Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Terima kasih


__ADS_3

Vina, Gilvan dan Givia sudah berada didalam mobil. Vina benar-benar canggung berada satu mobil kembali dengan Gilvan. Givia duduk dibelakang kemudi, sedangkan Vina di samping Gilvan.


"Kenapa kamu bisa keluar dari Rumah sakit hari ini?" tanya Vina sedikit kesal


"Aku minta pada dokter, untuk pulang hari ini. Aku, khawatir pada kalian." jawab Gilvan


"Aku bisa sendiri, kok. Aku gak perlu kamu khawatirkan seperti ini. Kamu kan belum diperbolehkan pulang. Harusnya, kamu gak memaksakan diri." Vina tak suka


"Sudahlah, aku laki-laki. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Rasanya, aku ingin selalu dekat dengan kalian." jawab Gilvan dengan suara penuh pengharapan


"Bunda, Ayah mau ikut kita pulang?" tanya Givia


"Nggak, sayang. Ayah cuma anterin kita pulang. Setelah itu, dia pulang lagi." jawab Vina


"Bunda, Givi lapar. Jangan dulu pulang, Givi mau makan di tempat Ayah." rengek Givia


"Eh, Givi. Ini kan sudah sore. Kita harus segera pulang! Oma juga pasti sudah masak untuk Givi."


"Tapi, Bunda.. Givi mau makan di tempat Ayah Gilvan."


"Vina, tak apa. Kita ke restoran saja dulu. Aku akan tetap mengantar kamu dan Givia pulang. Aku akan bawakan beberapa ayam untuk Mama."


UNTUK MAMA? What the? Apa kita sedekat ini sekarang? Kenapa aku merasa, kamu itu sedang mencari-cari celah untuk mendapatkan perhatianku. Apa aku salah mengira begini? Batin Vina


"Eh i-iya, deh. Aku akan telepon Mama-ku dulu, karena aku akan pulang terlambat."


"Ayo Givi, kita makan ayam sepuasnya." ucap Gilvan


"Hore, Givi makan di tempat Ayah. Makasih Ayah Gilvan, Givi seneng. Ternyata, Ayah juga baik."


"Ayah akan menebus dosa-dosa yang telah Ayah perbuat pada Givi. Untuk itu, Givi harus bahagia ya. Ayah janji, akan menjadi Ayah yang baik untuk Givi."


Givi beranjak dari duduknya, ia berdiri lalu berada di belakang kemudi Gilvan. Givia mendekati Gilvan, kemudian ia memegang bahu Ayahnya yang sedang mengemudi.


"Makasih Ayah. Walaupun Givi baru bertemu Ayah Gilvan, tapi Givi udah sayang banget sama Ayah Gilvan. Givi rindu Ayah selama ini. Givi ingin sekali menunjukan Ayah Givi pada semua teman-teman. Apa Ayah mau nanti anterin Givi sekolah?"


Ucapan Givia sontak membuat Vina dan Gilvan sedikit kaget. Dari mulut mungilnya, keluar kata-kata bahwa anak sekecil itu sudah paham apa itu arti merindu. Givia benar-benar menginginkan sosok seorang Ayah.


Anak itu memang kurang kasih sayang seorang Ayah selama hidupnya. Kakeknya, yang menjadi sosok pengganti Ayahnya, hanya bisa bertemu dirinya di sore dan malam hari. Givia memang tak pernah mengeluh tentang Ayahnya, namun dalam hati kecilnya pun ia pasti sangat mengharapkan sosok seorang Ayah didalam hidupnya.


"Tentu saja, sayang. Ayah akan menuruti semua keinginan Givia. Apapun itu. Sudah, duduk lagi ya. Nanti Givi jatoh." jawab Gilvan


"Baik, Ayah."

__ADS_1


Vina hanya bisa terdiam. Mulutnya kaku, ia tak bisa berkata apa-apa. Menyalahkan Givia pun tak mungkin. Semua ini memang benar adanya, Givia tak asing dengan Gilvan padahal mereka baru bertemu. Ikatan anak dan Ayah itu pasti sangat erat meskipun mereka jauh, dan dengan mudahnya Givia menerima Gilvan, hatinya sudah sangat cocok dengan Gilvan.


Givia tak membenci Gilvan. Givia memanglah anak yang baik. Tentunya, lebih baik lagi Vina. Vina memang membenci Gilvan, namun Vina tetaplah seorang Ibu yang baik. Ia tak menjelek-jelekkan Gilvan pada Givia. Vina hanya berbicara bahwa Gilvan sakit, dan dia tak bisa bersama Givia.


Di mata Vina, Anak tak boleh membenci Ayah maupun Ibunya. Seburuk apapun perlakuannya. Vina menelan kesedihan dan kekecewaan itu sendiri. Ia tak mau, jika Givia juga harus seperti dirinya. Ia tak boleh membuat anaknya menjadi seorang pembenci.


Mungkin karena itulah, Givia mudah dekat dengan Gilvan, dan Givia pun segera memeluknya ketika tadi mereka bertemu di rumah sakit.


***


Sesampainya di restoran, Givia langsung berlari masuk kedalam dan duduk di meja yang ia inginkan. Fadli dan Ara yang melihat kedatangan Vina dan Gilvan benar-benar kaget tak percaya.


Fadli rasanya melihat rona kebahagiaan di mata Bos nya. Tanpa basa-basi, Fadli mendekati Gilvan dan Vina.


"Bos! Kok udah pulang sih? Kenapa gak telepon saya, kan saya bisa jemput Pak Gilvan." ucap Fadli


"Gak apa-apa, Fad. Aku sengaja gak bilang sama kamu. Aku harus jemput Anakku, dan, istriku. Eh, maksudku aku harus menjemput Givia, anakku." Gilvan gelagapan, salah berbicara.


Ya ampun, aku salah berucap. Maafkan aku, Vina. Kamu pasti kesal karena ucapan itu. Kenapa aku terlalu mendalami kisah ini? Padahal, tak ada yang berubah diantara aku dan Vina, kita tetap seperti ini saja, tanpa hubungan yang pasti. Hanya pada Givia-lah, aku memiliki hubungan. Batin Gilvan.


Vina yang mendengar Gilvan mengucapkan kata "istriku" langsung gugup tak menentu. Wajahnya merah padam, ia benar-benar malu, apalagi dihadapan Fadli.


"Hehe, Pak Gilvan memberi kode tuh, Mbak Vina." Fadli merayu Vina dan Gilvan


"Eh, i-iya. Gak apa-apa." Vina pun sama gugupnya dengan Gilvan


"Pak Gilvan, aku tau hati Pak Gilvan pasti sedang bahagia dan berbunga-bunga ya! xixixi." Fadli terus menggoda Gilvan


"Sudah, sudah. Fad, berikan apapun yang Givia dan Vina inginkan ya." perintah Gilvan


Fadli menuliskan pesanan makanan Givia dan Vina. Ia terlihat senang dan tertawa sendiri. Fadli bahagia, akhirnya Gilvan bisa bersama lagi bersama Vina, walaupun status hubungan mereka masih dipertanyakan.


"Siap, Pak. Pak, jangan lupa ya, pepet terus, jangan sampe lolos lagi."


"Kamu ini ngaco aja! Udah sana, pesenin sekarang!" ucap Gilvan


"Hehehe, Bos, bos. Oke siap." Fadli meninggalkan Gilvan


Givia terlihat sedang asyik memainkan boneka kecilnya yang sering ia bawa kemana-mana. Vina benar-benar merasa tak nyaman dengan keadaan ini.


Fadli berbisik kearah Ara. Fadli harus bisa membuat suasana Gilvan dan Vina terlihat romantis. Ara yang dipaksa oleh Fadli, segera mendekati Gilvan dan Vina.


"Ada apa?" tanya Gilvan

__ADS_1


"Pak Gilvan, saya izin mengajak Givia ke belakang restoran. Bukankah di sana ada kolam ikan? Saya akan mengajak Givia untuk pergi melihatnya. Nak Givia, apa Givia mau lihat ikan sama Kakak? Ikannya bagus-bagus lho. Givi juga bisa memberinya makan." saran Ara merayu Givia


"Wah, Givi mau memberi makan pada Ikan. Bunda, Ayah, Givi boleh gak ikut sama Kakak? Melihat ikan?" tanya Givia dengan polosnya


"Tentu saja, Nak. Kolamnya ada di halaman belakang restoran. Tapi, hati-hati ya." ucap Gilvan


"Baik, Ayah."


"Ayo, Givi."


Ara segera pergi berlalu. Sebenarnya, Ara tak paham akan situasi saat ini. Ia hanya diperintahkan oleh Fadli untuk membawa Givia menuju kolam ikan.


Dengan keadaan gugup dan canggung, Gilvan memberanikan diri untuk berbicara pada Vina.


"Vin," ucap Gilvan tiba-tiba


"Iya?"


"Ingatkah kamu?"


"Ingat apa?" tanya Vina


"Tentang kisah kita, yang tak pernah bisa menemukan jalannya." jawab Gilvan


"Eh, ehm, i-iya. Tentu saja, aku ingat."


"Mau sampai kapan kita seperti ini terus? Apa tak akan ada yang berubah diantara kita?" ucap Gilvan tiba-tiba


"A-aku, aku masih belum memikirkan kearah sana." jawab Vina


"Baiklah, tidak apa-apa." Gilvan tersenyum


"Maaf, kita seperti ini saja dulu."


"Aku akan menunggumu, hingga kamu telah siap untuk memulai kehidupan barumu bersamaku, semua ini aku lakukan untuk anak kita. Semoga kamu bisa mempertimbangkannya."


Vina gugup dan bingung. Ia tak bisa berpikir jernih. Ucapan Gilvan benar-benar serius.


"Aku akan mempertimbangkannya, tapi tidak untuk sekarang."


"Tidak apa-apa. Bisa berdua bersamamu dan bersama anakku, merupakan hal terindah yang pernah aku alami dalam hidupku. Terima kasih, telah memberiku kesempatan kedua. Aku janji, tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang telah kamu berikan padaku."


Gilvan tersenyum, lalu meraih tangan mulus Vina. Tanpa aba-aba, dia mengecup lembut tangan Vina. Hangat, itulah perasaan Gilvan saat ini.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2