
🔞bijaklah dalam membaca, area 21+. Mohon di SKIP jika masih dibawah umur.🔞
...Menikah, berarti siap untuk jatuh cinta selamanya. Jatuh cinta tiada henti, melabuhkan tempat terakhir pada sang pujaan hati. Menjalani bahtera kehidupan dengan satu hati, satu raga. Cinta sejati, tak akan pernah habis rasa, ia akan selalu terisi dan terisi lagi setiap harinya....
Selesai sudah resepsi pernikahan Vina dan Gilvan. Mereka bahagia, mereka menjadi raja dan ratu sehari. Yakinlah, cinta pasti akan menemukan jalannya, jika kita bersungguh-sungguh mengejarnya.
Malam ini, malam yang spesial bagi Vina dan Gilvan. Vina telah menempati apartemen yang menjadi mahar dalam pernikahannya. Betapa indahnya interior dan exterior apartemen yang Gilvan pilihkan untuknya. Gaya apartemen yang bernuansa kebarat-baratan, mengingatkan Vina akan Negeri Paman Sam, ketika Vina dan Gilvan sama-sama berada di New York.
"Kamu suka?" tanya Gilvan.
Vina memang tak tahu sama sekali mengenai apartemen ini. Gilvan sengaja merahasiakannya dari Vina. Gilvan ingin, setelah menikah mereka menempati rumah mungilnya bersama.
"Suka sekali, Van. Tapi, apa kamu benar-benar mempunyai uang untuk membeli semua ini?" tanya Vina.
"Kenapa sih, kamu selalu menyangka aku tak punya uang? Uang yang aku kumpulkan di USA, sudah ada beberapa M, dan uang penghasilanku dari restoran, perbulannya itu ratusan juta, sayang. Kamu tak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku sudah memikirkan jauh-jauh hari tentang masa depan kita." jawab Gilvan.
"Makasih, sayang. Aku bahagia, kamu benar-benar memikirkan masa depan kita sematang ini. Aku tak pernah menyangka, kamu orang yang pintar mengelola uang." ucap Vina.
"Karena aku serius padamu, walaupun caraku memang salah. Tapi, aku tak pernah bermain-main dengan cintaku. Aku sudah bertekad, akan mengejar mu dan menikahi mu, inilah tujuan hidupku, Davina." Gilvan mengusap lembut rambut Vina.
Jika ada yang bertanya-tanya Givia kemana, jawabannya tentu saja Givia pulang bersama Oma dan Opah nya. Mama dan Papa Vina, sengaja merayu Givia agar mau pulang bersama mereka, karena mereka tahu, hari yang dinantikan oleh pasangan yang baru menikah itu adalah hubungan suami istri.
Untungnya, Givia anak yang baik tak banyak bertanya, ia dengan mudah menyetujui untuk ikut pulang bersama Omah dan Opah nya. Vina keberatan ditinggalkan berdua bersama Gilvan di apartemen ini, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
Vina merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, ada getaran dalam hatinya, entah perasaan macam apa ini. Vina benar-benar takut menghadapi Gilvan malam ini. Entah mengapa, berbeda dengan Gilvan, Gilvan malah terlihat rileks dan santai.
Vina sedang menonton televisi di sofa, kemudian Gilvan datang dan duduk di sampingnya.
"Lagi nonton apa sih? Serius banget," ucap Gilvan.
"Ehm, eh i-itu, aku lagi nonton Sule sama Andre, gokil banget deh." jawab Vina.
"Sule? Andre? Kamu gak salah? Itu kan acara bedah rumah, kok Sule dan Andre sih?" Gilvan heran.
Vina seger mengucek matanya, dan melihat televisinya dengan jelas. Benar saja, ia salah menyebutkan acara televisi tersebut.
Ya ampun, kenapa harus salah mengucapkannya sih? Kenapa aku jadi kikuk begini coba? Padahal seingat ku, aku sedang menonton acara Sule, kenapa sekarang malah acara bedah rumah? Oh, tidak! Ada apa denganku? Batin Vina dalam hati.
"Loh, kok jadi pindah ya? Oh, mungkin saja tadi aku pindahin pas iklan, dan aku lupa." Vina beralasan.
"Iya, iya sayang. Aku mengerti. Sini, aku mau nonton berdua bareng sama kamu. Sekarang kan udah SAH, gak apa-apa dong, kalau kita berdekatan." Gilvan mendekatkan dirinya, dan merangkul bahu Vina.
DEG. Vina merasakan jantungnya akan jatuh, ketika Gilvan merangkulnya. Kini, tangan Gilvan berada di bahu Vina. Mereka menyandar di sofa. Sentuhan Gilvan benar-benar menggetarkan seluruh tubuh Vina. Jiwanya seakan berteriak, bahwa nalurinya terkoyak tatkala Gilvan disampingnya.
__ADS_1
"Eh, i-iya sayang. Gak apa-apa kok." Vina gugup.
"Kita harus terbiasa melakukannya, agar kamu dan aku tak canggung lagi. Aku tahu, kamu sangat canggung kan?" tanya Gilvan.
"Eng-Enggak, kok yang. Aku biasa aja." jawab Vina.
"Yasudah, rileks aja dong. Aku juga cuma mau nonton televisi bareng kamu,"
"I-iya, sayang."
Vina tetap fokus pada televisinya, ia tak menyadari bahwa Gilvan tetap memperhatikannya, bukan memperhatikan televisi. Lama-lama, Vina merasa, dirinya sedang diperhatikan. Vina melirik Gilvan, dan benar saja, Gilvan sedang menatapnya.
Gilvan terus memandangi Vina. Vina kaget, dengan ekspresi wajah Gilvan yang terus saja tersenyum melihatnya. Gilvan menatap Vina pekat, tak berkedip, ia fokus pada sang istri. Hal itu, membuat Vina benar-benar gugup.
"Ke-kenapa?" tanya Vina.
"Kamu cantik." jawab Gilvan.
"Hmm, makasih." Vina kikuk dan gugup, ia takut.
Wajah Gilvan mendekat, mendekati wajah Vina yang sedang dilanda rasa gugup. Gilvan tahu, Vina benar-benar gugup. Gilvan bisa merasakan dari tangannya yang merangkul Vina.
"Kamu gugup?" tanya Gilvan.
"Wajahmu terlihat gugup. Apa kamu takut?"
"Enggak kok, aku biasa aja." jawab Vina.
"Mari kita buktikan!" balas Gilvan.
Gilvan mendekatkan wajahnya pada wajah Vina dengan tangan masih menempel di bahu istrinya itu. Jarak bibirnya dengan bibir Vina, hanya sekitar 2 sampai 3 cm saja. Sangat dekat. Gilvan bisa merasakan hembusan nafas Vina yang tak beraturan karena ulahnya.
Perlahan-lahan, Gilvan mendekatkan bibirnya pada bibir Vina. Ia mengecup lembut bibir Vina yang menggoda imannya sejak tadi. Vina kaget, mendapat sentuhan di bibirnya oleh Gilvan. Namun, ia tak bisa menolak, karena dirinya memang sudah sepenuhnya milik Gilvan.
Perasaan yang tak biasa muncul pada diri Vina, meskipun Vina pernah melakukan hal ini sebelumnya. Beda sekali rasanya, ketika telah menikah, perasaannya benar-benar lepas dan nyaman. Gilvan terus menciumi bibir Vina, hingga lidahnya bermain-main didalam rongga mulut sang istri yang menawan itu. Benar-benar ciuman malam pertama yang penuh sensasional.
Gilvan mulai memegang bahu Vina. Tangannya mulai menagih haknya sebagai suami Vina. Gilvan bermain lebih, ia mulai meraba-raba leher dan telinga Vina. Terdengar desahan kenikmatan dari mulut Vina yang manis.
Gilvan merasakan sensasi yang hebat. Batangnya mulai mengeras, hasratnya benar-benar sudah masuk dalam tubuh Vina. Jari-jemari Gilvan dengan terampil mulai turun kebawah lehernya, memegang dada Vina yang ranum dan menggiurkan.
Dada yang masih terlihat kencang dan padat, membuat Gilvan semakin merasakan gejolak cinta yang membara. Vina merasa kaget, tangan Gilvan mendarat pada buah dadanya, yang menjadi bagian paling sensitif dari Vina.
Gilvan mulai meremas-remas dengan lembut. Vina mengerang kegelian, ia sangat larut dalam buaian Gilvan malam ini.
__ADS_1
"Aku sudah sangat lama menantikan ini." ucap Gilvan.
"Mmmhhhhh, Mmmhhhh," Vina mendesah, saat Gilvan menciumi lehernya.
"Aku selalu merindukannya. Aku selalu terbayang-bayang akan tubuhmu. Aku menahannya selama tujuh tahun ini. Tahukah kamu, bagaimana rasanya? Jika aku teringat itu, ingin rasanya aku melakukan teleportasi dari Amerika menuju Indonesia."
"Aahh, Van, cukup." Vina benar-benar terangsang oleh sentuhan Gilvan.
"Kini, aku bisa menikmati kamu, dan aku bisa meminta tubuhmu kapan saja, aku bisa bercinta denganmu sepuas yang aku mau."
"Aahhhh, Van, udah, aku geli." Vina kegelian ketika Gilvan terus saja memainkan tangannya pada dada Vina.
"Jangan udahan dong, ini kan baru pemanasan aja, sayang. Kamu sepertinya sudah terangsang. Aku benar-benar merindukan tubuh ini." ucap Gilvan.
"Van, please! Stop it!" Vina merasa dadanya bergetar tak karuan.
"Tubuh kamu lebih menggoda dari dulu. Sekarang, kamu terlihat lebih padat dan berisi. Aku ingin memulainya sekarang. Ayo, ku gendong kamu menuju ranjang malam pertama kita."
Gilvan menggendong Vina dengan lembut. Gilvan tak merasa berat sama sekali, justru Vina yang merasa tak nyaman, jika Gilvan menggendongnya.
"Aaaaa, Gilvan. Aku berat, gak perlu kamu gendong. Aku bisa jalan sendiri kok!" Vina memukul-mukul bahu Gilvan.
"Aku takut kamu kabur, makanya aku gendong kamu. Aku udah gak tahan, ingin melihat seluruh tubuh polos mu, Gilvan kecil juga sudah tak tahan, sangat merindukan milikmu, Vina-ku. Ayo, kita lakukan malam pertama kita untuk yang kedua kalinya."
Gilvan menjatuhkan Vina ke ranjang dengan lembut dan mengecup kening Vina. Ia terus melayangkan aksinya pada tubuh Vina. Mulai dari menciuminya lagi, dan meremas-remas gundukan yang menyembul pada tubuh Vina.
Gilvan menanggalkan semua pakaian Vina satu per satu, hingga Vina malu dan meraih selimut, untuk menutupi tubuhnya. Ia benar-benar merasa seperti perawan kembali, saking lamanya tak pernah merasakan kehangatan surga dunia.
Gilvan bermain-main dengan buah dada Vina yang terpampang jelas, tanpa tertutup sehelai benang. Nafsunya bertambah berkali-kali lipat, ketika perlahan-lahan ia mulai menghisap keindahan buah dada Vina. Erangan demi erangan, membuat Vina semakin merasa terangsang.
Gilvan melanjutkan aksinya, hingga Gilvan ingin segera menerobos pertahanan Vina. Vina benar-benar ketakutan. Berkali-kali, ia menahan Gilvan, namun kejantanan Gilvan sudah tak bisa tertahan lagi, hingga akhirnya ia terus memaksakannya.
Kini, mereka telah berpadu, seirama, dan bersenggama melakukan pergulatan hebat itu. Erangan dan desahan Vina membuat Gilvan semakin panas dan menggairahkan, hingga beberapa kali Gilvan mempercepat gerakannya. Permainan yang akan menghabiskan waktu lama.
Malam pertama ini, bukanlah malam pertama yang sesungguhnya, melainkan malam pertama yang dilakukan untuk kedua kalinya. Namun, rasanya tetap sama saja seperti ini kali pertama mereka melakukannya. Secara, tujuh tahun tak bermain, mungkin rasanya saja sudah lupa. Bayangkan saja sendiri.
*bersambung*
Selamat malam.
__ADS_1
Jangan berpikiran negatif ya, ini untuk hiburan semata. Biar gak terlalu jenuh.