Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Perjanjian


__ADS_3

Acara lamaran telah selesai. Keluarga Gilvan dan Rama telah kembali pulang. Sesuai permintaan Rama, ia telah meminta izin pada Gilvan untuk membawa Fadli. Ada hal yang harus Rama bicarakan pada Fadli. Gilvan membolehkannya, karena Gilvan tahu, apa yang akan Rama bicarakan.


Rama mengajak Fadli masuk ke mobilnya. Didalam mobil, terlihat Raina yang sedang murung dengan wajah sangat kusut. Gita mencoba menenangkan Raina, karena Gita paham betul isi hati Raina. Wanita mana yang rela dijodohkan dengan lelaki yang sama sekali tak ia kenal.


Rama menyetir mobil menuju rumahnya. Karena kebetulan Ayah dan Ibu Rama sedang diluar kota, jadi Rama memutuskan untuk berbicara dengan Fadli di rumahnya saja. Agar lebih leluasa dan bebas.


Raina benar-benar tak suka melihat Fadli yang hanya diam, tak melawan sedikitpun. Raina benar-benar membenci Fadli, karena ulahnya yang terlihat santai dan menyetujuinya. Yang Raina inginkan, Fadli ikut menolak, bukannya malah diam saja menuruti perkataan Kakaknya.


Akhirnya, mereka telah sampai di rumah Rama. Rama mempersilahkan Fadli untuk duduk di ruang keluarga. Fadli hanya bisa membalas dengan senyuman setiap perlakuan Rama padanya.


"Raina, duduk!" Tegas Rama.


Ya." Jawab Raina ketus


Gita tak ingin ikut campur. Ia segera membawa anak-anaknya pergi, karena Nayya dan Nakka harus beristirahat. Rama terlihat serius. Wajahnya tak terlihat sedang bercanda. Raina bisa melihat dari ekspresinya.


"Raina, apa yang ingin kamu katakan? Katakanlah!" Ucap Rama.


"Aku menolak keras perjodohan ini!" Jawab Raina.


"Kenapa?" tanya Rama.


"Aku gak suka sama dia, aku gak mau menjalani hidup sama dia. Bayangkan saja, aku dan dia sama-sama tak saling mengenal, bahkan aku dan dia sempat bersiteru beberapa kali, lantas bagaimana aku bisa menerimanya menjadi suamiku? Kenapa Kakak egois sekali? Kenapa Kakak tak sedikitpun memikirkan bagaimana hancurnya perasaanku?" Raina menangis.


Air mata Raina tak bisa lagi ia tahan. Ia benar-benar marah sekaligus sedih. Perasaannya benar-benar campur aduk. Raina benar-benar tak mengerti bagaimana jalan pikiran Rama.


"Jangan menangis. Tangisanmu tak akan merubah keputusanku, Raina. Jangan mengira aku bodoh, aku memilih Fadli, atas utusan Kakek. Aku juga sudah melihat sifat Fadli. Dia laki-laki yang baik, aku yakin itu. Kamu lihat dia, tatap wajahnya, apa ada yang salah dengan Fadli? Lelaki ini pintar, rendah hati, dan bertanggung jawab, kurang apalagi?" ucap Rama.


"Dia bukan kurang lagi, dia tak pantas mendampingi aku, KAK RAMA! Dia hanya mengincar harta kita, dia memang sengaja ingin mendekati aku, makanya dia tak pernah menolak dan dia malah setuju-setuju saja dengan perjodohan ini. MENGERTILAH, dia sedang membohongi Kakak sekarang ini!!!" Raina masih terus menangis.


"Dengarkan penjelasan Fadli sebelum kamu berbicara seenaknya! Fadli, jelaskan padanya kenapa kamu menerima perjodohan ini?" tanya Rama lagi.

__ADS_1


"Maaf, Raina. Aku sudah beberapa kali menolak ucapan Kakakmu mengenai perjodohan ini. Tapi, Kakakmu terus memaksa aku, aku tak pernah mau menerimanya. Namun, karena permintaannya sangat tulus padaku, aku terenyuh. Dia benar-benar menginginkan aku, dia benar-benar percaya padaku. Apa kamu tahu, apa yang Kakakmu lakukan padaku? Seorang CEO perusahaan ternama, membungkukkan badannya dan memohon dibawah kakiku. Aku tak mungkin membiarkannya terus seperti itu. Dia orang terpandang, kenapa dia harus melakukan hal itu padaku? Aku menghargai usahanya, untuk itu aku menyetujuinya, namun ada beberapa syarat yang aku berikan pada Kakakmu, ketika aku menyetujuinya!" Jelas Fadli.


"Kenapa Kakak harus seperti itu hah? Kenapa Kak?" Raina mengusap air matanya.


"Jelaskan syarat mu padanya, Fadli." Tambah Rama.


"Aku menyetujui perjodohan ini, atas nama Kakek Prima yang telah aku tolong. Namun, manusia tak bisa dengan seenaknya begini, belum tentu aku dan kamu berjodoh, meskipun kita telah di jodohkan. Aku tetap meminta, aku hanya akan mencobanya dan terus mencoba. Selama pernikahan, aku hanya akan mencoba bersatu denganmu, mengenal kamu, mengenal sifat dan karaktermu, jika kita tak cocok, aku pun tak akan memaksakannya. Dan, Kakakmu pun setuju, tak akan menghentikan aku, jika aku ingin meminta bercerai. Semuanya hanya perlu mencoba, apakah benar, kita bisa berjodoh, atau tidak? Hanya waktu yang bisa menjawab!" Fadli menjelaskan.


"Kenapa kamu jadi sok suci begini hah? Jelas-jelas kamu itu memang matre dan sengaja mendekati Kakakku. Iya kan?" Raina tetap keras kepala.


"Maaf, aku tak serendah itu. Aku punya pekerjaan tetap, dan bisnis Bos ku sedang maju, aku bisa mempunyai uang sendiri, tanpa harus mengemis kepada keluargamu seperti apa yang kamu katakan!" Fadli kesal, ia mulai terpancing emosi.


"Raina, dengarkan aku. Menikahlah dengan Fadli. Dia lelaki yang baik, dia lelaki yang bertanggung jawab. Terima saja, perjodohan ini. Jangan menolak, karena jika kamu menolak, akan tetap aku paksa, sesuai permintaan Kakek." tegas Rama.


Raina menatap Rama. Ia kesal dan marah, namun Raina harus bisa menahannya, agar hal ini menyulut amarah dan emosi Rama, sang Kakak.


"Bisakah aku berbicara berdua bersama Fadli?" tanya Raina.


"Heh kamu, ikut aku ke taman di depan. Sekarang juga!" Perintah Raina.


"Baik." Jawab Fadli santai.


Fadli mengikuti Raina dari belakang. Fadli akan tetap sabar menghadapi Raina, karena Fadli tak ingin membuat masalah. Fadli akan mengikuti akur yang terjadi. Biarkan waktu yang kan menjawab semuanya.


"Ada apa?" Fadli membuka pembicaraan.


"Sudahlah! Aku benar-benar tak menginginkan perjodohan ini." Balas Raina.


"Memangnya, kamu pikir aku mau? Memangnya kamu pikir, aku tak kesal, aku tak marah, ketika kamu menjelek-jelekkan aku didepan Kakakmu? Aku pun manusia, aku kesal kamu terus saja begitu. Kalau bisa, aku pun ingin seperti kamu, menolak dengan keras, dan menjelek-jelekan kamu! Tapi, aku tak mungkin seperti itu. Aku lelaki, pantang dalam hidupku untuk menyakiti hati wanita! Biarkan saja semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Aku menghargai Kakakmu, untuk itu aku menerimanya. Urusan menjalaninya, biar kita yang tentukan." jelas Fadli.


"Aku tak pantas untuk dijelek-jelekkan oleh laki-laki sepertimu! Sembarangan kamu, jaga bicaramu!" bentak Raina.

__ADS_1


"Baik, maaf! Lalu, apa yang akan kamu katakan lagi padaku? Jika sudah selesai, aku akan pulang dan pamit pada Pak Rama." Fadli menutup pembicaraan


"Tunggu!" Raina menahan Fadli.


"Apalagi?" Fadli sangat malas berurusan dengan Raina, namun ia mencoba menguatkan dirinya.


"Baik, kita lakukan perjodohan ini. Dengan syarat, sampai Kakak benar-benar membencimu. Buat Kakakku membencimu, buat dia harus melepaskan kamu. Buat Kakakku menyesal telah memilihmu. Bagaimana?" celetuk Raina membuat Fadli melotot


"Kenapa aku harus menjadi jahat? Aku tak sudi, jika aku harus seperti itu." balas Fadli


"Berarti, kamu memang benar-benar menginginkan aku, iya?" tanya Raina lagi


"Maaf, aku tak menginginkan kamu. Aku sudah menyukai wanita lain, namun aku tak bisa mengatakannya, karena aku tahu, aku sudah terikat dengan keluargamu!" tegas Fadli.


"Lelaki pecundang sepertimu, mana bisa memacari wanita lain? Kamu terlalu kaku!" Raina terus saja mengumpati Fadli.


"Terserah apa yang ingin kamu katakan. Aku tak akan mendengarnya." Fadli malas.


"Baik, kita lakukan saja perjodohan sandiwara ini, agar Kakakku dan Orang tuaku senang. Bagaimana? Urusan kita menikah, hanya untuk formalitas didepan keluargaku saja, diluar dan dimana pun kita bukan siapa-siapa. Bagaimana? Aku akan mencari cara, bagaimana kita bisa terlepas dari perjodohan ini." tegas Raina.


"Baik. Aku akan melakukan sesuai ucapan mu." jawab Fadli.


"Ingat ya kamu! Jangan sampai kamu jatuh cinta padaku! Kalau sampai kamu jatuh cinta padaku, aku tak akan mengampuni kamu!" Ancam Raina.


"Oh ya? Seyakin itukah kamu? Apa tak ada kemungkinan, bahwa kamu juga akan mencintaiku? Kalau ternyata, kamu yang malah mencintaiku, bagaimana?" tantang Fadli


"HAH? Hahahaha! Halu-mu ketinggian, jangan kepedean kamu! Lihat saja nanti. Aku bisa menemukan laki-laki yang lebih segalanya dari kamu!" Raina tertawa puas.


"Begitu ya? Baiklah, aku tunggu kamu dengan laki-lakimu. Aku harap, jangan sampai kamu termakan oleh ucapan mu sendiri. Sudah, aku akan pulang. Ini sudah malam." Fadli tersenyum sinis.


"Kamu!!! Kenapa kamu menyebalkan sekali HAH?" Raina tak habis pikir dengan jalan pikiran Fadli.

__ADS_1


*Bersambung.*


__ADS_2