Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
New York 2


__ADS_3

Hari sudah siang, waktu New York menunjukan pukul satu siang. New York mengacu pada Zona waktu timur dengan GMT -5, lebih lambat 5 jam dari acuan kota London di Inggris.


Kalau di Jakarta, zona waktunya GMT+7, atau lebih tujuh jam dari waktu acuan. Kalau sekarang di New York pukul satu siang, berarti di Indonesia sekarang pukul satu dini hari.


Vina merasa tubuhnya ada yang menindih. Dia membuka matanya pelan-pelan, kepalanya masih sedikit pusing. Betapa herannya Vina, mengapa ia bisa tidur satu ranjang dengan Gilvan, dan tangan Gilvan yang memeluk tubuh Vina.


Kenapa aku bisa tidur satu ranjang sama dia? Apa aku mimpi, lalu tidur di ranjangnya? Apa Gilvan yang memindahkan ku ke ranjang ini? Kenapa tidur ini begitu nyenyak, sehingga aku tak sadar sama sekali, apa yang telah terjadi pada diriku. Batin Vina dalam hati.


Vina pura-pura menggeliat, agar Gilvan sadar. Vina tak mau ketahuan telah bangun duluan. Vina ingi tahu, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa ia bisa tidur di ranjang bersama Gilvan, apalagi dengan posisi Gilvan sedang memeluknya.


Gilvan membuka matanya. Ia tersadar dengan perbuatannya. Gilvan kaget, ia melihat Vina masih ada di sampingnya, Gilvan terperanjat. Ia bangun dari tidurnya. Gilvan meraba-raba mata Vina, ternyata Vina masih tidur, pikirnya.


"Syukurlah, ternyata dia masih tidur. Aku harus segera membalikan posisinya seperti semula."


Gilvan bangun dari tidurnya. Perlahan, Gilvan mengangkat Vina kembali, Gilvan menidurkan Vina kembali di sofa. Gilvan tak mau ketahuan bahwa dirinyalah yang memindahkan Vina ke ranjangnya. Setelah selesai, Gilvan segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Vina menggeliat lagi. Vina tetap berpura-pura bahwa ia masih tidur. Vina tak mau, Gilvan malu karena dirinya. Sebenarnya, Vina tak kuat ingin tertawa, tetapi Vina tahan sebisa mungkin. Vina bahagia, ternyata Gilvan lah yang memindahkannya ke ranjang.


Vina terbangun, ketika Gilvan sudah berada di kamar mandi. Vina mendapat pesan masuk dari Gita.


[Vin, Suamiku ngajak kita ke Central Park. Jam dua kita ke sana, ya? Bertemu Dr. Frank nanti saja, sekarang kita bersenang-senang dulu saja.]


[Oke, gue sama Gilvan mau mandi dulu!]


[Gila lu ya, udah main mandi bareng aja!]


[HAH? Bukan gitu maksud gue. Gilvan lagi mandi, ntar gue juga mau mandi. Ngeres mulu otak lo!]


[Hahaha, becanda gue! Ya udah, ketemu didepan pintu masuk apartemen aja ya!]


[Oke, Nyonya Gita.]


Vina tersenyum kecil membaca pesan dari Gita. Gita memang sahabat yang tulus untuknya. Disaat-saat Vina sedang terpuruk seperti ini, Gita selalu ada untuknya.


Vina bahagia, dekat dengan orang-orang yang peduli padanya. Kalau saja tak ada yang peduli dengannya, entah akan bagaimana nasib Vina.

__ADS_1


Gilvan telah keluar dari kamar mandi. Vina jadi teringat lagi kelucuan Gilvan saat ia memindahkannya. Vina mencoba senatural mungkin, Vina tak boleh membuat Gilvan malu. Dirinya harus pura-pura tidak tahu mengenai masalah ranjang tadi.


"Sudah bangun kamu!" ucap Gilvan


"Iya, Tuan. Maafkan saya, yang bangun terlalu siang." Vina meminta maaf


"Tidurmu nyenyak sekali, sampai tak sadar kalau aku memind....." ucapan Gilvan terputus, ia menutup mulutnya. Gilvan keceplosan


"Kenapa Tuan?" Vina pura-pura


"Tidak, lupakan. Apa Rama ada menelepon kamu?" tanya Gilvan mengalihkan pembicaraan


"Iya, Tuan. Gita dan Rama menyuruh kita segera bersiap, kita akan jalan-jalan menuju Central Park. Pukul dua sudah berada di lobi apartemen." jawab Vina


"Wah, Central Park ya? Rama hebat juga. Dia tahu tempat-tempat di USA. Bukannya Central Park itu sering dijadikan lokasi syuting film-film ternama ya? Seperti Enchanted dan The Avengers! Ayo, kita ke sana." Gilvan antusias sekali


"Iya, Tuan. Memang benar. Saya juga ingin segera ke sana. Sebentar, saya mandi dulu ya."


"Cepatlah." titah Gilvan


Gita dan Rama telah selesai mandi dan ganti baju. Rama telah menghubungi Dr. Frank, mengatakan bahwa Rama telah sampai di USA, dan Rama akan membawa pasiennya dalam beberapa hari ke depan.


"Apa katanya?" Gita ingin tahu


"Dr. Frank bilang, santai saja. Kita tak usah buru-buru. Nikmati dulu hari libur kita disini. Kalau sudah selesai, baru pertemukan Gilvan dengannya, dan katakan yang sebenarnya. Lusa, aku akan menemui Dr. Frank, tapi jangan beritahu Gilvan." ucap Rama


"Bagaimana kalau Gilvan marah dan tak terima?" Gita khawatir


"Tak menerima kenyataan sangat baik menurut Dr. Frank, karena dia akan semakin tidak percaya bahwa dirinya sedang lupa ingatan, kemudian ia akan tertarik untuk menemukan bukti yang sesungguhnya. Dr. Frank dan beberapa perawat akan memberikan obat penenang sesuai dosis yang diperlukan." jelas Rama


"Aku takut Gilvan akan marah, dan merasa dibohongi." ucap Gita


"Tak akan, tenang saja. Usaha tak akan mengkhianati hasil kan?" Rama tersenyum


"Aku takut, Gilvan malah marah dan membenci kita nantinya." Gita amat khawatir

__ADS_1


"Awalnya, memang akan seperti itu. Tapi, aku yakin pada kemampuan Dr. Frank, dia tak akan gagal. Dia gigih dan pintar. Gilvan akan seperti dulu lagi, mengingat kita semua seperti semula." jelas Rama


"Berapa lama waktu yang dibutuhkan?" tanya Gita


"Mungkin, sekitar 7-8 bulan. Tergantung kemampuan Gilvan dalam mengingat dan therapy yang diberikan okeh Tim Dr. Frank."


"Selama itu kah? Bagaimana ini?" Gita khawatir


"Kenapa lagi? Soal Vina? Apa dia benar-benar hamil?" tanya Rama


"Aku takutnya begitu, bagaimana kalau Vina sebenarnya hamil? Aku khawatir Gilvan tak bisa mengingatnya." jawab Gita


"Kita sambil terus berdoa pada yang di atas. Kita tak boleh putus berdoa, semoga ada harapan untuk Gilvan sembuh, dan kalau pun Vina hamil, Gilvan bisa mendampinginya dan menikahinya segera."


"Aku berharap semoga akan terjadi keajaiban untuk kita semua."


"Kita harus tetap berpikir positif, sayang."


"Aku percaya, semua akan indah pada waktunya, tetapi kenapa cobaan terus terjadi bertubi-tubi pada kita? Aku lelah, kita tak pernah berhenti di uji." keluh Gita


"Kamu tahu apa artinya? Kenapa Allah memberikan kita cobaan yang tiada hentinya?" tanya Rama


"Kenapa?"


"Karena kita orang yang kuat, kita orang yang mampu menghadapi berbagai cobaan. Allah tahu, maka dari itu, percayalah. Tiada masalah yang tak bisa diselesaikan. Kita punya Allah, kita bisa minta apapun padanya, disaat cobaan bertubi-tubi seperti ini. Kamu tak boleh putus asa." Rama memeluk Gita


"Aku sering mengeluh, padahal Allah selalu mendengarkan doaku, aku mengerti sekarang, kenapa semuanya butuh pengorbanan, karena Allah sedang menguji kita, seberapa kuat kita menjalani kehidupan ini. Terima kasih suamiku, kamu telah membuatku mengerti, bahwa aku tak boleh mengeluh terus. Aku harus sabar dan berdoa, terima kasih selalu menguatkan ku dalam hal apapun." Gita membalas pelukan Rama


"Untuk itulah aku hadir disini, menemanimu dan hidup bersamamu. Bukankah kita bersama untuk saling melengkapi dan mengisi kekurangan, bukan begitu?"


"True, darling. I Love u more than words! Thank u so much for everything you do to me!" ucap Gita


"Sure, baby! I love u too, and thanks a lot for all your love give to me."


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2