
Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya Gita telah operasi transplantasi jantung, didonorkan oleh tim forensik yang di kerahkan paman Vina, tentunya semua telah sesuai standar dan telah di beri izin oleh pihak keluarga pendonor juga.
Gilvan telah diselamatkan oleh Vina. Hati Vina kini tenang, lelaki yang hatinya tulus itu bisa melanjutkan hidupnya dengan baik. Semoga saja apa yang ia lakukan membuahkan hasil yang baik juga.
10 jam setelah operasi, tak ada perubahan pada diri Gita. Ia masih belum sadarkan diri. Rama semakin cemas, hatinya berdebar tak karuan. Ia takut operasinya tidak berjalan dengan baik dan menyebabkan penyakit Gita semakin parah. Rama tak mau hal itu terjadi. Rama terus memegang tangan Gita, berdoa untuk kesembuhan wanita yang sangat dicintainya itu.
Semua keluarga sangat khawatir, tak terkecuali Ibu Rama, ia sering menangis melihat anaknya terdiam seperti ini, menunggu keajaiban pada diri wanita yang sangat disayanginya.
Keluarga perlahan hilir mudik pergi dan kembali. Terkadang, Kakek Rama, Ayah Rama, dan Raina pun sesekali menengok keadaan Gita. Tetapi, hasilnya nihil. Gita masih tak sadarkan diri.
Ibu Gita disibukkan dengan mengurus bayi mungil yang kini menjadi cucunya, ia dibantu oleh Vina. Selama Gita di operasi, Vina yang setia membantu Ibu Gita menjaga buah hati mereka. Bayi itu sudah bisa dibawa pulang, karena pulang pergi ke Bandung sangatlah jauh, Keluarga Rama membeli rumah di Jakarta untuk sang bayi. Mereka ingin bayi itu tak jauh dari Gita dan Rama, mereka sengaja membeli rumah yang tak jauh dari Rumah sakit.
***
Siang hari itu, Gilvan datang ke Rumah sakit, melihat kondisi Gita yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Gilvan bertemu Rama. Rama mempersilahkan Gilvan menengoknya. Gilvan pun menitikkan air mata didepan Rama.
"Ram, aku telah membuat gugatan cerai untuk Gita." Ucap Gilvan
"Kenapa secepat ini?" Tanya Rama
"Kau tahu? Aku harus segera pergi ke Malaysia. Perusahaan tempat ku bekerja memanggilku kembali, mereka menginginkanku bisa bekerja lagi disana." Jelas Gilvan
"Kau harus menunggu sampai Gita sadar!" Ucap Rama
"Sudah tak ada waktu, Ram! Waktuku disini tinggal menghitung hari." Tukas Gilvan
"Kenapa harus secepat ini. Aku tahu kau amat sakit, Van! Maafkan aku!" Rama merasa bersalah
"Tidak, tidak. Aku bahagia kalian bisa seperti ini. Aku pun harus melanjutkan hidupku. Apa aku boleh melakukan satu permintaan untuk Gita?" Tanya Gilvan
"Apapun, lakukanlah. Gita masih istri SAH mu!" Rama tersenyum menepuk pundak Gilvan
"Aku ingin menciumnya. Tahukah kau? Selama aku menikah dengannya, tak pernah sedikitpun aku menyentuhnya, kecuali hanya sekedar berpelukan dan pegangan tangan." Gilvan menjelaskan
"Ciumlah istrimu, Van! Aku tidak apa-apa." Ucap Rama
Gilvan mendekat, ia mencium halus kening Gita. Mengusap-usap rambut Gita, mengelus pipinya yang selama ini tak pernah ia lakukan, memegang tangannya sepenuh hati. Tak terasa, bulir kecil jatuh dari matanya. Mengenang betapa beratnya perjuangan Gita untuk memaksakan hidup dengannya.
Maafkan aku, aku tak tahu selama ini kau memikul beban berat yang menyebabkan kau bisa seperti sekarang ini. Maafkan aku yang tak peka atas hatimu. Kini, kau ku kembalikan pada lelakimu. Orang yang akan mencintaimu dengan tulus. Orang yang pantas bersanding denganmu, yaitu Ayah kandung dari bayi yang kau lahirkan. Semoga kau cepat sadar, semoga kau bahagia bersamanya. Aku pergi ya, Git! Suatu hari nanti, semoga kita bisa bertemu lagi. Tujuh bulan hidupku bersamamu, aku sangat bahagia.
Rama melihat perlakukan Gilvan kepada Gita. Rama menyadari, Gilvan pasti sangat mencintainya. Rama merasa telah merebut Gita dari Gilvan, tapi tak bisa dipungkiri bahwa hatinya pun telah jatuh dipelukan Gita, apalagi dia telah melahirkan bayi kecil untuknya.
"Van, kau tak harus pergi!" Ucap Rama
"Tidak, Ram! Aku harus segera pergi. Maafkan aku telah mencium Gita." Gilvan tertunduk
"Tak apa, ia istrimu. Aku memakluminya." Ucap Rama
"Terimakasih. Tolong jaga Gita, semoga kau dan dia bisa bahagia selamanya." Ucap Gilvan
"Tentu, Van. Tapi, apa kau yakin tak akan menunggu Gita sadar?" Ucap Rama
__ADS_1
"Tidak, aku tak ingin hatinya goyah lagi. Tolong katakan yang sejujurnya. Aku tak mau dia melihatku pergi." Ucap Gilvan
"Baiklah, suatu saat aku akan mengunjungimu kesana." Ucap Rama
"Akan kutunggu, Ram! Kalau begitu, aku pamit ya! Terimakasih dan sampai jumpa." Gilvan berlalu dengan sedih
"Jaga dirimu baik-baik, Van!"
Gilvan keluar dengan tatapan sedih. Memang, ia sangat sedih harus meninggalkan Gita. Tetapi, untuk tetap tinggal pun sudah tak mungkin. Ada orang yang lebih berhak atas Gita. Meskipun Gilvan suami SAH nya, tetapi ia bukan ayah biologis dari bayi yang dikandungnya. Ia harus mengembalikan semuanya ke tempatnya.
Ayah Gita melihat Gilvan keluar dari ruang tempat Gita dirawat. Beliau memanggil Gilvan, Gilvan pun menoleh. Ayah Gita berlari kecil mendekati Gilvan.
"Apa kau ada waktu? Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Ucap Ayah Gita
"Tentu, Om. Apa yang akan om bicarakan?" Tanya Gilvan
"Duduklah dulu, di kursi tunggu itu." Ayah Gita menunjuk kearah kursi
"Baiklah." Gilvan berjalan dan duduk
"Gilvan, apa semua keputusanmu ini sudah bulat? Apa kau tak bisa memikirkan matang-matang lagi? Kenapa tak kau biarkan saja Gita akan memilih siapa?" Ujar Ayah Gita
"Itu tidak perlu, Om. Keputusan ku sudah bulat. Aku tak mau Gita memilih. Ia pasti tak bisa menjawabnya. Aku tahu, cintanya hanya untuk Rama, tapi ia pun tak bisa mengabaikan ku begitu saja." Jawab Gilvan
"Kau yakin dengan gugatan cerai ini?" Ayah Gita bertanya lagi
"Saya yakin. Saya akan segera kembali ke Malaysia. Perusahaan meminta saya untuk bekerja di sana kembali." Ucap Gilvan
"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Aku harap kau tak melupakanku!" Ayah Gita menepuk halus pundak Gilvan.
"Kau memang anak yang baik!" Ayah Gita tersenyum
Gilvan berlalu. Ia harus bisa menerima semua ini. Ia tak boleh goyah, keputusannya untuk berangkat ke Malaysia lagi tak bisa diganggu gugat. Secepatnya ia harus pergi sebelum Gita sadar. Kalau Gita sadar, ia pasti tak mengizinkan Gilvan pergi.
Ketika ia sedang membereskan beberapa pakaiannya, Handphone Gilvan berdering, Vina meneleponnya.
"Van, kamu dimana? Gita telah siuman. Ayo pergi kesana." Ucap Vina
"Kau dimana?" Tanya Gilvan
"Aku dirumah tempat bayi kecil menginap. Ayo kita segera kesana, Ibu Gita dan bayinya akan segera pergi!" Ucap Vina senang
"Kau tak usah pergi bersama Ibu Gita, tunggu saja disitu. Aku akan menjemputmu." Ucap Gilvan
"Baiklah, aku akan berbicara pada tante."
Gilvan lupa. Orang yang telah menyelamatkan hidupnya adalah Vina. Orang yang menangis ketika tahu Gilvan akan menjadi pendonor jantung untuk Gita adalah Vina. Gilvan harus menemui Vina, ia harus mengucapkan salam perpisahan kepada Vina.
Gilvan mengendarai motor dengan cepat. Kediaman bayi kecil itu tak jauh dari Rumah Sakit ini. Gilvan telah tiba dirumah tersebut, Vina sudah menunggu diluar.
"Ayo, kita berangkat!" Ucap Vina
__ADS_1
"Aku tak akan pergi ke Rumah sakit. Aku ingin berbicara denganmu. Naiklah!" gilvan menutup kaca helmnya.
"Eh, Kenapa?" Vina bingung
Gilvan tak menjawab. Vina segera naik motor Gilvan. Ia tak tahu Gilvan akan membawanya kemana. Entah apa yang terjadi dengan Gilvan, Vina tak mengerti sama sekali.
Gilvan membawa Vina ke sebuah taman kecil nan cantik di Ibukota ini. Gilvan mengajak Vina untuk berjalan-jalan kecil menikmati suasana sore di taman ini.
"Ada apa, Van? Kenapa kita malah kesini?" Ucap Vina
"Terimakasih kau telah menyelamatkan hidupku!" Ucap Gilvan sendu
"Kau tak perlu berterimakasih, sudah seharusnya kau hidup bahagia." Jawab Vina
"Maafkan aku, tak bisa menemani hari-harimu." Ucap Gilvan
"Maksudmu?" Tanya Vina
"Aku akan kembali ke Malaysia. Perusahaan tempatku bekerja memanggilku kembali. Aku harus segera berangkat kesana." Terang Gilvan
"Maksudmu? Kau akan benar-benar pergi lagi?" Tanya Vina
"Aku membuatmu kecewa, iya?" Tanya Gilvan halus
"Tidak! Memangnya ada urusan apa kita? Aku tak harus kecewa. Kalau kau akan pergi, pergi saja. Kenapa harus membawaku kesini?" Tanya Vina
"Kau menaruh harapan untukku, iyakan?" Tanya Gilvan
"Tidak! Tidak sama sekali. Kau jangan terlalu percaya diri. Aku hanya menolongmu. Tak mungkin kau harus mati konyol seperti itu!" Terlihat Vina sangat marah
"Aku merasa kau sangat melindungiku, aku tak bisa pergi tanpa memberitahumu terlebih dahulu. Kau sangat berjasa untukku." Jawab Gilvan
"Lebih baik kau segera pergi. Untuk apa buang-buang waktu seperti ini." Tukas Vina
"Suatu hari nanti, kita akan bertemu kembali."
"Terserah kau saja." Vina kesal
"Kau marah." Ucap Gilvan
"Tidak!" Jawab Vina
"Aku tahu." Ucap Gilvan
"Sok tahu!"
"Aku ingin pergi dulu, mengobati hatiku dengan kesibukanku. Suatu hari nanti, aku akan datang padamu. Kau tunggu saja aku!" Ucap Gilvan hangat
"Apa maksud perkataanmu itu?"
Mungkin, kau kah orangnya? Orang yang menangisiku? Aku tak akan berharap. Aku akan pergi, menjauh seperti burung terbang tinggi di langit. Aku akan kembali ketika telah membuat sangkar yang indah untukku. Tunggu saja, aku.
__ADS_1
Gilvan tak membalas perkataan Vina, ia mengecup hangat kening Vina, sambil mengelus rambutnya yang dikuncir.
*Bersambung*