
Rama tersenyum melihat Gilvan. Rama memang menyukai sosok Gilvan yang ulet dan pekerja keras.
"Van? Apa kabar?" sapa Rama
Gilvan kaget, ia berbalik badan. Ia mengenal suara yang barusan menyapanya.
"RAMA?" Gilvan kaget
"Ya, ini aku. Aku merindukanmu, Van." ucap Rama
"Bagaimana kamu tahu aku disini? Duduklah, Ram. Silahkan duduk dulu."
Meskipun kaget, Gilvan tetap ramah pada Rama. Gilvan benar-benar mempunyai hutang budi pada Rama. Ia malu, kalau harus bertemu Rama sekarang. Gilvan masih belum siap.
"Fad, buatkan beberapa minuman untuk 5 orang."
"Iya, Pak. Siap."
Gilvan melihat kedua anak Rama dan asisten Rama. Gilvan sangat mengenal wajah itu, ia adalah Rey. Lelaki yang pernah menikung Vina, sang pujaan hatinya.
"Kenapa kamu bisa tahu, ini restoran ku? Pasti dari Vina ya?" tebak Gilvan
"Iya, Vina yang memberitahuku. Tidak apa-apa, kan?"
"Tidak apa-apa. Sejujurnya, aku malu bertemu denganmu, Ram. Aku berhutang budi padamu."
"Jangan kau bahas itu. Aku tak sedikitpun mengusik hal itu. Aku ikhlas melakukannya untuk kesembuhan mu. Jangan menganggapnya sebagai hutang."
"Terima kasih sekali, atas kebaikan hatimu, Ram."
"Iya, Van. Bagaimana kabarmu? Aku senang, kamu adalah lelaki pekerja keras." ucap Rama
"Terima kasih, Ram. Semua ini juga berkat kebaikan hatimu, yang telah menolongku sembuh." Gilvan tersenyum
Tak lama, Fadli datang memberikan minuman pada Rama dan Gilvan. Fadli menundukkan kepalanya, lalu berbalik, akan pergi meninggalkan mereka.
"Tunggu!" tahan Rama pada Fadli
Fadli dan Gilvan menoleh kearah Rama.
"Iya, Pak?" tanya Fadli
"Rasanya, wajahmu nggak asing ya. Apa kita pernah bertemu?" tanya Rama
__ADS_1
"Beberapa tahun kebelakang, saya sering lihat Pak Rama, kok." Fasli tersenyum
"Kamu tahu siapa saya?" tanya Rama heran
"Tentu saja, Pak. Dulu, saya bekerja di rumah yang dekat dengan tempat tinggal Pak Rama, saya bekerja di rumah Tuan Samudra. Bapak sangat terkenal sekali, tentu saja saya mengenal Bapak." Fadli tersenyum
"Pantas saja, wajahnya tak asing. Baiklah, kamu bisa pergi."
"Iya, Pak. Permisi."
Fadli berlalu. Ada perasaan aneh pada diri Rama, mengenai lelaki yang barusan ia tanya. Namun, Rama tak mau mempermasalahkannya, karena ia lupa, ia masih berpikir.
"Van, gimana perasaan kamu sama Vina?" tanya Rama mulai berbicara informal
"Masih seperti dulu." jawab Gilvan
"Apa kamu kecewa melihat Vina yang sekarang? Maafkan aku, tak bisa mencegahnya, hingga ia terlalu jauh seperti sekarang ini." ucap Rama
"Kamu tak perlu merasa bersalah, Ram. Memang, Vina terlalu lama menungguku, dia sudah melewati batasnya, dia sudah tak bisa lagi untuk menungguku. Waktuku telah habis, aku terlambat, aku kurang cepat mendapatkan hatinya." jelas Gilvan
"Dia hanya sedang bermain dengan egonya. Dia tak benar-benar serius ingin meninggalkanmu, Van." jelas Rama
"Tapi dia sudah punya keluarga yang utuh." ucap Gilvan
"Kenapa aku harus menjadi jahat seperti itu?" Gilvan seperti enggan
"Aku bukanlah Rama yang dulu, kini aku telah menggunakan kekuasaan ku untuk melakukan apa yang kuinginkan. Kalau kamu memang ingin kembali pada Vina, akan aku bantu. Jangan hiraukan lelaki yang bersamanya. Aku sudah tahu siapa dia." jelas Rama
"Memangnya dia siapa?"
"Anak buah ku di kantor." jawab Rama
"Jadi, Vina menikah dengan rekan kerjanya?" tanya Gilvan
Bagaimana aku menjawabnya, Vina sudah berpesan agar jangan membocorkan hal tentang dirinya. Aku akan mengikuti keinginan Vina dahulu, baru aku akan membuat mereka bersatu. Aku janji padamu, Van. Aku akan mengembalikan semuanya padamu, aku berjanji akan membuat hidupmu bahagia bersama Vina. Percayalah padaku. Batin Rama.
"Intinya, aku akan membuat semuanya kembali seperti semula. Kuharap, kamu tetap mencintai Vina, jangan mencintai yang lain. Akan ku perjuangkan cinta kalian berdua, sebagai rasa terima kasihku atas jasa yang pernah kau lakukan pada Gita."
"Kamu tak perlu mengungkitnya. Begini pun, aku tetap berterima kasih padamu, Ram. Bertemu denganmu sekarang ini, aku sangat bahagia sekali. Aku bertemu dengan kawanku yang baik." Gilvan tersenyum
"Kamu tak perlu sungkan, Van. Aku akan selalu ada untukmu." ucap Rama.
Gilvan dan Rama berbincang serius mengenai hubungan pertemanan mereka. Disisi lain, Nayya dan Nakka sedang memesan makanan yang ingin mereka makan di restoran.
__ADS_1
Nayya diasuh oleh Mia, dan Nakka dijaga oleh Rey. Karena mereka berdua sering sekali berselisih, jadi Rey dan Mia harus ekstra menjaga Nayya dan Nakka.
Sekilas tentang Mia dan Rey. 5 tahun berlalu, hubungan mereka tak ada perkembangan. Mia tetap pada keputusannya, yaitu untuk sendiri dulu. Ia tak mau, cepat-cepat membina rumah tangga, karena kegagalan membuatnya kapok.
"Rey, Nayya ingin pesan burger sama chicken fillet nih." ucap Mia
"Bentar, kita panggil dulu pelayannya. Pelayaaan! Kemari." Rey melambaikan tangannya
Jarak tempat duduk Rama dan anak-anaknya cukup jauh. Karena Rey tahu, Rama dan Gilvan pasti akan membahas sesuatu.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu? Kalian ingin pesan apa? Selamat siang, mbak Mia." sapa Fadli pada Mia
"Eh, ternyata Fadli, ya. Kamu kerja disini Fad? Sudah lam sekali, kita tak bertemu." ucap Mia
"Kalian saling kenal?" ada rona tak suka dari wajah Rey
"Tentu saja, dia ini tukang kebun di rumah Tuan Samudra, dulu! Sebelum rumahnya dijual. Ya kan Fad?" ucap Mia
"Iya, Mbak Mia. Senang bisa bertemu Mbak Mia kembali. Pantas saja, ada Pak Rama, Mbak Mia juga ikut. Wah, bayi-bayi kecil ini sudah besar ya." ucap Fadli
"Halo Om! Kita mau pesan nih! Cepat tulis ya, aku udah lapar. Wanginya enak banget. Yummyyyyy!" ucap Nayya
"Oh, iya. Tentu saja anak-anak yang baik. Silahkan, mau pesan apa?"
Nayya dan Nakka saling ribut membahas menu makanan yang ingin mereka pesan. Rey hanya memesan minuman. Rey terlihat tak suka, Mia sangat ramah sekali pada Fadli. Rey tak tahu, bahwa Mia dekat dengan lelaki lain di komplek perumahan elit itu.
Kembali lagi pada Rama dan Gilvan. Rama tetap tak memberi tahu Gilvan tentang keadaan Vina yang sebenarnya. Rama ingin, Gilvan tahu sendiri mengenai hal itu. Rama juga tak akan tinggal diam, ia akan berusaha sebisa mungkin menyatukan kembali Vina dan Gilvan.
"Van, lu nemuin pelayan itu dimana?" tanya Rama
"Dia datang sendiri melamar saat gue lagi soft opening."
"Gue lupa, ada apa ya yang menghambat di pikiran gue ini, sepertinya ada hubungannya dengan anak muda itu."
"Memangnya dia kenapa?"
"Sebentar, Van. Gue ingat, gue ingat." Rama kaget, mencoba teringat kembali
"Baguslah, kalau ingat. Ada apa?"
"Van, dulu Kakek gue kecelakaan, dan ada yang menyelamatkan beliau. Kakek bilang, orang itu adalah penjaga kebun tetangga. Dan kakek berpesan, agar menjodohkan dia dengan Raina, adik gue. Mungkinkan, Van?"
"Fadli, orangnya???" Gilvan kaget
__ADS_1
*Bersambung*