
Malam semakin larut, tapi Raina menghabiskan waktunya di dapur. Ia memakan cemilan dan snack yang tersedia di kulkas. Hatinya berdebar panas, masih saja terbayang adegan kedua Kakaknya yang sedang larut dalam kenikmatan.
Kenapa aku terus membayangkan itu? Kenapa sih, kenapa? Kak Rama juga, mau gituan gak tahu waktu! Ini kan belum terlalu malam. Malah bercinta sembarangan aja! Eh, tapi aku juga salah, kenapa aku malah nyelonong tanpa mengetuk pintu? Haish! Sudahlah, pusing aku jadinya. Kak Rama benar-benar memalukan! Umpat Raina dalam hati.
Ia masih saja berdiam diri di meja makan. Ia benar-benat takut untuk masuk ke kamarnya. Terbayang-bayang yang dilakukan Kakaknya, membuat Raina takut bertemu Fadli.
Raina terus memakan makanan yang tersedia, ia dengan lahap memakan berbagai jenis makanan, mulai dari buah, roti, snack, dan sebagainya, ia makan, agar ia bisa menghabiskan waktunya di dapur.
***
Fadli gelisah. Ia merasa kesal sendirian di kamar. Entah kenapa, tanpa Raina ia merasa sedikit kesepian, padahal Raina jelas-jelas sedang berada di kamar Kakaknya. Fadli ingin menelepon Raina, tapi handphone Raina tergeletak di meja, Raina tak membawa handphone.
Ia mencari-cari alasan agar bisa menemui Raina. Akhirnya, ia keluar dari kamarnya. Ia telah menemukan alasan untuk menjemput Raina dari kamar Kakaknya.
Fadli akan berkata, apakah esok ia harus ikut atau tidak ke Bandara, untuk melepas kepergian kedua orang tua Raina. Itu alasan yang jitu bagi Fadli agar ia bisa menyuruh Raina segera ke kamarnya.
Aku harus ke kamar Kak Rama sekarang, aku harus membawa Raina. Aku tahu, dia menghindari aku, karena dia malu kita telah melakukan ciuman pertama. Tapi, aku merasa kesepian di kamar besarnya sendirian. Bagaimana kalau ada barangnya yang hilang, lalu ia menuduhku? Nanti aku yang disalahkan, bukan? Kalau ada dia di kamar kan, semuanya pasti aman, dia bisa mengontrolnya. Fadli membela diri.
***
Gita dan Rama melakukan pelepasan yang kedua. Kali ini, Rama berhasil membuat Gita lemas tak berdaya.
"Sayang, aku benar-benar lelah. Udah, cukup!" ucap Gita.
"Satu ronde lagi ya? Mana tahu adiknya Nayya belum nyampe ke tempatnya. Kita coba sekali lagi ya? Semakin banyak menabur, kan semakin banyak peluang untuk berhasil sayang." Rama menggoda Gita lagi.
"Udah, baby sayang. Besok kita kan harus ke bandara, antar Mami sama Papi. Are u crazy, beib?" Gita heran.
"Sure, darling! I'm so crazy cause you make me flying! Sekali lagi, ya? Please, baby?" Rama terus memohon,
Tiba-tiba...
Tok.. Tok.. Tok..
Suara seseorang mengetuk pintu dari luar. Lagi lagi, Rama menggaruk kepalanya karena kesal.
"Sayang, udah ah making lovenya! Tuh, siapa lagi sekarang yang ngetuk pintu."
"Apa mungkin Raina lagi?" Rama mengernyitkan dahinya.
"Gak mungkin. Dia pasti gak akan ganggu kita lagi. Siapa tahu Mami, cepet buka!" perintah Gita.
"Untung taburan benihku yang pertama dan kedua telah selesai, kalau belum, bisa gila aku!"
Rama berjalan menuju pintu kamarnya. Dengan perasaan kesal dan jengkel, perlahan ia membuka pintunya setelah Gita masuk ke kamar mandi tanpa busana. Pintu pun dibuka,
"FADLI? Ngapain kamu kesini?" Rama heran.
"Raina didalam kan Kak? Aku mau nanya, apa besok aku harus ikut atau enggak, soalnya aku takut ketiduran, Raina belum juga kembali ke kamar." Fadli beralasan.
"Raina udah keluar dari tadi. Lihat aja, gak ada dia disini." ucap Rama.
Fadli malu bukan main. Ia tak menyangka, bahwa Raina tak ada di kamarnya.
"Eh, i-iya. Maaf ganggu kalau gitu Kak, Raina mungkin saja di ruang keluarga atau di dapur. Maaf ganggu ya." Fadli menunduk.
"Emang kamu ganggu, Fad. Ah, sudahlah. Tidak apa-apa."
Fadli berlalu. Rama menutup kembali pintu kamarnya. Tak lama, Gita keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Siapa, sayang?" tanya Gita.
"Si Fadli. Emang tu anak dua bisanya cuma ganggu aja sih! Gak ngerti apa, kalau aku lagi mau buat ronde ketiga sama kamu." Rama menggerutu.
"Sudahlah, Mas. Jangan dipermasalahkan. Fadli ngapain kesini?" tanya Gita lagi.
"Gak tahu deh! Kayaknya dia nyariin Raina. Padahal, si Rai kan dari tadi udah kabur, gara-gara mergokin kita lagi sesuatu. Terus tuh anak kemana? Ngapain si Fadli nyari-nyari?" Rama tak mengerti.
"Sepertinya Raina menghindari Fadli."
"Dasar bocah! Ngapain harus menghindar segala. Lambat laun juga mereka pasti ketagihan kayak kita. Gak ceweknya, gak lakinya, dua-duanya sama-sama gangguin kita. Padahal, daripada gangguin kita, mendingan juga mereka melakukan malam panjang! Itu jelas-jelas lebih berfaedah. Iya kan sayang?" Rama terkekeh.
"Ah, dasar kamu! Mereka pasti masih malu. Memangnya kamu, gak tahu malu sama sekali." Umpat Gita.
"Ngapain malu sama istri sendiri, kan udah tahu isi daleman masing-masing! Wleeee," Rama menjulurkan lidahnya pada Gita.
"Hih, dasar mesum!" umpat Gita.
***
Raina masih duduk di meja makan, dengan bekas makanan yang berserakan. Ia benar-benar kekenyangan. Perutnya sudah tak mampu lagi menampung makanan yang ada.
Tanpa sadar, Raina menempelkan wajahnya ke meja makan. Perlahan-lahan, matanya mulai tertutup rapat, Raina ngantuk, karena terlalu kenyang memakan semua makanan. Matanya terpejam, ia tertidur di meja makan.
Fadli yang mencarinya ke ruang keluarga, nihil, tak ada siapapun di sana. Para asisten pun sepertinya sudah istirahat. Fadli memutuskan untuk menuju dapur, dan kamar mandi rumah ini, siapa tahu Raina ada di sana.
Sampailah Fadli di dapur, hingga ia kaget melihat bekas makanan berserakan, dan Raina yang terlelap di meja makan. Refleks Fadli membersihkan sisa-sisa makanan bekas Raina. Fadli memang selalu bersih.
Raina, apa kamu takut berada satu kamar denganku? Apa ciuman itu benar-benar membuatmu kaget? Apa kamu takut kita akan melakukan hal itu? Aku tahu, walaupun pergaulan mu sangat bebas, tapi kamu masih polos dalam hal seperti itu. Pantas saja kamu selalu menghindari ku.
Fadli terus membereskan sisa makan bekas Raina. Fadli tersenyum melihat Raina yang sedang terlelap.
Kamu cantik, bahkan kamu tetap cantik ketika matamu terlelap. Batin Fadli.
Rain, Raina. Kenapa kamu harus berada disini? Apa kamu benar-benar takut akan hal itu? Kenapa kamu berpikir jauh sekali. Kita hanya pernah ciuman, aku juga tak mungkin langsung meniduri mu. Perlu kamu tahu, bukan hanya kamu saja yang takut, aku pun sama denganmu! Aku takut untuk melakukan hal itu! Aku mana pernah berhubungan dengan wanita! Ya ampun, istri manjaku. Kamu berpikir terlalu jauh! Aku mana berani meniduri kamu! Memegang tanganmu saja sudah membuat jantungku hampir copot.
Fadli bingung. Ia tak mungkin membiarkan Raina tidur disini. Fadli tahu, Raina pasti kekenyangan sehingga ia ketiduran di meja makan.
"Rai, Raina. Bangun! Ayo, kita pindah ke kamar. Jangan tidur disini." ucap Fadli.
"Raina, bangun. Ayo, kita ke kamar. Hey, bangun! Kenapa sulit sekali membangunkan dirimu?" Fadli menggerak-gerakan tangan Raina.
Raina tak bergeming. Ia tetap memejamkan matanya, ia tidur sangat nyenyak sekali. Fadli bingung, harus bagaimana ia membawa Raina ke kamarnya. Fadli tak mungkin jika harus memangku nya menuju kamar. Tapi? Kalau tidak begitu, masa Raina harus tidur disini?
Aku pasrah. Aku tak bisa membangunkan mu. Aku akan membopong mu menuju ke kamar. Tak ada lagi cara, karena kamu tertidur begitu nyenyak. Aku tak mungkin membiarkanmu tidur di meja makan, Raina. Aku sudah mencoba membangunkan mu, tapi kamu tetap tak bergeming.
Fadli akan mengangkat tubuh Raina. Perlahan-lahan, Fadli memegang tangan Raina, kemudian, Fadli memegang pinggang Raina, karena Fadli akan memangku nya. Tetapi, ketika Fadli memegang pinggang Raina, tubuh Raina refleks sadar. Raina kaget, tubuhnya ada yang memegang. Ia seketika langsing membuka mata. Betapa kagetnya Raina, ketika melihat Fadli sedang memegang pinggangnya.
"AARRRGGGHHHHHH!!!! Ngapain kamu? Dasar mesum!!!!! Pergi!!!!" Raina berteriak.
Fadli kaget, ternyata Raina bangun karena sentuhan Fadli. Fadli tak menyangka Raina akan terbangun, karena sedari tadi ia membangunkan Raina, Raina tetap tak bangun-bangun juga.
Fadli refleks menutup mulut Raina, karena Raina berteriak sangat keras sekali. Fadli takut, semua keluarganya mendengar keributan antara dirinya dan Raina. Fadli tak habis pikir, Raina bisa terbangun karena sentuhan Fadli, padahal Fadli membangunkan Raina juga dengan suara keras.
"Mmmppphhh, mmpphhhh!!" Raina meminta Fadli melepaskan bekapannya.
Fadli memberi isyarat agar Raina terdiam, dan tidak berisik. Perlahan, Fadli melepaskan tangannya.
"KAMU APA-APAAN SIH HAH! Sembarangan aja megang-megang tubuh orang! Kamu mau ngelakuin hal itu? Iya? Jangan sembarangan kamu! Jangan seenaknya gitu, aku belum siap kalo kamu harus melakukan hal itu! Jangan mentang-mentang kita udah ciuman, jadi kamu seenaknya mau nidurin aku ya! Aku benar-benar marah jika kamu berani melakukannya!" Raina benar-benar shock.
__ADS_1
Fadli melotot mendengar ucapan Raina. Fadli benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Raina yang seperti itu. Ucapannya seperti kereta api, cepat sekali dan tak ada jeda.
"Jangan nuduh sembarangan kamu! Aku nggak seperti apa yang kamu bayangkan ya! Dengarkan dulu penjelasan ku!" ucap Fadli.
"Cukup! Gak ada penjelasan apapun lagi. Jangan mentang-mentang aku tidur, kamu bisa bodohin aku seperti ini yah! Pintar sekali kamu Fad!" Raina kaget.
"Terserah apa katamu, aku hanya ingin meluruskan saja, Raina. Diam, dan dengarkan aku. Aku memang mencari mu, aku melihatmu tertidur di meja makan dengan keadaan sampah bekas makanan berserakan. Aku sudah mencoba membangunkan kamu, tapi kamu tak bergeming. Akhirnya, aku tak ada pilihan lain, aku akan membawamu ke kamar kita. Ternyata, baru saja aku sentuh pinggang mu, kamu sudah refleks terbangun!" ucap Fadli.
"Dasar pembohong. Bilang aja kamu mau menikmati tubuhku, iyakan? Mentang-mentang telah mendapatkan bibirku, kamu jadi merasa di atas angin, begitu?" Raina kesal.
"Aku tak berani melakukan hal itu padamu. Asal kamu tahu, aku belum pernah melakukannya. Aku juga tak tahu, bagaimana caranya melakukan hal itu, karena aku benar-benar tak pernah melihatnya. Aku pun takut jika harus meniduri kamu! Kamu jangan menuduhku seperti itu terus. Aku juga bisa kesal, kalau kamu terus saja tak percaya padaku. Terserah apa katamu saja, Raina. Aku lelah, aku mau istirahat. Aku duluan ke kamar ya. Permisi."
Fadli pergi meninggalkan Raina. Raina kaget, Fadli bisa marah padanya. Raina kira, Fadli tak akan semarah itu padanya. Ternyata, Fadli bisa marah juga.
"Fad? Fadli? Mau kemana? Kamu marah sama aku, iya? Fadli? Hey, tunggu!" Raina memanggil Fadli, tapi Fadli tetap berlalu.
Ada apa dengannya? Apa ada yang salah dengan ucapan ku? Kenapa tiba-tiba dia marah? Apa perkataannya memang benar? Dia tak tahu melakukan hal itu, dan dia juga tak berani, benarkah? Apa aku bisa percaya itu?
Raina bergegas mengikuti Fadli ke kamar. Di kamar, Fadli sudah tiduran di sofa dengan selimut yang menempel di tubuhnya. Fadli diam, tak bersuara sedikitpun, membuat Raina jadi tak enak dan merasa bersalah padanya.
Raina duduk di ranjangnya. Melihat Fadli, yang menutup matanya. Padahal Raina tahu, Fadli tak benar-benar tidur.
"Fad? Fadli?" ucap Raina.
Fadli tak menjawab.
"Fadli, kamu marah sama aku?"
....
"Fadli? Denger aku ngomong dong! Kamu bisa ngomong kan? Kenapa diem aja sih HAH?"
"FADLI!!!!!!!!"
Raina kesal. Ia segera menghampiri Fadli yang marah. Raina tahu, Fadli hanya pura-pura memejamkan mata. Kini, Raina sudah berada di sofa dekat Fadli tidur. Raina menatap Fadli, Raina akan memberanikan diri.
"Kamu bilang, kamu tak tahu bagaimana caranya? Kamu juga bilang, kamu tak pernah melakukannya? Apa aku bisa percaya dengan ucapan mu itu? Ayo kita buktikan, kalau kamu memang tak tahu."
Raina tak mau Fadli marah padanya, Raina mendekati Fadli yang sedang memejamkan mata. Fadli bisa merasakan hembusan nafas Raina didekatnya. Fadli gugup, namun pertahanannya tak boleh runtuh karena Raina mendekatinya.
Dan,....
Raina mengecup bibir Fadli. Raina mencoba membuktikan ucapan Fadli, apakah benar Fadli belum tahu dan belum pernah melakukan hal tersebut.
Jantung Fadli berdegup sangat kencang. Fadli benar-benar tak bisa konsentrasi lagi, mengingat bibir manis Raina menempel di bibirnya. Namun, Fadli tetap bersikeras, bahwa ia tak boleh kalah dengan Raina.
"Kamu terdiam! Kamu tak bangun ketika aku mencium mu! Baguslah, aku percaya padamu, bahwa kamu memang belum pernah melakukannya. Aku lega, aku akan istirahat sekarang. Bye, makhluk rese! Aku juga bisa kan, mencium mu tanpa perasaan degdegan?" tantang Raina.
Raina meninggalkan Fadli dan berjalan menuju ranjangnya. Raina segera menutup dirinya dengan selimut. Bukan main, Raina juga pintar akting. Siapa bilang ia tak degdegan sedikitpun? Justru, dihatinya sedang ada konser musik rock, benar-benar menggetarkan jiwanya.
Hahhhhh, kenapa bibirnya sangat manis? Kenapa aku malah menciumnya? Kenapa aku jadi murahan sekali? Ada apa dengan diriku ini! Fadli, gara-gara kamu marah padaku, aku jadi bertindak lebih seperti ini. Ini semua salahmu. Lagi, jantungku? Kenapa kamu berdegup sangat kencang sekali? Kenapa kamu malah berdebar-debar? Perasaan aneh macam apa ini? Batin Raina.
Fadli? Jangan dikata lagi. Kejantanannya bereaksi. Jantannya terbangun ketika Raina mengecup halus bibirnya. Fadli ingin sekali membalas ciuman Raina, namun Fadli malu, pada ucapannya sendiri. Ia tetap pura-pura tidur dan tak memberikan reaksi apapun.
Dasar wanita aneh! Dia tak mau dipegang, tapi dia mencium ku. Apa maksudnya? Apa dia ingin aku tiduri? Aku tak berani menidurinya, aku takut salah. Aku hebat kan? Aku bisa tak bereaksi ketika ia mencium ku? Sebenarnya, kejantananku bereaksi, tapi untungnya aku memakai selimut, Raina tak akan mengetahuinya. Bagaimana cara meniduri wanita dengan baik dan benar? Raina, kalau kamu mengizinkan aku menyetubuhi mu, aku akan belajar pada Pak Gilvan bagaimana caranya! Dasar wanita, malu-malu tapi mau!
*Bersambung*
Pasti pada menunggu saat-saat malam pertama kan? Ayo ngaku🤣
__ADS_1
Nanti ya gengs, sabar dulu. Pendekatan itu perlu, malam pertama akan digelar dalam beberapa episode lagi, harap tenang dan sabar menanti 😁😆
Jangan lupa LIKE nya, VOTE nya, dan KOMENTAR nya ya..