Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
menuju hari bahagia


__ADS_3

Suasana dirumah Rama kian memanas. Perseteruan antara Rama dan Ibunya tak bisa dihentikan. Kakek Prima belum memutuskan, Beliau masih mendengarkan perdebatan menantu dan cucunya.


"Mami, aku benar-benar tidak akan tinggal diam kalau Siska tinggal lagi di rumah ini. Aku akan pergi membawa Gita dan anakku!" Tegas Rama


"Kamu nggak perlu seperti itu, Ram! Mami nggak mau cucu mami pergi, Mami mau dia tetap disini. Hanya saja, Mami kasihan melihat Siska seperti itu." Ucap Mami Rama


"Mi, kita tak perlu seperti itu. Cukup bayar saja biaya Rumah sakitnya dan kita lepas tanggung jawab. Biarkan dia mencari Ayah dari bayinya. Mami tak perlu ikut campur." Tambah Papi Rama


"Tapi, Pi.. Mami gak tega lihat dia berantakan seperti itu. Mami yakin, dia pasti sudah berubah!" Mami Rama kekeh


"Tidak mungkin dia berubah! Aku yakin sekali, kalau dia masuk lagi ke rumah ini, dia pasti punya banyak cara untuk menyakiti hati Gita. Aku tak mau kesalahan yang sama terulang lagi. Dia yang datang atau kami yang pergi. Mami tinggal pilih!" Ancam Rama


"Ram, kamu tak boleh seperti itu. Pah, gimana menurut papah?" Maya bertanya pada kakek Prima


"Menurutku? Menurutku tergantung jawaban Gita." Kakek Prima menunjuk Gita


"Eh? Aku, Kek?" Gita kaget, karena sedari tadi ia hanya diam saja


"Iya. Menurutmu bagaimana?" Tanya Kakek lagi


"Mm, menurutku semua terserah pada kalian yang mempunya hak atas rumah ini. Disini pun, aku hanya menumpang. Aku tak berhak memutuskan sesuatu!" Ujar Gita tersenyum


"Kakek, Mami, Papi, Kak Rama, Kak Gita dan semua pelayan disini.. Dengarkan aku, Aku tak mau rubah jahat itu tinggal disini. Kalau Mami memaksa, aku pun akan ikut dengan Kak Rama! Titik." Raina ikut mengancam


"Kenapa kalian sejahat itu sama Siska? Siapa tahu dia sudah berubah." Ucap Mami


"Mami, sudah dengar kan? Kita semua tak ada yang mau kalau Siska tinggal disini lagi. Sudahlah, tidak perlu sok baik seperti ini. Lagipula, dia tak pantas mendapatkan perlakuan baik dari kita!" Tegas Papi Rama


"Bagaimana kalau dia jadi pembantu saja di rumah ini? Dia tentu akan lebih rendah derajatnya daripada kita. Dia pasti tahu diri." Jawab Mami


"Mi, tabunganku masih banyak sekali. Cukup untuk membelikannya rumah dan pekerjaan. Belikan dia rumah, suruh dia mengurus hidupnya sendiri." Perintah Rama


"Kenapa kau harus buang-buang uang seperti itu?" Tanya Papi Rama


"Biarlah, uangku habis untuknya! Yang penting dia tidak menghabisi kebahagiaan keluarga kecilku." Tegas Rama


"Kau tak harus melakukannya, Ram! Biarkan saja dia bekerja." Pinta Papi Rama


"Dimana? Di perusahaan kita? Aku tak sudi menerimanya!!!" Rama benar-benar marah


"Aku tak mau pernikahanku terganggu dengan ulahnya!" Tegas Rama


"Baiklah, akan ku putuskan. Maya, aku tak mau Siska ada dirumahku. Tapi, kalau untuk memberinya pekerjaan sepertinya itu tidak buruk. Biar dia berusaha sendiri menata hidupnya." Perintah Kakek Prima


"Tapi dia jangan sampai kerja di perusahaanku, Kek!" Tolak Rama


"Tidak apa, suruh dia jadi Cleaning service di perusahaan kita. Kalau dia buat macam-macam sekali lagi, Aku akan buat dia lenyap dari kita semua." Terang Kakek Rama


"Tapi, Kek!" Rama membantah


"Maya, ini kemauanmu kan? Kalau Siska buat ulah lagi, kau yang harus bertanggung jawab." Anca. kakek Prima


"Ta..tapi, Kek!" Ibunya Rama merasa keberatan.


Tidak ada tapi. Kau yang mengusulkannya bukan?" Desak Kakek Rama

__ADS_1


Terserah kakek saja. Yang jelas, aku tak mau ada yang mengganggu pernikahan ku dan Gita!" Rama masih kesal


"Pernikahan tetap dilaksanakan. Biarkan Siska menjadi urusan Rey. Rey, kau urus dia! Tawarkan dia uang atau dia suruh bekerja menjadi pembantu di perusahaan. Aku ingin lihat apa yang dia inginkan." Perintah kakek pada Rey


"Siap, Ketua." Rey tunduk


"Rama, kapan kau mau menikahi Gita?" Tanya Kakek


"Secepatnya. Setelah masa Iddahnya selesai. Aku ingin pesta yang mewah dan megah!" Pinta Rama


"Baiklah, bagaimana kalau pernikahanmu kita laksanakan tiga minggu lagi?" Pinta kakek Rama


"Lebih cepat lebih baik, Ayah. Aku ingin tak ada lagi yang mengganggu hubungan mereka. Mereka sudah cukup menderita." Ucap Papi Rama


"Iya, kalau kalian khawatir Siska akan menghancurkan hubungan kalian, lebih baik kalian segera menikah. Maafkan ucapan Mami tadi, Mami hanya kasihan pada bayi yang dikandungnya." Ucap Mami Rama


"Iya, Mami. Tidak apa-apa. Aku sebagai perempuan sangat mengerti perasaannya. Memang ini berat, tetapi mau bagaimana lagi." Gita mengeluarkan suaranya.


"Sudah, sudah. Lebih baik kita membicarakan hari yang membahagiakan untuk Kak Rama dan Kak Gita saja. Itu lebih membuatku bersemangat." Ucap Raina


"Baiklah. Oh iya, Mami akan mengundang Designer dan Wedding organizer terkenal di Kota ini. Temen Mami itu saudaranya dia." Mami Rama mulai melupakan Siska


"Baiklah, Mami urus saja dengan Gita. Aku ingin pernikahan kita tidak di gedung Mi!" Jelas Rama


"Maksudmu?" Tanya Mami


"Aku ingin akad menikah menggunakan tema Garden party. Pernikahan outdoor. Aku ingin pakai rustic, elegant tetapi tetap menawan!" Ucap Rama


"Itu urusanmu. Pernikahan kita tetaplah harus glamour dan menawan! Harus di gedung mewah dong, Ram!" Ucap Mami Rama


"Mami maunya seperti itu, Ram!" Mami kekeh


"Capek Mi, capek!!" Rama membantah


"Cukup! Udah dong Ram, Mami! Kalian resepsi dua kali saja. Benar kata Ibumu Ram, pernikahan harus di gedung karena keluarga besar dan rekan bisnis semua pasti hadir. Kita tak bisa membiarkan mereka hadir di pernikahan outdoormu itu!" Jelas Ayah Rama


"Papimu benar!" Tambah Kakek Prima


"Yasudah kalau begitu." Rama terlihat kesal


"Benar kata Papi, Kak! Kita tidak mungkin membiarkan rekan kerja keluargamu hadir di pernikahan outdoor. Garden party untuk teman-teman dan anak buahmu dikantor saja. Lebih enjoy kan, tidak ada orang tua." Ucap Gita


"Betul tuh kata calon istrimu! Kamu ngeyel aja jadi anak, Ram!" Mami Rama merasa menang


"Iya, iya. Aku mengerti." Ucap Rama


Perbincangan mereka pun selesai. Semua kembali ke kamar masing-masing. Rama meminta Gita masuk ke kamarnya, karena di kamar Gita ada bayi mereka dan baby sitter. Gita menolak, tetapi Rama memaksa. Gita tak bisa melepas tangannya yang dicengkeram Rama begitu kuat. Gita duduk di sofabed Rama.


"Ngapain sih kak? Aku mau lihat Nayya!" Gita sedikit kesal


"Kenapa sih? Kamu disini dulu aja! Aku kangen sama kamu!" Ucap Rama gombal


"Ih, apaan sih." Gita memerah


"Git!" Rama mendekat

__ADS_1


Gita takut, ia masih mengingat kejadian waktu itu. Rama mendekat dan duduk disofa, wajahnya dan wajah Gita saling berhadapan.


"Kak, mau ngapain sih?" Gita tegang


"Aku mencintaimu!" Rama mengecup halus bibir Gita.


"Kak, jangan begini!" Gita kaget menerima ciuman halus dari Rama


Rama melepaskan ciuman hangatnya. Ia menyentuh lembut pipi Gita.


"Apa yang telah kau lakukan dengan Gilvan?" Tanya Rama


"Aku tidak melakukan apapun dengannya!" Ucap Gita gugup


"Kau berbohong!" Rama melepaskan sentuhannya


"Aku serius. Aku tak berhohong. Kalau kamu tak percaya, tanya saja sama Gilvan sana!" Gita kesal


"Kau tak pernah bercinta dengannya?" Tanya Rama


"Tidak, tidak pernah sekalipun!" Jawab Gita jujur


"Apa dia pernah menyentuh ini?" Rama memegang payudara Gita.


"Kak, ish!!!!!! Apaan sih. Jangan pegang-pegang!" Gita sangat malu


"Jawab kalau begitu!"


"Dia tidak pernah menyentuh apapun! Dia hanya beberapa kali memelukku saja! Bahkan ciuman pun aku tak pernah. Dia hanya mengecup keningku saja. PUAS KAU???" Gita kesal


"Duarrrrrrr. Aku cemburu. Ternyata dia pernah menciummu! Kau sudah tidak suci lagi kalau begitu!" Rama memalingkan wajahnya


"Hey, apa maksudmu? Yang membuat aku tak suci itu kan kamu, Kak! Seenaknya saja!"


"Kalau aku yang melakukan, itu tetap suci. Karena aku akan jadi suamimu yang sesungguhnya. Kalau orang lain yang melakukan itu tandanya kau tidak suci. Keningmu ini sudah tidak suci kalau begitu!" Rama meracau


“Apaan sih kak? Gak jelas banget jadi orang!!!“ Gita kesal mendorong tubuh rama


"Kenapa kau berani mendorongku? Kau mau main-main denganku? Iya? Baiklah, akan ku buat kau menangis lagi." Rama membopong Gita ke kasur empuknya


"Kak. ehhhh, apaan sih, jangan dong! Ini belum waktunya, aku masih dalam masa nifas. Kamu gila ya?" Gita memukul Rama


"Kamu memikirkan hal itu? Aku tidak memikirkannya. Kenapa pikiranmu sejauh itu?" Rama tersenyum penuh kemenangan


"Habisnya kakak seperti mau melakukan hal gila itu!" Gita malu


"Aku hanya ingin kau dekat denganku, berdua di ranjang ini. Hanya itu." Rama memeluk Gita


"Lalu kau memikirkan apa? Kenapa harus membopongku seperti tadi?" Tanya Gita


"Aku memikirkan malam pertama kita yang sesungguhnya nanti. Aku sangat menantikan hari itu. Aku hanya sedang melakukan contoh saja. Membopongmu seperti ini lalu menjatuhkan mu di kasur, dan aku menghabisi mu dimalam itu. Aku sungguh tak sabar. Bagaimana rasa malam pertama yang sesungguhnya!" Rama menyentuh payudara Gita berkali-kali


"Kak, ih. Awas kamu yaaaa!" Gita menjewer kuping Rama dengan keras


"Awwwwwwwww, ampun Git, ampun!!! Maafkan aku. Aduh, sakit Git!!

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2