
Gita merasa Mira akan mengganggu hubungan rumah tangganya dengan Rama. Gita tak mau terlihat sebagai wanita yang polos, Gita ingin orang lain segan kepadanya.
Mira kalah telak berbincang dengan Gita. Mira pergi meninggalkan Gita, karena Ia kesal dengan tingkah laku Gita. Apalagi, kala itu sudah ada satpam yang menyuruh Vina pergi.
Gita tak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangganya. Mereka belum tahu siapa Gita sebenarnya. Gita memang polos, tetapi ketika haknya diusik dan diganggu orang lain, maka Gita tak akan tinggal diam.
Waktu sudah menunjukan pukul dua siang. Gita akan pergi menemui Vina ke rumahnya. Pekerjaan kantor hari ini tidaklah berat. Gita akan bergegas ke rumah Vina.
"Kak Dim, aku pulang sekarang ya! Aku harus menemui Vina." ucap Gita
"Gue ikut deh." jawab Dimas simpel
"Eh, gak usah. Ini urusan cewek!" ucap Gita
"Yaudah, kalau gitu si Intan ikut." jawab Dimas lagi
"Kakak kenapa sih? Pasti ini suruhan kak Rama ya?" Gita penasaran
"Iya."
"Kak Dimas sama Mbak Intan gak perlu repot-repot seperti itu. Ini urusanku sama Vina. Nanti kalian jemput aku aja!" ucap Gita
"Baiklah, kalau itu maumu!" ucap Dimas
Gita meminta supir untuk menjemputnya. Gita sudah tak sabar ingin segera menemui Vina. Gita sebenarnya ingin tahu mengenai hubungan Vina dengan Gilvan. Gita masih tak mengerti dengan mereka berdua. Apa yang sebenarnya terjadi antara Gilvan dan Vina?
Di perjalanan, Rama menelepon Gita. Sesuai janjinya tadi pagi, bahwa Rama akan menelepon Gita setiap satu jam sekali.
"Sayang, Aku sudah sampai. Sekarang aku sedang beristirahat." ucap Rama
"Syukurlah. Kamu sudah makan?" tanya Gita
"Sudah. Sore ini aku akan meeting dengan rekan kerja Papi. Sekarang, aku bisa beristirahat dulu." jelas Rama
"Baiklah. Tadi, Mira teman sekolahmu datang ke perusahaan!" ucap Gita
"HAH? Mira? Untuk apa dia datang?" tanya Rama sedikit kaget
"Kamu biasa aja, aku tahu kok Mira itu siapa kamu. Jangan shock gitu deh!" jawab Gita
"Maksudmu?" Rama bingung
"Mira itu mantanmu saat masih sekolah kan?" Tebak Gita
"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?" tanya Rama
"Jawab saja!" pinta Gita
"Iya. Dia mantanku! Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Rama pelan
"Aku dulu selalu tahu mengenai kamu saat kita satu sekolahan! Aku tahu dia mantanmu, tapi aku tak tahu kalau dia bernama Mira. Pantas saja dia sangat ingin datang ke perusahaan. Ternyata sang mantan yaaaa!" ujar Gita dengan nada meledek
"Maafkan aku! Iya, dia mantanku. Tapi aku sudah tak punya perasaan apapun lagi padanya. Kamu harus percaya padaku!" ucap Rama memohon
"Aku tahu! Sudah, kamu tak perlu merasa bersalah, kak!" ucap Gita
"Apa dia menyakitimu tadi? Dimas kemana tadi? Kenapa dia tak memberitahuku perihal kedatangan Mira ke kantor?" tanya Rama
"Aku sengaja tak memberi tahu siapapun. Dimas tak tahu akan hal yang aku alami dengan Mira!" ucap Gita santai.
"Dia menyakitimu? Katakan padaku!" ucap Rama
"Tidak." jawab Gita datar
"Lalu? Katakan padaku dia melakukan apa padamu? Akan ku susul wanita itu sekarang juga!" ucap Rama
__ADS_1
"Dia tidak menyakitiku!" ucap Gita
"Lalu?" tanya Rama
"Aku menyakitinya dengan lidahku!" jawab Gita puas
"Wiiiiiih. Maksudmu, kamu memaki-maki Mira. Begitu?" Rama kagum
"Iya dong!" jawab Gita sombong
"Serius kamu? Hebat juga kamu yaa! Ternyata istriku pemberani. Kalau saja aku melihat adegan itu! Pasti seru sekali." ucap Rama
"Wanita seperti Mira harus aku hempaskan dengan cepat. Dia bisa menjalar dan merembet kalau aku tak memotongnya segera!" ucap Gita
"Aku menyukai caramu seperti itu. Kamu memang istriku yang hebat. Kalau dekat, kamu pasti sudah aku tiduri lagi. Hehehe" Rama genit
"Apa hubungannya kehebatan ku dengan meniduri ku?" Gita kesal
"Sama-sama membuatku terpesona tau nggak!" Rama terkekeh
"Kamu bisa aja! Sayang, udah dulu ya? Aku sudah sampai di rumah Vina" ucap Gita
"Kamu ke rumah Vina? Kamu jangan sampai membahas soal Gilvan ya? Biar kita lihat nanti saja ketika kita berbulan madu." pinta Rama
"Iya, aku hanya akan menengoknya. Kalau dia bercerita tentang Gilvan, aku pasti pura-pura tidak tahu." jelas Gita
"Bagus, aku percaya padamu. I love you!" ujar Rama
"I love u tooo!" jawab Gita
Telepon dimatikan. Gita segera masuk kedalam rumah Vina dan menyuruh supirnya untuk pulang saja, karena Gita nanti akan dijemput oleh Dimas dan Intan.
Vina terlihat lebih fresh. Gita tersenyum lalu memeluk sahabatnya itu. Baru tiga hari mereka tak bertemu, rasanya sudah seperti tiga bulan tak bertemu.
"Udah, Git. Lu udah makan belum? Makan dulu yuk, Nyokap gue udah masak buat kita." ajak Vina
"Belum, Vin. Kebetulan banget deh!" Gita semangat
Gita dan Vina makan siang bersama. Vina terlihat lebih ceria. Entah Vina menyembunyikan kesedihannya entah Gilvan telah berpacaran dengannya. Gita bertanya-tanya dalam hati, tetapi tak bisa memastikan kebenarannya.
Setelah selesai makan, Vina mengajak Gita ke kamarnya seperti biasa. Vina menyalakan musik di speaker aktifnya. Terdengar alunan lagu dari Band legendaris di Indonesia, lagu Ada Band yang berjudul Haruskah Kumati.
*🎵🎵Bagaimana mestinya?
Membuatmu jatuh hati kepadaku
Telah ku tuliskan sejuta puisi
Meyakinkanmu membalas cintaku
Haruskah ku mati karena mu?
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu
Haruskah ku relakan hidupku?
Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku
Hentikan denyut nadi jantungku
Tanpa kau tahu betapa suci hatiku untuk memilikimu🎵🎵*
Lagu yang cocok dengan suasana hati Vina saat ini. Lagu yang menggambarkan betapa sulitnya Vina menggapai hati Gilvan. Meskipun kesulitan dan kepedihan menghujam jantungnya, tapi hatinya tak bisa berbohong. Ia masih tetap berharap pada Gilvan.
"Kamu kemarin kenapa sih?" tanya Gita
__ADS_1
"Gue gak enak badan, Git." jawab Vina asal
"Vin, kamu tuh gak bisa bohong sama aku. Aku tahu, kamu sedang ada masalah. Lebih baik kamu cerita aja sama aku! Jangan dipendam. Itu hanya akan membuatmu tersiksa." jelas Gita
Bagaimana gue bisa cerita ke elu Git? Gue gak yakin. Gue takut lu marah kalau tahu kebenaran semua ini. Hati gue ingin sekali berkata, Gue ada sesuatu sama Gilvan. Tapi gue amat tak siap mendengar respon lu. Gue takut lu marah, Git. Vina dalam hati.
"Gue gak kenapa-napa kok! Serius deh!" ucap Vina
"Jadi kamu gak mau cerita sama aku?" tanya Gita lagi
"Gue emang gak kenapa-napa, Git! Lalu, gue harus cerita apa sama lu?" ujar Vina
"Tapi feeling ku bicara, kamu sedang ada masalah. Kamu tak mau memberitahuku." ucap Gita
"Tidak, sayang. Gue serius deh!" jawab Vina
"Baiklah, kalau kamu memang belum siap bercerita padaku. Tapi, kuharap kamu tak perlu sungkan padaku. Kamu tak perlu merasa tak enak, aku tak akan seperti apa yang kamu bayangkan." jelas Gita
"Maksudmu?" Vina tak mengerti
"Maksudku, kalau kamu ingin cerita tapi takut aku marah atau kesal, kamu tak perlu berpikiran seperti itu. Aku tak akan seperti apa yang kamu bayangkan. Percayalah padaku!" tegas Gita
"Benarkah?" tanya Vina
"Tentu saja, sahabatku!" Gita memeluk Vina
"Sejujurnya, ada yang ingin aku katakan padamu!" Vina menunduk
"Apa? Katakan saja!" Gita tersenyum
"Aku takut kamu marah!"
"Tak akan. Percaya padaku!" Gita memegang bahu Vina
Vina terdiam. Ia merenung. Ia berpikir, apakah benar Gita tak akan marah jika Ia jujur pada Gita? Ini menyangkut lelaki yang pernah menjadi mantan suami sahabatnya sendiri. Sungguh, Vina tak siap. Tapi, apa boleh buat, lambat laun Gita pasti mengetahuinya.
"Ini soal Gilvan." ucap Vina
"Kenapa dengan Gilvan?" Gita mendengarkan
Vina terdiam lagi. Tak mau melanjutkan pembicaraannya.
"Kenapa? Bicaralah! Aku tak akan kenapa-napa." ucap Gita menenangkan
"Aku telah berhubungan dengan Gilvan!" Vina jujur
"Wah, kamu pacaran dengannya? Syukurlah, aku senang mendengarnya." Gita menarik nafas lega
"Bukan itu."
"Lalu? Aku tak mengerti." Gita mengernyitkan dahinya.
"Aku telah berhubungan badan dengan Gilvan!" Vina menunduk malu, menutup mukanya dengan kedua tangannya
"HAHHHHH? APA?" Gita tersentak kaget
*Bersambung*
Kalimat terakhirnya coba kalian baca se-ALAY mungkin, pasti lebih greget deh! wkwk "HAH? APA?" 🤣😂
Happy reading..
Jangan lupa like, komen dan vote ya sayang-sayangku 😘😘😘
Terus ikuti kelanjutan Gita dan Rama yaaaa ❤
__ADS_1