Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Masih saja, jutek.


__ADS_3

Pagi hari di Rumah besar.


Keluarga Rama sedang sarapan pagi. Semuanya sudah berkumpul di meja makan. Begitu juga dengan Raina dan Fadli.


"Fad, kamu mulai bekerja kapan?" tanya Rama.


"Sekitar tiga hari lagi, Pak. Pak Gilvan memberi saya waktu cuti. Tapi, kalau restorannya besok juga sudah buka kembali." jawan Fadli.


"Kalau kamu mau bekerja di perusahaan ku, aku bisa membantumu." ucap Rama tiba-tiba.


"Tak usah, Pak. Saya ingin mandiri, saya ingin berusaha sendiri. Semoga saja saya bisa berhasil mengelola restoran Pak Gilvan." ucap Fadli.


"Kamu yakin? Bagaimana kalau istrimu ingin membeli barang-barang mahal? Apa kamu akan mampu membelikannya, Fadli?" tanya Rama.


"Saya akan membelikannya semampu saya, jika uang saya belum mencukupi, mungkin ditunda dulu sampai uang saya cukup." ucap Fadli.


"Fadli, saya bangga padamu. Kamu memang lelaki yang bertanggung jawab. Aku harap, kamu mampu menghadapi sifat manja Raina. Kamu harus terus menjaga anakku, aku percaya padamu." Papi Raina tersenyum ramah.


"Jangan berlebihan deh kalian menilai dia! Kalau ditawari uang juga pasti langsung diambil!" Raina kesal.


"Rai, kamu gak boleh begitu sama Fadli. Kamu gak boleh mencelanya, kamu harus ramah pada suamimu. Mami gak suka ya, kamu terus-terusan jutekin Fadli." ucap Mami.


"Terserahlah! Aku mau berangkat kuliah sekarang. Bye!"


"RAINA! Tunggu!" tahan Papa.


"Ada apalagi, sih?" Raina malas.


"Mulai sekarang, kemana-mana kamu harus ditemani suamimu. Papa tak mau, kejadian waktu itu terulang lagi. Fadli, karena beberapa hari ini kamu libur bekerja, kamu antar Raina, kemanapun dia akan pergi. Ya?"


"Baik, Pa." jawab Fadli.


"Loh, Papa! Kok gitu sih? Kenapa aku kayak dikekang gini sih?" Raina tak suka.

__ADS_1


"Raina, siapa yang ngekang kamu? Fadli itu suamimu! Kamu harus mulai menerimanya. Kamu harus menaati perintahnya. Jangan pernah membangkang padanya, dosa kamu kalau seperti itu pada suamimu!" ucap Rama.


"Kalian yang berdosa! Membiarkan aku menikah dengan dia! Aku tak bisa menerimanya. HUH!"


Raina pergi meninggalkan semua keluarganya. Fadli merasa tak enak, Fadli benar-benar serba salah.


"Maaf, maafkan Raina. Aku pergi dulu, Pa, semuanya." Fadli menundukkan kepalanya.


"Hati-hati."


Fadli mengejar Raina. Fadli tak mau, jika kehadirannya membuat Raina jadi selalu ribut dengan keluarganya. Fadli menahan tangan Raina, Raina kaget.


"Raina, jangan begitu. Itu keluargamu, kamu harus sopan pada mereka." ucap Fadli.


"Lepas!" Raina melepaskan genggaman Fadli.


"Maaf, aku refleks. Aku hanya akan mengantar kamu pergi kuliah, aku tak akan macam-macam. Jika kamu malu, katakan saja pada temanmu bahwa aku adalah supir pribadimu, Raina." ucap Fadli dengan sabar.


"Kamu memang lebih pantas menjadi supirku, bukan suamiku!" Raina marah.


"Kamu bisa pergi. Pergi saja sekarang! Dan jangan pernah kembali." tantang Raina.


"Maaf, aku tak bisa. Aku sudah terikat pernikahan yang SAH denganmu. Aku tak mungkin semudah itu pergi. Jika ada kesepakatan diantara kamu dan aku, baru aku akan pergi jauh meninggalkan kamu." jelas Fadli.


"Kuberi waktu 6 bulan. Setelah itu, ceraikan aku!" pinta Raina.


"Baik, tunggu saja nanti." jawab Fadli.


Fadli lalu mengantar Raina menuju kampusnya. Fadli dan Raina tak banyak bicara selama perjalanan, Fadli hanya diam. Rasanya, ingin sekali menuju enam bulan, agar Fadli bisa segera melepaskan Raina.


Sesampainya di kampus, Raina membuang muka pada Fadli, ia akan membuka pintu mobilnya, ia tak memperhatikan Fadli sama sekali. Lagi-lagi, Fadli menahannya. Fadli memegang tangan Raina, sehingga Raina kesal.


"Lepas! Jangan pegang-pegang! Apalagi sih?" Raina kesal.

__ADS_1


"Aku memegang mu juga sudah halal kan? Tak ada yang melarang ku untuk memegang mu. Kenapa kamu harus marah-marah terus sih Rai sama aku? Aku selalu sabar ngadepin kamu, kumohon sedikit ramah lah padaku. Aku hanya ingin bertanya, kamu pulang jam berapa? Biar aku jemput nanti." Fadli sedikit emosi.


"Berani kamu ya mulai marah-marah sama aku! Seenaknya aja kamu!"


"Aku sedikit kecewa, kamu selalu saja tak menganggap ku. Kamu kan bisa, ketika akan keluar dari mobil, pamit dulu sama aku, terus kamu kasih tahu jam pulang kamu, kan enak Rai kalau kayak gitu." tegas Fadli.


"Memangnya siapa kamu? Kamu tak ada spesialnya sama sekali. Aku tak perlu berbuat seperti itu padamu! Apa hak mu memerintah ku, HAH?" Raina balik marah.


"Aku mempunyai hak untuk itu, karena aku adalah suamimu, dan kamu juga istriku. kalau saja akal sehatku hilang, mungkin saja aku sudah menyetubuhi kamu! Tak akan ada yang melarangnya kan? Aku jelas-jelas suamimu, aku jelas-jelas muhrim yang SAH untuk kamu. Tapi, seperti yang kamu lihat, apa aku berani menyentuhmu? Apa aku berani dekat-dekat denganmu? Tidak kan? Aku menghargai kamu, karena kamu tak nyaman denganku. Meskipun status kita adalah suami istri, tapi aku tak sampai hati melakukan itu, karena aku tak yakin dengan hubungan kita. Aku merasa, suatu saat nanti kita pasti akan berpisah, untuk itu aku tak akan pernah menyentuhmu, aku tak mau merusak mu. Dan, aku mohon padamu, bersikap baiklah padaku, karena aku pun selalu mencoba bersikap baik padamu. Mudah kan? Hanya sampai perjanjian kita berakhir." tegas Fadli.


Raina serasa mendapat tamparan hebat pada dirinya. Ia tak menyangka, bahwa Fadli bisa marah dan berkata seperti itu padanya. Raina kira, Fadli hanya akan diam saja mendapat perlakuan tak indah darinya, ternyata Raina salah. Fadli pun bisa tegas dan membuat Raina sedikit takut.


"Aku pulang jam tiga sore!" jawab Raina masih ketus.


"Baiklah, aku akan menjemputmu tepat waktu. Bolehkah aku meminta nomor handphonemu? Agar memudahkan aku untuk menghubungimu nanti." ucap Fadli.


Raina mengeluarkan handphonenya. Ia memperlihatkan nomor kontak di handphonenya pada Fadli. Fadli segera mengetik nomor Raina. Ia tersenyum,


"Terima kasih. Kamu boleh pergi. Maaf, jika kata-kataku terlalu kasar padamu, bukan maksudku untuk berkata seperti itu, aku hanya ingin mendapat perlakuan yang baik darimu. Aku hanya tak ingin kamu terus-terusan membenciku." ucap Fadli.


"Terserah!"


Raina keluar dari mobil Fadli dan membanting pintu mobilnya dengan keras. Fadli tahu, Raina sangat kesal padanya. Fadli sadar, ucapannya pada Raina terlalu kasar, pantas saja wanita itu begitu kesal padanya.


Fadli belum menyimpan nomor handphone Raina


Ia berpikir, nama apa yang pantas untuk nomor Raina?


Nama kontaknya apa ya? Masa aku namain Raina aja, kesannya gak mungkin. Walau bagaimanapun, dia kan tetap istriku, meskipun hanya status saja, dia tetap istri sah-ku. Hmm, nama yang cocok apa ya? Raina, istriku? Apa My wife? Apa My Angel? Apa istri jutekku? Apa ya?


Aku bingung. Hah, walaupun dia menyebalkan, aku harus menghargainya sebagai istriku. Ku putuskan, untuk memberi nama kontaknya


"Istri Jutek-ku"

__ADS_1


*Bersambung**


__ADS_2