Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
kebun binatang


__ADS_3

-Keesokan harinya-


Gita seharian ini akan full fokus mengurus Nayya, karena Mia di izinkan untuk menemani Rey mengantar Ibu Gilvan kembali ke Jakarta. Pagi-pagi sekali, Gita sudah berada si kamar buah hatinya.


"Non, ini bener saya harus pergi?" Mia ragu


"Pergi saja, kurang lebih empat sampai lima bulan ini kamu kan belum pernah cuti sama sekali. Nikmati hari libur singkat mu bersama Rey, Mia." ucap Gita


"Tapi, apa Tuan Rama tidak akan marah pada saya?"


"Aku sudah memberi tahu suamiku, lagi pula nanti aku akan mengajak Nayya jalan-jalan." ucap Gita


"Baiklah kalau begitu. Saya akan membereskan perlengkapan untuk Nayya nanti."


"Ya sudah, cepat bereskan! Sebentar lagi kamu harus berangkat."


Gita mengajak Nayya pergi menghirup udara pagi, bayinya yang lucu kini sudah tumbuh besar. Usia Nayya kini sekitar lima bulan. Bayinya sangat cantik dan menggemaskan. Nakka pun berusia sama dengan Nayya, hanya beda beberapa minggu.


Gita menuju ke pintu depan rumahnya. Melihat Rey dan Mia sedang bersiap untuk pergi.


"Nona, Bos mana?" tanya Rey


"Jangan tanya, dia masih tidur!" jawab Gita


"Ya sudah, tolong katakan padanya kalau kita akan segera berangkat."


"Baiklah, kamu hati-hati dijalan ya! Jangan ngebut Rey. Ingat, kamu membawa orang tua Gilvan dan masa depanmu." ucap Gita


"Masa depanku bagaimana maksudnya, nona?" Rey tak mengerti


"Tuh, wanita yang sedang memasukan tas kecilnya kedalam mobilmu. Bukankah dia itu masa depanmu, Rey?"


"Hehehe, Iya Non. Pastinya dong!"


"Apaan sih, Rey!" Mia malu


"Ya sudah, segera berangkat. Hati-hati yaa!" Gita melambaikan tangannya

__ADS_1


Rey dan Mia segera naik ke mobil. Mereka segera berangkat menuju apartemen milik Rama dan menjemput Ibu serta kakak Gilvan. Gita kembali masuk kedalam rumah dan mengambil botol susu di kamar anaknya.


Terlihat baby sitter Nakka sedang mengganti pampers. Gita tersenyum padanya.


"Nanny, aku tak akan membawa Nakka hari ini. Karena terlalu repot, kamu jaga Nakka dengan baik ya. Aku akan pergi bersama Nayya." ucap Gita


"Tentu, Nona." jawabnya


Gita kembali lagi ke kamarnya setelah membawa botol susu milik Nayya. Gita melihat, Ayah Nayya masih saja tidur. Rama sangat nyenyak. Padahal, ini sudah pagi.


Gita membiarkan Nayya tidur di samping Rama. Nayya yang sudah mulai aktif seketika menganggu Rama yang sedang terlelap. Nayya memegang pipi Rama lalu meremas-remasnya. Nayya tengkurap, ia terus memainkan wajah Ayahnya.


Rama merasa terganggu. Ia tak nyaman. Ia masih belum menyadari kehadiran Nayya di sampingnya. Rama beberapa kali menepis tangan kecil Nayya.


"Sayang, diem dong. Jangan ganggu! Aku masih ngantuk." ucap Rama masih dengan mata terpejam


Gita tertawa melihat tingkah Nayya yang terus meremas-remas wajah Ayahnya. Bayi kecilnya itu mengerti, ia terus saja bermain-main dengan wajah Ayahnnya. Gita mengabadikan momen lucu tersebut dengan handphonenya.


Tak lama, tangan Nayya yang imut dan lucu itu mencubit tipis pipi Rama. Entah darimana Nayya bisa melakukan hal itu. Rama seketika melotot dan membuka matanya kaget.


"Auuwhhh, sakit! HAH? Nayya? Bayiku? Sejak kapan dia ada disini? Aduuuh, sakitnya pipi Ayah. Kamu ya, yang nyubit ayah? Pantas saja, cubitannya kecil sekali, tapi membuatku melotot." Rama duduk lalu menggendong bayi kecilnya


"Enggak, aku kira kamu yang ngerjain aku! Padahal, dia ini nih yang ngerjain Ayahnya. Nayya kecilku, kesayanganku. Pagi-pagi udah bangun aja!" Rama mencium bayi kecilnya itu.


"Nayya disini pengen ajak Ayah jalan-jalan. Nayya pengen Ayah cepat-cepat bangun! Jangan tidur terus, katanya!"


"Tentu, sayang. Hari ini kita jalan-jalan sama Bunda dan Ayah ya! Ya sudah, aku mau mandi dulu." ucap Rama sambil memberikan Nayya pada Gita


Rama dan Gita bersiap. Mereka akan mengajak bayi kecilnya jalan-jalan. Tetapi, Nakka tak akan diajak. Karena, Gita masih terlalu repot dan ingin menghabiskan waktu dengan keluarga kecilnya.


Gita memang menyayangi Nakka, tetapi beda dengan kasih sayangnya yang amat besar pada anaknya sendiri. Gita ingin menghabiskan waktu bertiga bersama Rama dan Nayya. Mungkin dengan Nakka, nanti ketika masalah Gilvan sudah selesai.


Rama dan keluarga kecilnya berangkat. Rama yang mengendari mobil, karena mereka memang ingin pergi bertiga. Tak mau ada supir atau asisten lain yang ikut.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Rama


"Aku mau ke kebun binatang aja, biar Nayya bisa merespon berbagai macam binatang dan suaranya. Habis itu, kita pergi ke spa baby!" ucap Gita

__ADS_1


"Baik, sayang!" jawab Rama


Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Rama dan Gita akhirnya telah sampai di kebun binatang.


"Nayya kita taruh di stroller aja ya?"


"Jangan, gak usah." tolak Gita


"Kenapa?" tanya Rama


"Lebih baik digendong aja, biar kedekatan antara kita dan Nayya semakin terasa. Apalagi, kita orang tua yang sibuk. Nayya sering diasuh oleh Nanny, bukan oleh orang tuanya. Gantian menggendong, gak akan pegal kok." jawab Gita


"Baiklah, sayang. Aku mengerti. Maka dari itu, aku ingin kamu di rumah saja, jangan bekerja!"


"Itu, karena aku sayang akan pendidikan ku. Aku harus mengasah ilmu ku dan menerapkannya di perusahaan kita, sayang. Tetapi, tentu saja anak adalah prioritas ku." jawab Gita


"Baiklah, aku mengerti. Kamu adalah Ibu dan Istri yang pintar. Anak kita kelak pasti akan pintar juga." jawab Rama


"Kamu bisa aja!"


Gita dan Rama membawa Nayya berkeliling kebun binatang. Sesekali, mereka berfoto bersama. Gita mengajak Nayya berbicara, dan memperkenalkan satwa-satwa yang ada di kebun binatang, sekalipun Nayya belum mengerti, tetapi menurut Gita itu bagus untuk menstimulus otaknya.


"Ternyata, ini kebahagiaan yang seutuhnya sayang." Rama tiba-tiba bersuara


"Iya, aku senang bisa seperti ini bersamamu." ucap Gita


"Aku mempunyai istri dan anak yang sama-sama cantik. Aku pun bahagia bisa melihat kalian bahagia." kata Rama


"Ini adalah awal dari rumah tangga kita. Kita memang tak tahu kedepannya akan seperti apa, tetapi aku akan sekuat hatiku untuk tetap hidup bersama mu."


"Aku yakin, rumah tangga tak akan selalu selembut sutera, terkadang dia setajam belati dan sesakit pecahan kaca. Tetapi, kita harus bisa mempertahankan rumah tangga kita setegar karang. Kita harus kuat, meskipun badai menerpa, ombak menerjang, yakinlah akan kekuatan cinta kita!" ucap Rama


"Aku sangat yakin, karena ada kamu di sampingku. Ada kamu yang menguatkan cintaku. Jangan pernah berpaling, lihatlah aku dan anakmu. Ada hati yang harus kamu jaga." ucap Gita


"Tak pernah sedikitpun menginginkan hal seperti itu. Memilikimu adalah tujuan akhir hidupku. Menyayangi anak kita adalah kebahagiaan yang seutuhnya. Menua bersamamu adalah hal yang sangat aku nantikan. Percaya padaku, cinta ini akan selalu tetap utuh untukmu." jawab Rama memegang bahu Gita


"Terima kasih, atas semua yang telah kau berikan padaku. I love you, My endless love!"

__ADS_1


"I love u too, My endless wife!"


*Bersambung*


__ADS_2