
"ARA?" teriak Gilvan
Ara yang sedang berada di toilet lantai dua segera berhambur keluar ketika mendengar teriakan Gilvan.
"Ya, Pak?" tanya Ara
"Kemana surat yang ada di meja kerja saya?' tanya Gilvan
"Surat? Maksud Bapak, kertas lusuh yang tergeletak di meja ini?" tanya Ara
"Iya, mana suratnya?"
"Lah, udah Ara buang ke tempat sampah, Pak. Sampahnya juga sudah diangkut oleh petugas kebersihan barusan."
"ARA! KENAPA KAMU MAIN BUANG-BUANG SAJA? KENAPA KAMU TAK BERTANYA DULU, KENAPA SEENAKNYA SAJA MEMBUANG HARTAKU YANG BERHARGA? HAH?" Gilvan benar-benar marah
"Pak?" Ara heran
"APA!!!"
"Pak Gilvan marah?" tanya Ara polos
"YA MARAH LAH!!! ARA, APA KAMU TAK TAHU, BAHWA DIDALAM SURAT ITU PASTI ADA SESUATU YANG PENTING. DAN AKU BELUM MEMBACANYA. KENAPA KAMU SEENAK JIDAT DENGAN SANTAI MEMBUANGNYA?"
"Maaf, Pak. Ara gak tahu. Ara kira sudah tak terpakai, karena kertasnya juga sudah lusuh sekali."
"Kamu masih ingin bekerja disini? Kalau kamu masih ingin terus bekerja disini, cepat cari dan temukan surat itu sampai ketemu. Saya gak mau tahu ya! Kalau sampai gak ketemu, saya akan memecat mu secara tidak hormat! Nggak becus kerja gini kok si Fadli pede banget nyuruh dia kerja."
"Maaf, Pak. Saya akan mencarinya, namun maaf, jangan keluarkan kata-kata kasar itu pada saya. Saya hanya tak tahu, bukan berarti saya gak becus bekerja."
"Kamu memang bodoh! Kamu juga nggak becus kerja. Kamu karyawan yang paling bodoh diantara semua karyawan ku yang berada disini. CEPAT PERGI DAN CARI SURAT ITU SEBELUM KESABARAN KU BENAR-BENAR HABIS." Gilvan membentak Ara.
Ara sedih, Ara tak menyangka, dengan teganya Gilvan mengeluarkan kata-kata kasar padanya. Dengan berat hati, Ara tetap pergi keluar dan mencari truk sampah yang pada saat itu kebetulan telah dibawa oleh petugas kebersihan.
Fadli melihat Ara keheranan, karena berjalan dengan tatapan sedih.
"Ara, kamu kenapa?"
"Pak Gilvan marah, aku membuang surat yang ada di atas meja. Aku nggak tahu, kalau surat itu penting buat dia." jelas Ara
"APA? Kamu membuang surat itu? Itu surat memang benar-benar penting, Ra. Pak Gilvan memang harus segera membacanya. Pak Gilvan pun tak tahu apa isi didalam surat itu, karena aku lupa memberi tahunya."
"Iya, ini semua salahku. Aku akan pergi mencari surat itu sampai ketemu. Aku pergi dulu."
"Ara, Giara! Tunggu aku. Aku akan membantumu mencari surat itu."
Langkah Ara terhenti karena ucapan Fadli. Ara berbalik, menoleh kearah Fadli.
"Jangan, Fad. Restoran gak ada yang handle kalau kamu bantuin aku. Aku yakin, aku bisa menemukannya. Sudah, tak perlu mengikuti ku. Aku bisa mencarinya sendiri. Aku pergi dulu ya, Fad."
"Apa kamu yakin, bisa mencarinya sendiri? Itukan sudah berada di tempat sampah. Masa kamu bakal ngacak-ngacak sampah sih Ra?"
"Gak apa-apa, ini salahku. Aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku, Fad. Sudah, aku harus pergi ke tempat pembuangan sampah blok ruko ini. Jangan sampai sampahnya sudah pergi jauh. Bye, Fad. Doakan aku, semoga aku berhasil menemukannya." jawab Giara lalu berlari
Fadli pun merasa bersalah, karena semua ini bermula karena keteledoran Fadli. Fadli yang nenaruh surat itu di meja kerja Gilvan, Fadli juga yang lupa memberi tahu Gilvan perihal surat yang ia letakkan di meja.
Sampai ia tersadar, ketika ia ingat surat tersebut, suratnya telah dimasukkan dalam kantong sampah. Fadli harus segera meminta maaf pada Gilvan. Namun, ketika Fadli berbalik, Gilvan sudah berada di belakangnya.
"Eh, Pak Gilvan." Fadli gugup
"Ara kemana?" tanya Gilvan
"Dia mencari surat yang aku lupakan semalam, Pak."
__ADS_1
"Dia pergi? Mencari surat itu? Kenapa dia serius sekali menanggapi perintahku? Aku tidak serius menyuruhnya untuk mencari ke tempat sampah. Aku hanya emosi, kini aku mengerti. Biarlah, jika surat itu tak bisa aku baca. Toh, semua sudah terjadi Hubunganku dan Vina tak bisa di pertahankan lagi."
"Saya minta maaf Pak Gilvan, semua ini karena saya. Saya yang menaruh surat itu dimeja, dan saya juga yang lupa memberi tahu pada Bapak."
"Sudah, lupakan saja. Aku juga merasa bersalah, sudah membentak Ara."
"Tadinya, saya akan membantu Ara mencari surat itu, tapi banyak pelanggan juga yang tak mungkin saya tinggalkan." jawab Fadli
"Fad, kamu punya nomor Ara kan? Kamu telepon dia, suruh dia kembali. Tak apa jika suratnya tak ada, aku tak akan memecatnya, asalkan dia kembali ke restoran, karena banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan."
"Baik, Pak."
Gilvan sadar, dirinya telah tersulut emosi. Ia khilaf telah memarahi Ara. Vina benar-benar membuatnya kalap dan lupa diri. Gilvan sadar, ia tak seharusnya memarahi Ara, karena Ara memang tak tahu, dan ini semua bukan kesalahan Ara juga, Fadli juga salah, tak memberi tahu dirinya, Gilvan pun salah, tak mengecek setiap sudut kamarnya.
Waktu berlalu tujuh jam semenjak kejadian tersebut. Sekarang sudah pukul 5 sore. Tapi, belum terlihat tanda-tanda kedatangan Ara. Gilvan bertanya pada Fadli, mengenai keberadaan Ara.
"Fad, kenapa Ara belum kembali juga?" tanya Gilvan
"Tadi dia bilang, sudah berada di penampungan sampah ruko dan beberapa blok lain, dia akan tetap mencarinya. Barusan, aku telepon lagi, tapi nomornya tidak aktif. Apa aku harus mencarinya juga?" tanya Fadli
"Gak perlu, restoran gak bisa kamu tinggalin, biar aku yang mencarinya."
"Pak Gilvan serius?" tanya Fadli
"Iya, aku serius. Kasihan Giara kalau harus sampai sore begini belum pulang. Aku sudah mengikhlaskan surat itu. Harusnya dia pulang saja."
"Hati-hati dijalan, Pak."
Gilvan membawa mobilnya menuju bak penampungan sampah. Jaraknya lumayan, sekitar 5km dari resto Gilvan.
Gilvan benar-benar tak menyangka, Ara seberani dan senekat itu untuk mencari surat tersebut. Sesampainya di penampungan bak sampah, Gilvan meminta izin pada penjaga dan segera mencari keberadaan Giara.
Ara melihat Gilvan sedang celingak-celinguk mencari sesuatu. Ara sadar, sepertinya Gilvan datang kesini karena mencarinya. Ara segera berlari menghampiri Gilvan.
"Ara!" sahut Gilvan
Ara mendekat, dengan hati yang senang dan sumringah.
"Pak, saya sudah menemukan suratnya!" jawab Ara
"Kenapa kamu harus benar-benar mencarinya seperti ini?"
"Tak apa, Pak. Ini salah saya, saya harus bertanggung jawab atas kesalahan saya. Ini, Pak. Suratnya." Ara memberikan surat yang telah lusuh itu pada Gilvan.
Gilvan jadi merasa bersalah pada Ara, karena telah membuatnya harus bergumul dengan sampah. Apalagi, badan Ara bau menyengat. Sepertinya, Ara memang benar-benar mencarinya dengan sungguh-sungguh.
"Terima kasih. Ayo, kembali ke restoran. Naiklah ke mobilku." ajak Gilvan
"Tidak usah, Pak. Saya bau dan dekil, saya pulang sendiri aja." jawab Ara
"Sudah, jangan membantah. Ayo, naiklah ke mobilku. Akan ku bawa kamu ke butik dan mengganti baju mu itu."
"Tapi, Pak.."
"Cepat naik!"
"Ba-baiklah." Ara tak bisa membantah
Gilvan membawa Ara menuju butik. Gilvan meminta pelayan membersihkannya dan mengganti pakaiannya. Sementara menunggu, Gilvan masuk lagi kedalam mobilnya.
Menunggu Ara membutuhkan waktu lama, Gilvan kemudian membuka surat Vina. Dengan tangan gemetar, ia mencoba membuka lipatan surat itu perlahan-lahan. Benar saja, terpampang tulisan panjang, yang ditulis sendiri oleh Vina.
Gilvan membacanya, dengan tangan dan hati yang gemetar.
__ADS_1
...Gilvan Ardian-ku,...
...Aku merindukanmu...
...Aku ingin kamu, hadir kembali dan datang padaku....
...Lihatlah, disini ada bayi kecil kita,...
...Apa kamu tak merindukannya?...
...Bayi ini, adalah bayimu...
...Anak yang aku kandung, adalah anakmu...
...Aku mengurusnya seorang diri...
...Aku melahirkannya tanpa dirimu...
...Mungkin, kamu tak sadar bahwa kamu telah memiliki seorang anak...
...Kamu mungkin tak mengingatnya...
...Namun, aku selalu mengingatmu....
...Kapan kau akan kembali Van?...
...Akankah kamu menganggap anak ini, sebagai anakmu?...
...Aku mencintaimu, meskipun aku tak tahu keberadaan mu...
...Aku berharap, kamu akan segera pulang...
...Anakmu butuh pengakuan mu, Van...
...Anakmu butuh sosok Ayah dalam hidupnya...
...Aku tak mungkin bisa menemukanmu...
...Untuk itu, datanglah tanpa aku memintamu datang...
...Aku merindukanmu, Gilvan-ku...
...Aku telah memberi nama pada anak kita...
...Kuberi nama Givia Putri Melania...
...Aku akan selalu mengenang mu dengan nama anakku...
...Jika kamu tak kembali, aku masih bisa melihat anakku...
...Yang tentunya sangat mirip dengan Ayahnya,...
...Yaitu, kamu, Gilvan-ku....
Gilvan menangis. Hatinya benar, bahwa selama ini, Vina menyembunyikan anaknya. Gilvan benar-benar tak akan memberi ampun pada Vina atas perbuatannya kali ini.
Lamunan Gilvan tersadar, saat Ara mendekatinya.
"Pak, sudah selesai. Ayo, kita kembali ke resto."
"Eh, i-iya, Ra! Ayok."
*Bersambung*
__ADS_1