
-Rumah resepsi pernikahan Gita-
Pukul 10.00 (GMT+8) Malaysia
Semua keluarga Gita dan keluarga besan sudah berkumpul di kediaman Gita, mereka bersiap menjadi saksi acara pernikahan Gita dan Gilvan. Gita sedang berada kamarnya, Ia sedang di make up oleh seorang WO ternama di kota itu.
Perasaan Gita tak karuan, Gita takut dan sedih menghadapi pernikahannya ini. Entah mengapa tak ada perasaan bahagia sedikitpun hinggap dihatinya.
Gilvan sudah siap, dia duduk dengan perasaan canggung dihatinya. Sebenarnya, dia berharap Hafiza yang akan menjadi istrinya, ia sangat mencintai Hafiza, tetapi takdir berkata lain, Hafiza pergi meninggalkan dirinya begitu saja.
Gita telah selesai dirias, lalu ia keluar kamar dengan anggunnya. Semua mata terpana dengan kecantikan Gita, dia sungguh menawan, dia membuat iri wanita yang ada dirumah tersebut.
Gita dan Gilvan duduk bersanding didepan penghulu dan juga ayahnya. Mereka semua sudah siap, dan Ijab Qabul pun akan segera dimulai.
"Baiklah, sebelum Ijab Qabul ini dimulai, mari kita ucapkan Bismillahirrahmanirrahim" Ucap penghulu tersebut.
"Bismillahirrahmanirrahim" Jawab semua yang ada diruangan tersebut
"Saya nikahkan engkau (Gilvan Ardian) bin (Dani Ardian) dengan (Anggita Nindya) binti (Ridwan Susanto) dengan mas kawin (Emas 24 karat sebesar 20gram) dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya (Anggita Nindya binti Ridwan Susanto) dengan mas kawinβ¦.. (Emas 24 karat sebesar 20gram) dibayar tunai."
"SAH? SAH?" Tanya penghulu
"SAAAAAAAAHHHHHHHHHH" Ucap semua orang
"Alhamdulillaaaaaaah" Semua berdoa dengan khusyuk.
Akhirnya, Gita dan Gilvan telah resmi menikah. Itu berarti hari ini, detik ini juga mereka telah SAH menjadi pasangan suami istri. Gita salam kepada Gilvan, dan Gilvan kemudian mencium kening Gita dengan lembut. Sungguh romantis.
"Ciyeeeeeeeeeeee" Ucap semua orang
Mereka menikmati hidangan yang telah disediakan. Karena ini di Malaysia, menu makanan mereka pun banyak yang berasal dari sini. Semua tamu undangan terlihat bahagia sekali. Tak terkecuali Gita dan Gilvan yabg sedang duduk diatas pelaminan.
Vina yang tak mau mengganggu Gita dan Gilvan memutuskan untuk mencari udara segar dahulu. Vina akan menikmati keindahan Kota Johor dimalam hari, sebelum esok pagi ia harus pulang ke Indonesia.
"Akhirnya, kamu jadi istriku juga!" Ucap Gilvan senang
"Iya, Van! Aku juga lega sekarang" Gita menguatkan hatinya
"Kok manggil 'Van' sih?" Tanya Gilvan
"Eh, terus manggil apa dong?" Gita bingung
"Manggil Mas aja, aku sekarang suamimu loh! Heheheee" Gilvan tersenyum
"Aku belum terbiasa, Van! Maafkan aku" Gita merasa bersalah
"Tidak apa-apa Git, aku hanya bercanda. Apapun itu panggilanmu padaku, aku akan tetap bahagia sayang!" Ucap Gilvan tulus
__ADS_1
Acara demi acara telah dilewati, keluarga Gilvan telah kembali pulang, tamu undangan hilir mudik datang dan pergi. Gita dan Gilvan sudah merasa lelah sekali.
Resepsi pernikahan pun telah selesai dilakukan. Gita dan Gilvan telah mengganti pakaiannya masing-masing. Mereka kemudian beristirahat, karena duduk di pelaminan seharian membuat mereka benar-benar lelah. Gilvan duduk dikasur bersama Gita.
"Gita, aku bahagia sekali, bisa hidup berdua bersamamu!" Ucap Gilvan
"Aku juga bahagia sekali, Van! Maafkan atas sikapku kemarin-kemarin" Ucap Gita tunduk
"Memangnya kemarin kenapa?" Tanya Gilvan
"Aku selalu membandingkan dirimu dengan Rama, aku sadar kalau aku tak boleh mengingatnya, aku harus mencintaimu seutuhnya." Ucap Gita
"Terimakasih, kau telah mempertimbangkanku!" Ucap Gilvan senang
"Iya, Van. Tapi, maaf sekali. Aku belum siap untuk......." Ucapan Gita terpotong
"Kau tak perlu melakukannya. Kau tak harus melakukan itu. Kasihan bayi kecilmu!" Ucap Gilvan
"Terimakasih kau telah mengerti aku!" Gita tersenyum
"Cukup kau bahagia hidup denganku saja. Aku sudah sangat bahagia" Ucap Gilvan hangat.
"Perlahan tapi pasti, aku akan mencintaimu!" Ucao Gita
"Terimakasih! Tapi, apa aku boleh tidur satu ranjang denganmu? Dikamar ini tak ada sofa yang bisa aku tiduri. Maafkan aku, Git.. Bukan maksudku untuk berbuat yang tidak-tidak!" Ucap Gilvan
"Kau tak merasa keberatan?" Tanya Gilvan ragu.
"Tidak, kau suamiku. Aku harus tidur bersamamu setiap malam." Ucap Gita jujur
"Apa kau melakukan ini karena terpaksa?" Tanya Gilvan
"Tidak, sayang. Aku bersungguh-sungguh dengan perkataanmu. Kemarilah! Kau pasti lelah seharian ini, ayo kita tidur!" Ajak Gita
"Kau serius?" Tanya Gilvan lagi
"Aku serius, tidurlah disampingku, Mas!" Gita lembut
Semoga saja hatiku bisa mengerti, aku harus mencintai suamiku! Dia adalah suamiku saat ini, ayah dari bayi yang aku kandung. Maafkan aku Kak Rama, ini jalan yang aku pilih. Semoga kau mengerti, suatu saat nanti.. Aku yakin, kita pasti bertemu! Tetapi, kau tak akan mengenali anakmu! Aku takut kau akan membunuhku kalau ternyata kau tahu aku menyembunyikan anakmu! Aku melakukan ini semua demi kita, walaupun pada akhirnya anak kita yang harus menjadi korban. Semoga saja, dengan aku hidup bersama Gilvan, dia bisa menyayangi bayiku setulus hati, agar kak Rama tak tahu sampai kapanpun ini adalah darah dagingnya. -Gita dalam hati-
Gilvan orang yang baik, Gita mulai merasa nyaman tinggal bersama Gilvan. Mungkinkah Gilvan akan menjadi kekasih terakhir dalam hidup Gita? Gita tak mau berangan-angan lagi. Ia hanya akan melanjutkan hidupnya seperti biasa, tetapi dengan status yang baru sebagai istri dari Gilvan Ardian. Gita merenung cukup lama, tanpa disadari Gilvan telah tertidur pulas. Mereka terlihat lelah sekali, Gita pun mencoba menutup matanya.
***
-Legoland, Malaysia-
ma
"Seneng kamu?" Tanya Rama pada Raina
__ADS_1
"Seneng banget, kak! Terimakasih ya!" Ucap Raina
"Bos, tak ada tanda-tanda Vina disini!!β Ucap Dimas
" Biarkanlah, kita mikmati dulu liburan kita! Setelah pulang dari sini, kita harus desak Vina segera!" Perintah Rama
"Siap, Bos!" Ucap Intan dan Dimas bersamaan
Setelah puas bermain di Legoland, mereka melajukan mobilnya ke sebuah restoran di Johor bahru. Mereka mencari-cari di internet restoran yang enak dan tempatnya indah. Akhirnya mereka menemukan restoran yang nyaman. Mereka makan malam bersama disebuah restoran dengan memesan menu makanan khas Malaysia.
Disisi lain, ternyata Vina pun masuk ke restoran yang sama dengan Rama dan Dimas. Rama dan Dimas belum menyadari keberadaan Vina di kursi tamu paling belakang.
Vina terlihat sedang memotret cantik dirinya dengan handphone miliknya. Sambil menunggu pesanan datang, ia terlihat sesekali melakukan video call dengan teman-temannya.
Pandangan Intan tertuju pada Vina yang sedang memotret dirinya sendiri. Intan melihat dengan pandangan kurang suka, seperti ada rasa iri dalam dirinya melihat kecantikan Vina yang dipamerkan lewat handphonenya. Intan mengabaikan Vina ketika makanan mereka sudah tiba.
Rama, dan yang lainnya menikmati makanan yang dihidangkan restoran mewah itu. Mereka tak tanggung-tanggung memesan makanan, apapun semua mereka pesan, karena jelas yang membayar tagihannya pasti Rama, mereka tak peduli berapa uang yang telah Rama keluarkan, mereka hanya senang bisa menikmati liburan dengan gratis.
Ketika selesai makan, Dimas beranjak pergi sebentar pergi ke kamar kecil. Ia ingin mencuci tangan dan mukanya. Dinas segera membasuh mukanya, karena tak mau teman-temannya menunggu lama. Setelah Dimas kembali dari kamar kecil, ketika ia berjalan menuju kursi teman-temannya, Dinas merasa melihat sosok Vina yang sedang memainkan handphonenya. Dimas tak percaya, mengucek matanya berkali-kali, dilihatnya lagi dan ternyata benar! Itu memang Vina. Dimas segera menuju tempat duduknya, ia segera membicarakannya pada Rama, dan selalu melihat kearah Vina, agar ia tak kecolongan oleh jejaknya Vina.
"Ram, Ram! Dewi fortuna ada di pihak kita! Cepetan kita ikutin dia! Itu si Vina!" Dimas dengan ekspresi kaget
"HAH? Mana mana? Bener lo liat dia?" Tanya Rama
"Bener! Tuh dia orangnya yang duduk dipaling belakang! Apa sekarang kita temuin dia aja? Lebih cepat lebih baik, Ram!" Ujar Dimas
"Tetap awasi gerak-geriknya. Jangan sampai menemuinya ditempat ramai seperti ini. Dia bisa kaget dan berteriak. Kita ikuti dia, kalau dia lewat ke tempat sepi, baru kita tangkap dia, jangan sampai lolos!" Perintah Rama
"Siap, Ram!" Ucap Dimas
Raina dan Vina hanya bengong saja melihat aksi dua lelaki itu. Tetapi, mereka bersyukur bisa menemukan Vina disini. Perjalanan mereka ternyata tak sia-sia.
Cewek itu si Vina? Cewek yang centil, yang dari tadi gue perhatiin! Pecicilan banget! Oh, Vina itu dia ternyata! -Ucap Intan dalam hati-
Vina telah selesai makan. Dia memutuskan untuk pulang kembali kerumah Gita, karena waktu sudah malam. Ia berjalan keluar restoran dengan santai, menuju ujung restoran yang terlihat sepi, tetapi dia biasa saja, tak merasa takut sedikitpun. Tanpa Vina sadar, Rama dan kawan-kawannya sudah menyergapnya. Rama mengangetkan Vina. Terlihat dari ekspresi Vina yang berlebihan itu.
"Ka..kalian, ngapain ada disini?" Tanya Vina kaget
"Lo jangan mencoba kabur ataupun melarikan diri. Gue pegang pistol, kalau sampai lo melarikan diri, jangan salahkan gue kalau peluru bakal masuk ke tubuh lo!" Ancam Rama
Vina sangat ketakutan, ia tak menyangka Rama bisa ada disini. Ini benar-benar seperti mimpi buruk yang menghantui Vina. Tetapi, kalau Vina gugup, dia akan ketahuan, ia harus bersikap senatural mungkin.
"Dimana Gita? Lo jangan bilang Gak tahu, Vin! Lo pasti tahu dimana Gita berada!" Ucap Dimas
"Lo harus jujur sama gue, kalau enggak hidup lu gak bakal selamat!" Rama terus mengancam Vina
*Bersambung*
Maaf yaaaa author cabik-cabik hati kalian. Semoga kalian bisa menerima Gilvan dahulu. semoga kalian tetap sabar menanti pertemuan Gita dan Rama. ππ€ Author juga gak sabar, tapi semua harus ada alurnya. hehe, jangan kecewa ya sayang-sayangku π€π€π€
__ADS_1