
Gilvan putus asa dengan semua perkataan Vina. Gilvan tak tahu harus bagaimana bersikap pada Vina. Gilvan menyerah, Gilvan tak ingin menjawab perkataan Vina. Ia memanggil asisten Dr. Frank agar segera membawanya pergi.
"Oke, akan ku buktikan ucapan mu Vina. Aku akan berada disini. Pergilah kalian semua!" perintah Gilvan
Gilvan berjalan menuju asisten Dr. Frank yang sedang berjaga didekat taman. Gilvan tersenyum sendu kepada mereka.
"Excuse me, please take me into the house! I will do everything what they want." ucap Gilvan pada asisten Dr. Frank (permisi, tolong bawa aku kedalam rumah! Aku akan melakukan semua yang mereka inginkan.)
Gilvan berlalu. Sahutan demi sahutan yang Vina lontarkan tak dihiraukan sama sekali. Gilvan seakan menutup rapat telinganya dan tetap fokus pada langkah kakinya untuk menuju kediaman Dr. Frank.
"Gilvan....."
"Gilvan Ardiansyah!!!"
"Gilvan dengarkan aku!"
"Van.. Aku bicara padamu! Kenapa kamu hanya diam saja?"
"Gilvan, bukankah kita harus melakukan salam perpisahan? Kenapa kamu malah marah padaku? Gilvan, kumohon!"
"Gilvan dengarkan aku!!!!!"
"Gilvan, baiklah kalau kamu tak mau mendengarkan aku. Aku hanya ingin berkata, datanglah padaku setelah semuanya kembali seperti sedia kala."
Vina berteriak-teriak, tetapi Gilvan membiarkannya, tak menoleh sedikitpun kearah Vina. Vina menangis menjerit-jerit, tetapi Gilvan tetap meninggalkannya tanpa sepatah kata apapun.
Gita mencoba menenangkan Vina. Gita tahu, hati Vina saat ini sehancur apa. Gita bisa merasakan betapa sakitnya hati Vina saat ini. Perjuangannya untuk Gilvan bukan main-main. Vina benar-benar serius dengan cintanya pada Gilvan.
Rama mencoba berlari mengikuti Gilvan. Tetapi, Gilvan menyuruh Asisten Dr Frank menutup pintu rumahnya. Rama pun tak diizinkan masuk. Tak lama kemudian, Dr Frank keluar, menemui Rama.
"Rama, let Gilvan be with me. His heart very hurt, I understand his feelings. trust me all, Rama." ucap Dr Frank (Rama, biarkan Gilvan bersamaku. Hatinya sangat terluka, aku mengerti perasaannya. Percayakan semuanya padaku.)
__ADS_1
"Thanks Dr Frank. I trust you! Please, let me know if anything happens to Gilvan." jawab Rama (Terima kasih Dr Frank. Aku percaya padamu! Tolong, beritahu aku jika terjadi sesuatu pada Gilvan.)
"Sure! Now, you and them can go. Becareful!" (Tentu, sekarang kamu dan mereka bisa pulang. Hati-hati)
Rama membungkukkan badannya kepada Dr Frank, sebagai tanda menghormati. Ada baiknya mereka tak bertemu Gilvan kembali, karena hatinya akan goyah jika Gilvan harus bertemu mereka kembali.
Perlahan, Gita membawa Vina menuju mobil. Gita memboyong Vina yang kelelahan dan benar-benar terluka. Rama yakin, ini jalan terbaik. Semoga secepatnya Gilvan kan kembali.
Seseorang, dibalik jendela kamar lantai atas, sedang memperhatikan gerak-gerik Vina dan Gita. Dia melihat dengan air mata berlinang, hatinya pun rapuh. Jiwanya hancur, dirinya rapuh, tetapi ia harus kuat.
Aku memang tak percaya dengan apa yang kamu katakan. Tetapi, perkataan mu membuat hatiku sakit. Bagaimana aku bisa percaya padamu? Kenapa kamu malah menangis? Apa semua itu memang benar adanya? Apa aku harus menuruti semua keinginanmu demi membuktikan kebenarannya? Batin Gilvan
Tak terasa, air mata Gilvan mengalir terus. Melihat wanita yang selama ini menemaninya menangis meraung-raung. Mungkin, ini sudah jalannya. Gilvan harus tabah menerimanya, dan meyakinkan dirinya bahwa yang dikatakan Vina itu benar adanya.
***
Vina tak berbicara sepatah kata apapun, Vina terbujur kaku. Gita menemaninya didalam apartemen, hatinya sakit ketija tahu Gilvan tak mau lagi bicara dengannya. Gita mencoba menenangkan Vina berkali-kali, tetapi rasanya nihil, karena Vina tak bergeming sedikitpun.
Semua permasalahan ini benar-benar berasal dari Gilvan. Gilvan lah penyebab Vina tersiksa seperti ini. Tetapi, menyalahkan keadaan pun sudah tak mungkin lagi. Sekarang, semuanya harus menerima kenyataan dan tetap hidup seperti sedia kala.
"Vin, Vina! Lu harus yakin, Gilvan pasti sembuh. Gue yakin, dia bisa melewati semua." ucap Gita
"Vin, kamu harus tetap hidup. Ada kita untukmu, kita bisa terus bersamamu selamanya. Jangan khawatir, beberapa bulan kemudian, kita bisa kembali kesini untuk menemui Gilvan." Rama menenangkan
"Memang, kenangan kamu dan dia itu pasti sulit dilupakan. Namun, mau sampai kapan kamu terluka seperti ini? Kamu harus bahagia, Vin. Yakin pada Allah, Gilvan pasti sembuh. Percayalah." tambah Gita
Vina hanya menangis. Vina tak mampu menjawab perkataan Gita dan Rama. Mengucapkan memanglah mudah, tetapi sulit untuk dilakukan. Vina mencobanya, tetapi sangat sulis.
Orang yang kita cintai, semakin kita mencintainya, semakin sulit kesempatan kita untuk bersamanya. Itulah ujian cinta, ia akan terus menguji kesetiaan kita sampai benar-benar jatuh pada tempatnya.
Vina tertidur dipangkuan Gita. Sahabatnya itu pasti lelah sekali, menangis seharian dan mengingat Gilvan yang acuh padanya.
__ADS_1
"Kasihan Vina, kisahnya ternyata rumit, seperti kisah kita." ucap Gita
"Yakinlah, Vina akan kuat seperti aku. Vina tak akan mudah menyerah! Walau aku tahu, hatinya saat ini benar-benar rapuh, tapi ia tetap menginginkan hasil yang terbaik." jawab Rama
"Kamu sama hebatnya dengan Vina, bertahan dengan kesakitan cinta. Vina pasti akan bahagia, seperti kamu dan aku."
"Kita bantu Vina, jangan biarkan dia sendiri, kamu sahabatnya, kamu harus selalu ada disisinya."
"Aku pasti menemaninya. Dia sahabatku, wanita terdekat denganku, wanita yang tegar dan tangguh. Aku pasti selalu ada disampingnya." ucap Gita
Gita mengelus lembut rambut Vina. Gita tahu, rasanya menjadi Vina. Hatinya benar-benar hancur lebur, ditinggalkan lelaki yang dicintainya, tanpa sebuah salam perpisahan, tentu sangat menyakitkan hati.
Gita tidur bersama Vina, Gita tak mau sedikitpun meninggalkan Vina. Rama akan tidur di kasur kecil yang telah ia pesan pada pengelola apartemen tersebut.
Rama yakin, Gilvan akan sembuh. Perjuangan Gilvan padanya dan Gita, akan Rama balas untuk Gilvan dan Vina. Rama tersenyum, akhirnya ia bisa membalas budi kebaikan Gilvan yang dulu Gilvan lakukan padanya.
Rama tahu, rasanya berjuang demi seseorang yang kita sayangi itu sangat sulit. Rama meyakinkan dirinya, tak akan membuat kesalahan sedikitpun demi mempersatukan kembali Gilvan dan Vina.
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam waktu USA, Rama melihat Gita dan Vina telah tertidur lelap. Dirinya tak bisa tidur, entah kenapa perasaan Rama sangat tak nyaman. Rama tak mengerti apa yang terjadi padanya saat ini.
Rama tak bisa tidur, hatinya gelisah. Tak seperti biasanya Rama seperti ini. Tiba-tiba, handphone Rama berdering. Raina memanggilnya.
"Hallo, Rai. Ada apa?" tanya Rama
"Kak, ada berita buruk. Kakek tadi pagi sedang berolahraga, lalu ia ditabrak oleh orang yang tak dikenal. Kak Rama harus segera pulang. Kakek dalam keadaan kritis saat ini. Maafkan aku memberi tahu kabar buruk ini." Raina menangis dalam telepon
Rama lemas, handphonenya jatuh tergeletak ke lantai.
*Bersambung*
Happy reading ya semuanya.. Jangan lupa like dan komentarnya. Apalagi kalian bersedia memberikan vote gratis untuk cerita ini. Aku bersyukur sekali😘😍
__ADS_1