Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Aku akan mencobanya!


__ADS_3

Pagi ini, tak seperti biasanya. Raina sangat canggung sekali. Ini semua karena kebodohannya semalam. Raina kira, Fadli akan pulang jam 9 malam. Ternyata, jam 8 pun Fadli sudah berada di rumah.


Raina kegerahan, makanya ia memutuskan untuk mandi malam-malam. Tak disangka, Fadli sudah berada di dalam kamarnya, dan hal gila itu pun terjadi.


Semalam, Fadli sadar, kelakuannya membuat Raina gugup. Fadli memutuskan untuk pindah dari kamarnya


Fadli dan Raina telah sama-sama siap untuk turun dari kamarnya, dan akan sarapan bersama keluarga besarnya. Ini akan menjadi sarapan terakhir untuk mereka disini, karena esok lusa Mami dan Papi Raina akan terbang ke Moskow, untuk menetap di sana.


"Raina," sapa Fadli.


"Apa?"


"Ini untukmu." Fadli memberikan boneka beruang berwarna pink yang cantik.


"Tumben kamu!" Raina mendelik.


"Sebagai permintaan maaf ku padamu, karena kemarin aku mengabaikan panggilan mu." ucap Fadli.


"Oh, ya ampun! Aku jadi lupa kan! IYA! Aku marah sama kamu! Kenapa kamu gak angkat telepon dari aku, HAH? Aku nungguin kamu angkat teleponnya, tapi kamu malah ngebiarin aku, kebangetan kamu Fad!" Raina jadi teringat lagi.


Haduh! Kenapa jadi diingatkan sih? Padahal, dia sudah lupa, kenapa aku harus mengingatkannya? Dasar Fadli bodoh, bodoh, bodoh! Batin Fadli.


"Maaf, Raina. Aku tak memegang handphone. Aku benar-benar sibuk. Handphone-ku aku taruh di tas, dan aku silent. Maaf, emangnya kemarin kamu nelepon ada apa?" tanya Fadli.


"Aku awalnya minta dijemput! Tapi, gak ada respon. Ya sudah, aku pulang sendiri. Terus, aku pengen kamu bawain ayam geprek dari restonya Kak Gilvan, tapi kamu gak angkat juga! Kan nyebelin banget kamu jadi orang. Huh!" Raina menggerutu.


"Maaf ya maaf, Raina. Aku bener-bener gak tahu. Nanti malam aku bawain deh ayam geprek nya. Oke? Jangan marah lagi ya?" bujuk Fadli.


"Aku pengennya kemaren malem! Bukan sekarang! Bye." Raina meninggalkan Fadli sendirian.


"Rain, Raina. Tunggu."


Kenapa dia malah marah-marah lagi sih? Aku bener-bener gak ngerti apa kemauannya. Aku pusing, dia terlalu pemarah. Aku jadi curiga, dia terus-terusan menelepon, apa karena iseng ya? Apa karena dia memang ingin berbicara padaku? Kasarnya, apa dia merindukan aku? Haduh, Fadli. Ngomong apa sih! Gumam Fadli dalam hati.


Fadli mengikuti Raina turun ke bawah. Mereka akan sarapan bersama Mami dan Papinya. Raina terlihat kesal lagi, dan selalu saja begini. Fadli harus saja selalu mengerti keinginan Raina.


Papi dan Maminya, juga Rama dan Gita telah berada di meja makan. Mereka semua menunggu Fadli dan Raina yang baru turun. Fadli dan Raina segera bergabung dengan keluarganya.


"Lama banget si Rai. Kamu ngapain dulu sama Fadli?" tanya Rama.


"Eh, Kakak apaan sih! Gak ngapa-ngapain kok, aku kan baru beres, makanya baru turun!" jawab Raina.


"Rai, nanti malem kita makan malam bersama di restoran ya, Mami dan Papi itung-itung perpisahan sama kalian, karena besok kita harus segera terbang ke Moskow." ucap Mami Maya.


"Mi, kenapa secepat itu? Aku masih kangen Mami sama Papi, aku gak bisa jauh dari kalian. Aku pasti kesepian, Mi." Raina cemberut.

__ADS_1


"Lho, kenapa harus kesepian? Kan sekarang ada Fadli, suami kamu. Makanya Papi menyuruh kamu menikah secepatnya dengan Fadli, agar kamu ada yang menemani." tambah Papi Angga.


"Aish, Papi! Aku gak mau ditemenin dia. Dia nyebelin. Mi, Pi, sebentar lagi kan aku wisuda, masa kalian tega sih?" Raina terus memohon.


"Sayang, semua yang atur dan urus kakak kamu. Kamu bisa minta tolong pada Kak Gita, dia yang akan membantu kamu. Dia kan pengalaman juga, ya sayang? Anggap Kak Gita sebagai pengganti Mami untuk sementara. Kamu udah besar, gak boleh manja gitu, Rai. Apa kamu gak malu, sama suami kamu?" goda Mami.


"Iya, Rai. Biar aku yang bantu kamu menyelesaikan semuanya. Kamu gak usah khawatir, kan ada Kakak. Kakak pasti bantu kamu, kok. Kakak juga akan resign dari kerjaan, karena Nayya dan Nakka kan sudah sekolah. Jadi, Kakak pasti akan selalu di rumah." ucap Gita.


"Janji ya Kak Gita? Aku gak mau kehilangan sosok Mami, aku bener-bener kesepian nantinya."


"Ya sayang, kamu nanti sama suamimu datang saja ke Moskow, itung-itung kalian juga bulan madu. Ya nggak, Mi?" goda Papi Angga.


"Idih, Papi. Apaan sih! Aku malas, ngapain bulan madu bulan madu segala! Ogah deh. Udah ah, aku laper." Raina kesal.


"Fad, dia itu gengsi, kamu sabar ya! Raina itu cinta sama kamu, cuma dia emang kebangetan sih gengsinya. Pepet aja terus, buat dia bucin sama kamu, biar tau rasa tuh Raina." umpat Rama.


"Eh, i-iya Kak." Fadli gugup.


"KAK RAMA! APAAN SIH! Sembarangan aja kalau ngomong!" Raina tak terima.


"Mas, jangan gitu. Kamu seneng banget sih isengin adik kamu." ucap Gita.


"Ram, sudah. Ayo, kita sarapan dulu." ucap Papi.


Akhirnya mereka semua sarapan bersama. Raina menahan rasa kesal saat sarapan. Ia benar-benar tak terima Kakaknya berkata seperti itu. Raina tak mengerti, kenapa Rama senang sekali menggodanya.


Apa mungkin karena kehadiran Fadli? Raina jadi tak terlalu sakit hati pada kebusukan yang dilakukan Audrey dan Bayu. Fadli membuat hati Raina sedikit tenang karena kehadirannya.


Seperti biasa, Fadli mengantar Raina pergi ke kampus, sebelum Fadli bekerja. Raina terlihat cuek ketika didalam mobil. Raina masih kesal pada Fadli.


"Rai, kok dingin lagi sih? Aku buat salah apalagi sama kamu?" tanya Fadli ketika mereka sampai didepan kampus.


"Enggak. Diem deh kamu, berisik. Udah, aku mau berangkat sekarang."


Fadli terdiam. Ia bingung, harus bagaimana lagi mengatasi sifat kekanak-kanakan Raina. Fadli membiarkan Raina. Ia sudah tak mau berdebat lagi dengan Raina. Semakin Fadli menanggapi Raina, semakin Raina menjadi-jadi.


Raina kesal, Fadli tak menahannya seperti biasa. Justru, Raina ingin Fadli menahannya. Tapi, Fadli malah dia saja. Itu membuat Raina tambah kesal. Akhirnya, Raina mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil. Raina menghela nafas penuh amarah.


"Arrgghh! Dasar kamu laki-laki gak peka!!!" umpat Raina.


Fadli tak mengerti, kenapa lagi gadis manja ini, pikir Fadli.


"Gak peka gimana, Raina? Aku harus gimana sih, biar kamu gak marah-marah lagi sama aku?" Fadli menghela nafas.


"Kenapa kamu gak nahan aku lagi hah? Biasanya kan kamu nahan aku, kenapa sekarang enggak!!!" Raina jujur.

__ADS_1


Ya ampun, gadis manja ini ternyata ingin aku pegang lagi tangannya rupanya. Maafkan aku yang tak peka, Rain. Aku kesal, karena kamu terus saja marah-marah padaku, jadi baiknya aku biarkan saja kamu. Ternyata, marah mu itu karena ingin aku perhatikan ya? Apa benar kata Kakakmu, bahwa kamu memang mencintai aku? Gumam Fadli.


"Ya ampun, Raina. Maafkan aku, aku tak menahan mu. Aku bingung, harus bagaimana lagi. Maafkan aku."


Raina diam tak menjawab. Ia bingung dengan perasaannya saat ini. Fadi dengan lembut meraih tangan Raina lagi. Ia mengusap-usap lembut tagan Raina. Raina kaget, namun hatinya benar-benar berdebar ketika tangan Fadli mengusap lembut tangannya.


"Maafkan aku, Raina. Aku tak bisa memahami kamu. Aku tahu, sifat ku memang selalu membuatmu marah. Untuk itu, jika kamu menginginkan sesuatu, katakan padaku, agar aku mengerti dan memahaminya. Kamu tak harus malu padaku, karena aku ini suamimu. Kumohon, hilangkan gengsi itu. Aku akan mencoba menjadi laki-laki sesuai keinginanmu."


Fadli mengecup lembut tangan Raina. Ia benar-benar larut dalam perasaan hangat. Ia mencoba meluluhkan hatinya pada wanita didepannya ini. Benar saja, daya tarik Raina telah menghantui pikiran Fadli. Fadli mencium tangan lembut Raina, sehingga Raina kaget.


"Aku hanya mencium tanganmu. Aku tak melakukan hal lain, selain pada tanganmu. Sejujurnya, disaat-saat seperti ini, jika didalam film-film atau cerita di novel, si laki-laki selalu mencium dan mengecup bibir sang wanita, dan mereka larut dalam kemesraan. Tapi, aku tak berani melakukan itu, aku takut kamu malah tambah marah lagi padaku. Padahal, ciuman adalah salah satu obat mujarab agar sang wanita tak marah-marah lagi." ucap Fadli.


"Memangnya kamu berani?" Raina merendahkan.


"Berani mencium mu?" tanya Fadli.


"Iya! Pasti kamu gak berani."


"Kalau kamu mengizinkan, aku akan mencium mu!" ucap Fadli membuat mata Raina melotot.


"HEH! Berani banget kamu! Jangan seenaknya ya." Raina sedikit takut.


"Aku tahu, sepertinya kamu mulai tertarik padaku. Baiklah, aku juga akan mencobanya. Aku akan mencoba menjalani hubungan ini dengan baik. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu, jika kamu menginginkannya. Bahkan, jika ciuman akan membuat hatimu luluh, aku akan melakukannya sekarang.." ucap Fadli


Raina salah tingkah. Ia antara siap dan tak siap dengan ucapan Fadli. Entah kenapa, wajahnya memerah, dan tangannya bergetar. Raina sangat gugup, ia benar-benar sudah tak tahan lagi satu mobil dengan Fadli.


"Cukup. Aku keluar sekarang. Lama-lama didalam mobil denganmu, membuat aku gerah! Bye! Assalamualaikum."


Tanpa ingin mendengar jawaban dari Fadli, Raina keluar dari mobilnya. Fadli hanya tersenyum serasa menjawab salah dari Raina.


Rain, Raina-ku. Rasanya, aku mulai tertarik juga padamu. Aku akan melupakan perjanjian kita, dan aku akan mencoba mencintai kamu. Ternyata, kamu wanita yang baik dan manis. Aku salah menilai mu. Aku tahu, cinta takkan mudah datang untuk kita. Namun, jika kita tak mencobanya, sampai kapan cinta akan hinggap dan hadir pada diri kita? Akan ku buat kamu jatuh hati padaku. Perlahan tapi pasti, kamu akan mencintai aku.


*Bersambung*


Budayakan LIKE setelah membaca


Budayakan KOMENTAR setelah membaca


Berikan VOTE jika ingin mendukung dan menyukai cerita ini.


Terima kasih, salam sayang buat kalian semua 😍


Yang belum gabung grup chat, gabung yuk.. Klik aja profil aku, nanti ada chat dengan author,😊


Yang belum baca juga cerita terjerat cinta sang pembantu, baca juga ya, hehe

__ADS_1


Makasih semuanya yang udah selalu setia. Di akhir cerita nanti, yang memberikan vote terbanyak dan komentar terbaik, akan aku berikan hadiah. 😍


Semoga ada yang beruntung ya...


__ADS_2