Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Ketahuan


__ADS_3

Gilvan menepati janjinya untuk mengantar Vina dan Givia sampai di rumahnya. Vina menyuruh Gilvan untuk masuk kedalam rumahnya, namun Gilvan menolaknya. Ia hanya ingin mengantar sampai depan gerbang saja. Gilvan tak enak dan masih belum siap jika harus bertemu kedua orang tua Vina.


"Givi, salam dulu sama Ayah."


Givia menyalami Gilvan. Gilvan memeluk dan mencium Givia dengan lembut.


"Ayah gak mau masuk?" tanya anak polos itu


"Tidak, Givi. Restoran ayah bagaimana kalau Ayah disini. Lain kali saja ya?" ucap Gilvan


"Ya sudah, Givi masuk dulu ya Ayah. Dadaaah." Givia melambaikan tangannya pada Gilvan


"Iya sayang, jangan lupa makan dan sholat, juga tidurnya jangan terlalu malam ya."


"Tentu, Ayah." Givia berlalu


Vina canggung, ada perasaan tak enak jika Gilvan harus pergi meninggalkan rumahnya. Jika saja semuanya berjalan dengan mulus, mungkin saja Vina dan Gilvan sudah terikat dengan ikatan pernikahan.


"Van, kenapa gak masuk dulu aja,"


"Gak usah, Vin. Oh iya, ada yang mau aku tanyakan sama kamu."


"Apa Van?" tanya Vina


"Gimana kamu sama Andra sekarang?" tanya Gilvan


Vina terdiam. Ia bingung harus berkata apa pada Gilvan. Andra tak mau putus dengannya, Andra juga mengancam Vina, akan terus mengganggunya. Bagaimana ini? Apa Vina harus jujur pada Gilvan? Tapi Vina takut kalau kejadiannya akan menjadi semakin runyam jika ia jujur pada Gilvan.


"Andra belum memutuskan. Dia berat meninggalkan aku." jawab Vina


"Dia memang keras kepala. Kamu harus hati-hati, yang aku katakan tentang Andra bersama wanita itu benar adanya, Vin. Semoga kamu percaya padaku." ucap Gilvan


"Aku percaya padamu, tapi aku tak punya bukti. Semoga secepatnya urusanku dengan Andra bisa segera selesai, dan Andra juga tak menaruh dendam padaku." ucap Vina


"Amin, semoga aja. Itu juga yang aku harapkan." tambah Gilvan


"Harapkan?" Vina mengernyitkan dahinya


"Eh, maaf, maaf! Aku terbawa suasana, Vin." Gilvan gugup


"Jangan terlalu berharap, kalau kamu gak mau sakit hati." jawab Vina


"Apa itu berarti sebuah penolakan untukku?" tanya Gilvan


"Tidak, aku hanya mengingatkanmu saja, jangan terlalu berharap pada manusia. Berharap lah pada Allah, setidaknya akan mengurangi keresahan mu jika doamu belum berbalas."


"Aku selalu berdoa di sepertiga malam, aku bersimpuh pada-Nya. Aku meminta pada-Nya agar kamu bisa memaafkan kesalahanku. Kini, Allah mengabulkan doaku. Tinggal satu lagi doa dan harapanku. Membuatmu kembali ke pelukanku lagi. Semoga, Allah juga mengabulkan doaku ini."

__ADS_1


Vina terdiam. Ucapan Gilvan membuatnya tak mampu berkata-kata. Kekuatan doa adalah yang terbaik, Vina tahu itu. Yang menggerakkan hati Vina adalah penciptaNya, yang membuat Vina memaafkan Gilvan adalah Allah, semuanya adalah kehendak-Nya.


"Aku?" Vina bingung


"Iya, kamu."


"Kamu masih yakin, akan hidup bersamaku?" tanya Vina


"Memangnya kamu tak yakin?" Gilvan bertanya balik


"Jawab saja pertanyaan ku." balas Vina


"Tentu saja aku yakin, karena aku percaya doa-ku." jawab Gilvan


"Semoga saja."


"Memangnya kamu tak yakin?" Gilvan mengulangi pertanyaan yang sama


"Aku tak yakin." jawab Vina


"Kenapa? Apa aku begitu terlihat tak meyakinkan bagimu?" tanya Gilvan


"Aku tak yakin, kisah kita akan berakhir indah. Rasa trauma di hatiku masih saja terus ada." jawab Vina


"Tatap aku, lihat aku, Vina. Aku tahu, diriku ini memang membuatmu trauma, aku mengakui kesalahanku, maafkan aku. Tapi, aku berjanji padamu dan juga pada diriku sendiri, aku akan mengobati luka di dalam hatimu. Kamu harus sembuh, dan mulai menerima aku lagi." jelas Gilvan


"Semoga saja aku bisa berdamai dengan hatiku."


"Kamu gak bakal bosen nunggu aku?"


"Aku akan berusaha agar kamu mau mengikat hati lagi denganku." jawab Gilvan


"Coba saja kalau bisa." tantang Vina


"Kamu nantang aku?" Gilvan mulai menunjukkan wajah sumringah


"Memangnya kamu mau apa?" Vina mulai sedikit gugup


"Maunya apa?" Gilvan terus menantang Vina


"Apa sih kamu, gak jelas banget deh Van."


"Mau ku itu gini." Gilvan melangkah


Gilvan mendekat selangkah lebih dekat dengan Vina. Gilvan mendaratkan ciuman lembutnya di kening Vina. Vina terbelalak, ia kaget. Ia tak menyangka jika Gilvan berani melakukan hal ini didepan rumahnya.


Ciuman lembut di kening Vina, sangat hangat sekali. Vina terbuai dengan ciuman mesra yang Gilvan berikan. Perlahan, Gilvan melepaskan ciuman hangat itu. Tak lama, Gilvan memeluk Vina. Pelukan rindu, dan pelukan kasih sayang yang selama ini tak sempat Gilvan berikan pada Vina.

__ADS_1


Gilvan berucap sambil tetap memeluk Vina,


"Aku akan tetap menunggu kamu, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Jangan goyah kan hatiku, aku tak akan pernah mencari wanita lain, hanya aku yang kamu tunggu. Semoga saja, kamu mau menerima aku yang hina ini lagi."


"Van, lepasin. Gak enak dilihat orang." Vina sedikit risih


"Biarkan jika orang lain ataupun orang tuamu melihat kita. Aku berani bertanggung jawab dengan apa yang telah aku lakukan, aku berani menikahi mu, kapanpun. Aku hanya tinggal menunggu kamu, mau menerima aku."


"Lepas, Gilvan."


Gilvan melepaskan pelukannya. Vina merapikan bajunya yang sedikit kusut karena pelukan Gilvan. Sejujurnya, Vina sangat bahagia, Gilvan jujur dan mengungkapkan perasaannya. Tapi, Vina masih belum siap karena masalahnya dengan Andra belum juga terselesaikan.


"Maaf, kalau aku selalu memaksamu, Vina." ucap Gilvan


"Tidak apa-apa, Van. Aku sudah bilang, aku akan mempertimbangkan dirimu, tapi bukan sekarang. Semoga kamu bisa menungguku."


"Aku akan tetap menunggu, sampai kamu berkata IYA."


"Semoga saja, Van. Sudah, ini sudah malam. Lebih baik kamu segera pulang, aku malu kalau ada orang yang melihat. Mama dan Papa-ku juga ada didalam. Aku harus segera masuk."


"Baiklah, maafkan aku terus mengganggumu. Aku pulang dulu ya,"


"Eh, kamu pulang naik apa?" tanya Vina


"Naik taksi aja, biar cepat." jawab Gilvan


"Maaf, aku jadi merepotkan mu."


"Makanya, cepat terima aku untuk menjadi suamimu, agar ketika malam begini, aku tak harus pulang ke rumahku, tapi aku pun ikut masuk kedalam rumahmu." ucap Gilvan seraya tersenyum


Vina mati kutu lagi. Gilvan benar-benar membuatnya skak mat. Gilvan terkekeh, ia kasihan melihat Vina yang bingung harus berkata apa.


"Maaf, maaf! Aku hanya becanda. Aku pulang dulu ya Vin. Bye. Semoga malam mu indah, jangan tidur terlalu malam. Ingat aku, agar kamu bermimpi indah." Gilvan melambaikan tangannya


"Hati-hati dijalan ya." Vina membalas lambaian tangan Gilvan.


Vina pun masuk kedalam rumahnya. Ia melihat, kedua orang tuanya sudah duduk di ruang tamu. Mama dan Papa Vina menatap Vina dengan sorot mata yang tajam, dan tak bisa diartikan apa maksudnya.


DEG. Hati Vina berdetak tak karuan. Ia takut, mungkinkah mereka melihat Gilvan? Apa mereka juga melihat Gilvan memeluk dan mengecup kening Vina?


"Itu lelaki yang menghamili kamu?" tanya Papa Vina tiba-tiba


"....."


*Bersambung*


Selamat malam.. Selamat membaca..

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya ya setelah membaca 😘


Selamat malam minggu, semoga kalian selalu bahagia 🥰


__ADS_2