Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Cinta


__ADS_3

Suasananya menjadi semakin kaku. Perlahan, Mia melepaskan pegangan tangan Rey. Mia tak mau sakit hati untuk yang kedua kalinya. Mia harus membenahi hatinya.


"Kenapa kamu memilihku? Apa aku adalah pelarian mu?" tanya Mia


"Pelarian? Maksudmu?"


"Kamu sakit hati karena wanita cantik teman Nona, lalu kamu memilihku, agar bisa mengatasi rasa sakit mu, iya?"


"Awalnya niatku memang sepertu itu, aku ingin mengobati hatiku, aku mulai mencobanya. Tetapi, benar apa kata hatiku, aku memang memilihmu!"


"Ternyata benar, aku hanya pelampiasan." ucap Mia kecewa


"Tetapi, aku mencintaimu Mi. Aku mulai nyaman denganmu. Karena mu, aku bisa melupakan Vina. Bukan mendekati kamu untuk melupakan Vina. Aku memang mendekatimu, setelah dekat denganmu, rasa kesal dan amarah pada Vina pun hilang."


"Aku masih belum siap."


"Kenapa?" Rey kecewa


"Aku tak percaya cinta. Apalagi, kamu dan aku baru mengenal. Aku tak bisa semudah itu percaya padamu. Mantan suamiku saja, sebelum menikah sudah aku lama, tetapi akhirnya dia menyakiti hatiku." jelas Mia


"Tetapi, aku bukan mantan suamimu. Kita jelas-jelas berbeda." ucap Rey


"Maksudku, lelaki yang sudah lama kukenal saja, bisa menyakiti dan melukaiku, apalagi lelaki yang baru kukenal, aku tak tahu hatinya seperti apa." ujar Mia


"Setiap orang tak sama, jangan samakan aku dengan mantan suamimu. Aku bukan dia, aku Rey!" tegas Rey


"Aku hanya belajar dari pengalaman. Aku tak mau jatuh kedalam lubang yang sama." ujar Mia


"Baiklah, kamu memang cermat dalam menentukan pilihan. Aku mohon, jangan dekat dengan lelaki lain. Aku akan menunggumu!" pinta Rey


"Jangan, Rey. Aku takut kamu sakit hati." cegah Mia


"Kalau kamu tak mau aku sakit hati, kenapa tak kamu terima saja ucapan ku?" tanya Rey


"Bukankah kita baru mengenal? Waktu kita masih panjang. Kita harus lebih mengenal satu sama lain. Jangan terlalu cepat memilih, kamu belum tahu sifat dan kelakuanku. Jangan karena kamu patah hati, kamu jadi membuat keputusan sendiri untuk cepat-cepat memiliki aku."


Rey terdiam, ucapan Mia memang benar adanya.


"Coba kamu renungkan, aku selalu mendengar curhatan Nona, jadi aku tahu. Ketika teman Nona sakit hati, lalu ia dekat denganmu. Tanpa pikir panjang, teman Nona mulai bisa melupakan Tuan Gilvan itu, dengan kamu Rey! Tapi apa? Tuan Gilvan kembali, dan hati Nona Vina hancur, itu tandanya apa Rey? Cinta yang terburu-buru tak akan berhasil." jelas Mia.

__ADS_1


"Kamu memang benar!" jawab Rey


"Aku akui, aku tertarik denganmu. Lebih baik, kita saling mengenal satu sama lain lebih dekat. Aku tak akan mencari pria lain. Aku akan mempertimbangkan untuk bisa denganmu. Tapi, aku tak ingin buru-buru."


"Kamu memang wanita yang penuh perhitungan dalam mengambil tindakan. Pantas saja kamu dipercaya Nona dan Tuan untuk menjaga anaknya. Karena, menjaga anak Nona adalah tanggung jawab yang sangat besar."


"Alhamdulillah mereka percaya padaku, Rey! Kuharap, kamu juga percaya padaku." ucap Mia


"Aku percaya padamu, semoga nanti cinta kita bisa bersatu, Mi."


"Aku berharap begitu. Maafkan aku yang mengecewakanmu, Rey." Mia menunduk


"Nggak, Mi. Kamu tidak mengecewakanmu! Terima kasih telah membuat aku mengerti agar tak mengambil keputusan terlalu cepat." jawab Rey


"Ini demi kebaikan kita, Rey." tambah Mia


"Tentu, aku percaya padamu." ucap Rey


"Rey?"


"Ya?"


"Beli oleh-oleh yuk? Buat Baby Nayya dan Nakka. Rasanya kurang lengkap kalau bepergian tak membawa oleh-oleh!" jelas Mia


***


Bandung, Indonesia.


Gita dan Rama telah berkeliling melihat-lihat berbagai macam satwa yang ada di kebun binatang. Gita duduk di kursi taman, karena sedikit lelah berjalan terus menggendong Nayya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Rama


"Aku gak mau makan, aku gak enak hati. Pikiranku gak tenang, sayang." jawab Gita lesu


"Kenapa? Kamu jangan banyak pikiran. Bukankah kita sedang mengajak Nayya jalan-jalan?" tanya Rama


"Iya, tetapi entah kenapa aku malah merasa bersalah sekali."


"Merasa bersalah kenapa?" Rama tak mengerti

__ADS_1


"Rasanya aku egois sekali tak membawa Nakka kesini." ucap Gita


"Kita kan memang berniat pergi bertiga, sayang. Karena, kalau membawa Nakka harus bawa baby sitter. Lain kali, kita ajak saja Nakka." jawab Rama


"Sepertinya, kalau dia sudah besar, dia pasti merasa di beda-bedakan. Padahal, bukan maksudku membeda-bedakan, aku hanya ingin sekali saja pergi bersama keluarga kecilku. Aku belum pernah pergi bertiga bersama kalian seperti ini. Tetapi, bayang-bayang Nakka malah terngiang di kepalaku. Aku merasa bersalah pada bayi kecil itu." ucap Gita


"Aku mengerti perasaanmu, aku tahu sayang. Kamu memang ingin pergi dengan Nayya saja, tetapi perasaanmu tak bisa dibohongi kan? Nakka juga sudah mengisi hatimu."


"Aku kira, aku takkan merasa bersalah seperti ini." ujar Gita


"Nakka pasti baik-baik saja bersama Nanny-nya. Kita tak perlu khawatir." Rama menenangkan Gita


"Tapi, aku merasa jadi orang tua yang jahat, orang tua yang mem beda-bedakan anaknya."


"Jangan berpikiran seperti itu. Lebih baik, kita nikmati waktu kita hari ini. Kedepannya, ajak Nakka juga jika hatimu tak tenang seperti ini. Mau bagaimanapun, Nakka adalah anak kita juga. Se-repot apapun kita, dia tetap anak kita juga." jelas Rama


"Maafkan aku."


"Minta maaf untuk apa sayang?" tanya Rama


"Maaf, karena aku sudah egois tak mau membawa Nakka, aku lebih memilih tak mau mengajaknya karena aku repot. Aku benar-benar salah." ucap Gita


"Sudah, jangan disesali terus. Yang terjadi, biarlah berlalu. Nanti, kita bawa Nakka juga. Kamu yang gendong Nakka, biar aku yang gendong Nayya. Adil kan? Jadi, kita sepasang pasangan yang membawa anak sepasang juga. Hihi." Rama merayu Gita


"Ketika mengingat nama Nakka, aku jadi ingat mendiang Ibunya. Aku rindu Siska, entah kenapa pikiranku jadi melayang kemana-mana." ucap Gita


"Wajar kita mengingatnya, karena dia sudah lama pergi."


"Dia memang sangat menyakiti hatiku, dia jahat padaku dan pada kamu juga, tetapi ketika sudah kehilangannya, aku merasa sedih, aku merindukannya. Kasihan Nakka, seharusnya Siska bisa disampingnya saat ini." jelas Gita


"Nakka hanya korban, dia menjadi korban keegoisan Ibunya. Kalau saja Siska tak memikirkan dirinya sendiri, Nakka tak mungkin harus seperti ini." jelas Rama


"Aku jadi teringat Nakka. Ayo, lebih baik kita pulang saja. Semakin lama disini, aku jadi semakin bersalah pada anakku yang tak aku bawa." ucap Gita


"Kamu tak akan makan dulu? Kita kan belum makan sayang?" tanya Rama


"Kita pesan makanan saja, tetapi dibungkus. Aku rindu anak laki-laki ku. Aku ingin segera pulang. Ayo!" ajak Gita


"Baiklah sayang, kalau itu mau mu. Aku juga rindu pada Nakka. Sedang apa ya dia?" ucap Rama

__ADS_1


"Maafkan Bunda yang tak mengajakmu, Nak. Bunda janji, tak akan seperti ini lagi. Disini pun, hatiku merasa bersalah sekali."


*Bersambung*


__ADS_2