
Langkah Vina sedikit resah. Ia tak sanggup harus bertemu Andra. Perasaan Vina pada Andra hanyalah sebatas pelampiasan amarahnya pada Gilvan. Vina tak benar-benar mencintai Gilvan.
Didalam mobilnya, Vina masih terdiam. Ia enggan melajukan mobilnya. Vina teringat, Rama mengiriminya video rekaman cctv pada saat dirinya mabuk.
Vina ingin tahu, ia membuka handphonenya. Ia membuka aplikasi chat WhatsApp. Membuka pesan yang belum dibuka dari Rama. Ia membuka perlahan-lahan rekaman tersebut.
Dengan perasaan takut dan berdebar, ia memaksakan melihat video tersebut. Terlihat, Gilvan sedang minum-minum di bar tersebut Lalu, Vina dan Andra yang duduk di sofa bersama teman-temannya.
Video dipotong dan dipercepat. Kemudian, Vina melihat adegan ketika Andra menciumi Vina secara ganas.Vina terlihat pasrah dan sangat menikmati, dirinya tak melawan sedikitpun.
Vina terkejut bukan main, dadanya sesak, ia hampir tak bisa bernafas saking shock nya melihat dirinya dipermainkan didepan teman-teman Andra. Andra terus menciuminya didepan semua orang, Vina terlihat pasrah menerima perlakuan Andra.
Andra mulai menjalar. Tangannya meraba-raba payud*ra Vina dengan nafsu. Andra juga meremas-remas buah dada Vina. Andra benar-benar tak malu melakukan hal tersebut didepan semua teman-temannya.
Kemudian, Andra membawa Vina ke suatu tempat, dalam video itu Gilvan tak terlihat lagi. Tak lama, ketika berada di lorong menuju ruangan VIP, Gilvan mendorong tubuh Andra hingga jatuh tersungkur. Gilvan meminggirkan Vina, di belakangnya.
Gilvan terus menghajar Andra, memukulnya, dan menendangnya. Hingga kemudian Gilvan terjatuh Andra memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang balik Gilvan. Andrs menghabisi Gilvan tanpa ampun, Gilvan ditendang, dipukul, di injak-injak, hampir darah keluar dari hidung dan mulutnya.
Vina mematikan handphonenya. Ia tak sanggup melihat kelanjutan bukti tersebut. Ia tak tega melihat Gilvan yang tak berdaya dipukuli seperti itu. Gilvan menolongnya, agar Andra tak melakukan hal keji pada dirinya. Vina menyesal, ia wanita yang bodoh. Ia malah percaya kepada buaya seperti Andra.
Andra brengsek. Dasar baj*ngan kurang ajar. Apa dia benar-benar sudah gila? Kenapa aku harus mabuk pada malam itu? Aku memang banyak pikiran setelah berdebat panjang dengan Gilvan. Apa karena hal itu, aku memutuskan untuk minum dan mabuk berat?
Berani sekali Andra memanfaatkan kesempatan itu. Dia memang lelaki paling menjij*kkan yang pernah aku temukan. Aku harus benar-benar mengakhiri semua ini sebelum terlambat.
Dengan hati penuh amarah, Vina melajukan mobilnya dengan cepat. Ia ingin segera menemui Andra dan meminta penjelasannya sebagai seorang lelaki.
Vina sampai di restoran itu tepat pukul tiga sore. Ia langsung mencari Andra. Ia yakin, Andra pasti sudah sampai di restoran tersebut. Benar saja, Andra sudah berada di restoran tersebut. Andra melambaikan tangannya pada Vina.
Vina mendekati tempat duduk Andra. Tatapannya pada Andra sangat tajam, seperti tatapan orang yang sedang menahan amarah dan murka.
"Kamu kena macet ya?" tanya Andra basa-basi
"Nggak. Ada apa kamu ngajak ketemu disini?" tanya Vina
"Kamu marah? Kamu udah tahu apa yang terjadi?" tanya Andra
__ADS_1
"Apa yang akan kamu katakan? Cepatlah! Aku tak punya banyak waktu." jawab Vina
"Minumlah dulu, kamu pasti lelah."
Vina teringat perkataan Gilvan. Benar saja apa yang dikatakan Gilvan. Minuman dan makanan sudah ada di meja. Vina patut curiga. Apa yang dikatakan Gilvan tentu ada benarnya. Gilvan berpesan pada Vina, karena ingin melindungi Vina.
"Nggak. Cepet. Mau ngomong apa?"
"Minum dulu, Vin. Aku tahu, kamu pasti lelah, mengemudi sendiri. Minumlah dulu, tidak apa-apa kok." Andra terus memaksa
"Sekali kubilang tidak, ya tidak! Kenapa kamu harus maksa? Ada apa didalam minuman ini? Kamu memasukan obat perangsang untukku? IYA?" Vina benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya
Andra mendelik kesal pada Vina. Andra tak menyangka wanita yang ia anggap bodoh seperti Vina, paham akan obat yang dimasukan dalam minumannya.
"Baiklah, aku akan langsung berbicara." ucap Andra
"KATAKAN!"
"Aku minta maaf, atas kesalahanku, aku khilaf. Aku tak bermaksud begitu. Aku pun tak tahu, kenapa aku bisa tak sadar dan terus berbuat hal keji seperti itu, Vin."
"Ternyata, temanku mengerjaiku. Mereka memasukan obat perangsang pada minumanku, sehingga aku terangsang dan terus ingin mendekatimu. Maafkan aku, sungguh."
Aku tak percaya, Ndra. Aku tahu, itu hanya akal-akalanmu! Seperti yang sedang kamu lakukan saat ini, memberiku minuman perangsang. Agar apa? Agar aku bisa kamu tiduri, agar aku bisa hamil anakmu, lalu kamu senang, aku tak bisa pergi darimu, begitu? Hahaha, sayangnya aku terlalu pintar untuk kamu bodohi, Andra. Batin Vina.
Vina, berterima kasihlah pada Gilvan. Berkat Gilvan, Vina jadi pintar dan tahu mengenai obat perangsang yang diberikan Andra. Gilvan memang malaikat pelindung untuk Vina, walaupun Gilvan sendiri pernah membuat Vina seperti pelac*r.
"Begitu ya?" Vina kesal
"Kamu percaya kan sama aku, Vin? Maafkan aku, aku terlalu terbuai dalam obat tersebut. Aku tak sadar, kalau aku menciumi dan memegang bagian sensitif mu." jelas Andra
"Sudahlah, aku sudah tak ingin mendengarkan penjelasan apapun lagi darimu. Aku sudah tahu, kamu orang yang seperti apa. Kamu juga tempramen sekali, kamu mudah sekali memukul orang lain." jelas Vina
"Bagaimana aku tidak memukuli orang itu. Orang itu terus saja menghajar ku, aku tak bisa diam saja ketika diriku dipermalukan didepan umum. Itu hanya caraku untuk membela diri, kamu harus percaya." jelas Andra
"Aku sudah tahu, sudahlah. Lupakan saja." Vina malas
__ADS_1
"Jangan begitu, Vin. Maafkan aku ya? Aku janji, tak akan mengulangi kesalahan seperti itu lagi." Andra memohon
"Aku sudah memaafkan kamu, Andra. Tapi, sekarang aku tahu, bahwa kamu tak pantas bersanding denganku. Sekali lagi, maafkan aku, aku tak bisa melanjutkan hubungan ini denganmu." ucapan Vina membuat Andra melotot kaget tak percaya
"Tapi kenapa Vin? Aku kan udah minta maaf sama kamu, kenapa kamu malah mengucapkan kata-mata seperti itu? Kenapa kamu tega mematahkan semangatku?" Andra kecewa
"Kamu yang telah membuat aku kecewa, kamu yang harusnya introspeksi, jangan menyalahkan aku." ucap Vina
"Ngomong-ngomong, siapa laki-laki yang menghajar ku? Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana? Apa urusannya dia harus menghajar ku?" Andra terlihat kesal
"Apa urusanmu bertanya tentangnya? Kamu jelas-jelas salah, kamu mempermalukan aku didepan umum. Orang lain juga akan kesal jika ada yg seperti itu."
"Tapi, jangan tinggalkan aku, Vina. Aku mencintaimu." ucap Andra
"Maaf, Ndra. Aku tak bisa. Aku lebih baik hidup tanpa cinta dari seorang lelaki, daripada hatiku terus tersakiti dengan tingkah mu yang sudab kekewatan." jawab Vina tegas
"Kenapa kamu jadi sok suci begini? Kamu jangan jual mahal Vina! Aku tahu, kisah kelam kamu dan anakmu itu. Anakmu adalah anak haram kan? Ia tak mempunyai Ayah, karena Ayahnya pergi meninggalkan kalian tanpa sebab!"
Andra tertawa puas, "Aku tahu semuanya tentangmu, kamu harusnya bersyukur, aku mau menerimamu, Vina! Kamu tak sepantasnya jual mahal padaku!!!" Andra kesal dan marah
"Aku tak memintamu untuk menerimaku, aku bisa hidup berdua dengan anakku dengan tentram dan bahagia. Kenapa kamu malah merasa dirimu begitu berjasa untukku?"
"Vina, kamu benar-benar membuatku marah! Aku tak mau putus denganmu. Aku ingin tetap menjalani hubungan ini. Jangan macam-macam padaku, aku tak ingin mendengar penolakan darimu. Kalau kamu menolak, jangan salahkan aku, jika aku akan terus mengganggu hidupmu!"
Andra berdiri, ia menyelipkan uang di bill restoran. Ia menatap Vina dengan licik. Andra benar-benar mematikan. Vina harus hati-hati padanya.
"Aku pergi." Andra pergi
Vina hanya terdiam. Ia tak bisa menjawab apa-apa. Disisi lain, ia takut kalau Andra berbuat macam-macam lagi padanya. Tapi, kalau terus dipaksakan bersama Andra pun, Vina tak mau. Ini semua karena ulah Vina sendiri. Harus bagaimana Vina sekarang?
"Bersambung*
Selamat sore!
Jangan lupa like dan komentarnya ya. Makasih yang udah setia membaca ☺
__ADS_1