
Perasaan yang sulit diartikan, menjelma menjadi satu. Vina tak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ia benar-benar tak menyangka, harus senang ataupun sedih dengan keadaan ini.
Lelaki yang selama ini memenuhi pikirannya, lelaki yang paling ia rindukan, dia juga lelaki yang paling ia benci. Semua rasa menjadi satu. Kini, harus apa dirinya?
Aku masih tak percaya melihatmu ada di hadapanku, aku masih kaget dengan kehadiranmu yang tiba-tiba seperti ini. Diriku serasa sedang melayang, aku merasa diriku ini sedang bermimpi. Aku pasti mimpi, Gilvan tak mungkin kembali. Tapi, pelukannya benar-benar nyata. rasanya hangat sekali, sudah lama sekali aku tak pernah merasakan pelukan hangat ini.
GILVAN, BENARKAH INI KAMU?
"Apalagi? Aku sudah menganggap kamu mati. Tak perlu lagi datang menemui ku." ucap Vina
Gilvan melepaskan pelukannya pelahan-lahan.
"Aku tahu, kata maaf tak dapat menyembuhkan luka di hatimu. Tapi, aku berharap, kamu mau mendengarkan penjelasan ku, aku seperti itu bukan tanpa alasan, kumohon dengarkan aku." ucap Gilvan
"Van, maaf! Sudah tak ada lagi kesempatan untukmu bicara. Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya tiga tahun yang lalu."
"Vin, jangan seperti ini. Aku menyesal tak memberi kabar padamu, aku juga menyesal telah membiarkanmu sendirian. Kini, aku telah mengingat semua tentang kita. Terima kasih, kamu telah menolongku." ucap Gilvan
"Dengar ya, Van! Aku memberimu waktu, aku menunggumu selama 2 tahun, aku cukup sabar menanti, aku berharap kisah kita akan berjalan mulus seperti semula. Tapi, apa? Apa yang aku dapatkan? Kamu tak pernah kembali, kamu menghilang tanpa kabar dan jejak! Itu yang sangat aku sesalkan. Itu yang membuatku marah. Kamu menyia-nyiakan waktu yang telah aku berikan. Kini, waktumu telah habis. Apalagi yang kamu harapkan?" Vina memberikan Gilvan panah tajam
"Aku mengerti, aku memahami amarahmu selama ini. Aku pun tahu, kamu telah bahagia sekarang. Aku tahu, kamu telah menikah dan memiliki seorang anak, aku tahu itu! Aku tak akan mengganggu kebahagiaanmu, Vina. Aku hanya ingin kamu dengarkan saja penjelasan ku, agar kamu tak memandang ku buruk, aku ingin kamu tahu."
Gilvan, kenapa? Apa maksudnya dia bicara aku menikah dan memiliki anak! Apa kamu bodoh atau memang kamu lupa? Kamu memiliki anak dariku, GILVAN! Tapi, rasanya aku sudah tak membutuhkanmu, aku membencimu setengah mati. Kamu tak perlu tahu anakmu. Baguslah kalau kamu tak mengetahuinya. Akan ku simpan anakku seumur hidupku! Batin Vina dalam hati.
"Apa yang ingin kamu jelaskan lagi? Cepatlah, aku tak ada waktu."
__ADS_1
"Baik, kumohon dengarkan aku."
Gilvan memegang tangan Vina, ia menghela nafas panjang. Ia ingin, amarah Vina berangsur hilang. Meskipun keadaan tak bisa membuat mereka kembali bersama, namun Gilvan ingin, Vina harus mengetahui semuanya, agar tak ada kesalahpahaman diantara mereka.
"Jujur, aku memang pergi dari rumah Dr. Frank saat tujuh bulan keberadaan ku di sana. Aku mulai mengingat kisah kita. Aku teringat semuanya. Namun, aku lupa mengapa aku bisa sampai ada di Amerika. Aku lupa ketika aku hilang ingatan, yang ku ingat adalah ketika aku akan bertemu denganmu."
Air mata Gilvan tak dapat tertahankan, bulir bening itu jatuh membasahi pipinya. Hatinya kini, benar-benar rapuh. Wanita yang sangat dicintainya itu kini telah berubah.
"Aku memutuskan untuk pergi. Aku tak mungkin memberi tahu kalian kalau aku sudah sembuh. Aku ingin membalas budi kalian padaku. Aku di USA, mencari pekerjaan. Aku ingin bekerja sungguh-sungguh. Aku ingin, ketika aku pulang, aku mempunyai uang untuk hidup denganmu. Karena, di sini pun aku sudah tak bisa mencari uang. Karena itulah, aku tetap bertahan di sana, sampai aku mengira, uangku telah cukup untuk menghidupi mu, barulah aku kembali. Semoga kamu mengerti."
"Aku tak ingin terus-terusan merepotkan kalian, termasuk Gita dan Rama. Aku tak tega, membiarkan mereka terus-terusan terlibat dengan kehidupanku. Aku malu, aku ingin mandiri. Aku lelaki, aku tak boleh bergantung pada orang lain. Aku harus mampu hidup, aku di sana bekerja keras, tak mengenal lelah. Semua itu untuk kita, aku tak ingin pulang dengan tangan kosong, Karena itulah, lima tahun aku bekerja di sana, memaksakan diriku agar diterima oleh mereka. k
Kini aku bisa berada disini, rasanya seperti mimpi. Hatiku tak salah, ternyata Aku memang sangat merindukanmu, Davina!" Gilvan tetap memegang tangan Vina.
Vina baru tahu, kalau selama ini Gilvan di USA bekerja, mencari uang. Apapun niat baiknya, kalau caranya salah, akan tetap salah. Vina melepaskan genggaman tangan Gilvan.
"Semua ini aku lakukan untukmu, Vina."
"Dengar ya, aku tak mau basa-basi lagi. Aku tahu, kamu malu kalau harus pulang dengan tangan kosong. Tapi, apa kamu memikirkan hati dan perasaanku saat itu? Aku benar-benar membutuhkanmu, aku benar-benar berharap kamu ada di sisiku, aku berharap, kamu segera pulang dan menemui ku dengan bahagia. Tapi? Nyatanya apa? Kamu lebih mementingkan ego mu! Kamu lebih mendengar ambisi mu untuk uang, kamu tidak melihat aku, sedikitpun."
Vina mengusap air mata yang tak terasa mengalir membasahi pipinya. Ia menghela nafas penuh emosi dan kekesalan.
"Kalau saja dulu kamu menurunkan ego mu sedikit saja, biarkan temui aku dulu, tatap wajahku, jangan biarkan aku menahan rindu, mungkin semuanya tak akan sia-sia seperti ini. Menyesal Pun sudah tidak ada gunanya, karena semua telah terjadi. Biarkan berlalu seperti air yang mengalir."
"Vina, kenapa kamu tak memintaku kembali padamu?"
__ADS_1
"Untuk apa kamu kembali padaku? Aku takut kamu pergi lagi, dan aku takut sakit lagi untuk yang kesekian kalinya. Cukup sudah, Van. Kita selesai sampai disini. Aku sudah tahu, penjelasan mu. Lebih baik, kamu segera pergi." ucap Vina
"Vin, hatiku sakit ketika kamu berkata seperti ini. Vin, katakan padaku, bahwa kamu berbohong? Katakan padaku, bahwa semuanya hanya mimpi? Katakan padaku, bahwa kamu belum mempunyai anak dan suami? Vin, apa mungkin aku bisa berangan-angan kembali dengan kisah kita?"
Apa kamu mengintai ku? Apa kamu melihat aku dengan Givia? Juga, apa kamu melihatku bersama Andra saat itu? Apa mungkin, karena itulah kamu menganggap aku telah menikah? Dasar laki-laki bodoh! Aku belum menikah, dan anakku itu adalah anakmu! Tapi, hatiku terlanjur sakit jika harus menerimamu kembali. Aku sudah memiliki Andra, mungkin Andra yang akan menjadi penggantimu. Kamu sudah terlalu sering membuatku sakit hati, aku sudah lelah dengan semuanya! Biarkan aku bahagia tanpa kamu, Van. Batin Vina dalam hati
"Kamu tidak bermimpi. Ini nyata! Aku sudah bahagia, bahkan lebih bahagia saat aku belum hidup bersamamu."
Ada sesuatu yang mengganjal di hati Gilvan, mengenai anak Vina yang sudah sekolah.
"Tapi, apa anakmu itu adalah anak dari suamimu? Bukankah anak itu sekolah di Taman kanak-kanak? Anakmu sepertinya usia 5-6 tahun. Dan hubungan kita terpisah sudah 5 tahun lebih. Kala itu, kita juga pernah berhubungan. Apa mungkin itu anakku, Vin?" Gilvan berharap
Vina terdiam. Luka dihatinya semakin membuncah, ia tak ingin Gilvan mengambil Givia, anaknya. Ia harus menutup rapat-rapat semua ini.
"Kamu pernah berkata kan? Kamu memakai pengaman, dan tak mungkin aku akan hamil. Ini jelas-jelas bukan anakmu! Sudah, kamu tak perlu menggangguku. Aku benci padamu. Maaf, aku pergi."
*Ini memang anakmu, namun maaf. Bukan aku tak mau memberitahumu, aku takut kamu akan mengambilnya. Untuk bersamamu, aku terlalu sakit, aku harus mengobati luka di hatiku ini, aku belum siap menerimamu, bahkan aku tak sia memberi tahu bahwa Givia adalah anakmu. Aku tak mau, kamu seenaknya dan mengambilnya dariku. Inilah alasanku tak mengakui mu.
*Bersambung*
Jangan pada kesel yaaaa, kalau kalian ikut sakit hati๐๐๐ marahin aja authornya, aku rela aku rela ๐ Asal kalian tetap menanti kelannjutannyโค๐ฅฐ
Aku mencoba realistis aja, wanita mana sih yang mau kembali pada laki-laki, saat laki-laki itu telah menyakitinya? Hilang tanpa kabar lebih dari waktu yang telah dijanjikan.. Vina ini sakit hati, Gilvan terlalu sering menyakitinya, gilvan hilang tak ada kabar 5 tahun lebih loh ya, tanpa kejelasan sama sekali..
Jadi, kita buat dulu si gilvan benar-benar menyesal.. Kalau mau langsung bersatu, ntar cerita ini tamat. klo tamat, pda mau lanjut lg kan, nikmati aj dulu, oke say say ๐
__ADS_1
Tarik nafas, tahan emosi, keluarin dari belakang, biar lega ๐๐๐
Jangan lupa, like komen dan vote nya. Jujur ya, cerita ini tuh kurang like banget loh kakk.. huhuhu*