
Gilvan dan Vina telah selesai berbincang dengan kedua orang Vina. Kini, Gilvan sedang duduk santai bersama Vina. Mereka berbincang dengan perasaan tenang dan lega.
"Jadi gimana?" tanya Gilvan tiba-tiba
"Gimana apanya?" Vina bertanya balik
"Hubungan kita, Vin." jawab Gilvan
"Gak gimana-gimana, emangnya harus gimana?" Vina tersenyum kecut
"Kita pacaran?" tanya Gilvan polos
"Enggak!" jawab Vina cepat
"Loh, kok gitu sih Vin?" Gilvan mengernyitkan dahinya
"Kamu kok jadi gak romantis sih Van? Sebelum direstui Mama Papaku aja, kamu selalu romantis. Nah sekarang, malah datar-datar aja kayak gini." keluh Vina
Gilvan terdiam. Ia berpikir. Apa penyebab Vina seperti itu. Gilvan heran, bukankah dirinya dan Vina sudah direstui oleh keluarga Vina?
Apa maksud Vina? Kenapa dia seperti tak suka jika kita akan menjalani sebuah hubungan? Apa yang salah denganku?
Gilvan akhirnya mengetahui penyebab Vina seeprti tak suka dengan ajakan Gilvan untuk memulai hubungan kembali dengannya.
"Besok ada acara gak?" tanya Gilvan
"Enggak, kenapa?"
"Besok kita makan malam berdua. Apa kamu mau?" ajak Gilvan
"Dimana?" tanya Vina
Gilvan tersenyum, "Besok aku kasih tahu tempatnya."
"Baiklah."
"Kok kamu cuek gini sih? Harusnya kamu seneng, gak lama lagi, kita bisa bersama."
"Seyakin itukah kamu?" Vina memicingkan matanya
"Tentu saja. Aku tahu, kamu marah karena aku tak kunjung menyatakan cintaku padamu, bukan?"
"Apaan sih kamu!" Vina sewot
"Gak romantis dong kalo aku ungkapin perasaanku disini. Makanya, aku ajak kamu besok untuk Dinner. Akan ku buat dinner yang paling berkesan untuk kita berdua."
Vina mulai tersenyum. Memang itu yang ia inginkan dari Gilvan. Selama ini, ia tak pernah merasakan berpacaran bersama Gilvan
Bahkan, sejak mereka bertemu, sampai saat ini pun Gilvan dan Vina tak pernah saling menyatakan perasaan masing-masing.
Tak lama, Givia datang karena sudah diperbolehkan untuk bertemu dengan Gilvan dan Bundanya.
"Ayah sama Bunda ngobrolin apa sih, kenapa gak ajak Givi.." rengek Givia
"Nggak kok, Ayah cuma lagi santai aja sama Bunda Givi. Givi kenapa belum tidur, Nak?" tanya Gilvan
__ADS_1
"Givi belum ngantuk Ayah, Givi masih pengen sama Ayah.." ucap Givi
"Loh, ini udah malem sayang. Lebih baik, Givi tidur saja ya? Besok, Ayah jemput Givi sekolah lagi. Oke?" bujuk Gilvan
"Nggak mau! Givi gak mau bobo kalo gak sama Ayah!" rengek Givi
"Eh, Givi. Gak boleh gitu sayang. Ayah kan harus kerja di restorannya." ucap Vina
"Pokoknya, Givi mau bobo sama Ayah. Ayah harus disini, Ayah gak boleh pergi." Givia memaksa
"Givia, kamu gak boleh gitu, Nak. Besok juga kan ketemu sama Ayah Gilvan lagi." rayu Vina
"GAK MAU! Givi mau bobo sama Ayah. Bunda Jahat!!!! Ayah juga jahat!!!" Givia pergi menangis
"Duh, gimana ini Vin? Givia nangis." Gilvan jadi tak enak
"Udahlah biarin aja, namanya juga anak-anak. Biasa kalau nangis." jawab Vina
"Tapi, dia ingin aku. Aku yang gak enak sama Givi, Vin." ucap Gilvan
"Ya harus gimana lagi? Masa kamu nginep disini? Kan gak mungkin banget!" Vina mencoba realistis
Papa Vina datang dari dalam dan melihat Gilvan serta Vina.
"Givia kenapa?" tanya Papa Vina
"Dia rewel. Masa maksa-maksa Gilvan buat tidur sama dia. Udah, Pa. Biarin aja. Bentar lagi juga dia tidur kok." jawab Vina
"Iya, Om. Saya jadi gak enak lama-lama disini. Kalau gitu, saya permisi sekarang." Gilvan akan beranjak pergi
"Ada apa Om?" tanya Gilvan gugup
"Percepat hubungan kalian. Lebih cepat lebih baik! Kasihan cucuku, kalau harus melihat kamu berpisah lagi dengannya." ucap Papa Vina
"HAH? Maksud Papa, aku harus segera menikah dengan Gilvan, gitu?" Vina menerka-nerka
"Iya! Lebih cepat lebih baik. Karena, kasihan Givia kalau harus sedih ditinggal lagi oleh Ayahnya." jelas Papa Givia
"Ba-baik, Om. Saya akan segera menghubungi Keluarga saya, untuk segera melamar Vina." ucap Gilvan
"Bukankah kata Papa, jangan terlalu cepat?" Vina sedikit ragu jika harus terlalu cepat menikah dengan Gilvan
"Tadinya, aku berpikir begitu. Tapi, karena Givia, aku tak tega jika membiarkan kalian tak bersatu secepat mungkin." ucap Gilvan
"Papa.." Vina tertegun mendengar ucapan Papanya
"Baik, Om. Saya akan segera memberitahu keluarga saya untuk segera melamar Vina. Kalau begitu, saya permisi dulu" ucap Gilvan
"Tunggu!" Papa Vina menahan Gilvan lagi
"Kenapa, Om?" tanya Gilvan
"Menginap lah disini. Tidurlah bersama Givia. Kasihan cucuku, ia sangat ingin bersama dirimu."
"Ta-tapi, Om.." Gilvan keberatan
__ADS_1
"Anakku dan Cucuku tidur terpisah, tidurlah di kamar cucuku. Kamu tak boleh menemui Vina. Biarkan Vina istirahat sendiri, dan kamu menemani Givia tidur."
"Tapi, Om, saya.."
"Temui dia di kamarnya, kasihan Givia!" perintah Papa Vina, kemudian ia berlalu
"Ba-baik, Om." Gilvan ragu-ragu
Gilvan dan Vina saling lihat. Ia bingung. Tak mungkin Gilvan harus menginap di rumah Vina. Walaupun Givia adalah anaknya, tapi Gilvan dan Vina belum berstatus. Gilvan sangat canggung. Namun, apa boleh buat, ia harus menemani Givia.
Akhirnya, Vina mengantar Gilvan menuju kamar Givia. Givia terlihat sedang menangis dan sedang dibujuk oleh Neneknya. Gilvan mengetuk pintu, lalu ia masuk kedalam kamar Givia.
Betapa bahagianya Givia melihat Gilvan yang berada didalam kamarnya. Gadis kecil itu tak menangis lagi, ia bahagia, Ayahnya telah berada di kamarnya.
"Ayaaaah.. Apa Ayah mau tidur sama Givi?" tanya Givia sambil mengusap air mata di pipinya
"Iya, sayang. Ayah akan tidur disini, bareng sama Givi." Gilvan tersenyum
"Hore! Ayah memang baik. Givi seneng deh." Givia tersenyum
"Ya sudah, Oma pergi dulu ya sayang." ucap Mama Vina
"Iya Oma."
Mama Vina dan Vina kembali ke luar kamar. Vina diajak oleh Mamanya untuk masuk kedalam kamarnya.
"Ada apa sih Ma?" tanya Mama Vina
"Keluarga Gilvan ada dimana?" tanya Mama Vina
"Di Jakarta, Ma. Kenapa?" tanya Vina
"Kamu jangan tenang dulu. Bukankah kamu belum bertemu dengan keluarga Gilvan? Apakah mereka tahu tentang Givia?" tanya Mama Vina
Mama Vina benar. Keluarga Gilvan tak tahu tentang Givia. Karena, ketika dulu Rama dan Kakak Gilvan sering berkomunikasi, tak sedikitpun Rama memberi tahu keluarga Gilvan perihal bayi Vina.
Vina ingin menyembunyikannya. Vina tak ingin keluarga Gilvan ikut campur perihal anaknya. Sebab itulah, keluarga Gilvan tak tahu, bahwa Gilvan mempunyai seorang putri.
"Keluarga Gilvan tak tahu tentang Givia." jawab Vina
"Lantas bagaimana? Akankah mereka dengan mudah menerima kamu, Vina? Mama berpikir sampai sini, kamu dan Gilvan itu sudah berbuat salah! Keluarga Gilvan sama sekali tak tahu menau tentang Givia. Bagaimana kamu akan menjelaskan pada mereka? Akankah semudah kami yang merestui kalian?" tanya Mama Vina
Vina terdiam. Ucapan Mamanya benar-benar membuat ia terkejut. Apakah mungkin orang tua Gilvan akan mudah menerima dirinya dan Givia? Apalagi, bertahun-tahun, keluarga Gilvan tak tahu bahwa Vina hamil keturunannya. Mereka hanya tahu, bahwa Vina adalah orang yang mencintai Gilvan, bukan orang yang hamil anak Gilvan.
Bagaimana jika Vina dan Givia, bertemu dengan keluarga Gilvan?
*Bersambung*
Selamat malam..
Selamat beristirahat..
Setelah membaca, budayakan LIKE dan KOMENTAR ya.
Terima kasih, selalu menjadi pembaca setia di cerita ini..❤
__ADS_1