
Vina tak percaya dengan apa yang barusan ia baca. Ia tak menyangka secepat itu Gita akan segera menikah. Tapi, ia juga bersyukur Gita bisa melupakan Rama dengan cepat. Ia harus mengatur keberangkatannya segera. Ia tak mau melewatkan acara membahagiakan ini. Vina segera menelepon Gita.
Tutttt.. tutttt.. tutttttt..
"Hallo Vin!" Sapa Git diseberang sana
"Gitaaaaaa, yang lo kirim lewat Whatsapp barusan, itu beneran gak sih? Gue bener-bener gak nyangka!" Vina sangat antusias
"Itu bener, Vin! Minggu depan aku nikah. Pokoknya kamu harus datang ya." Ucap Gita
"Gue bener-bener speechless. Lo serius nikah? Cowok lo orang malaysia dong?" Tanya Vina
"Dia orang Jakarta, kok. Cuma, dia lagi kerja disini. udah lama dia disini." Jelas Gita
"Kok lo bisa kenal dia sih?" Vina penasaran
"Dia temen kerja aku dipabrik ini, Vin. Dia orangnya baik banget, Vin!" Kata Gita
"Git, apa dia tau elu hamil?" Ucap Vina pelan-pelan
"Tau kok. pokoknya nanti aku ceritain. H-3 kamu harus udah disini ya Vin. Oke?" Gita antusias
"Baiklah, Git. Aku turut bahagia atas pernikahanmu." Ucap Vina.
"Terimakasih, sahabatku!" Gita menutup teleponnya.
Tak bisa dipungkiri, bahwa pernikahan ini memang bukan keinginannya, pernikahan ini bukan atas dasar Gita cinta kepada Gilvan. Semua ini karena buah hati Rama, yang butuh pengakuan sang ayah nantinya.
***
Gita cuti bekerja selama dua minggu. Ia diperbolehkan cuti karena akan menikah. Gita tinggal dirumah Ibunya, karena nantinya Gita akan menikah dirumah ini.
"Git, apa kamu yakin dengan pernikahanmu ini?" Ibu tampak ragu.
"Gita yakin, Bu. Emangnya kenapa?" Tanya Gita
"Kamu gak kasihan sama Direkturmu itu?" Tanya Ibu perlahan
"Aku udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama dia, Bu. Aku sudah memikirkan ini dengan baik. Aku yakin akan menikah dengan Gilvan." Jawab Gita
Tak bisa dipungkiri, mulut memang bisa berbohong, tetapi tidak dengan hati. Mulut Gita bisa berkata yakin, tetapi hatinya ragu. Apakah benar ini jalannya? Jalan terjal yang harus Gita lalui. Gilvan memang lelaki yang baik, tetapi mungkinkah Gita bisa bahagia hidup bersama Gilvan? Sedangkan hatinya hanya untuk Rama seorang?
Mungkin sekarang Kak Rama dan Siska sudah menikah. Mereka pasti hidup bersama. Aku akan menjadi wanita paling bahagia kalau menjadi Siska. Semoga kak Rama bahagia, aku pun akan menemukan kebahagiaanku sekarang, bersama orang yang menggantikan mu menjadi ayah dari bayi kita. -Gita dalam hati-
Lamunan Gita tersadar ketika Gilvan mengetuk pintu rumah orangtuanya Gita. Gilvan datang menemui Gita.
"Selamat sore, Gita!" Gilvan mengagetkan Gita
__ADS_1
"Eh, iya Van! Kamu kok gak bilang sih kalau mau datang kesini?" Gita yang sedang duduk dikursi tamu kaget
"Sengaja. Aku kangen sama kamu!" Ucap Gilvan hangat
"Kamu bisa aja, Van. Ayo masuk!" Gita tersipu malu
"Terimakasih, calon istriku!" Gilvan tersenyum penuh makna.
Kenapa sifatnya hangat sekali? Kenapa hatiku berdebar ketika dia mengucapkan gombalannya itu? Mungkinkah aku telah membuka hatiku untuknya? Dia lelaki yang hangat, dia juga tampan. Dia akan menjadi suamiku, semoga aku bisa mencintainya. Aku tak mau mengecewakan Gilvan. Tapi bagaimana dengan kak Rama? Kenapa sih? Hati ini selalu saja begini. Setiap aku menyanjung dan memuji Gilvan, aku selalu merasa bersalah pada Kak Rama. Padahal, kita memang sudah selesai. Aku memutuskan pergi dari kehidupannya. Tetapi, kenapa kesannya seperti aku sedang berselingkuh? Oh Tuhan, perasaan macam apa ini? Kutahu, Kak Rama pun telah bersama Siska. Untuk apalagi aku khawatir akan perasaannya? -Gita dalam hati-
Gita membawa air minum dan sedikit cemilan untuk Gilvan. Ibu Gita pun membantu Gita membawa makanannya. Ketika Ibu Gita akan kembali kedapur, Gilvan memanggilnya.
"Bu?" Ucap Gilvan
"Eh, iya. Kenapa, nak Gilvan?" Tanya Ibu
"Bolehkah Gilvan mengajak Gita jalan-jalan di daerah ini?" Tanya Gilvan sopan
"Tentu saja, boleh. Kau tak perlu sungkan mengajak Gita pergi, sebentar lagi kan dia akan jadi istrimu!" Ibu tersenyum
"Terimakasih banyak, Bu!" Gilvan membungkukkan badannya
Dia lelaki yang baik, lelaki yang sopan santun terhadap orang tua. Mungkin dia memang jodoh Gita. Semoga saja kalian bahagia. Doa Ibu menyertai kalian berdua. -Ibu dalam hati-
Gilvan dan Gita pamit kepada orang tua Gita. Gilvan segera mengendarai motornya dan memberikan helm cadangan pada Gita. Diperjalanan, Gita bertanya pada Gilvan.
"Kita mau kemana, Van?" Tanya Gita
"Apa itu Danga Bay?" Tanya Gita penasaran
"Danga Bay itu tempat rekreasi, disana lengkap Git! Kamu mau ke pantai, ke kebun binatang, restoran, hotel, wahana bermain, ada semua. Seperti Marina Bay kalau di Singapore! Memang, tempat ini tak se-terkenal Marina Bay, tapi dalamannya hampir sama kok!" Jelas Gilvan.
"Oh, iya iya. Kamu pernah kesana sebelumnya?" Tanya Gilvan
"Pernah, sama Hafiza." Gilvan sedikit gugup
"Oh pantas saja, kamu pasti mengenang tempat itu." Gita tersenyum
"Iya, tempat itu adalah saksi bisu percintaanku dengannya!" Gilvan sedih
"Kamu yang sabar, Van! Dia pasti bahagia di Syurga sana." Gita menyemangati
"Terimakasih, Git!" Ucap Gilvan
Perjalanan menuju Danga Bay ternyata hanya sebentar. Gita sangat takjub melihat pemandangan yang ada didepannya.
"Kita mau kemana dulu Git?" Tanya Gilvan
__ADS_1
"Aku mau makan dulu. Aku lapar, Van!" Gita terkekeh
'Baiklah, Tuan puteri. Kita makan disana ya. Makanannya enak-enak!" Ucap Gilvan sambil menunjuk restoran yang ditujunya.
Gita melihat-lihat menu makanan khas Malaysia. Rasanya ia belum pernah mencoba banyak macam makanan khas Negeri Jiran ini.
"Kamu mau pesan apa, Git? Pesan makanan yang tidak membuat perutmu mual ya!" Pinta Gilvan
"Iya, aku mau coba ayam percik sama nasi kerabu aja. Kayaknya enak deh!" Ucap Gita
"Baiklah, aku akan memesan untukmu. Pelayan, datanglah sini!" Gilvan mengangkat tangannya
"Selamat malam, Tuan. Makanan apa yang mahu Tuan pesan?" Ucap pelayan dengan logat Malaysianya.
"Saya nak pesan Nasi kerabu serta Ayam percik dua hidangan ya!" Jawab Gilvan dengan logat melayu
"Baik, Tuan! Sila tunggu sebentar ya! Hidangan akan tiba tidak lama lagi." Ucap pelayan itu sambil membungkukkan badannya dan berlalu.
"Wah, logat melayu kamu hebat juga, Van!" Gita takjub
"Aku sudah tujuh tahun disini, pasti aku bisa dong kalau sekedar logat melayu!" Gilvan sombong
"Sombong sekali kamu!" Ucap Gita
"Becanda, Git! Serius amat!" Ucap Gilvan
"Dulu kamu sama Hafiza juga makan disini ya?" Tanya Gita
"Iya, karena disini makanannya enak. Kamu tak suka aku mengajak makan disini?" Tanya Gilvan
"Aku suka, kok. View disini cakep banget." Ucap Gita sambil melihat sekitar.
Kenapa kamu terlihat biasa saja? Kamu tak cemburu sedikitpun kalau aku pernah kesini bersama Hafiza. Kukira, kamu akan cemburu. Ternyata, aku salah. -Gilvan dalam hati-
Makanan mereka pun telah tiba. Gita mencium aroma ayam percik yang sungguh menggoda. Mereka makan dengan lahap. Gilvan yang melihat Gita makan banyak merasa senang sekali, biasanya Gita tak pernah makan sebanyak itu.
Setelah selesai makan, Gita dan Gilvan berjalan-jalan. Gita mengajak Gilvan berjalan-jalan di pantai. Gita suka dengan suasana malam di pantai seperti ini. Angin yang berhembus membuat rambut Gita tersapu, terlihat sangat cantik.
Gita mengajak Gilvan untuk duduk ditepi pantai. Hal itu mengingatkannya pada Rama. Rama yang datang padanya disaat ia sedih, Rama yang merayunya hingga ia terbuai, Rama yang mengusap lembut rambut lurus Gita dengan sepenuh hatinya, Rama yang mengatakan akan memperjuangkan cintanya dengan sepenuh hati. Gita sangat merindukannya, Gita terlanjur nyaman berada disisi Rama. Gita bahagia walaupun hal itu hanya bisa menjadi kenangan saja, setidaknya ia pernah bahagia bersama Rama. Gita sangat mencintai Rama, bahkan sampai saat ini. Gita tak kuasa menahan air matanya. Ia sangat merindukan sosok Rama. Ia menahan tangisnya agar tak keluar, tetapi sungguh tak bisa. Ia menangis, ia tersedu-sedu meskipun disampingnya ada calon suaminya. Hatinya memang sudah tertinggal dihati Rama.
"Kamu kenapa menangis?" Tanya Gilvan
"Aku merindukannya, sungguh aku merindukannya, aaaaaaaaaaaaaaa." Gita menangis tak terbendung lagi
"Kau merindukan Rama? Ayah dari bayi ini? Iya?" Tatapan Gilvan mulai sendu.
"Aku sangat mencintainya, aku harus bagaimana?" Gita menangis dipangkuan Gilvan.
__ADS_1
Gilvan menghela nafas.
*Bersambung*