
Gita benar-benar kaget dengan perkataan Vina. Gita tak menyangka. Mungkinkah Vina berbohong padanya? Gita heran, kalau memang ini benar terjadi, bagaimana bisa? Vina dan Gilvan? Gita tak bisa membayangkannya.
"Kamu bercanda kan?" tanya Vina
"Kamu marah ya Git? Maafkan aku." Vina menunduk
"Tidak, tidak. Aku tak marah. Aku hanya tak percaya dengan ucapan mu, Vin!"
"Semua itu benar, kok. Aku memang melakukan semua itu dengan Gilvan. Aku tak menyadari mengapa semua ini terjadi. Aku sungguh tak mengerti." Vina menangis
"Vin, kamu nangis? Vina, jadi benar? Kamu melakukannya dengan Gilvan?" tanya Vina
Gita memegang lengan Vina tak percaya. Vina tak menjawab, ia hanya mengangguk. Ia memang benar telah berhubungan dengan Gilvan. Hatinya sangat hancur. Vina tak peduli kalau Gita harus marah padanya. Yang penting, hati Vina tenang, telah menceritakan hal mengerikan ini pada sahabatnya.
"Kenapa itu bisa terjadi? Lihat aku! Aku tak marah padamu, aku hanya menyesalkannya, kenapa kamu harus memberikan mahkotamu pada Gilvan?" Gita sangat khawatir
"Aku tak mengerti, Gita! Aku sungguh terbuai dalam belaiannya. Maafkan aku sejujurnya aku memang mencintai Gilvan, Git! Sungguh, maafkan aku. Kau boleh membenciku." Vina terus menangis
"Apa-apaan sih kamu Vin? Aku nggak pernah berpikir seperti itu. Kalau kamu menyukai Gilvan, kenapa kamu harus memberikan semuanya? Itu pasti akan merugikan mu!" Gita ikut menitikkan air mata.
"Aku tak menyangka akan seperti itu. Kukira, Gilvan lelaki yang baik, kukira dia tak akan berani padaku, tapi ternyataaa..." Vina menangis tersedu-sedu
"Kenapa kau tak menolaknya? Kenapa kau membiarkannya melakukan semua itu padamu?" Gita memeluk sahabatnya itu
"Aku tak tahu.." Vina larut dalam kesedihan
"Apa dia memaksamu? Seperti yang Rama lakukan padaku? Iya?" Gita mencoba menerka-nerka
"Tidak, Git! Aku melakukannya dengan sadar. Dia tak memaksaku, dia menyentuhku dengan lembut. Aku terbuai, aku tergoda. Aku menyadari kesalahanku ini."
"Aku mengerti perasaanmu. Sekarang, Gilvan dimana? Kamu harus meminta pertanggung jawabannya!" ucap Vina
"Kamu tak marah padaku?" tanya Vina
"Untuk apa aku marah padamu?" Gita balik bertanya
"Aku bercinta dengan mantan suamimu. Aku merahasiakan ini darimu, karena aku takut kamu marah, Git!" Vina menggigit bibirnya khawatir
"Kamu ingin tahu apa yang sedang aku pikirkan?"
"Apa Git?" Vina cemas
"Aku ingin meminta maaf padamu. Semua ini terjadi pasti karena aku."
"Maksudmu?"
"Gilvan tak pernah menyentuhku, Gilvan pasti menahan hasratnya itu selama hidup denganku. Dia tak bisa menyentuhku! Tetapi, ketika bersamamu, hasratnya memuncak. Kau pun terlena dengannya, dia tak bisa menahannya lagi. Sehingga kalian pun melakukan hal itu. Maafkan aku, ini semua karena aku, Vin!" Gita menangis
"Kenapa kamu malah menyalahkan dirimu sendiri? Kamu tak salah, ini jelas kebodohan ku sendiri, Git!"
__ADS_1
"Tidak, tidak! Sungguh, semua ini terjadi gara-gara aku! Maafkan aku, tak bisa melindungi mu!" Gita menangis lagi
"Kau tak salah sedikitpun! Ini jelas salahku, aku yang menyukainya hingga terbuai dengan kelembutannya, kemudian aku memasrahkan semuanya. Itu kesalahan terbesarku!" ucap Vina
"Dimana Gilvan sekarang?" tanya Gita
"Aku tak tahu!"
"Dia menghubungimu setelah kejadian itu?"
Vina berjalan menuju lemarinya. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam lemarinya. Ia memberikan amplop itu kepada Gita.
"Apa ini?" Gita heran
Gita segera membukanya. Mata Gita terbelalak melihat sejumlah uang dan kertas berupa cek. Gita tak mengerti apa maksudnya semua ini. Gita benar-benar tak bisa berpikir jernih lagi.
"Apa maksudnya ini? JELASKAN PADAKU, VIN! JANGAN BUAT AKU MARAH!" Gita benar-benar kesal
Vina kaget melihat amarah Gita. Vina tak menyangka Gita akan semarah ini. Vina tak pernah melihat Gita marah. Baru kali ini Vina melihat sahabatnya berteriak seperti itu.
"Maafkan aku!" Vina tak kuasa menahan tangisnya
"KATAKAN PADAKU DIMANA GILVAN BERADA? DAN APA MAKSUD DARI UANG SERTA CEK INI?" Gita berapi-api
"Aku akan menjelaskannya padamu. Gilvan tak mau menjalani hubungan denganku, Gilvan masih belum siap, Git. Dia memberiku sejumlah uang agar aku melupakan semua dengan uangnya."
"Aku tak tahu, aku melemparkan Handphoneku sekuat tenaga, aku tak tahu apakah dia memberiku kabar atau tidak. Sungguh, maafkan aku."
Nasi telah menjadi bubur. Semuanya tak bisa dikembalikan seperti sedia kala. Gita menyesali kesibukannya pada saat itu. Gita melupakan sahabatnya, sehingga hal buruk ini bisa terjadi pada Vina.
"Kita harus segera menemui Gilvan!"
"Aku tak siap, Git. Aku sungguh membencinya."
"Aku lebih membencinya. Minggu depan kita harus berangkat ke Johor, kita harus menemui Gilvan." pinta Gita
"Meskipun kamu bertemu dengannya, tidak akan merubah apapun, Git! Semua sudah terlanjur."
"Tak apa, aku hanya ingin tahu. Apa maksud Gilvan melakukan itu padamu! Aku tak akan ikut campur masalah kalian, namun aku berharap, kalian bisa menemukan jalan yang terbaik."
"Aku merasa bersalah padamu, Git!"
"Tidak. Kamu tak salah. Kamu jangan bersedih lagi, akan ku pertemukan kau dengan Gilvan. Aku tak akan ikut campur urusan kalian, aku hanya ingin tahu apa alasan Gilvan melakukan itu padamu." terang Gita
"Aku dan dia benar-benar khilaf, Git!"
Vina menutup muka dengan kedua tangannya, hatinya sungguh hancur. Perasaannya campur aduk sekali, Vina tak menyangka sahabatnya akan semarah ini, tetapi bukan marah padanya melainkan marah pada Gilvan.
"Aku yakin, dia juga menyukaimu!" ucap Gita
__ADS_1
"Kalau dia menyukaiku, tak mungkin dia meninggalkanku!" jawab Vina
"Dia hanya tak yakin, Vin."
"Dia lelaki yang jahat!"
"Dia hanya ragu, tak mungkin dia tertarik berhubungan denganmu kalau ia tak menyukaimu! Aku yakin, ada dirimu dihatinya, tetapi dia masih tak yakin akan cintanya padamu." Gita menjelaskan
"Mungkinkan seperti itu?" tanya Vina
"Menurutku begitu! Aku harap bisa segera menemukannya."
"Aku benar-benar membencinya. Aku tak bisa memaafkan kesalahannya." ucap Vina
"Emosimu yang mengatakannya. Tapi, hati kecilmu tak akan berkata begitu. Kamu mencintainya?" tanya Gita
"TIDAK! AKU SANGAT MEMBENCINYA!" jawab Vina berteriak
"Aku bisa lihat dari matamu, kamu tak sungguh-sungguh mengatakan itu. Aku ingin kamu tenangkan dirimu, Vin! Kamu pasti mencintai Gilvan. Aku yakin akan hal itu." ucap Gita
❤Seburuk apapun cinta itu, kalau ia sudah menetap datang dengan harapan, tak akan semudah itu untuk melepaskannya. Semakin kau coba melepaskan cinta itu sendiri, maka semakin kuat cinta itu bertahan. Cinta tak semudah kau kira, dia bisa membuatmu mabuk.❤
"Kalaupun hati kecilku masih berharap padanya, kuharap cepat atau lambat aku akan segera membuang perasaan itu!" Vina mantap
"Semua tergantung padamu. Kuharap, jangan biarkan hatimu terluka. Kamu harus bertemu dengan Gilvan." saran Gita
"Aku tak sudi bertemu dengannya lagi. Rasanya hatiku sudah mati."
"Kamu hanya perlu mendengarkan penjelasan dari Gilvan. Setelah itu, kamu bebas bersikap. Kamu bisa memilih jalanmu sendiri."
"Untuk apa aku bertemu dengannya? Aku tak ingin bertemu dengannya lagi. Sudah cukup perih hatiku melihat sikapnya sekarang ini." Vina berurai air mata lagi
"Sabar, tenangkan hatimu sahabatku! Jangan merasa dirimu sendiri, jangan merasa dirimu hancur. Ada aku untukmu. Aku akan mendampingi mu, aku akan menyemangati mu. Percaya padaku!" ucap Gita
"Terima kasih, kamu memang sahabat terbaik yang aku miliki, Git." Vina memeluk Gita
Tanpa terasa, karena handphone Vina di silent, sudah ada puluhan kali panggilan tak terjawab. Nomor asing yang tak dikenal di handphone baru Vina. Nomor itu terus saja memanggil Vina. Vina tak menyadarinya, Handphonenya senyap, tidak bersuara maupun bergetar.
*Siapakah itu?
*Bersambung
Kali ini bukan operator ya gais, coba tebak.. Siapa yang nelepon Vina? Hehehe
Happy reading..
Selalu tinggalkan jejak setelah membaca ya, itu aku anggap sebagai apresiasi kalian terhadap novelku. Jangan lupa like, komen dan vote juga ya kak 😘
Salam hangat dari aku, uuu❤😘
__ADS_1