Direktur, Cinta Pertamaku!

Direktur, Cinta Pertamaku!
Pengawal Rey


__ADS_3

-Pagi hari sebelum kejadian Siska-


Gita kini telah tinggal di rumah Rama. Sudah hampir dua minggu Gita berada di rumah besar ini. Awalnya, ia sangat keberatan tinggal bersama mereka, tetapi Gita memaklumi keinginan terakhir kakek Rama.


Kini, Rama memberi Gita sekretaris pribadi yang merangkap jadi pengawalnya. Namanya, Rey. Nama lengkapnya Reynand Prawira. Dia pengawal yang menyebalkan. Baru seminggu di rumah ini, Rama sudah membuat Gita kesal dengan perlakuan Rey.


Gita merasa, sikap Rama akhir-akhir ini terlalu berlebihan. Dia mengerahkan dua baby sitter untuk anaknya, membelikan semua kebutuhan bayi dengan lengkap, semuanya ia belikan. Kukira dulu dia orang yang sederhana, tapi sekarang berbanding terbalik. Ia mengerahkan semua kekayaannya hanya untuk Gita dan anaknya. Gita merasa ini terlalu berlebihan.


Gita sedang membersihkan badan bayi kecilnya. Meskipun ada baby sitter yang membatu Gita, Gita tak mau mereka yang melakukan, Gita hanya menyerahkan bayinya kepada baby sitter ketika ia sedang sibuk, misalnya ketika ia makan, mandi, dan sebagainya.


Diluar ada yang mengetuk pintu. Ternyata, Rama masuk kedalam kamar Gita. Rama menyuruh baby sitter menggantikan Gita membersihkan bayinya. Sepertinya, Rama ingin membicarakan sesuatu.


"Git, sepertinya aku sudah menemukan nama untuk bayi kita. Ini sudah lebih dari seminggu kan?Kita bisa memberi nama bayi kecil kita." Ucap Rama


"Apa kamu telah menemukan nama yang cocok untuknya?" Tanya Gita


"Sudah. Menurutku dia cocok kuberi nama Kanayya Ragita." Jawab Rama memberi senyumnya


"Kau tak mau memakai nama 'Hanggara'?" Tanya Gita


"Tidak perlu. Aku tak mau namanya terlalu berat. Ragita kan sudah mewakili, Rama dan Gita. Hehehe" Rama terkekeh


"Kakak bisa aja. Baiklah, aku setuju. Akan kupanggil dia Naya, atau Nayy. Nama yang cantik, diberikan oleh Ayahnya yang hebat." Gita memuji


"Sepertinya tidak. Ada kata yang harus diganti."


"Maksudmu?" Gita bingung


"Kau barusan bilang, nama yang cantik diberikan oleh Ayahnya yang hebat, kan? Itu salah! Harusnya, diberikan oleh Ayahnya yang ganteng. Cantik kan pasangannya ganteng, bukan hebat!" Rama tertawa


"Dasar!" Gita mencubit Rama


"Menurut kamu, aku ganteng gak sih?" Tanya Rama


"NGGAK!" Gita melengos keluar.


"Kok gitu sih? Kamu mau kemana?" Tanya Rama


"Ini sudah waktunya sarapan!" Gita berlalu


Pembantu di rumah itu sudah biasa melihat kejadian ini. Mereka terlihat biasa saja melihat Gita dan Rama yang seperti anak kecil. Baby sitter itu sedang mengurus bayi Gita yang telah mandi.


Gita dan Rama turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama keluarga yang lain. Dirumah itu, ketika sarapan harus selalu bersama. Kecuali makan siang ataupun malam, mereka bisa sesukanya mau makan apa dan dimana.


Semuanya telah menunggu Gita dan Rama di rumah itu. Terlihat pengawal Rey sudah berdiri didepan pintu. Dia sangat setia, menunggu majikannya dalam keadaan apapun.


"Gita, kenapa kamu harus repot-repot mengurus bayimu? Di rumah ini kan sudah ada baby sitternya! Biarkan mereka yang mengurus anakmu!" Ucap Maya, Ibu Rama


"Tidak apa-apa, Mami. Gita senang mengurus bayi Gita sendiri. Justru sebetulnya Gita tak perlu baby sitter, Gita bisa sendiri kok." Ujar Gita


"Kau perlu baby sitter, sayang! Kau bisa pergi kemana saja, karena bayimu ada yang mengurus. Mami jamin mereka akan mengurus anakmu dengan baik." Jelas Maya


"Iya, Mi. Gita hanya memberikan Bayi Gita ketika Gita sibuk." Gita tak mungkin menyanggah calon mertuanya.


"Kalian sudah memberi nama anak kalian?" Tanya Ayah Rama


"Sudah, Pi. Kuberi nama Kanayya Ragita. Nama yang cantik, bukan?" Rama tersenyum


"Kau tidak memberi nama marga keluarga kita?" Tanya kakek Prima


"Dia wanita, nama nya terlalu berat kalau pakai nama Hanggara. Ragita juga akan menjadi nama margaku selanjutnya." Rama terkekeh


"Apa itu Ragita?" Tanya Maya


"Rama dan Gita. Hehehehe" Rama terkekeh


"Bisa aja kamu, Nak!" Ucap Maya


"Oh iya, Pah. Hari ini Angga dan Maya akan mengunjungi rumah teman lama kita. Sepertinya kita akan pulang terlambat." Ucap Ayah Rama pada Kakek Prima


"Baiklah, kalian hati-hati dijalan." Ucap Kakek Prima

__ADS_1


"Tentu, Pah!" Jawab Ibu dan Ayah Rama


"Aku juga hari ini akan membeli perlengkapan Nayya!" Ucap Gita


"Rey, kau harus ikut dengannya. Jangan sampai dia terluka!" Perintah Rama


"Baik, Tuan." Jawab Rey yang berada didepan pintu ruang makan


"Kok harus sama pengawal Rey sih? Aku kan bisa sendiri, Kak! Males jadinya kalau dia ikut." Gita kesal


"Tidak apa-apa. Dia tidak akan mengganggumu, dia hanya mengikutimu dari belakang." Jawab Rama


"Itu namanya mengganggu!" Gita cemberut


"Tidak apa. Biasakan dirimu dengannya. Ini semua untuk kebaikanmu. Rama dulu nggak seperti ini loh, Git!" Ujar Ibu Rama


"Betul, itu. Rama dulu tak pernah menghamburkan uang seperti ini. Mempunyai sekretaris pribadi saja ia tak mau. Setelah ada kamu, dia berubah seperti ini." Timpal Ayah Rama


"Maafkan aku, semua pasti karena aku." Gita menunduk


"Tak perlu kau pikirkan. Kau hanya cukup menuruti perintah calon suamimu!" Tegas kakek Rama


"Baik, Kek!" Jawab Gita


"Dengerin, tuh!" Rama berada diatas angin


"Iya, iya. Huh. Dasar!" Gita berdecak kesal


Mereka telah selesai makan. Semuanya kembali keruangan masing-masing. Rama bersiap untuk kekantor, Ayah dan Ibunya bersiap pergi mengunjungi teman lamanya, Kakek seperti biasa mengurus burung mahal peliharaannya. Gita tentunya akan bersiap-siap berangkat menuju pusat perbelanjaan.


Gita pamit kepada bayi kecilnya. Meskipun bayinya belum mengerti apa-apa, Gita selalu mengajaknya berbicara, mau apapun dan kemana pun ia pasti mengajak bayinya ngobrol.


Gita berangkat diantar pengawal Rey. Ia tak bisa menolaknya. Rey ditugaskan untuk menjaga Gita. Gita sangat tidak suka, tetapi apa boleh buat, ini semua adalah perintah Rama. Ia tak bisa melawannya.


"Pengawal Rey!!!“ Panggil Gita


"Iya, Nona?" Jawabnya


"Kamu bisa nggak sih jangan terlalu dekat begini? Aku risih! Orang-orang banyak yang melihat kearah ku, tau!!!“ Gita kesal


"Itu terlalu dekat! Mundur 500 meter saja!" Pinta Gita


"Maaf, Nona! Itu terlalu kejauhan." Jawabnya


"Terserah kau sajalah! Lima meter pun tak masalah!" Gita melanjutkan perjalannya.


"Baik, Nona!" Jawab Rey


Gita memilih pakaian yang cocok untuk bayi kecilnya. Ia tak ada lelahnya mengitari mall dan memilih-milih apa yang dia inginkan. Rey sudah terlihat kelelahan. Tapi ia tak berani mengatakan kepada Nona nya tersebut.


Setelah Gita memilih baju-baju yang ia suka, perutnya terasa lapar. Tetapi, waktu masih siang. Ia lupa belum mengunjungi Vina lagi. Vina pasti sedang bekerja. Gita memutuskan untuk makan di Cafe tempat Vina bekerja.


Rey membawa Gita menuju alamat Cafe yang diberikan oleh Gita. Terlihat sekali ketika Gita berkata ingin pergi ke Cafe, ia langsung mengetik pesan. Gita yakin itu pasti pesannya pada Rama. Gita tak peduli, karena Gita memang akan mengunjungi Vina, sahabatnya.


Gita telah sampai di Cafe tempat Vina bekerja. Ia segera masuk kedalam dan melihat Vina sedang membersihkan sisa makanan. Gita memanggilnya, Vina menoleh. Gita melambaikan tangannya dan tersenyum, Vina pun sebaliknya.


Gita segera memesan makanan untuk mereka bertiga. Gita selalu mentraktir Vina kalau ia makan disini. Mereka berbincang sambil makan siang bersama.


"Git, kamu udah baikan? Harusnya kamu gak boleh kemana-mana dulu!" Tanya Vina


"Ini sudah dua minggu kok, aku tidak apa-apa." Jawab Gita


"Syukurlah kalau begitu. Aku lega mendengarnya." Ucap Vina


"Kamu tahu kan kabar tentang Gilvan?" Tanya Gita


Aku sudah tahu. Aku lebih tahu darimu, Git. Aku tahu dia pergi. Dia pergi dan memberikan salam perpisahan untukku, Git. Aku merindukannya, tapi aku tak mungkin mengatakannya padamu. Hatiku terlalu malu mengungkapkannya pada mantan istri Gilvan, yaitu dirimu, Gita! -Vina-


"Eh, i..iya! Aku sudah tahu, Git. Kenapa dia harus pergi?" Tanya Vina


"Entahlah, dia menyerahkan ku pada kak Rama!" Ucap Gita

__ADS_1


"Aku tak menyangka dia akan mengalah seperti itu." Kata Vina


"Dia orang yang baik, dia pasti mendapatkan wanita yang lebih baik dariku!" Ucap Gita


"Iya. Kamu yang sabar ya, Git!" Ucap Vina


"Aku tidak apa-apa kok. Aku lega malah, aku tak harus berpura-pura lagi padanya!" Jawab Gita


Kau berpura-pura tapi bisa mendapatkan cintanya. Tetapi aku, ketika aku baru mengutarakan keinginanku kepadanya, dia langsung pergi jauh meninggalkanku. Cinta sungguh tak adil untukku, Git! Andai aku bisa berbagi kesedihan ini padamu. Tapi, ini sungguh tak mungkin. -Vina-


"Iya, semoga dia bahagia disana." Kata Vina


"Eh, Iya Vin. Kamu pasti heran ya lihat lelaki yang berdiri dibelakangku ini. Kenalin, ini pengawalku. Namanya, Rey! Rey, kenalin! ini Vina, teman baikku." Ucap Gita


"Senang bertemu dengan teman baik Nona!" Rey membungkukan badanya


"Rey, aku gak suka kamu berdiri disitu. Duduklah disini!" Pinta Gita


"Terimakasih, Nona! Itu sungguh lancang sekali." Ucap Rey


"Tidak apa-apa. Cepat duduk!" Perintah Gita


"Baiklah, Nona." Rey mengalah


"Rey, kamu sudah menikah?" Tanya Gita


"Belum, Nona!" Jawab Rey


"Kau sudah punya pacar?" Tanya Gita lagi


"Aku masih sendiri, Nona!" Jawab Rey lagi


"Baguslah! Vina, nih pengawal gue ganteng kan?" Tanya Gita


"Emangnya kenapa?" Tanya Vina


"Sepertinya kalian cocok deh. Hihihihi" Gita terkekeh


"Apaan sih lo, aneh-aneh aja deh!" Timpal Vina


Aku tak menginginkannya, aku hanya menginginkan Gilvanmu, Git! Andai kau tahu aku menaruh hati padanya ketika kalian telah menikah. Aku memaki diriku sendiri, mengumpati bahwa aku wanita gila yang menyukai suami sahabatnya sendiri. -Vina-


"Lo kayaknya cocok sama pengawal Rey, Vin! Lo harus deket sama dia." Gita tertawa lebar


"Maksud nona, saya harus berpacaran dengan teman nona?" Tanya Rey


"Kalau iya, memangnya kenapa?" Tanya Gita


"Baiklah, aku akan memacarinya. Sesuai perintah nona!" Jawab Rey dingin


"Eh, gila lu ya. Seenaknya aja kalau ngomong! Lo apaan sih, Git!" Vina kesal


"Rey, lo kok serius banget sih jadi orang?" Gita tak kuasa menahan tawa


"Apapun perintah Nona, akan saya lakukan!" Jawabnya


"Berarti nih ya, Git.. Kalau lo nyuruh dia buat nyebur ke Got, dia pasti mau-mau aja! Coba deh lu suruh! Pasti seru." Vina tertawa


"Maaf teman baik Nona, anda tidak bisa memprovokasi nona saya seperti itu." Kata Rey


"Kalian ribut aja sih! Jadi jodoh entar baru tahu rasa!" Umpat Gita


"Amit-amit" Vina jujur


Ketika asyik bercanda, Handphone Gita berdering. Terlihat kontak dengan nama "Mami Maya"


"Hallo Mi, ada apa?" Tanya Gita


"Apa? Siska tak sadarkan diri?" Gita kaget


"YaAllah, kasihan dia. Baiklah, aku akan memberitahu kak Rama. Aku akan segera kesana, Mi. Beritahu aku alamatnya." Ucap Gita di telepon.

__ADS_1


Tut..tut..tut.. Telepon tertutup.


*Bersambung*


__ADS_2