Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Ekstra Part 2


__ADS_3

Kediaman Rama dan Gita.


Keluarga Rama mulai menata kehidupannya seperti biasa tanpa kehadiran Kakek Prima. Papi Rama yang akan menjadi penerus Kakek Prima sebagai founder Angkasa Putra Grup.


Rama yang akan menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan. Gita yang akan menjadi direktur keuangan, menggantikan posisi Rama dahulu. Gita sekarang sibuk, pekerjaan yang melelahkan dan tiada henti, Nayya dan Nakka pun terkadang kurang mendapat perhatian dari Gita.


Papi Angga, Papi Rama lupa mengabari sesuatu pada Rama. Sebenarnya, ada satu hal yang mereka lupakan. Karena terlalu sibuk, Rama melupakan hal yang penting.


Surat wasiat peninggalan kakeknya Rama, masih belum ada yang berani membukanya. Papi Angga melupakan itu, kalau saja Rama tahu, pasti Rama akan segera membukanya.


Akhir-akhir ini Rama sibuk, jadi Papinya tak bisa menemuinya. Mungkin, belum saatnya surat wasiat itu dibuka, karena sebelum Kakek Prima meninggal, surat wasiat itu ditujukan untuk Raina. Papi Angga takut, namun tak bisa berbuat apa-apa. Beliau akan memberi tahu Rama, jika waktunya sudah tepat.


Seperti biasa, Rama akan berangkat kerja bersama Gita. Sebelum berangkat, Gita dan Rama selalu menyempatkan diri untuk bertemu Kanayya dan Kanakka.


"Kamu jangan terlalu sibuk, sayang. Lihatlah anak kita, mereka pasti membutuhkanmu!" ucap Rama


"Iya, iya. Aku juga mengerti. Akan ada saatnya aku full mengurus anak-anak. Kamu tak perlu khawatir, sayang." jawab Gita


"Ingat ya, kodrat mu sebagai Ibu. Kamu tak boleh terlalu fokus mengurus perusahaan kita, ada anak-anak yang lebih membutuhkan kita."


Akhir-akhir ini Rama menjadi berisik. Karena kesibukan Gita, Rama kasihan pada anak-anaknya yang kurang kasih sayang dan perhatian dari sang Ibu.


"Iya sayang, jika anak-anak memintaku untuk berhenti, aku akan berhenti, aku tak akan memaksakan diriku untuk terus bekerja."


"Kamu tahu itu. Nyawamu di perusahaan mungkin hanya akan bertahan sekitar 4-5 tahun lagi. Setelah anak-anak kita pintar bicara, mereka pasti tak mau kamu bekerja!" Rama tersenyum senang


"Nyawaku? Hahaha, memangnya aku sedang bermain game! Aku hanya senang ilmu yang aku dapat semasa kuliah, bisa aku gunakan di perusahaan kita!" ucap Gita


"Aku percaya padamu! Kamu memang wanita yang cantik dan cerdas. Pantas saja kamu bisa memiliki aku, lelaki yang tampan dan hebat." Rama sombong


"Apa-apaan kamu ini? Kenapa terdengar seperti sedang menyombongkan diri?" Gita manyun


"Hahaha, sudah-sudah! Ayo, kita segera berangkat, sayang." ucap Rama sambil merangkul istrinya menuju mobil


"Iya, sayang. Ayo, Rey juga sudah menunggu." Gita tersenyum membalas perlakuan Rama.


Gita melupakan Vina, sahabatnya. Tepatnya bukan melupakan, tapi terlupakan. Gita terlalu sibuk hingga ia tak sempat mengingat Vina. Gita masih dalam proses menyelesaikan berkas-berkas perusahaan yang akan dipindah tangankan pada Rama, dirinya belum bisa santai.


***


Kediaman Vina.


Vina belum mau beranjak dari kamarnya. Ia terlalu takut untuk menjelaskan pada kedua orang tuanya. Vina bingung, harus bagaimana menjelaskannya, tak mungkin Gilvan bisa berada disampingnya saat ini.


Vina menangis, meratapi kebodohannya selama ini. Kenapa Vina bisa dengan santainya berhubungan badan dengan Gilvan, sampai Vina tak pernah memikirkan dampaknya akan seperti apa.

__ADS_1


Tiba-tiba, pintu kamar Vina diketuk. Papa dan Mamanya masuk dengan perlahan. Vina kaget, ia takut Papanya akan memarahi Vina lagi.


"Vin, Papa mau bicara sama kamu." ucap Mama Vina


Vina duduk tadi tidurnya, matanya amat sembab dan bengkak, karena semalaman tak berhenti menangis.


"Apa kamu tak bisa memberi tahu Papa, siapa yang telah menghamili kamu?" tanya Papa


"Vina bukan tak mau memberi tahu, Pa! Tapi, Vina tak bisa membawanya kemari, Vina sungguh menyesal. Maafkan Vina." Vina menangis lagi


"Sudah, sudah. Mama gak mau kamu terus-terusan menangis seperti ini." ucap Mama


"Apa dia tak mau bertanggung jawab padamu? Iya? Mari kita pergi temui keluarganya sekarang juga! Akan Papa beri pelajaran lelaki br*ngsek itu" bentak Papa Vina


Vina kaget. Papanya kini marah pada lelaki yang menghamili Vina. Tetapi, bagaimana Vina menjelaskannya? Ini terlalu rumit untuk dijelaskan.


"Vina, beritahu kami! Kami tak bisa melihatmu terluka seperti ini." ucap Mama Vina


"Ma, Pa! Vina bukan tak mau memberi tahu siapa lelaki yang menjadi Ayah dari anak ini Vina hanya bingung bagaimana menjelaskannya. Ini terlalu rumit untuk aku jelaskan." Vina menutup wajahnya


"Jelaskan lah pada kami, agar aku bisa menentukan sikap." ucap Papa Vina


Vina menghela nafas panjang, lalu membuangnya perlahan. Ia harus jujur pada kedua orang tuanya, sepahit apapun kisah ini, orangtuanya patut mengetahui.


"Jelaskan lah, Nak." ucap Mama Vina


Vina menjelaskannya sambil menangis. Semuanya sudah terjadi, tak akan mudah bagi Vina untuk bisa bertemu Gilvan, apalagi jika ingatan Gilvan belum benar-benar pulih.


Vina mengatakan, bahwa Gilvan mengalami kecelakaan hingga lupa telah berhubungan dengan Vina, bahkan lupa dengan Vina. Vina tersiksa akan hal itu, sekarang Lelaki itu sedang menjalani pengobatan, agar sesegera mungkin bisa mengingat Vina.


Ibunya yang mendengarkan cerita pilu Vina, menitikkan air matanya. Ibunya tak menyangka, kalau Vina mengalami kisah serumit ini. Semuanya karena kelalaian Ibu Vina, yang kurang memperhatikan keadaan anaknya.


"Kalau saja dia ada di sekitar kita saat ini, aku akan segera memberinya pelajaran. Baiklah, aku sudah menentukan sikap untuk kehidupanmu selanjutnya!" ucap Papa Vina


Vina dan Ibunya terdiam. Entah apa yang akan dilakukan Papa Vina. Vina takut, namun Vina harus menanggung semua konsekuensinya. Semua ini karena ulahnya, ialah yang harus menyelesaikannya.


"Apa Pa?" Vina ketakutan


"Karena ini aib bagi keluarga kita, aku tak ingin kamu berada di rumah ini." ucap Papa Vina


"Apa? Papa mau ngusir Vina? Mama gak setuju!" Mama Vina menolak


"Pa, jangan begini.." Vina menangis sedih


"Bukan begitu maksudku. Ini aib untuk keluarga kita, tak mungkin Vina bisa hidup bebas disini, apa kata tetangga kita nanti? Aku tak sudi anakku menjadi bahan cibiran mereka, walaupun anakku memang salah." jelas Papa Vina

__ADS_1


"Jadi, maksud Papa bagaimana?" Mama Vina belum paham


"Aku ingin Vina tinggal di rumah Ibuku di kampung. Dia akan aman di sana, pemukimannya jauh dari penduduk, tidak seperti disini."


Vina kaget. Kenapa Papanya harus mengungsikan ia ke kampung halaman neneknya. Vina takut, Vina tak betah hidup di kampung. Vina ingin menolaknya, namun takut Papa Vina malah emosi lagi.


"Apa tak ada cara lain, Pa?" tanya Mama Vina


"Menurutmu, apa? Aku tak sudi kalau Vina harus tinggal disini sebelum ia melahirkan!"


"Pa, jangan seperti ini. Kasihan anak kita kalau harus tinggal di kampung. Dia nggak akan betah, Pa." ucap Mama Vina


"Setuju atau tidak, Vina harus tinggal di sana. Keputusanku sudah bulat, kalau kau ingin Vina masih menjadi anak kita, ikutilah perkataan ku." ancam Papa Vina


Papa Vina berlalu, ia segera pergi ke ruko tempatnya berjualan. Papa Vina seorang pedagang sembako, dan beliau selalu bertemu dengan banyak orang, beliau malu kalau orang-orang tahu anaknya hamil diluar nikah. Untuk itu, keputusannya mengirim Vina ke kampung adalah jalan satu-satunya.


"Sudah, Ma. Vina tak apa-apa. Vina mau tinggal di rumah Enin, ini pun demi kebaikan Vina dan anak Vina." ucap Vina


Enin adalah sebutan Vina kepada neneknya. Nenek Vina tinggal di kampung, tepatnya di daerah selatan jawa barat. Enin berasal dari kata nini, yang berarti nenek.


"Kamu tak keberatan? Itu sangat jauh, sayang." jawab Mama Vina


"Tak apa-apa, Ma. Vina sanggup tinggal dikampung. Papa melakukan ini pasti demi kebaikan Vina juga. Vina mengerti, Papa pun menyayangi cucunya. Papa ingin bayi ini tetap hidup, Ma." jelas Vina


"Ya sudah, kamu yang sabar. Ini sudah jalannya, Mama tak bisa banyak membantumu. Semoga, suatu hari nanti, ada lelaki yang akan menerima kamu apa adanya." ucap Mama Vina


Vina berpikir sejenak, kenapa Mamanya harus berbicara lelaki lain? Bukankah kalau Gilvan sudah kembali dan mengingat semuanya, Gilvan pasti menemui Vina dan pasti akan bertanggung jawab?


"Ma, kenapa harus lelaki lain?" tanya Vina


"Memang kenapa?" tanya Mama


"Suatu saat nanti, kalau ingatan Gilvan sudah kembali, dia pasti akan datang padaku, dan bertanggung jawab padaku. Aku yakin itu, Ma." Vina meyakinkan Ibunya


Dalam hatinya, Vina masih mengharapkan Gilvan. Harapannya untuk hidup bersama Gilvan amatlah besar, apalagi kini ada janin Gilvan yang hidup ditubuh Vina. Vina sangat berharap Gilvan akan datang padanya.


"Kenapa kamu masih berharap pada laki-laki itu? Kalau dia kembali, Apa Papamu mau menerima lelaki itu? Papamu tak akan menyetujui kamu dengannya!" ucap Mama Vina


"HAH? Tak mungkin." Vina tak percaya dengan apa ucapan Ibunya


*Bersambung*


Halo semuanya, ini bonus chapter yang kedua. Season dua akan dimulai ya. Ceritanya berawal dari kisah Vina yang seperti ini. Pokoknya, terus setia baca cerita aku ya, aku jamin, akan lebih menyayat hati dari kisah Gita dan Rama..


Budayakan LIKE ya sayang-sayangku, aku benar-benar kekurangan like untuk cerita ini, Vote juga kalau kalian berkenan ya. Makasih banyak semuanya, tanpa kalian, apalah aku 🥰🤗

__ADS_1


__ADS_2