Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Pengakuan 2


__ADS_3

Dimas bekerja tak konsentrasi sekali hari ini. Apalagi ketika ia tahu Rama tak ada dikantornya. Dia penasaran bagaimana dengan kelanjutan hubungan Rama dan Siska. Dimas segera menghubungi Intan perihal video yang dikirim Rama tadi malam.


"Kamu lihat kan, Ntan?" Tanya Dimas


"Lihat, kok. Sumpah itu sih ngeri banget. Tapi, aku salut sama Rama. Siska gak akan berani ngaku kalau Rama gak ngasih Siska pelajaran. Biar puas itu cewek!" Intan kesal.


"Masalahnya, Rama paling tak mau memukul wanita. Dia pasti menyesal telah memukul Siska. Dan, menurutku Rama pasti meminta maaf pada Siska. Aku takut Rama akan pasrah kali ini." Dimas sedikit khawatir


"Masa begitu? Yasudah, kita harus segera datang kerumahnya! Memastikan apa yang terjadi, setelah kejadian tadi malam." Ajak Intan.


"Tapi, kita kan masih kerja Ntan!" Keluh Dimas


"Ini demi masa depan Rama sama Gita, Kita harus kesana sekarang. Bolos dikit tak mengapa, ini kan perusahaan Rama." Intan menjentikkan jarinya.


"Kau memang wanita yang penuh alasan. Pantas saja, banyak sekali alasanku untuk selalu bersamamu." Dimas gombal


"Gombal macam apa itu? hahaha, Yasudah ayo!!" Intan bergegas


Dimas dan Intan naik motor bersama. Dimas membawa motor itu dengan kecepatan tinggi. Dimas takut Rama tak bisa berkutik, karena memukuli Siska adalah sesuatu yang fatal. Jalanan yang tidak terlalu padat membuat Dimas leluasa mengendarai motornya dengan cepat. Intan memeluk Dimas dengan erat. Mereka tak memiliki hubungan khusus, meskipun mereka terlihat saling mencintai.


Akhirnya setelah perjalanan yang melelahkan itu, mereka sampai didepan rumah Rama. Mereka meminta izin masuk kepada Satpam. Awalnya satpam melarang mereka berdua masuk, karena sedang ada perbincangan serius antar dua keluarga. Dimas bingung harus bagaimana, terpaksa ia mau tak mau memperlihatkan video itu kepada satpam. Satpam itu langsung kaget, dan mempersilahkan Dimas serta Intan masuk kedalam rumah.


Dan, ketika Dimas melangkahkan kakinya menuju pintu masuk, dia mendengar kata-kata yang tak ingin dia dengar dari mulut Rama.


"Tunggu! Jangan sampai itu terjadi!!!“ Dimas dan Intan mengagetkan semua yang ada di rumah itu.


" Dimas!" Rama kaget


"Siapa kau?" Tanya Edo ketus


"Kemarilah!" Pinta kakek Prima.


Dimas dan Intan mendekat dengan gemetar. Mereka takut, tetapi ingin membantu Rama keluar dari masalah ini. Siska yang melihat Dimas sangat geram dan sedikit ketakutan.

__ADS_1


"Mohon maaf aku lancang sekali. Ini demi temanku, Rama. Apa kalian semua tahu apa penyebab Rama memukuli Siska?" Tanya Dimas


"Jelas-jelas karena si brengs*k ini sedang mabuk! Dia tak sadar memanggil-manggil wanita selingkuhannya dan memukuli Siska! Siska hanya korban disini" Tegas Edo, sok berkuasa


"Bukan begitu kebenarannya! Sepertinya Siska sudah bermain cantik lagi kali ini. Dia memang wanita yang sungguh licik. Ram, bisa kulihat handphone mu?" Dimas tegas.


Rama memberikan handphonenya dengan perasaan bingung tak mengerti, kenapa semua ini menjadi rumit seperti ini.


"Lihatlah, di gallery handphonenya tak ada yang mencurigakan. Sepertinya Rama lupa akan kejadian semalam. Tapi, aku tak lupa. Lihatlah di handphoneku ini, Rama mengirim video kepadaku. Tetapi, ketika aku lihat di ponsel Rama, video itu sudah hilang. Ketika Rama tak sadarkan diri, Siska menghapus video itu. Sungguh Siska sangatlah licik!" tegas Dimas


"Maksudmu apa HAH? Memfitnah aku seperti itu. Pergi kau!" Siska berteriak namun hatinya sangat takut.


"Rama mengirim video apa padamu? Kau pasti memanipulasi keadaan kan? Kurang ajar kau!" Edo geram


"Diam! Perlihatkan video itu pada kami semua!" Pinta kakek Prima.


Dimas memutar video itu. Video Rama memecut Siska dengan sabuknya, dan Siska mengakui perbuatannya. Membuat seisi rumah geger.


-Suara yang diputar dalam video-


"Ternyata benar kan perkiraan ku. ****** sepertimu tak mungkin aku tiduri! Menunduklah! buatlah permohonan maaf kepada aku dan keluargaku. Setelah itu, pergilah dari rumah ini. Atau aku tak akan berhenti menyakitimu. Aku begini karena ulahmu sendiri." Ancam Rama dalam video itu.


"Maaf! Sungguh maafkan aku. Aku begini karena aku sangat ingin memilikimu. Aku bingung bagaimana caranya mendapatkan hatimu lagi. Maaf, aku tidur dengan lelaki lain, itu kesalahan terbesarku. Aku sungguh malu, maafkan aku Rama, Mama, Papa, Kakek, dan Raina. Aku ingin kalian.." Video berhenti.


Semuanya kaget. Tak disangka Siska seperti itu. Orangtuanya pun kaget. Dia kira anaknya adalah wanita baik-baik yang patuh terhadap orangtua.


"Ini video yang dikirim Rama padaku semalam. Aku tak berbohong, lihat saja! Rama yang merekam semua ini, lalu mengirimkannya padaku, tetapi didalam ponsel Rama, video itu tak ada. Siapa lagi kalau bukan Siska dalangnya. Mohon kalian pikirkan lagi keputusan kalian untuk menikahi wanita itu. Dia sungguh mematikan!" Tegas Dimas


"Siska! Brengs*ek Kau!" Rama emosi, Ayahnya langsung menahannya.


"Sudah! Diam semua. Ini akan menjadi keputusanku. Siska, kau wanita yang sudah kuberi kesempatan berkali-kali, tapi kau malah mempermainkannya! Edo, bawa istri dan anakmu pergi dari rumahku sekarang juga! Aku tak mau kalau wanita ****** ini menjadi menantuku! PERGI KALIAN SEKARANG JUGA!" Bentak kakek Prima


Edo tak mampu berkata-kata. Ia sangat takut Bagaimana nasib perusahaannya yang baru ia rintis? Ini pasti akan hancur berantakan. Dia sangat marah kepada Siska, tapi ia tak mau Keluarga Prima menarik kembali kerjasama perusahaan mereka. Edo melakukan hal yang tak disangka-saka. Ia bersimpuh dihadapan Kakek Prima

__ADS_1


"Tuan, maafkan saya. Sungguh saya mengakui kesalahan saya. Kumohon, beri saya satu kesempatan lagi. Saya tak ingin kau mencabut investasi diperusahaan saya. Kumohon." Edo memohon sambil memegang kaki Kakek Prima


"Aku tak akan mencabut investasi ke perusahaanmu. Hanya saja kau bawa pergi jauh wanita ini. Aku tak sudi ia menjadi bagian dari keluarga ini. Asisten, bereskan semua barang wanita itu dan seret mereka keluar!" Perintah langsung kakek Prima tak ada yang bisa membantahnya.


Maya memegang tangan anaknya. Maya sangat merasa bersalah. Ayah dan Kakek Rama sudah berlalu meninggalkan mereka. Sungguh, hanya tidak ada Gita didalam kehidupan Rama, hidupnya sangat hancur seperti ini.


"Nak, Dimas! Saya ucapkan terimakasih, kamu sudah menolong anak saya!" Maya tersenyum


"Ini sudah menjadi kewajiban kami, Tante! Saya ingin Rama menemukan kebahagiaannya yang sesungguhnya." Dimas menepuk pundak Rama


"Syukurlah! Wanita ****** itu keluar juga dari rumah ini. Aku yakin Kak Rama tak melakukan kesalahan padanya. Dia memang wanita licik!" Ucap Raina ikut-ikutan


"Sekarang, kita harus fokus pada Gita. Kita akan mencari Gita, dia tak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Pak Rama terbukti hanya dijebak, Kita harus secepatnya menemukan Gita!" Ujar Intan


"Ya. Aku akan mencarinya sekuat tenagaku. Aku sangat merindukan wanitaku. Terimakasih Dim, dan kau juga Intan!" Ujar Rama penuh arti.


Dimas dan Intan tersenyum. Mereka sangat lega, Akhirnya Rama bisa tersenyum lagi meskipun senyumnya masih dirundung kesedihan.


"Lebih baik, kita liburan ke Kuala lumpur dulu yuk! Sebelum kita cari Kak Gita, aku pengen kesana. Liburan Kak! Bahagia banget deh rasanya!" Rengek Raina


"Aku tak mau! Kau ajak saja temanmu! Aku akan fokus mencari wanitaku!" Rama ketus


"Kaka nyebelin. HUH!!!" Raina cemberut


Mereka semua tertawa lepas, melihat Raina yang tak dianggap kakaknya. Akhirnya, masalah pertama selesai. Siska tak akan mengganggu mereka lagi. Rama harus mencari Gita sesegera mungkin. Rama tak mau kehilangan Gita lagi.


Aku benar kan? Aku tak melakukan apapun pada Siska? Sekarang, semuanya telah terbongkar! Tapi, kau dimana? Kenapa kau belum juga kembali? Apa memang kau tak akan kembali padaku? Aku tak peduli, sejauh apapun kau pergi dariku, aku akan mencarimu dan membawamu kembali ke pangkuanku! Hatiku takkan menyerah sampai cinta kita kembali pada tempatnya. Hatiku, akan berusaha sekuat tenagaku mencari dan meyakinkanmu bahwa aku benar-benar bersungguh dengan cinta ini. Cinta yang akan ku perjuangkan selama sisa hidupku. Semoga kau segera kembali untukku, Anggita Nindya. -Gumam Rama dalam hati-


***


Vina sibuk melayani pelanggan di cafe tempatnya bekerja. Ia sangat lelah, karena dari tadi pelanggan bermunculan terus tak ada hentinya. Seketika, rasa lelah Vina berubah. Ia sangat kaget ketika membaca pesan Whatsapp dari kontak bernama "Gitakuuuuu"


"Vina, Davina Melania, Sahabatku.. Aku ingin kau datang ke Malaysia. Aku ingin kau hadir diacara pernikahanku nanti. Aku akan menikah Minggu depan, tepatnya tanggal 15. Kau harus hadir ya, kutunggu. Aku merindukanmu."

__ADS_1


Vina kaget, tak menyangka. Ia segera memencet tombol panggilan kepada sahabatnya itu.


*Bersambung*


__ADS_2