
[Halo, Assalamualaikum, Bibi?]
[Waalaikumsalam, Fadli. Kumaha damang? Kemana aja kamu teh, jarang ngabarin Bibi sama Mamang disini.]
(Bibi + Mamang \= Om + Tante)
[Fadli baik, Bi. Ada sesuatu yang mau Fadli bicarain sama Bibi dan juga Mamang.]
[Apa atuh Fad? Bibi teh jadi takut. Ada apa? Kamu baik-baik aja pan?]
[Fadli baik-baik aja, Bi. Fadli mau kasih tahu Bibi, kalau besok Fadli mau nikah.]
[HAH? Naon Fadli? Nikah? Kunaon atuh ngedadak ginih? Kamu teh enggak ngehamilin anak orang pan? Aduh, bibi jadi reuwas.]
Reuwas \= Kaget.
[Enggak, bibi. Fadli menikah karena ingin taaruf dengan seorang wanita. Fadli juga kesepian disini. Fadli ingin punya teman tidur. Hehehe.]
[Alhamdulillah, syukurlah, Fadli. Bibi teh reuwas, takutnya kamu teh udah ngehamilin anak orang Aduh, bibi bener-bener takut. Tapi, kenapa meni besok atuh Fadli? Kenapa ngedadak pisan?]
[Karena pihak wanitanya ingin buburu, Bi. Pernikahannya tak akan ada acara apa-apa kok. Hanya akad biasa saja. Apa bibi bisa hadir besok?]
[Aduh, kumaha atuh nya Fad? Besok teh sawah gak bisa ditinggalin, Bibi sama mamang harus tandur. Kumaha atuh? Atuhda meni mendadak pisan. Kenapa enggak minggu depan aja atuh?]
[Dimajukan sama pihak wanitanya, Bi. Ya sudah, kalau Bibi gak bisa, gak apa-apa. Fadli minta doanya aja, dari Bibi sama Mamang, doain Fadli biar lancar acaranya, biar bahagia disini,]
[Tentu, Fadli. Bibi pasti doakan yang terbaik atuh buat kamu. Kamu teh punya siapa lagi, kalau bukan Bibi, pokoknya doa yang terbaik nya buat Fadli mah. Semoga nikahnya lancar, jadi keluarga yang Sakinnah, Mawaddah, Warahmah, nya bageur!]
[Alhamdulillah, makasih banyak Bi atas doanya.]
[Eh, iya Fadli. Nanti, setelah menikah, kamu pulang dulu atuh ya ke kampung. Ajak istri kamu, kenalin sama Bibi sama Mamang disini, kita juga ingin kenal atuh sama istri kamu teh.]
DEG. Fadli gak mungkin bisa bawa Raina ke kampung, Bi. Itu sangat gak mungkin. Mana mau Raina diajak ke kampung sama Fadli, haduh, gimana aku jawabnya ini? Batin Fadli.
[Ah, iya, Bi. Nanti Fadli ajak dia kapan-kapan ke sana ya.]
[Jangan kapan-kapan atuh, Fad. Harus puguh, pokoknya Bibi gak mau tahu, kamu harus bawa istrimu kesini ya, puguh Bibi mah gak bisa ke sana atuhda.]
[Iya, Bi. Nanti Fadli ajak istri Fadli pulang kampung. Ya sudah, Fadli mau urus-urus dulu buat nikahan ya, Bi. Sudah dulu, Assalamualaikum]
[Waalaikumsalam, bageur, soleh,]
Fadli menutup telepon dari Bibinya. Fadli sudah tak punya siapa-siapa lagi selain Bibinya, yakni adik dari Almarhum Ibunya. Ibu dan Ayah Fadli sudah meninggal saat Fadli masih duduk di bangku sekolah menengah bawah.
Sejak saat itu, Fadli dibiayai oleh Kakeknya sampai ia lulus SMA. Tak lama setelah Fadli lulus, Kakeknya meninggalkan Fadli. Akhirnya, Fadli harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri, dan ia tak bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.
***
Pagi ini, restoran belum buka. Gilvan menunda pembukaan kembali restorannya sampai Fadli selesai menikah. Gilvan akan membantu Fadli dalam pernikahannya. Saat ini, Fadli sedang bersama Gilvan berada di ruko lantai atas restoran Gilvan.
"Besok, kamu mau pakai Jas yang mana? Kenapa kamu menolak pakaian yang Rama berikan untukmu?" tanya Gilvan.
"Saya malu, Pak. Saya tak mau merepotkan Pak Rama. Meskipun pernikahan ini atas permintaannya, tapi yang menikah kan saya, saya harus mengeluarkan biaya sendiri untuk pernikahan saya. Setidaknya, saya harus mampu membeli mahar dan membeli jas sendiri." ucap Fadli.
"Kamu memang laki-laki yang baik, Fadli. Seandainya saja, Raina bisa menerima kamu dengan baik, mungkin saja kalian bisa bahagia." ucap Gilvan tiba-tiba.
"Saya tidak muluk-muluk dengan itu. Sudah bisa menunaikan isi dalam surat wasiat Almarhum Kakek Prima saja, saya sudah bahagia. Saya mampu melewatinya." jawab Fadli.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Oh iya, setelah kamu menikah, aku akan naikan jabatan mu, dan nanti akan ku carikan pelayan baru untuk menggantikan mu me-manage restoran."
"Baik, Pak. Terima kasih atas segalanya."
"Fad, kamu kan belum membeli mahar dan mas kawin, kamu juga belum beli jas? Apa mau aku antar?" Gilvan menawarkan diri.
"Oh, tidak perlu, Pak. Saya bisa sendiri kok. Pak Gilvan kan baru menikah juga, harusnya Bapak tak perlu repot-repot mengunjungi saya disini, saya jadi tak enak." ucap Fadli.
"Fad, aku tahu, kamu sudah tak punya keluarga, kamu bisa anggap aku dan Vina adalah kakakmu. Kamu tak perlu sungkan padaku, aku akan menganggap mu seperti adikku sendiri. Pokoknya, setelah kamu membeli perlengkapan untuk esok hari, kamu harus menginap di rumahku. Kamu harus berangkat bersamaku besok. Datang ke apartemenku ya nanti, aku sediakan kamar untukmu malam ini." ucap Gilvan.
"Pak, jangan repot-repot, saya di ruko saja."
"Fad, jangan menolak. Kumohon, menurut saja, aku bahagia bisa membantumu."
"Baiklah, terima kasih, Pak. Ya sudah, kalau begitu, saya pamit membeli perlengkapan dulu ya pak," ucap Fadli.
"Baiklah, Fad. Hati-hati dijalan. Ingat ya, setelah selesai, pulanglah ke apartemenku!" perintah Gilvan.
"Baik, Pak."
***
Fadli sudah berada di Mall seorang diri. Ia celingukan seperti seseorang yang sedang kebingungan. Fadli bingung, harus membeli mahar dan mas kawin seperti apa? Ia tak pernah pacaran sebelumnya, ia juga tak pernah membeli peralatan wanita.
Meskipun ini pernikahan yang tak dikehendaki oleh dirinya, ia juga tetap harus mempersiapkannya. Fadli bingung, ia harus membeli mas kawin apa untuk pernikahannya besok?
Sebenarnya, aku menyesal telah menolak Pak Gilvan. Tadi dia ingin mengantarku, tapi aku malah bilang bisa sendiri. Ternyata, tak semudah yang dibayangkan. Mencari peralatan wanita itu sangat sulit. Ah, iya. Ara! Apa aku menelepon dia saja? Aku minta tolong saja padanya, ia pasti mau menolongku. Batin Fadli.
Fadli segera menelepon Ara dan meminta tolong Ara untuk datang ke Mall tempatnya berada. Ara menyetujuinya, Ara bilang akan segera datang menemui Fadli.
"Hai, Fad. Ada apa sih kamu nyuruh aku cepet-cepet datang kesini?" tanya Ara.
"Ada satu hal yang harus aku bilang sama kamu. Dan, aku juga ingin minta bantuan mu." ucap Fadli.
"Apa itu?" tanya Ara penasaran.
"Besok aku akan menikah." ucap Fadli perlahan.
Ara langsung menengok kearah Fadli. Matanya melotot, ia ternganga. Ia tak percaya, bahwa Fadli akan menikah.
"Menikah?" Ara masih tak percaya.
"Iya, dan aku ingin kamu membantuku mencarikan mahar dan mas kawin untuk pernikahanku besok. Apa kamu mau membantuku?" tanya Fadli.
Ara masih terdiam. Ia tak bisa menjawab ucapan Fadli. Ara benar-benar tak menyangka Fadli mengucapkan kata pernikahan didepan matanya. Pupus sudah harapannya pada Fadli.
"Ra? Ara?" Fadli mengibas-ibas tangannya pada wajah Ara yang sedang melamun.
"Eh, i-iya, Fad. Sorry, aku gak fokus. Tentu saja, aku pasti membantumu membelikan mahar untuk pernikahanmu. Tapi, aku kaget banget denger kamu besok akan menikah. Kenapa tiba-tiba begini? Siapa calon istrimu? Apa aku mengenalnya?" tanya Ara penasaran.
Kamu sangat mengenalnya, bahkan kamu pasti sangat membencinya, Ara. Tapi, aku pun tak bisa menolak perjodohan ini. Aku sungguh tak mencintainya, aku bingung dengan semua ini. Batin Fadli.
"Kamu datang saja besok ke pernikahanku, pasti kamu tahu. Sudah, aku tak punya waktu lama, tolong bantu aku membelikan mas kawin, Ra. Aku tak tahu, apa yang disukai oleh wanita." ucap Fadli.
"Baiklah."
Ara dan Fadli berjalan bersama menuju toko perhiasan. Sebenarnya, ada hal yang mengganjal dalam diri Ara, namun Ara tak mau terlalu ikut campur urusan Fadli. Hubungannya dan Fadli hanya sekedar teman dan rekan kerja saja. Ia tak boleh lebih dari itu.
__ADS_1
"Kamu mau belikan berapa gram maskawin nya? Satu gramnya enam ratus ribu." tanya Ara.
"Satu gram enam ratus ribu ya? Ya sudah, beli sepuluh gram saja, Ra."
"Pilih dulu, Fad. Ini sepuluh gram disebelah sini. Kalungnya maung gimana?" tanya Ara.
"Kamu suka yang mana, Ra?" tanya Fadli.
"Loh, kok nanya aku suka yang mana sih, ini kan bukan buat aku, kamu pilih aja yang menurutmu bagus, nanti aku bantu cari." ucap Ara.
"Kalau ini gimana? Liontin bentuk hati?" tanya Fadli.
"Ini juga bagus. Tapi, rantai kalungnya jangan yang ini, lebih baik seperti yang di sana itu, Fad. Lebih elegant dan terkesan mewah." ucap Fadli.
"Baiklah, itu saja. Jadi enam juta lebih sedikit ya?"
"Iya, yasudah, bayar sekarang."
Fadli dan Ara segera memasuki toko kecantikan untuk membeli beberapa mahar. Lagi-lagi, Fadli meminta Ara membeli peralatan kecantikan kesukaannya. Atau kecantikan yang sering ia gunakan.
"Kenapa harus yang aku pakai lagi sih? Gimana kalau nanti istrimu gak cocok dengan make up yang aku gunakan?" tanya Ara.
"Tak apa-apa, yang penting aku datang tak membawa tangan kosong."
"Oh iya, nanti ketika di butik, kamu pilihkan tiga pasang baju juga ya, yang menurutmu cocok untukmu, sepertinya aku jg akan membawa pakaian untuk maharnya."
"Memangnya, tubuh calon istrimu sama kayak aku apa?"
"Sama kok, ramping juga, kayak kamu."
Aku meminta kamu memilihkan barang yang kamu sukai karena, jika Raina menolak pemberian dariku, akan kuberikan saja padamu, Ara. Aku yakin, kamu senang mendapatkannya. Batin Fadli.
Ara membeli semua peralatan make up seadanya. Ia meminta penjual toko membungkusnya dan merapikannya.
Setelah selesai, tinggal membeli jas dan kemeja untuk dikenakan Fadli esok hari. Fadli masuk ke toko butik terkenal. Ia dan Ara memilih-milih baju yang pas untuknya besok.
Fadli keluar menggunakan kemeja putih dan jas berwarna silver. Fadli benar-benar tampan dan menawan. Ara terpesona melihat Fadli.
Wah, Fadli, kamu tampan sekali. Besok, kamu akan menjadi suami orang lain. Kenapa aku merasa sedih ya? Padahal, kamu kan hanya temanku, Fad. Tapi, rasanya gak rela jika kamu menikah. Aduh, aku ngomong apa sih! Batin Ara.
"Bagus, Fad. Kamu tampan sekali." Ara memuji Fadli.
"Ah, serius kamu. Kamu becanda kan?"
"Enggak, bener kok. Kamu tampan, pasti nanti istrimu bahagia melihat ketampanan mu." ucap Ara.
"Tolong pilihkan juga beberapa setel pakaian wanita yang bagus ya Ra," pinta Fadli.
Andai kamu tahu, Ara. Calon istriku pasti tak akan senang melihatku. Dia pasti benar-benar membenciku, apalagi pernikahannya dimajukan begini, aku tak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Aku hanya berharap, calon istriku mendapat keajaiban, agak tak membenciku lagi.
*Bersambung*
Hai..
Siang..
Jangan lupa like, komentar, dan vote-nya ya 😘
__ADS_1