Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Pengakuan


__ADS_3

Siska telah jujur pada Rama. Rama tersentak mendengar nama itu. Ia pun segera mengirim video itu pada Dimas, dan segera menyuruh Dimas untuk menyimpannya sebagai bukti. Rama segera menghapus chatnya dengan Dimas.


Rama sangat pusing, kepalanya berputar-putar, ia sulit berkonsentrasi, ia tak bisa melihat dengan jelas, penglihatannya sangat buram, tanpa sadar badannya jatuh kelantai, efek alkohol itu masih ada didalam tubuhnya.


Tubuh Siska penuh dengan luka lebam dan membiru. Ia sangat kesakitan, Rama sungguh berani menyakitinya. Tapi ia senang melihat Rama terkujur lemas. Ia segera mengambil handphone Rama, melihat isi video di Gallery. Siska segera menghapus video yang barusan Rama rekam, itu adalah video pengakuannya kepada Rama. Tanpa bukti itu, Rama tak bisa berbuat apa-apa.


"Kau kan sedang mabuk lelaki bodoh!!! Esok hari juga kau akan lupa dengan apa yang telah kau lakukan. Aku wanita yang pintar, kau bukanlah tandingan ku. Kau merekam pengakuanku? HAHAHAHA, videomu itu telah ku hapus! Kau tak bisa melawanku pria bodoh!" Siska puas


Ia sangat kesakitan, tetapi ia paksakan untuk istirahat dahulu. Besok pagi, ia akan membuat drama yang lebih besar lagi.


-Kediaman Dimas-


Dimas sangat kaget menerima pesan Whatsapp dari Rama. Ia tak menyangka Rama bisa membuat Siska takut dan mengakui perbuatannya. Ia jadi tak bisa tidur melihat video yang dikirim Rama, ia pun langsung meneruskan video itu kepada Intan, ia ingin Intan tahu kalau sebenarnya Siska lah dalang dari semua ini.


Tak ku percaya, Ketika kau kehilangan kesadaranmu, kau berani memukul wanita, biasanya kau adalah lelaki yang selalu memperlakukan wanita dengan baik meskipun sikapnya membuatmu marah.. Tapi, wanita itu memang pantas diberi pelajaran, perbuatannya sungguh sudah melampaui batas. -gumam Dimas dalam hati-


***


Pagi harinya, Siska kembali menggemparkan seisi rumah. Ia meraung-raung kesakitan dan menjerit. Membuat semua orang rumah mendatangi kamar Rama.


"Ada apa lagi ini? Ya Ampun, Siska.. Kenapa kau bisa babak belur seperti ini?" Maya sangat kaget


"Mamaaa, kumohon tolong aku ma. Rama memukuliku dan menyambukku dengan sabuk itu. Dia tak sadar, mungkin dia mabuk. Tolong aku ma, aku sakit sekali." Gita menangis meraung-raung


Siska memeluk tubuh Maya. Maya sangat shock melihat Siska seperti itu. Ia bingung mengapa Siska bisa seperti itu.


"Apa yang membuat Rama begitu? Pasti ada sebabnya" Kakek Prima bersuara


"Ra..Rama tiba-tiba ada dikamar ini, ia seperti kesetanan, dan menyebut nama Gita, aku disebut Gita olehnya, aku dipaksa bangkit, dia sangat marah karena ia menganggap aku adalah Gita, ia terus menyebutku dengan nama Gita. Aku tak bisa melawannya. Aku sangat takut sekali, Ma!" Siska berbohong lagi


"Benarkah begitu?" Tanya Ayah Rama tak percaya


Sialan, lelaki tua ini selalu saja tak percaya padaku. Kau belum tahu ya? Aku kan pandai berakting. -Siska dalam hati-


"Benar, Pah!! Aku tak bohong, untuk apa aku berbohong. Lihatlah ini lukaku, karena tangan jahat anakmu. Kalau Rama bangun, kau tanyakan saja padanya kalau kau tak percaya padaku." Siska menangis lagi.


Ibu Rama tak tega melihat kondisi Siska, ia segera menyuruh pelayan membawa Siska ke ruang

__ADS_1


perawatan. Ia sudah menelepon dokter keluarganya agar dokter segera datang.


Rama masih tertidur, belum sadarkan diri. Ia ditemani oleh kakeknya. Kakeknya tak ingin meninggalkan Rama, sebelum ia sadar.


Kau tak mungkin tanpa alasan melakukan itu kepada Siska, aku yakin kau pasti sedang hancur saat ini. Maafkan aku cucuku. -Kakek Rama dalam hati-


Hari sudah siang. Tetapi, Rama belum juga bangun. Kakeknya mulai khawatir, karena tak seperti biasanya cucunya seperti ini. Dibantu oleh pelayan rumah tangga, Rama dikompres dan di bersihkan badannya.


Tak lama kemudian, Rama bangun dari tidur panjangnya. Ia membuka mata dengan kepalanya yang masih sangat sakit. Ia melihat sekitar, ia heran, kenapa di kamarnya banyak orang. Ada Kakek, Ayahnya, Raina dan juga beberapa pelayan rumah tangga.


"Ada apa ini? Kenapa kalian semua ada dikamarku?" Rama bingung


"Aku yang seharusnya bertanya padamu!" Ayah Rama terlihat sedikit emosi.


"Angga, kau diam saja! Rama, apa kau mengingat hal yang semalam kau lakukan?" Tanya Kakek Prima


"Memangnya aku kenapa? Aku tidak apa-apa!" Jawab Rama masih terlihat heran.


Cucuku tidak mengingatnya. Tetapi, tak mungkin juga Siska berbohong, tak mungkin dia membuat kebohongan dengan menyakiti dirinya sendiri kan? Ini pasti memang ulah Rama. Cucuku, kau sedang dalam masalah besar kali ini. -Kakek Prima dalam hati-


"Memangnya Siska kenapa? Aku melakukan apa pada Siska?" Rama sangat tak mengerti.


"Kak, semalam kakak mabuk kan? Kakak tahu gak? Kakak udah mukulin Kak Siska sampai dia lebam-lebam tahu! Dan sekarang, orangtuanya sedang menuju kesini. Kakak pasti dalam masalah besar!!!“ Raina menjelaskan


"Coba ingat kembali apa yang telah kau lakukan. Jika itu benar terjadi, aku tak bisa berbuat apa-apa!" Terang Angga, Ayah Rama


"Kau tak ingat sama sekali, Rama?" Tanya Kakek lagi


"Kepalaku sangat berat. Aku tak tahu sama sekali. Mana Siska? Mungkin dia sedang menjebakku lagi Kek!" Tegas Rama


"Ini semua ulahmu. Dia tak mungkin menyakiti dirinya sendiri sampai seperti itu. Kau harus mempertanggung jawabkan ulahmu, Rama!" Tegas Kakek


"Tapi, aku tidak..." Ucapan Rama terpotong


Ayah dan Ibu Siska datang, Ayah Siska langsung masuk ke kamar Rama tanpa permisi.


"Dasar kau laki-laki kurang ajar!!! PLAKKKKKKK" Edo, Ayah Siska menampar Rama sekuat tenaga.

__ADS_1


"Edo, Hentikan! Kau dengarkan dulu penjelasan Rama!" Kakek mencoba menengahi


"Maaf, Tuan. Kali ini saya tidak akan mendengarkan apa yang anda katakan. Kali ini saya sudah tidak peduli dengan kerjasama bisnis kita. Saya sangat muak dengan kelakuan cucu anda!" Jelas Edo


"Baiklah, mari selesaikan ini di ruang keluarga. Akan lebih nyaman membahas di sana. Rama, Kau ikut kakek turun, Raina, Kau panggil Siska dan Ibumu. Ajak mereka berunding bersama kita.


" Ba..baik, Kek!" Raina ketakutan.


Apa yang telah aku lakukan sampai Ayah Siska sangat marah terhadapku? Aku sungguh tak ingat apa-apa. Yang kuingat hanyalah ketika aku mengajak Dimas pergi minum. Kali ini, kakek tidak membelaku. Mungkinkah aku memang melukai Siska? Tapi, mengapa aku bisa sekejam itu? -Rama berpikir dalam hati-


Rama kaget melihat wajah dan tubuh Siska penuh luka lebam dan membiru. Rama tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Rama tak tega melihat Siska seperti itu, semarah-marahnya dia terhadap seseorang, ia tak mungkin akan melukainya, apalagi itu seorang wanita.


"Edo, katakan apa yang ingin kau katakan!" Tegas kakek Prima


"Aku sungguh kecewa dengan perlakuan Rama! Kalian semua lihat kan? Dia telah menyiksa putriku, Siska! Dia bahkan tak mengaku telah melukainya. Dulu, dia pun tak mengakui perbuatan biadabnya. Sampai kapan kau akan seperti ini HAH? Putri yang kusayangi, kulindungi dan kucintai sepenuh hatiku malah seenaknya kau sakiti. Kau memang manusia berhati iblis." Edo tsk bisa menahan emosinya


"Aku tak tahu apa-apa. Sungguh! Aku tak berbohong sedikitpun pada kalian semua. Kenapa aku terkesan seperti penjahat begini? Aku sungguh lupa, tapi memang semalam aku mabuk berat. Mungkin secara tak sadar aku melukainya. Maafkan aku atas hal itu. Aku sungguh tidak bermaksud melukai Siska." Jelas Rama


"Rama, apa kau tak sedikitpun mencintai anakku? Kurang apa anakku, Rama? Dia sangat mencintaimu. Dia rela mengikuti perkataan keluargamu untuk tinggal disini. Demi membuktikan bahwa dia sungguh-sungguh mencintaimu. Apa kau masih selalu meragukan cintanya Siska? Sampai kapan kau akan mengacuhkan anakku seperti ini HAH?" Ibu Siska mengeluarkan pendapatnya.


"Rama tak mungkin seperti ini kalau tak ada alasannya!" Maya membela Rama


"Memangnya anakku kurang apa? Dia setia pada Rama! Dia rela tinggal disini dan patuh terhadap kalian meskipun kalian selalu tak pernah menganggapnya!" Ibu Siska berapi-api.


"Cukup! Biarkan Rama berbicara!" Kakek Prima selalu menjadi penengah


Rama berpikir keras. Ia memang salah. Ia terlalu mengacuhkan Siska. Anak yang dicintai oleh kedua orang tuanya tetapi malah Rama sia-siakan.


"Maafkan aku! Aku sungguh minta maaf atas perlakuan burukku! Apa yang harus kulakukan agar aku bisa menebus kesalahanku pada kalian dan juga Siska?." Rama menyerah


"Kau harus segera menikahi putriku! Kau harus bertanggung jawab" Jawab Edo dengan lantang


"Baiklah, aku akan meni.." Ucapan rama terpotong


"Tunggu! Jangan sampai itu terjadi!!!“ Dimas dan Intan mengagetkan mereka yang ada dirumah itu.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2