." jawab Rama

__ADS_1


"Daebak! Orang kaya memang membuat aku tak mengerti. Uang bermilyar-milyar hanya digunakan untuk senang-senang saja? Memegang uang segitu banyak pun aku tak pernah!" keluh Gita


"Beli saja. Tas itu cantik. Cocok untuk kamu. Aku pun suka dengan desainnya. Sepertinya tas itu menampilkan berlian didalamnya. Desainnya pun ada emas putihnya. Jadi, aku rasa pantas harga tas itu begitu mahal, karena memang sesuai material yang dikenakan dalam tas tersebut." jelas Rama


"Waaaah, kamu tahu? Kamu hebat! Kalau gitu, kamu jadi pakar tas saja?"


"Ngaco kamu! Lihat saja kerlipan tas nya, jelas-jelas itu berlian." jawab Rama


"Iya, iya sayang. Ya sudah, aku beli ini." ucap Gita


Rama melambaikan tangannya pada pelayan toko, pelayan toko itu pun menghampiri Rama dan Gita.


"Miss, I'll buy this bag. please wrap it well, don't get scratched at all." ucap Rama (Pelayan toko, saya akan beli tas ini. tolong bungkus dengan baik, jangan sampai tergores.)


"Yes, Sir. Please go to the cashier for process the payment." ucap sang pelayan (Iya, tuan. Silahkan menuju ke kasir untuk melakukan proses pembayaran.)


"Sure!" ucap Rama


Rama dan Gita berjalan menuju kasir dept store tersebut. Rama mengeluarkan mastercard world nya, yaitu kartu kredit tanpa batas limit. Gita ternganga melihat kartu kredit yang dikeluarkan oleh Rama.


Seumur hidupnya, Gita baru melihat kartu kredit tersebut. Kartu yang menjadi idaman wanita di seluruh dunia. Kartu yang siapapun ingin memilikinya. Gita tak menyangka, suaminya bisa sekaya ini.


"Sayang? Aku boleh nanya gak?" tanya Gita


Gita dan Rama telah keluar dari store penjualan tas tersebut. Gita bertanya pada Rama.


"Boleh sayang, apa itu?" ucap Rama


"Kamu punya banyak uang, kenapa dulu kamu tak mencari ku dengan uang? Bukankah semuanya akan mudah?“ tanya Gita


"Kamu ingin tahu alasannya?" tanya Rama


"Tentu saja, aku ingin tahu." jawab Gita


"Aku, tak pernah memperlihatkan uangku pada siapapun. Aku, tak mau menunjuk orang lain dengan uangku. Aku ingin berusaha sendiri menemukanmu, aku ingin berjuang dengan jiwa ragaku sendiri, untuk mengejar cintaku. Aku memang sempat menyerah, dan akan memanggil orang-orang ku, tetapi ternyata waktu berpihak pada kita, tanpa mereka pun aku bisa menemukanmu." ucap Rama


"Aku tidak tahu ternyata kamu memang berasal dari keluarga konglomerat." ucap Gita


"Aku sengaja menyembunyikan identitas ku, aku tak mau orang tahu siapa aku, karena kalau semua orang tahu identitas ku, mereka pasti akan bersikap sama seperti Siska. Aku sudah belajar dari Siska. Jika aku berteman atau bercinta dengan uang, pasanganku pasti hanya menginginkan uang, bukan menginginkan aku." Rama menjelaskan


Gita terdiam. Perkataan Rama memang benar. Gita mengerti sekarang, ternyata Rama tak pernah mengumbar kekayaannya karena memang Rama ingin tahu siapa yang tulus bersamanya. Ketika Rama sudah menemukan Gita, ternyata apapun Rama belikan.

__ADS_1


Uang bermiliyaran pun tak sulit mengeluarkannya bagi Rama, jika itu untuk orang yang dikasihinya. Gita berjanji, hanya kali ini saja ia menghabiskan uang Rama sebanyak itu, ia tak mau terus-menerus menghabiskan uang Rama untuk hal-hal yang tidak penting.


Gita dan Rama membawa beberapa jinjingan dari toko tas brandid di Madison, mereka lelah, Rama memutuskan untuk segera pulang ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen, Rama memesan makanan online untuk Gita dan juga dirinya. Karena saking lelahnya, Rama tak ada waktu jika harus makan di restauran.


Pesanan pun datang dalam waktu tiga puluh menit. Gita segera menyantap makanan yang berasal dari Negeri paman sam tersebut.


Makanan asli Amerika yang menggugah selera, tentunya dengan label halal di atas box nya, karena Rama harus bisa memilih tempat makan yang bersertifikat halal.


"Makanannya enak sayang. Tau gitu, pesan banyak aja tadi." ucap Gita


"Besok kita mampir ke restonya setelah menemui Dr. Frank." jawab Rama


"Kenapa nggak sekarang aja? Aku maunya sekarang lho." jawab Gita


"Kamu nggak boleh makan banyak-banyak malam ini." ucap Rama


"Loh, emangnya kenapa?" tanya Gita


"Nanti, kalau kamu di atas, aku keberatan sayang." Rama tertawa


"Maksud kamu apa sih? Nyebelin banget." Gita kesal


"Kalau kamu makan banyak malam ini, kamu pasti kekenyangan, terus kamu gak semangat deh melakukan malam panjang kita. Aku gak mau dengar penolakan apapun lho ya! Kalau kamu kekeh ingin makan makanan ini lagi, besok saja. Bila perlu, beli saja besok sekalian restorannya, asal jangan malam ini. Ya?" pinta Rama


"Memangnya, aku akan memberikan padamu malam ini apa? Bagaimana kalau aku sedang halangan?" ucap Gita


"Tak mungkin. Kamu berbohong." Rama tak percaya


"Kalau nggak percaya, lihat saja. Kamu pasti tak mau melihatnya kan?" Gita mengerjai Rama


"Wajahmu tak bisa berbohong. Aku akan mengeceknya sekarang juga! Kalau kamu ketahuan berbohong, habislah kamu malam ini."


Rama membopong Gita, membawanya ke ranjang, lalu menjatuhkannya dengan lembut.


"Aku akan memeriksanya, aku tahu kamu berbohong. Awas saja kamu ya, lihat pembalasanku."


"Aarrrgghhhhh, Sayang. Maaf-maaf, aku becanda kok." Gita kegelian


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2