Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Lampu hijau


__ADS_3

"Ayah, kita mau kemana?" tanya Givia dalam perjalanan


"Mau ke rumah Ibunya Ayah, sayang." jawab Gilvan


"Apa Ibunya Ayah itu baik seperti Oma?" tanya Givia


Gilvan terdiam. Dia pun masih bingung. Akan bagaimana nanti nasib Vina dan Givia didepan keluarganya nanti.


"Nenek Givi dari Ayah baik, kok. Givi gak perlu takut," Vina menjawab


"Yeee, Givi mau ketemu nenek baru."


Vina tetap berharap, bahwa keluarga Gilvan akan menerimanya dengan baik. Gilvan mungkin tak tahu, bahwa keluarganya telah mengenal Vina saat dulu Gilvan amnesia. Justru, sepertinya Ibu dan Kakak Gilvan pun tahu, kalau Vina hamil, namun mereka tak mau ikut campur.


Dalam hati, Vina tetap yakin, semuanya akan baik-baik saja. Vina melihat, wajah Gilvan yang gugup, sepertinya Gilvan memang takut, Gilvan takut orang tuanya marah.


Selama perjalanan, Vina sengaja tak banyak bicara, Vina hanya diam saja, Vina tak ingin membuat Gilvan tak fokus mengemudi. Givia pun terlelap, karena mungkin ia lelah.


"Vin, Eh, sayang? Maaf, aku belum terbiasa." ucap Gilvan malu-malu


"Apa, Van?" jawab Vina


"Kok Van sih?"


"Terus apa dong? Kita kan bukan ABG lagi." keluh Vina


"Seenggaknya, kita kan pasangan sekarang. Harus lebih romantis dong, panggil aku Mas, Gilvan." Gilvan tersenyum


"Ya, Mas? Mau ngomong apa?" Vina terlihat geli ketika mengucapkannya


"Nanti, kita beli mobil." ucap Gilvan


"Beli mobil? Buat apa?"


"Ini mobil Kakakku, aku harus mengembalikannya. Makanya, nanti pas kita pulang, kita beli mobil dulu." ucap Gilvan


"Gak usah, kan ada mobilku. Jangan hambur-hambur uang, sayang."


Astaga, gue keceplosan bilang sayang. Aduh, malu deh gue! Batin Vina.


"Gak apa-apa. Aku udah sisihkan uang untuk keperluan pribadi, kok." ucap Gilvan


"Tapi, rasanya itu cuma buang-buang uang, Van. Eh, sayang."


"Gak apa-apa. Aku ingin beli mobil baru, aku sengaja kok."


"Yasudah lah, aku tak bisa melarang mu. Toh, itukan uangmu juga."


"Nah, gitu dong. Hehehe."


***

__ADS_1


Akhirnya, Gilvan sampai di rumahnya. Rumah Gilvan adalah rumah yang pernah ditinggali oleh Gita, sahabat Vina sendiri. Kisah Gilvan benar-benar rumit, cinta yang tak sampai dengan Kekasihnya yang meninggal, juga cinta yang tak berbalas dari Gita.


Sampai saat itulah, Gilvan bertemu dengan Vina, kegagalan membuat Gilvan ragu pada Vina, sehingga Gilvan meninggalkan Vina setelah mereka berhubungan.


Tapi, setelah melewati perjalanan panjang, akhirnya Gilvan dan Vina bisa bersatu kembali. Kekuatan cinta memang tak pernah salah. Sesulit apapun cinta itu, jika waktunya telah tiba, cinta pasti akan menemukan jalannya sendiri.


Gilvan mengajak Vina masuk kedalam rumahnya. Jangan ditanya bagaimana suasana hati Gilvan saat ini, hatinya benar-benar gugup tak karuan. Gilvan takut, tapi ia tetap menguatkan dirinya.


Berbeda dengan Vina, Vina terlihat lebih enjoy dan biasa saja. Karena, Vina tahu, keluarga Gilvan sudah mengetahui hal ini.


"Assalamualaikum." ucap Gilvan


Terlihat, Ibu dan kakak Ipar Gilvan sedang bercengkrama bersama dua keponakan Gilvan. Ya, itu adalah istri dan anak dari Kakak Gilvan.


"Waalaikumsalam." jawab Ibu dan Kakak ipar Gilvan


Ibu Gilvan refleks berdiri. Beliau kaget, melihat Gilvan pulang dengan membawa Vina dan seorang anak kecil.


"Gilvan?" Ibu Gilvan benar-benar terkejut


"Aku pulang, Bu. Dan, ada yang harus aku beritahu pada Ibu."


"Masuklah, duduklah dulu."


Gilvan, Vina dan Givia duduk bersama. Ibu Gilvan menatap Vina dengan seksama. Tak lama, Kakak laki-laki Gilvan muncul di tengah-tengah mereka. Sama seperti Ibunya, Kakak Gilvan juga kaget melihat kehadiran Vina dan seorang anak kecil.


"Van? Kapan kamu datang?" Kakak Gilvan shock


Kakak Gilvan duduk di samping istrinya. Kakak Gilvan meminta istrinya untuk mengajak kedua anaknya bermain di halaman belakang. Kakak Gilvan juga meminta anak sulungnya untuk mengajak Givia bermain.


"Hai kamu, main bersama kita yuk!" ajak Diva, keponakan Gilvan yang berusi 9 tahun.


"Ayo, aku juga ingin main."


Akhirnya, Givia pergi bersama kedua anak Kakak Gilvan menuju halaman belakang. Suasana di ruang tamu rumah Gilvan mulai dingin. Mereka semua terdiam. Menunggu siapa yang akan memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Van, apa kabar?" tanya Kakak Gilvan basa-basi


"Baik, Bang. Aku ingin berbicara penting."


"Katakanlah, jangan sungkan."


Ibu Gilvan hanya bisa menyimak. Ia tak bisa berkata-kata. Hatinya ada perasaan aneh, heran, dan kaget. Vina kembali, membawa seorang anak, mungkinkah saat itu Vina memang hamil? Itulah kiranya yang berada dibenak Ibunda Gilvan.


"Maafkan aku jika membuat kalian semua bingung dengan apa yang kalian lihat. Aku pasti akan menjelaskannya. Ini adalah Vina, dia wanita yang dulu sebelum aku hilang ingatan dekat denganku. Aku mencintainya, tapi cinta kita tak pernah bersatu. Ternyata, sebelum aku amnesia, aku menidurinya. Aku tak tahu kalau dia hamil anakku. Selama di USA, aku memutuskan untuk bekerja, sebelum pulang dan mendapatkan uang di negara itu. Lalu, ketika kemarin aku pulang, aku memang ingin bertemu dengan Vina, aku benar-benar merindukannya. Aku kaget, karena Vina telah mempunyai seorang anak. Aku mengira, Vina telah menikah dan bahagia dengan orang lain. Tapi, ternyata Vina tak menikah, dan aku tahu, bahwa anak Vina adalah anakku sendiri. Kalian boleh memarahi aku, menghujat aku, tapi jangan kalian sakiti hatinya Vina. Dia sudah terlalu banyak menahan rasa sakit karena ulahku. Kumohon, mengerti dengan keadaan aku dan dia." Gilvan menjelaskan


Keluarga Gilvan tak ada yang bersuara. Semuanya terdiam. Semuanya berpikir, dan tak menyangkan, cinta yang lama bisa bangkit dan bersatu kembali.


"Aku, datang kesini ingin mengenalkan Vina dan anakku pada kalian. Aku, ingin kalian menganggap Vina dan anakku sebagai bagian dari keluarga kalian. Aku kesini juga ingin meminta restu dari kalian semua, bahwa aku akan segera menikahi Vina. Karena, anakku butuh sosok Ayah di sampingnya. Aku ingin, anakku bahagia bersama aku, Ayahnya." Gilvan menitikkan air mata. Hatinya sakit, ketika menjelaskan kisahnya lagi.


Kakak Gilvan tersenyum. Ia tak terlihat marah dan kecewa, ia menatap Vina yang menundukkan kepalanya karena takut.

__ADS_1


"Van, aku sudah tahu bahwa kamu pernah tidur dengan wanita mu ini." ucap Kakak Gilvan


"Kakak tahu darimana?" tanya Gilvan


"Vina sendiri yang bilang pada aku dan Ibu, saat kamu mengalami koma di rumah sakit. Aku tahu, kisah mu dan Vina. Yang aku belum tahu, ternyata Vina memang hamil anakmu. Aku benar-benar tak tahu itu."


"Bang, apa Abang sungguh-sungguh dengan perkataan Abang itu?" Gilvan kaget


"Aku sungguh-sungguh. Aku sudah tahu, aku pernah beberapa kali menanyakan kabar Vina pada Rama, tapi Rama tak memberitahuku, Rama sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku. Dan benar saja, Vina mempunyai seorang anak. Apa mungkin kamu sengaja menutupi semua ini dari kami? Hingga Rama tak mau berbicara tentang dirimu." Kaka Gilvan menoleh Vina


"Maafkan aku, aku memang tak mau lagi berhubungan dengan keluarga ini saat itu. Jika mengingat Gilvan, hatiku ikut sakit. Tapi kini, aku tak menyangka bisa menemukan dirinya lagi. Aku tak menyangka cinta aku dan dia bisa dipersatukan lagi." ucap Vina


Ibu Gilvan menatap Vina. Ia tahu, Vina adalah wanita yang baik. Gilvan dan Vina melakukan kesalahan. Walaupun begitu, Vina tetap melahirkan anaknya dan menjaganya seorang diri.


"Vina, apa kabarmu?" ucap Ibu Gilvan tiba-tiba


"Baik, Bu. Ibu bagaimana? Sudah lama sekali."


"Aku pun baik. Apakah anak kecil itu cucuku, Vina?" tanya Ibu Gilvan


"Iya, Bu. Itu anakku dan anak Gilvan. Itu cucu Ibu. Namanya Givia."


"Bagaimana kamu melahirkannya, Vina? Bagaimana kamu merawatnya dan menghidupinya? Aku tak tahu, kalau aku memiliki seorang cucu dari Gilvan. Kamu yang salah, menutup akses untuk aku mengetahui kondisimu." ucap Ibu Gilvan


"Maafkan aku, Ibu. Aku hanya tak bisa berpikir jernih pada saat itu." balas Vina


Gilvan lega, akhirnya ia bisa benar-benar tenang setelah respon orang tuanya pada Vina terlihat baik.


"Van, apa tujuanmu datang kesini untuk meminta restu pada kita?" tanya Ibu Gilvan


"Tentu saja, Bu. Givia adalah anakku, darah daging ku. Dia butuh aku, yaitu Ayahnya. Dia sangat ingin jika aku tidur di rumahnya. Aku tak tega pada putri kecilku, Bu." ucap Gilvan


Mereka semua terdiam. Ibu Gilvan menatap Gilvan dan Vina dengan tatapan serius. Entah apa yang sedang Ibu Gilvan pikirkan.


"Kamu akan menikah dengan Vina?" tanya Ibu lagi


"Iya, Bu. Aku ingin menikahinya dan bertanggung jawab pada anakku. Kalaupun kalian tak merestuinya, aku akan tetap menikahi Vina. Bagaimanapun caranya, karena apa? Karena ada anakku yang mengharuskan aku menjadi ayah sekaligus suami dari Vina. Anakku ingin Ayah dan Bundanya lengkap. Selama ini, aku berdosa pada anakku. Aku menelantarkannya, aku tak menyadari kehadirannya. Aku ingin menebus dosaku. Untuk itu, izinkan aku menikahi Vina untuk menjadi suami sekaligus Ayah dari anak kita." jawab Gilvan


"Aku tak akan melarang kamu menikahi Vina. Aku merestui hubungan kalian. Kutanya padamu, kapan kalian akan menikah? Aku tak ingin lama-lama. Kalian harus secepatnya menikah, malu dengan umur dan anak kalian!" ucap Ibu Gilvan


"Apa? Ibu merestui ku? Benarkah Bu?" Gilvan berkaca-kaca


"Tentu saja. Ketika kamu datang, aku melihat Vina dan seorang anak kecil. Tahukah kamu, bagaimana hatiku tadi? Aku bisa merasakannya, bahwa itu adalah darah daging ku juga. Menikahlah, dan hidup bahagia lah! Kalian sudah terlalu lama menahan rasa sakit satu sama lain. Aku ingin, pernikahan yang mewah dan romantis."


"Terima kasih, Ibu. Aku bahagia sekali." Vina mengeluarkan suaranya


"Aku janji pada Ibu. Aku akan menikahi Vina secepatnya. Terima kasih, Ibu sudah mengerti aku." ujar Gilvan


*Bersambung*


Jangan lupa LIKE kalau komentar membuat kalian malas ngetik dan bingung mau komen apa, jgn lupa like saja ya 😘🥰 hehehe

__ADS_1


__ADS_2