
Rama akhirnya bisa keluar dari Rumah sakit. Sebelum kembali ke Bandung, Rama pulang dulu ke rumah kakek Gita, mereka makan siang bersama di sana. Rama merasakan kehangatan keluarga Gita. Keluarganya bahkan jarang sekali makan bersama seperti ini. Rama makan sangat lahap karena makanan yang dimasak Ibu Gita sangat enak.
Selesai makan Rama tak ingin dulu pulang. Ia ingin berkeliling disekitar puncak. Ia ingin jalan-jalan bersama Gita di kebun teh.
"Di puncak adem. Rasanya aku bakal betah lama-lama disini." Ucap Rama
"Iya, disini udaranya masih segar. Tidak seperti di kota yang setiap hari bergulat dengan polusi" Ujar Gita
"Entah kenapa, dimana pun aku berada kalau itu bersama kamu, aku pasti akan selalu nyaman." Ucap Rama berjalan sambil memegang tangan Gita.
"Kakak mulai lagi." Gita sedikit khawatir
"Mulai sekarang kau tak perlu takut, kita hadapi semua ini berdua. Ada aku untukmu, aku akan berusaha semampuku, sekuat tenagaku agar cinta kita bisa bersatu. Percayalah padaku." Gita menunduk
Rama menghadapkan dirinya tepat didepan Gita, ia memegang dagu manis Gita.
"Aku takut dengan ancaman keluargamu. Aku takut mereka akan berbuat sesuatu padaku." ucap Gita
"Itu tak akan terjadi, Ayah dan kakekku bukanlah orang yang akan menyelesaikan masalah dengan ancaman. Mereka pasti akan melakukan hal yang merugikanku. Tapi aku sungguh tak peduli." Rama memeluk Gita hangat
Gita tak menjawab. Hatinya berkecamuk. Ia tak tahu kedepannya ia akan bagaimana. Hatinya takut tapi ia pun ingin memperjuangkan cinta pertama dan terakhirnya.
"Git, aku belum pernah selfie sama kamu. Kita foto bareng yuk?" Ajak Rama
"Ih malu ah, aku gak pede. Aku gak cantik, aku gak dandan pula." Ucap Gita
"Gitaku, lihat aku. Kamu ini sangat cantik. Kecantikanmu tak perlu dipoles make up lagi. Kamu natural seperti ini pun sudah membuat hatiku berdebar" Rama membenarkan uraian rambut Gita.
"Kakak berbohong. Aku jelas-jelas jauh dibanding Kak Siska. Dia Cantik dan pintar berdandan." Gita membandingkan.
"Kuakui Siska memang cantik. Tapi, aku tak tertarik lagi dengannya. Dan asal kau tahu, aku lebih menyukai wanita natural sepertimu. Wanita yang polos tak memakai make up berlebihan. Itu jelas lebih cantik menurutku." Rama tersenyum
"Kau benar-benar tak menyukai kak Siska lagi?" Tanya Gita gugup
"Semenjak ada kamu, aku tak menyukainya lagi. Sebenarnya ketika aku tahu Siska suka bermain lelaki, dari dulu aku sudah ingin menyudahi hubungan ini, tapi aku tak punya keberanian. Ketika dirimu hadir, keberanian itu muncul dan aku merasa kuat. Karena hadirnya dirimu memiliki peran penting dalam hidupku." Ucap Rama
"Terimakasih kau telah mempercayaiku untuk menguatkanmu." Gita tersenyum
"Aku yang harusnya berterima kasih. Terimakasih kau telah hadir didalam hidupku. Memberiku kekuatan yang tak terkira."
Mereka berjalan menikmati keindahan puncak di sore hari. Setelah puas menikmati keindahan kebun teh yang menjulang tersebut, Gita dan Rama pergi ke toko accesories terdekat. Rama ingin membelikan Gita sesuatu.
"Kau mau apa? Belilah sesuka hatimu" Rama mempersilahkan.
"Aku ingin tas unik itu. Tas yang terbuat dari tempurung kelapa. Terlihat elegant dan sangat cantik."
"Sepertimu" Jawab Rama
"Kak Ramaaaa, selalu sajaaa.." Gita tersipu
"Kau mau apalagi?" Tanya Rama
__ADS_1
"Sudah, hanya itu saja." Gita tak neko-neko
"Yasudah, kau tunggu disini. Aku ingin melihat-lihat dulu" Rama beranjak pergi
Rama melihat gelang cantik dengan berbagai inisial alphabet. Ia membeli dua gelang itu dengan inisial G dan R yang artinya Gita dan Rama. Gita tak tahu Rama membeli gelang tersebut. Rama akan memberi kejutan untuknya sebelum pulang ke Bandung.
"Git, kita kan tadi blom foto bareng. Ayok foto dulu" Rama mengeluarkan handphonenya.
Cekkrekkk..cekrekk. Mereka berfoto bersama. Layaknya sepasang kekasih, mereka terlihat mesra.
"Udah dong kak, banyak-banyak amat." Protes Gita
"Gak apa-apa. Biar kalo lagi kesepian aku bisa liat foto kita." Rama gombal
Tak terasa waktu sudah sore. Rama akan segera pulang ke Bandung.
"Git, aku boleh pinjam tanganmu tidak?" Tanya Rama
"Untuk?" Gita heran
"Pinjam sebentar, sini tanganmu" Rama meraih tangan Gita
Rama mengeluarkan gelang yang tadi ia beli. Memasangkannya di tangan kanan Gita dengan inisial huruf R, yang berarti Rama.
"Mungkin ini terkesan alay, seperti ABG-ABG labil yang baru mulai berpacaran. Tapi, aku melihat gelang ini sangat indah. Aku ingin memberimu gelang ini. Tolong, jangan kau lepas sampai kapanpun. Anggaplah ini tanda cinta kita. Kau memakai inisialku, dan aku memakai inisialmu." Rama tersenyum
"Kau tak perlu membuatku tersanjung seperti ini kak." Gita senang
"Kau tak perlu menghabiskan uangmu hanya untuk membeli hal yang tak perlu kak. Lagi pula, siapa bilang ini tak berharga? Ini jelas berharga dan sangat berarti dimataku. Terimakasih kak" Gita menatap Rama.
"Baiklah kalau begitu, jaga gelang itu baik-baik ya. Anggap saja hatiku ada didalam gelang itu. Aku pamit dulu ya Git." Rama tersenyum
"Baik kak. Hati-hati dijalan ya. Akupun akan pulang ke Bandung besok." Gita melambaikan tangannya.
Rama sudah menaiki mobilnya. Ia segera pergi menuju rumahnya. Ia harus segera membereskan masalah ini. Rama sudah tak ingin terikat dalam hubungannya dengan Siska.
3 jam perjalanan dari Bogor ke Bandung. Akhirnya Rama telah sampai dirumahnya. Pelayan dan asisten disana menyambut baik kedatangan Rama.
Didalam rumah, Kakek, Ayah, Ibu dan Raina sudah duduk di meja makan. Mereka menyuruh Rama untuk duduk.
"Kemana saja kau dua hari ini? Mengapa tak memberi kabar padaku?" Papi Rama kesal
"Untuk apa aku memberi kalian kabar, kalian pun tak memberi tahu aku perihal hal gila kemarin" Rama marah
"Rama, bersikaplah sopan pada Papimu" Maya mengingatkan
"Rama, apa yang membuatmu berubah pikiran seperti ini?" Kakek menengahi.
"Memangnya apa yang kalian tidak tahu? Sehingga harus berpura-pura bertanya seperti itu. Aku hanya ingin bilang, aku tak ingin melanjutkan perjodohan ini. Aku kecewa kalian semua mengumumkan pernikahan itu tanpa sepengetahuanku! Aku tahu, kalian melakukan itu karena tahu aku sedang dekat dengan Gita. Kalian pikir aku akan tertipu? Sudahlah, jangan memaksa aku harus bersama Siska. Kalian tahu kan Siska sudah beberapa kali melakukan kesalahan? Kenapa kalian diam saja seolah tak ada apapun yang terjadi.
"Ini semua demi kebaikanmu. Keluarga Priambodo sudah dekat denganku sejak dulu kala. Aku harus menjodohkan mu, itu sesuai janjiku dulu dengan kakek Siska" Kakek bersikeras
__ADS_1
"Kalau demi kebaikanku, tolong jodohkan aku dengan Gita. Anggita Nindya." Tegas Rama
"Siapa wanita itu? Orang yang telah menghancurkan hubunganmu dengan Siska begitu?" Ucap kakek
"Asal kakek tahu, Siska yang lebih dulu menghancurkan hubungan ini. Dia berselingkuh dan sering tidur dengan laki-laki. Kau tau bulan kemarin kemana dia pergi? Dia pergi ke Swiss. Disana dia mengencani lelaki bule dan memanfaatkan uang mereka. Apa kau tak tahu hal ini?" Rama tegas
"Tutup mulutmu Rama! Wanita itu keturunan Priambodo. Tak mungkin melakukan hal keji seperti itu!" Bentak Kakek Rama
"Baiklah, mari buat perjanjian denganku." Rama menantang kakeknya
"Maksudmu?" Kakek tak mengerti
"Kau batalkan pernikahan ini. Kakek bisa beri aku waktu 2 bulan untuk membuktikan kelakuan buruk Siska, kalau dalam waktu 2bulan aku tak menemukan buktinya, Aku pasrah. Kakek bisa menjodohkanku dengannya!" Tantang Rama
"Menurutmu begitu? Seyakin itukah dirimu nak? Baiklah kalau itu maumu." Kakek menuruti
Rama paham betul sifat kakeknya. Dia sudah tak peduli apapun. Yang jelas hatinya sangat ingin menyudahi pertunangan ini. Bagaimana pun caranya. Rama merebahkan dirinya di kasur empuknya, dan melihat-lihat foto tadi bersamanya.
Tak lama kemudian Siska meneleponnya. Nama kontaknya pun sudah Rama ganti "Siska Gavanny Calling"
"Kamu kemana aja sih? Kok gak ada kabarin aku" Siska bete
"Kamu bilang 3 bulan di Eropa. Kenapa baru 1 bulan udah balik lagi?" tanya Rama
"Karena kakek mu meminta aku mempercepat pernikahan kita. Jadi aku pulang saja." Jawab Siska
"Kau pikir aku akan menikahi mu?" Rama terlihat marah
"Apa maksudmu?" Siska tak mengerti.
"Kau mungkin saja bisa membodohi keluargaku, tapi kau tak bisa membodohi ku. Aku terlalu pintar untuk kau bodohi." Rama menyeringai
"Kamu ini kenapa sih? Apa kabar yang beredar itu benar? Kau sedang dekat dengan bawahan mu di kantor, hah?" Siska kesal.
"Betul. Aku sedang dekat dengan seseorang. Dan aku mencintai orang itu. Dialah yang akan menjadi istriku. Bukan dirimu. Sudah muak aku tahu mengenai dirimu. Jangan kau kira aku tak memata-mataimu ya Sis!!!" Rama membentak Siska.
What? Apa selama ini Rama tahu? Tidak mungkin. Harus bagaimana aku kalau Rama mengetahui keburukan ku? Aku jadi khawatir. Mengapa Rama bisa mengetahuinya?
"Kau keterlaluan Rama! Kau fitnah aku, beraninya kau mengatai ku seperti itu hah! Dulu aku memang pernah berselingkuh. Tapi sekarang cintaku tulus padamu. Apa kau berubah begini karena wanita itu HAH? Akan kucari siapa wanita sialan itu dan aku pastikan akan membuatnya hancur. Tak ada yang bisa merebut mu dariku, CAMKAN ITU!!!" Siska berapi-api.
"Coba saja kalau bisa. Sebentar lagi aku akan membawa bukti itu dihadapan keluargaku. Dan, kau akan tamat Siska!!!" Peringatan Rama.
Tuttt..tutt..tuttt..
Siska mematikan sambungan telepon dengan Rama. Rama tersenyum menang. Selama ini, ia tak sebodoh dikiranya. Rama memata-matai Siska. Rama memiliki orang suruhan yang ditugaskan untuk memata-matai Siska, kemanapun dia pergi. Sayangnya, cintanya pada Gita, benar-benar ingin perjuangan Rama sendiri, ia tak ingin ada campur tangan orang lain yang akan membantu hubungannya dengan Gita. Rama ingin bekerja keras sendiri.
Rama merindukan Gita, tapi ini sudah larut. Ia ingin menelepon Gita tapi takut mengganggunya. Rama melihat foto mereka berdua di Puncak tadi sore. Fotonya sangat indah, diiringi senyum Gita yang menawan membuat Rama bahagia. Rama sangat mencinta Gita, meskipun kedekatan mereka baru-baru ini terjadi.
Semoga semua rencanaku akan berjalan dengan baik. Semoga tak ada halangan apapun. Semoga kau adalah mahluk yang dikirim Tuhan untukku. Aku tak sabar ingin melihat akhir dari kisah kita. Semoga semua nya berjalan dengan baik. Aku tak sabar menantikan kisah itu, peri cintaku. Kumohon kau bersabar dan tunggulah lagi. Perjuangan kita sedang dimulai. -Rama dalam hati-
*Bersambung**
__ADS_1