Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
bertemu buaya lagi


__ADS_3

...Aku mencintaimu dengan hatiku, aku tak peduli, jika ragamu tak bisa ku gapai. Aku tak peduli, jika cintamu hinggap di tempat lain. Bisa merasakan indahnya mencintaimu pun adalah anugerah terindah dalam hidupku. -Gilvan Ardian-...


"Kamu tak perlu memikirkan aku, cukup berikan Giviaa kebahagiaan seutuhnya, itu sudah membuatku sangat bahagia." ucap Gilvan tiba-tiba, ketika hening melanda mereka berdua


"Aku salah, aku terlalu mengabaikan mu. Aku benar-benar minta maaf." ucap Vina membuat Gilvan kaget


"Kamu tak salah, kamu adalah wanita hebat yang pernah aku temui." Gilvan tersenyum pada Vina


"Wajahmu penuh luka lebam. Kamu pasti sakit. Semua ini karena aku." ucap Vina


"Sudah, jangan sedih terus. Aku gak apa-apa, kok. Justru, aku sangat bahagia, bisa menatap bidadari ku yang selama ini jauh."


Vina tersenyum. Ia mulai bisa berdamai dengan keadaan. Ia mulai memahami perlakuan Gilvan padanya. Semua sudah terjadi, Vina tak boleh terus menyimpan dendam dihatinya. Ia harus hidup dengan rasa bersyukur.


"Kamu belum makan ya? Nasinya masih utuh." ucap Vina sambil melirik nasi yang ada di meja.


"Belum, aku masih tak selera makan." jawab Gilvan


"Mau aku suapi?" tanya Vina


"Gak usah, itu sangat merepotkan. Nanti saja," ucap Gilvan


Vina beranjak dari duduknya, ia membuka makanan Gilvan dan mengambilnya.


"Nggak, aku gak merasa direpotkan. Kamu memang harus makan, gimana mau sembuh kalau makan aja susah. Kamu juga harus minum obat kan. Ayo makan dulu! Mau minum dulu gak?" tanya Vina


Gilvan tertegun. Ada angin apa? Kenapa Vina jadi perhatian seperti ini? Rasanya, hati Gilvan saat ini sedang terjun bebas naik paralayang, saking bahagianya.


"Boleh, aku haus. Mau minum." ucap Gilvan


Vina memberikan minum pada Gilvan. Ia melakukannya dengan tulus dan senang hati. Rasanya, seperti menemukan cintanya kembali. Namun, Vina masih ragu. Karena, Vina pun maaih menjalin hubungan dengan Andra.


Andra? Dimana lelaki brengs*k itu? Kenapa maaih belum juga mengabari Vina? Apa mungkin Andra kabur? Ah, biarlah dahulu. Vina harus mementingkan kesehatan Gilvan.


"Ini." Vina memberikan minumnya pada Gilvan


"Makasih."


Vina membuka nasi dan mencampurnya dengan sayur serta lauk pauk yang dihidangkan oleh Rumah sakit.


"Ayo, makan." Vina menyuapi Gilvan dengan perlahan


Gilvan menerima suapan sendok yang Vina berikan. Rasanya indah sekali, seperti Gilvan sedang dirawat oleh istrinya sendiri. Gilvan memang merindukan perlakuan hangat ini dari Vina.


"Terima kasih, aku benar-benar bersyukur, kamu bisa memaafkan kesalahanku." ucap Gilvan


"Siapa yang tega membiarkan kamu terluka seperti ini? Apalagi, terluka karena aku. Aku juga punya hati." jawab Vina

__ADS_1


"Jadi, aku harus terus terluka, agar kamu berbaik hati padaku, begitu?" Gilvan tersenyum


"Tau ah, kamu nyebelin." Vina kesal


"Eh, aku becanda sayang." Gilvan keceplosan


DEG. Jantung Vina bergetar. Ia refleks terpaku mendengar Gilvan mengucapkan kata sayang padanya. Gilvan malu bukan main, ia malah gelagapan, ia tak sadar jika dirinya mengucapkan kata sayang pada Vina.


"Maaf, aku tak mengontrol ucapanku." Gilvan benar-benar gugup


"I-iya, gak apa-apa kok. Lupain aja." Vina mengalihkan


Mereka sama-sama terdiam. Perasaan aneh muncul pada diri mereka. Gilvan dan Vina memang belum pernah terikat sebuah hubungan yang serius. Gilvan dan Viba hanya terikat pada cinta satu malam mereka, hingga menyebabkan kejadiannya bertambah rumit.


Cinta mereka memang tak pernah bersatu, selalu saja ada hambatan untuk mereka bersama. Namun, kekuatan hati tetap menguatkan cinta Gilvan pada Vina.


"Apa aku bisa memanggilmu sayang lagi?" tanya Gilvan


Vina menoleh. Obrolannya dengan Gilvan sepertinya mengarah pada hal serius.


"Memang, sejak kapan kita pernah memanggil sayang satu sama lain?" tanya Vina


Gilvan terdiam. Ia sadar, dirinya dan Vina memang tak pernah menjalin hubungan ataupun sekedar berkata sayang. Kisah cinta Vina dan Gilvan selalu menggantung seperti episode-episode yang author-nya tulis. Becanda, ya. Lanjut.


"Aku tak pernah memanggilmu sayang, ataupun menjalin hubungan serius denganmu. Tapi, percayalah, kalau rasa sayang dan cintaku padamu, melebihi mereka yang sudah berpacaran." jawab Gilvan


"Sayangnya, kamu kalah dengan mereka." jawab Vina


"Kalah, maksudmu?" tanya Gilvan tak mengerti


"Mereka saja berani menyatakan cintanya pada wanitanya, kalau kamu? Kamu malah meninggalkan aku dan lari dariku setelah puas tidur denganku." sindir Vina


Memang wanita tak akan pernah lupa akan rasa sakitnya. Selalu mengungkit kejadian yang telah lalu, dan membahasnya lagi, Walaupun mereka telah saling memaafkan, tapi sindiran halus itu cukup mengena di hati Gilvan.


"Apa kamu mau, aku menyatakannya sekarang?"


"Eh, aku tak bermaksud begitu." Vina gelagapan


Tiba-tiba, handphone Vina berdering. Vina membuka handphone di tas nya. Ia melihat kontak dengan nama Andra. Jantungnya serasa mau copot. Ia belum menyelesaikan masalahnya dengan Andra.


Siap atau tidak siap, Vina harus bertemu Andra. Semuanya harus segera Vina selesaikan. Vina tak mau berlarut-larut. Tanpa laki-laki pun, hidupnya bahkan akan tetap bahagia, pikirnya.


"Maaf, aku angkat telepon dulu." Vina menjauh dari Gilvan


Vina segera mengangkat telepon lelaki yang dia tunggu kabarnya sejak tadi pagi.


"Halo, kamu kemana aja?" tanya Vina

__ADS_1


"Ayo, kita bertemu." jawab Andra


"Dimana?" tanya Vina lagi


"Di restoran dekat kantor aja. Mau?"


"Baik, aku ke sana sekarang." jawab Vina


"Aku tunggu,"


"Ya."


Tutt..Tutt..


Telepon dimatikan. Vina tak mungkin meninggalkan Gilvan sendirian, namun Vina pun tak mau kalau masalahnya dengan Andra tak diselesaikan.


"Van, maaf. Aku harus pergi sekarang." ucap Gilvan


"Itu, lelakimu?" tanya Gilvan


"Iya, aku akan meminta penjelasannya."


"Apa kamu tidak takut? Kamu harus hati-hati padanya." jawab Gilvan


"Aku menemuinya di restoran. Aku akan hati-hati." jawab Vina


"Jangan memakan makanan ataupun minuman jika dia telah lebih dulu ada di restoran dan telah memesankan kamu makanan." pesan Gilvan


"Kenapa?"


"Kita tak tahu, apakah makanan itu sudah dia campur dengan sesuatu atau tidak. Kamu harus hati-hati, lebih baik pesan sendiri saja."


Kamu, memperhatikan aku, kamu benar-benar ingin melindungi ku. Tapi, sampai saat ini pun aku belum melihat video itu. Aku ingin memastikannya, tapi ucapan mu benar-benar membuatku percaya, bahwa kamu memang khawatir padaku. Batin Vina


"Baik, tentu saja. Aku pergi dulu ya."


"Hati-hati dijalan, apa kamu masih menyimpan nomorku?" tanya Gilvan


"Aku sudah menghapusnya. Sini, ku pinjam handphonemu. Aku akan menuliskan nomor baruku, karena aku mengganti nomor dan juga handphoneku."


Vina mengambil handphone Gilvan dan memasukkan nomornya.


"Sudah, aku berangkat. Kamu, jaga diri baik-baik ya." pinta Vina


"Iya, kamu juga."


Vina berlalu meninggalkan Gilvan. Gilvan sendiri, dalam sepi. Rasanya, hangat ketika ia bersama Vina. Apakah mungkin, kisahnya dengan Vina, akan terulang lagi? Bagaimana nasib cintanya Gilvan nanti?

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2